
<p>Setelah sebelumnya dijelaskan secara rinci mengenai <strong><a href="https://muslim.or.id/52861-posisi-imam-dan-makmum-dalam-shalat-jamaah.html">Posisi Imam dan Makmum dalam Shalat Jama’ah</a> </strong>kali ini kita akan membahas secara berseri penjelasan jika seorang makmum shalat sendirian di belakang shaf yang sudah penuh</p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Penjelasan Ulama Mengenai Permasalahan Ini</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika seseorang masuk masjid dan mendapati shaf sudah penuh, dan dia tidak memiliki ruang (tempat) untuk masuk ke shaf yang sudah ada, apakah dia diperbolehkan tetap ikut shalat jamaah dengan membuat shaf sendiri (satu orang) di belakang shaf? Atau dia harus menunggu sampai ada jamaah lain yang datang agar bisa membuat shaf baru bersama dengan orang tersebut? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Permasalahan ini adalah permasalahan yang diperselisihkan oleh para ulama. Terdapat tiga pendapat ulama dalam masalah ini.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/52382-merapatkan-dan-meluruskan-shaf-shalat-jamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Merapatkan dan Meluruskan Shaf Shalat Jama’ah</a></strong></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Pendapat Pertama</span></strong></h3>
<p><b>Seseorang boleh membuat shaf sendirian di belakang jamaah lainnya, dan shalatnya sah. </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, termasuk tiga imam madzhab, yaitu Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Abu Hanifah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Di antara dalilnya adalah hadits sahabat Abu Bakrah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">yang terlambat shalat jamaah, kemudian disebutkan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَرَكَعَ دُونَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Abu Bakrah ruku’ sebelum sampai di shaf, sambil berjalan menuju shaf.” </span><b>(HR. Bukhari no. 784 dan Abu Dawud no. 684, lafadz hadits ini milik Abu Dawud)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Baghawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dalam hadits ini terdapat masalah fiqh, yaitu siapa saja yang shalat sendirian di belakang shaf dan menjadi makmum, maka shalatnya sah. Hal ini karena Abu Bakrah ruku’ di belakang shaf. Sehingga ada sebagian dari shalatnya yang dikerjakan di belakang shaf. Kemudian Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak memerintahkannya untuk mengulang shalatnya. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memberikan petunjuk bagaimanakah sebaiknya yang hendaknya dikerjakan di masa mendatang, yaitu “Janganlah diulangi lagi.” Ini adalah larangan dalam rangka memberikan bimbingan, bukan larangan yang menunjukkan pengharaman. Jika ini adalah larangan dalam rangka mengharamkan, tentu Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">akan memerintahkannya untuk mengulang shalatnya.” </span><b>(</b><b><i>Syarhus Sunnah, </i></b><b>3: 338)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/40771-shalat-sambil-membaca-mushaf-al-quran.html" data-darkreader-inline-color="">Shalat Sambil Membaca Mushaf Al-Qur’an</a></strong></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Pendapat ke Dua</span></strong></h3>
<p><b>Shalat sendirian di belakang shaf jamaah itu tidak sah.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini adalah madzhab Imam Ahmad, dan juga salah satu riwayat dari pendapat Imam Malik, juga dipilih oleh sejumlah ulama fiqh dan ulama ahlul hadits. Ulama kontemporer yang memilih pendapat ini adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ulama yang memilih pendapat ini berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Wabishah bin Ma’bad </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يُصَلِّي خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهُ فَأَمَرَهُ أَنْ يُعِيدَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melihat seseorang shalat sendirian di belakang shaf. Maka beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkannya untuk mengulang shalatnya.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 682, At-Tirmidzi no. 230, dan Ibnu Majah no. 1004, dinilai hasan oleh At-Tirmidzi)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini juga memiliki penguat dari hadits ‘Ali bin Syaiban, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>خَرَجْنَا حَتَّى قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَايَعْنَاهُ، وَصَلَّيْنَا خَلْفَهُ، ثُمَّ صَلَّيْنَا وَرَاءَهُ صَلَاةً أُخْرَى، فَقَضَى الصَّلَاةَ، فَرَأَى رَجُلًا فَرْدًا يُصَلِّي خَلْفَ الصَّفِّ، قَالَ: فَوَقَفَ عَلَيْهِ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ انْصَرَفَ قَالَ: اسْتَقْبِلْ صَلَاتَكَ، لَا صَلَاةَ لِلَّذِي خَلْفَ الصَّفِّ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kami berangkat hingga akhirnya sampai di hadapan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i><span style="font-weight: 400;"> kemudian kami membai’at dan shalat di belakangnya. Setelah itu kami mengerjakan shalat yang lain di belakang beliau. Selesai shalat, beliau melihat seorang laki-laki shalat sendirian di belakang shaf.” ‘Ali bin Syaiban berkata, “Ketika Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> berlalu, beliau berhenti di sisi orang itu, lalu bersabda, “Ulangilah shalatmu, karena tidak