
<p><i>Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du</i><span style="color: #000000;">:</span></p>
<h4 align="LEFT">
<span style="color: #ff0000;"><b>Dahulu, Disiplin Ilmu Syari’at Hanya Satu Titik</b></span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a>
</h4>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Syari’at adalah seluruh ajaran yang Allah tetapkan untuk hamba-hamba-Nya, baik berupa aqidah, ‘amaliyyah, ataupun akhlak.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Dulu, disiplin Ilmu syari’at tidaklah banyak jumlahnya, namun setelah banyaknya orang-orang yang tidak berilmu, kemudian para ulama mencetuskan berbagai cabang disiplin ilmu syari’at untuk memudahkan mereka memahami syari’at Islam ini. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ali bin Abi Tholib </span><span style="color: #000000;"><i>radhiallahu ‘anhu</i></span><span style="color: #000000;">: </span></p>
<p class="arab" align="RIGHT"><span style="color: #000000;">العلم نقطة كثرها الجاهلون</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“Ilmu syari’at dahulu hanyalah satu titik saja (sedikit), namun diperbanyak oleh orang-orang yang tidak berilmu.”</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Pada dasarnya, disiplin ilmu syari’at yang dipahami para sahabat </span><span style="color: #000000;"><i>radhiallahu ‘anhum </i></span><span style="color: #000000;">sedikit pada zaman Rasulullah </span><span style="color: #000000;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="color: #000000;">, yaitu pemahaman tentang Al-Qur`an dan As-Sunnah itu saja. Namun di zaman Ali bin Abi Tholib </span><span style="color: #000000;"><i>radhiallahu ‘anhu</i></span><span style="color: #000000;"> bertambah banyak cabang-cabang disiplin ilmu yang dicetuskan, dibandingkan zaman Rasulullah </span><span style="color: #000000;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="color: #000000;">.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Demikianlah, semakin jauh suatu kaum dari zaman Rasulullah </span><span style="color: #000000;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i></span><span style="color: #000000;">semakin banyak pula ketidaktahuan (</span><span style="color: #000000;"><i>jahl</i></span><span style="color: #000000;">) terhadap ilmu syar’i dan orang-orang yang tidak berilmu (</span><span style="color: #000000;"><i>jaahiluun</i></span><span style="color: #000000;">) terhadap ilmu syar’i. Ketika itu, mereka membutuhkan penjelasan ilmiyyah yang lebih detail dan banyak. Semakin hari, semakin banyak pula dicetuskan cabang-cabang disiplin ilmu syari’at oleh para ulama agar orang-orang yang tidak berilmu (</span><span style="color: #000000;"><i>jaahiluun</i></span><span style="color: #000000;">) bisa memahami agama Islam ini dengan benar.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Oleh karena itulah, ditulis ratusan ribu kitab para ulama </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahumullah </i></span><span style="color: #000000;">dari berbagai cabang disiplin ilmu syari’at, hal ini sesungguhnya tidaklah menunjukkan bahwa jumlah disiplin ilmu syari’at itu adalah sebanyak jumlah kitab-kitab para ulama tersebut</span><span style="color: #000000;"><i>. </i></span><span style="color: #000000;">Asal ilmu Syari’at tetaplah Al-Qur`an dan As-Sunnah saja, namun karena tuntutan keadaanlah, ulama menuliskan kitab-kitab yang di zaman dulu tidak dibutuhkan oleh masyarakat salaf, karena salaf memahami dengan baik ilmu-ilmu yang dituliskan oleh ulama sekarang.