
<p><span style="font-weight: 400;">Orang tua adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan perlakuan baik bagi seorang anak. Namun seringkali masalah nafkah untuk orang tua menjadi polemik di kalangan sebagian anak. Mereka saling lempar tangan untuk urusan menafkahi orang tua. </span><i><span style="font-weight: 400;">Allahul musta’an</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Siapa yang wajib menafkahi orang tua?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang tua terdiri dari ayah dan ibu. Nafkah ibu tetap menjadi kewajiban bagi ayah sampai kapan pun selama ayah masih mampu. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) wajib menafkahkan sebagian dari harta mereka”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. An Nisaa’: 34).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kewajiban nafkah dari ayah kepada ibu tentunya sesuai kemampuan ayah. Seandainya ayah sudah tua dan hanya bisa memberi penghasilan yang sedikit, maka sekadar itulah yang wajib baginya. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً .</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Ath Thalaq: 7).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka selama ayah masih mampu memberi nafkah kepada dirinya sendiri dan kepada ibu, dalam kondisi ini tidak ada orang lain yang berkewajiban memberi nafkah kepada ayah-ibu.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57223-apakah-anak-wajib-membayar-hutang-orang-tua.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Anak Wajib Membayar Hutang Orang Tua?</a></strong></p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Namun jika ayah dan ibu miskin, tidak mampu mencukupi kebutuhan pokoknya, atau tidak memiliki penghasilan, maka siapa yang wajib memberi nafkah?</span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kaidahnya, yang wajib adalah ahli waris yang terdekat posisinya dalam urutan waris. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan ahli waris pun berkewajiban demikian”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al Baqarah: 233).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan ayat </span><i><span style="font-weight: 400;">“dan ahli waris pun berkewajiban demikian”</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau berkata :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فدل على وجوب نفقة الأقارب المعسرين, على القريب الوارث الموسر</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ayat ini menunjukkan kerabat yang berkemampuan WAJIB menafkahi kerabat yang kurang mampu” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir As Sa’di</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan ahli waris yang berkewajiban adalah yang paling dekat posisinya dari ayah dan ibu. Sebagaimana hadits dari Jabir bin Abdillah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nahi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ابْدَأْ بنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فإنْ فَضَلَ شيءٌ فَلأَهْلِكَ، فإنْ فَضَلَ عن أَهْلِكَ شيءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فإنْ فَضَلَ عن ذِي قَرَابَتِكَ شيءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Mulailah dari dirimu sendiri, berilah nafkah pada dirimu. Jika ada kelebihan, maka berilah nafkah pada keluargamu. Jika sudah menafkahi keluargamu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah kerabatmu. Jika sudah menafkahi kerabatmu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah yang terdekat dan seterusnya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no. 997).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/54584-apakah-tidak-menziarahi-kuburan-kedua-orang-tua-termasuk-kedurhakaan.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Tidak Menziarahi Kuburan Kedua Orang Tua Termasuk Kedurhakaan?</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Untuk memahami ahli waris mana yang posisinya paling dekat, maka kita pahami dahulu bahwa pengelompokkan ahli waris dibagi berdasarkan 2 sisi :</strong></span></p>
<ol start="1">
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">Jihhah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (arah), urutannya:</span>
<ol type="a">
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">bunuwwah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (anak, dan terus ke bawah)</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">ubuwwah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (ayah, dan terus ke atas)</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">ukhuwah </span></i><span style="font-weight: 400;">(saudara, dan terus ke samping)</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">umuwwah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (ibu, dan terus ke atas)</span>
</li>