ada (tidak sah) shalat bagi orang yang shalat sendirian di belakang shaf.” </span><b>(HR. Ibnu Majah no. 1003, shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama yang mengikuti pendapat ke dua ini kemudian berselisih, apa yang harus dilakukan jika ada satu orang datang dan dia jumpai shaf sudah penuh (tidak ada satu pun celah). Sebagian ulama mengatakan, dia harus menarik satu orang di shaf agar bisa menyusun shaf berdua dengannya. Pendapat ini lemah, sebagaimana akan kami sebutkan alasannya di seri ke dua tulisan ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian ulama mengatakan, dia harus berdiri di samping imam. Tidak terdapat dalil dalam masalah ini. Namun, terdapat riwayat dari Abu Bakr </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">bahwa beliau berdiri di samping Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sakit. Akan tetapi, peristiwa ini adalah kasus yang bersifat kasuistik. Selain itu, kita bayangkan jika shafnya itu banyak. Dia harus menyibak shaf-shaf tersebut agar bisa sampai ke tempat imam. Tentu ini akan mengganggu jamaah shalat dan juga mengganggu imam. Lalu, bagaimana lagi jika ada orang ke dua, disusul orang ke tiga yang datang terlambat, tentu makin banyak jamaah yang shalat di samping imam. Oleh karena itu, masalah ini mengisyaratkan lemahnya pendapat yang ke dua ini. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/28822-meneladani-para-sahabat-nabi-dalam-meluruskan-shaf-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Meneladani Para Sahabat Nabi Dalam Meluruskan Shaf Shalat</a></strong></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Pendapat ke Tiga</span></strong></h3>
<p><b>Pendapat yang memberikan perincian dalam masalah ini.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yaitu, apabila dia masih mendapatkan sedikit celah untuk masuk ke shaf di depannya, dan dia tidak melakukannya dan memilih membuat shaf sendirian di belakang, maka shalatnya tidak sah. Namun, jika dia sudah berusaha mencari dan shaf betul-betul sudah penuh, maka boleh menjadi makmum sendirian di belakang shaf</span><b>. </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah yang menjadi pendapat Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Qudamah, dan juga dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Ulama kontemporer yang memilih pendapat ini adalah Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah. </span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/30825-siapakah-yang-berhak-berdiri-di-shaf-pertama.html" data-darkreader-inline-color="">Siapakah yang Berhak Berdiri di Shaf Pertama?</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Pendapat yang Paling Kuat dan Alasannya</span></strong></h2>
<p><b>Pendapat ke tiga inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini, dengan didukung beberapa alasan (argumentasi) berikut ini:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, para ulama sepakat bahwa rukun dan wajib shalat itu gugur ketika tidak mampu dikerjakan. Sebagaimana perkara yang haram juga gugur ketika terdapat situasi darurat. Ini adalah salah satu kaidah penting dalam syariat. Misalnya, berdiri adalah rukun shalat. Namun, ketika seseorang tidak mampu berdiri, dia boleh shalat sambil duduk atau berbaring. Menyusun shaf bukanlah termasuk rukun dan wajib shalat. Kita tidak ragu lagi bahwa kalau memang tidak bisa bergabung dengan shaf yang sudah ada (karena sudah penuh), maka ini adalah situasi ‘udzur yang bisa dimaklumi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ke dua, bahwa dalil-dalil umum dari syariat juga menguatkan hal ini. Misalnya, firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bertakwalah kepada Allah Ta’ala semampu kalian.” </span><b>(QS. At-Taghaabun [64]: 16)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga firman Allah Ta’ala, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” </span><b>(QS. Al-Baqarah [2]: 286)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ke tiga, pendapat ini adalah pendapat yang menggabungkan semua dalil yang ada dalam masalah ini. Perkataan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam hadits ‘Ali bin Syaiban,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَا صَلَاةَ لِلَّذِي خَلْفَ الصَّفِّ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ … karena tidak ada (tidak sah) shalat bagi orang yang shalat sendirian di belakang shaf.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dimaknai jika orang tersebut ceroboh dalam melaksanakan kewajiban (alias sebetulnya masih ada celah untuk dimasuki, namun dia memilih di belakang shaf sendirian). Adapun jika memang shaf itu sudah sangat rapat dan penuh, dia tidak lagi mendapatkan celah meskipun sedikit, tidak termasuk dalam larangan hadits ini. </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27903-hindari-mempersilahkan-orang-lain-mengisi-shaf-depan-dalam-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Hindari Mempersilahkan Orang Lain Mengisi Shaf Depan Dalam Shalat</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/7492-keutamaan-shaf-pertama.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Shaf Pertama</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>(Bersambung)</strong></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Jogja, 2 Shafar 1441/1 Oktober 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 