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Sekarang kita membutuhkan sesuatu yang tidak dibutuhkan di zaman dahulu, misalnya </span><span style="color: #000000;"><i>syarah </i></span><span style="color: #000000;">(penjelasan) kitab Al-Wasithiyyah, kitab ini sekarang kita butuhkan. Kelak pada generasi anak-anak kita, bisa jadi mereka membutuhkan </span><span style="color: #000000;"><i>syarah</i></span><span style="color: #000000;"> dari </span><span style="color: #000000;"><i>syarah</i></span><span style="color: #000000;"> kitab Al-Wasithiyyah, dan pada generasi cucu-cucu kita, bisa jadi pula mereka membutuhkan </span><span style="color: #000000;"><i>syarah</i></span><span style="color: #000000;"> dari </span><span style="color: #000000;"><i>syarah </i></span><span style="color: #000000;">dari </span><span style="color: #000000;"><i>syarah</i></span><span style="color: #000000;"> kitab Al-Wasithiyyah. Demikian pula dari ilmu-ilmu alat, jika kita sekarang membutuhkan ilmu-ilmu semisal ushul fikih, ushul tafsir, <em>qawa’id fiqhiyyah</em>, dan yang semacamnya, maka bukan hal mustahil satu abad yang akan datang, muncullah ilmu-ilmu cabang yang lebih spesifik sebagai perincian dari ilmu-ilmu alat tersebut. </span></p>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #ff0000;"><b>Pembagian Ilmu Syari’at Islam</b></span></h4>
<h5 align="LEFT"><span style="color: #000000;"><b>Ilmu Syari’at ditinjau dari sisi kewajiban mempelajarinya, Terbagi Dua, yaitu: Ilmu Fardhu ‘ain dan Ilmu Fardhu Kifayah </b></span></h5>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><b>1. Ilmu Fardu ‘Ain</b></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Berikut penuturan para ulama besar </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahumullah </i></span><span style="color: #000000;">tentang Ilmu fardu ‘ain:</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">An-Nawawi </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah, </i></span><span style="color: #000000;">dalam kitabnya </span><span style="color: #000000;"><i>Al-Majmu’ syarhul Muhadzzab </i></span><span style="color: #000000;">membagi ilmu syar’i menjadi tiga macam fardhu ‘ain, fardhu kifayah, dan sunnah. Beliau mengatakan,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;" align="RIGHT"><span style="color: #000000;">باب أقسام العلم الشرعي هي ثلاثة </span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;" align="RIGHT"><span style="color: #000000;">الأول فرض العين</span><span style="color: #000000;">: وهو تعلم المكلَّف مالا يتأدى الواجب الذي تعين عليه فعله إلا به</span><span style="color: #000000;"> ككيفية الوضوء والصلاة ونحوهما وعليه حمل جماعات الحديث المروي في مسند أبي يعلى الموصلي عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم<b> </b></span><span style="color: #000000;"><b>: </b><b>طلب العلم فريضة على كل مسلم<br>
</b></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“Bab Macam-macam Ilmu Syar’i Ada Tiga. Pertama, fardhu ‘ain, yaitu seorang mukallaf (baligh dan berakal sehat) mempelajari ilmu yang ia tidak bisa memenuhi kewajibannya kecuali dengan mengetahuinya, seperti tata cara wudhu`, shalat, dan yang selain keduanya. Sekelompok ulama membawakan </span><span style="color: #000000;">kepada makna ini (ilmu fardhu ‘ain) dalam menafsirkan sebuah </span><span style="color: #000000;">Hadits yang diriwayatkan di musnad Abu Ya’la Al-Mushili dari Anas dari Nabi </span><span style="color: #000000;"><i>shalallahu ‘alaihi wa sallam,</i></span><b> </b></p>
<p class="arab" align="RIGHT"><span style="color: #000000;"><b>طلب العلم فريضة على كل مسلم</b></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim,”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a><span style="color: #000000;">.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Demikian pula Ulama Lajnah Daimah KSA menjelaskan tentang maksud ilmu fardhu ‘ain, yaitu:</span></p>
