
<p><iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/512196153&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe></p>
<h2><strong>Lebih Baik di Masjid, Agar Dapat Shaf Pertama</strong></h2>
<p>Shalat qabliyah lebih dianjurkan di rumah. Tapi bagaimana jk dikerjakan di rumah, kita tdk mendapat shaf pertama ketika jamaah? mohon pencerahannya.</p>
<p>Jawab:</p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Secara umum, shalat sunah di rumah lebih utama dari pada dikerjakan di masjid. Berdasarkan hadis dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p class="arab">إِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ</p>
<p>Sesungguhnya shalat seseorang yang paling afdhal adalah shalat yang dikerjakan di rumahnya, kecuali shalat wajib. (HR. Bukhari 731, Muslim 1861 dan yang lainnya)</p>
<p>Akan tetapi, bagaimana jika dikerjakan di rumah menyebabkan kita tidak mendapatkan shaf pertama ketika berjamaah?</p>
<p>Jawabannya, lebih dianjurkan untuk shalat rawatib qabliyah di masjid, agar mendapat shaf pertama ketika shalat jamaah.</p>
<p>Ada beberapa pertimbangan yang menguatkan pernyataan ini,</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, di sana ada 2 keutamaan yang saling bersinggungan,</p>
<p>[1] Keutamaan shalat sunah di rumah. Dan keutamaan ini terkait amal sunah</p>
<p>[2] Keutamaan mendapat shaf pertama. Dan keutamaan ini terkait dengan amal wajib.</p>
<p>Menimbang kaidah,</p>
<p class="arab">تقديم الفريضة على النافلة</p>
<p>Lebih mengutamakan yang wajib dari pada yang sunah</p>
<p>Turunan dari kaidah ini adalah lebih mengutamakan keutamaan yang terkait dengan amal wajib dari pada keutamaan yang terkait dengan amal sunah. Inilah yang diisitilahkan para ulama dengan,</p>
<p class="arab">إلحاق التوابع بأصولها</p>
<p>“Menggabungkan yang cabang kepada pokoknya.”</p>
<p>Dengan melihat pokoknya, kita bisa mengembalikan cabangnya. Selanjutnya, kita bisa membandingkan masing-masing pokoknya.</p>
<p>Demikian keterangan Syaikh Dr. Muhammad Mukhtar as-Syinqithi.</p>
<p><em>http://shankeety.net/Alfajr01Beta/index.php?module=Publisher&amp;section=Topics&amp;action=ViewTopic&amp;topicId=435</em></p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, ketika ada dua maslahat, yang satu memiliki badal (pengganti) dan yang satu tidak memiliki badal, maka diutamakan yang tidak memiliki badal.</p>
<p>[1] Shalat sunah di rumah, ada badalnya, yaitu dikerjakan di masjid</p>
<p>[2] Mendapat shaf pertama, tidak ada badalnya. Orang yang tidak mendapat shaf pertama, tidak bisa diganti dengan shaf kedua.</p>
<p>Ulama memberikan kaidah,</p>
<p class="arab">تقديم ما ليس له بدل  على ما له بدل</p>
<p>“Mendahulukan maslahat yang tidak memiliki badal dari pada maslahat yang memiliki badal.”</p>
<p>Karena maslahat yang memiliki badal, nanti bisa diganti dengan badalnya.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, lebih dekat dengan praktek para sahabat. Mereka telah bersiap di masjid, sebelum Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> datang.</p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menceritakan,</p>
<p class="arab">كُنَّا بِالْمَدِينَةِ فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ لِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ ابْتَدَرُوا السَّوَارِىَ فَيَرْكَعُونَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ الْغَرِيبَ لَيَدْخُلُ الْمَسْجِدَ فَيَحْسِبُ أَنَّ الصَّلاَةَ قَدْ صُلِّيَتْ مِنْ كَثْرَةِ مَنْ يُصَلِّيهِمَا</p>
<p>Sewaktu kami di Madinah, apabila sudah adzan untuk shalat maghrib, para sahabat berlomba mendapatkan tiang masjid, lalu mereka shalat 2 rakaat. Hingga ada orang luar yang masuk masjid, dia menyangka shalat maghrib telah dimulai, karena sakinng banyaknya yang mengerjakan shalat itu. (HR. Bukhari 503 &amp; Muslim 1976)</p>
<p><strong><em>Keempat</em></strong>, keutamaan mendapat shaf pertama lebih besar</p>
<p>Karena saking besarnya, orang yang tahu akan rela untuk berundi agar bisa mendapatkannya.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لاَسْتَهَمُوا</p>
<p>Andai mereka tahu keutamaan shaf terdepan, mereka akan berundi untuk mendapatkannya. (HR. Bukhari 721)</p>
<p>Demikian, <em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)</strong></p>
<p>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener"><strong>Tanya Ustadz untuk Android</strong></a>.<br>
<a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener"><strong>Download Sekarang !!</strong></a></p>
<p><strong>KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="noopener">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 