</ol>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">Darajah</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu level kedekatan jalur. Misal, posisi “anak” lebih dekat kepada ayah-ibu dari pada “cucu”. </span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Menentukan ahli waris yang terdekat adalah dengan melihat urutan jihhah dahulu, lalu ketika ada 2 jenis ahli waris yang </span><i><span style="font-weight: 400;">jihhah</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya sama, maka dilihat dari sisi </span><i><span style="font-weight: 400;">darajah</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<p><strong>Misalnya:</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayah dan ibu miskin, misalnya ahli waris yang ada adalah anak, cucu, dan saudara kandung. Anak dan cucu urutan </span><i><span style="font-weight: 400;">jihhah</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya lebih tinggi (</span><i><span style="font-weight: 400;">bunuwwah</span></i><span style="font-weight: 400;">) dari saudara kandung (</span><i><span style="font-weight: 400;">ukhuwwah</span></i><span style="font-weight: 400;">). Kemudian anak dan cucu memiliki </span><i><span style="font-weight: 400;">jihhah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang sama, namun anak lebih dekat kepada ayah-ibu daripada cucu. Sehingga yang wajib menafkahi adalah anak. Anak-anak yang paling wajib adalah anak-anak laki-laki, jika tidak ada maka anak-anak perempuan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika anak-anak tidak ada atau tidak ada yang mampu, maka dari kalangan cucu. Jika cucu tidak ada atau tidak ada yang mampu, maka dari kalangan cicit. Dan seterusnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika anak, cucu, cicit tidak ada atau tidak ada yang mampu maka dari kalangan </span><i><span style="font-weight: 400;">ubuwwah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (ayah dari ayah-ibu, dan terus ke atas).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika dari kalangan </span><i><span style="font-weight: 400;">ubuwwah</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak ada maka dari kalangan </span><i><span style="font-weight: 400;">ukhuwwah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (para saudara dari ayah-ibu). Dan seterusnya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/47359-berikut-ini-bukan-durhaka-kepada-orang-tua.html" data-darkreader-inline-color="">Berikut Ini Bukan Durhaka Kepada Orang Tua</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Wajibnya berbakti kepada orang tua</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika orang tua masih hidup, maka kita para anak hendaknya berusaha berlomba-lomba berbakti kepada orang tua semaksimal mungkin. dari Abu Ibni Malik dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwa beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا ، ثُمَّ دَخَلَ النَّارَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ وَأَسْحَقَهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu setelah itu ternyata ia masuk neraka, maka Allah akan masukan ia lebih dalam lagi ke dalam neraka”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 4/344. Dishahihkan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah Ahadits Shahihah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2/42-43).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka hendaknya jangan menunggu jatuhnya kewajiban untuk menafkahi, namun hendaknya bersegera memberikan segala kebaikan yang dimampui kepada orang tua. Karena orang tualah orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan paling maksimal dari kita. Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’ahu</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau bertanya kepada Nabi:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">رغمَ أنفُ ، ثم رغم أنفُ ، ثم رغم أنفُ قيل : من ؟ يا رسولَ اللهِ ! قال : من أدرك أبويه عند الكبرِ ، أحدَّهما أو كليهما فلم يَدْخلِ الجنةَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Kehinaan, kehinaan, kehinaan“. Para sahabat bertanya: “siapa wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup ketika mereka sudah tua, baik salah satuya atau keduanya, namun orang tadi tidak masuk surga”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no. 2551)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga hendaknya kita para anak tidak saling melempar tanggung jawab dalam berbakti kepada orang tua. Namun hendaknya berusaha terdepan dan berlomba-lomba dalam berbakti kepada orang tua walaupun belum jatuh kewajiban pada diri kita. Karena berbakti kepada orang tua adalah salah satu pintu surga. Siapa yang bersegera dan berusaha terdepan, akan memasukinya. Sedangkan yang berlambat-lambat atau menyia-nyiakan, bisa jadi akan terluput dari pintu tersebut. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”).</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47188-hukum-mencium-tangan-kaki-orang-tua.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Mencium Tangan dan Kaki Orang Tua</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47133-beberapa-bentuk-bakti-kepada-orang-tua.html" data-darkreader-inline-color="">Beberapa Bentuk Bakti Kepada Orang Tua</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah ta’ala memberi taufik.</span></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></p>
 