<p class="arab" align="RIGHT"><span style="color: #000000;">العلم الشرعي على قسمين </span><span style="color: #000000;">: منه ما هو فرض على كل مسلم ومسلمة ، وهو معرفة ما يصحح به الإنسان عقيدته وعبادته ، وما لا يسعه جهله ، كمعرفة التوحيد ، وضده الشرك ، ومعرفة أصول الإيمان وأركان الإسلام ، ومعرفة أحكام الصلاة ، وكيفية الوضوء ، والطهارة من الجنابة ، ونحو ذلك ، وعلى هذا المعنى فسِّر الحديث المشهور</span><span style="color: #000000;">: </span><span style="color: #000000;"><b>( </b></span><span style="color: #000000;">طلب العلم فريضة على كل مسلم </span><span style="color: #000000;"><b>)</b></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ilmu syar’i terbagi menjadi dua, di antaranya adalah ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim dan muslimah, yaitu ilmu yang menyebabkan sahnya aqidah dan ibadah seseorang dan tidak boleh seseorang tidak tahu tentang ilmu tersebut. Contohnya adalah mengetahui tauhid dan lawannya, yaitu syirik, pokok-pokok keimanan (rukun iman) dan rukun Islam, hukum-hukum shalat, tata cara wudhu`, bersuci dari junub, dan yang semisalnya. Oleh karena itu, hadits yang terkenal ini</span><i> </i><span style="color: #000000;">(menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim</span><span style="color: #000000;"><b>) </b></span><span style="color: #000000;">ditafsirkan dengannya (ilmu fardhu ‘ain)”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a><span style="color: #000000;">. </span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Imam Ahmad </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span><span style="color: #000000;">berkata,</span></p>
<p class="arab" align="RIGHT"><span style="color: #000000;">يجب أن يطلب من العلم ما يقوم به دينه، قيل له مثل أي شيء؟ قال</span><span style="color: #000000;">: الذي لا يسعه جهله</span><span style="color: #000000;">: صلاته و صيامه، و نحو ذلك</span></p>
<p class="arab" align="LEFT"><span style="color: #000000;">“Menuntut ilmu yang menjadi landasan tegaknya agama adalah wajib”. Beliau ditanya, ‘Contohnya apa?’ Beliau menjawab, “Ilmu yang harus diketahuinya, seperti tentang sholat dan puasanya, serta yang semisal itu”. </span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Imam Malik </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span><span style="color: #000000;">ketika ditanya tentang menuntut ilmu, beliau menjawab,</span></p>
<p class="arab" align="RIGHT"><span style="color: #000000;">كله خير و لكن انظر إلى ما تحتاجه في يومك و ليلتك فاطلبه</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Semuanya baik, akan tetapi lihatlah kepada ilmu yang engkau butuhkan sehari semalam, maka carilah ilmu tersebut!</i></span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Pernyataan para ulama besar di atas sebenarnya terdapat tiga pelajaran besar, yaitu:</span></p>
<ol>
<li>
<span style="color: #000000;">Inti definisi ilmu fardhu ‘ain :<br>
</span><span style="color: #000000;">Ilmu yang jika tidak diketahui oleh seorang hamba, menyebabkannya </span><span style="color: #000000;"><b>tidak bisa menunaikan kewajibannya</b></span><span style="color: #000000;">, sehingga ia terjatuh ke dalam dosa. Dengan kata lain, seseorang jika tidak mempelajari ilmu fardhu ‘ain, akan terjatuh kedalam dua kemungkinan:</span>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">1. Tidak bisa melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah </span><span style="color: #000000;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span> <span style="color: #000000;"><b>yang wajib dilaksanakan</b></span><span style="color: #000000;"> sehingga berdosa.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">2. Melakukan larangan Allah dan Rasulullah </span><span style="color: #000000;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span> <span style="color: #000000;"><b>yang wajib ditingalkan</b></span><span style="color: #000000;"> (yang haram dilakukan), sehingga berdosa pula.</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Isyarat kepada skala prioritas, bahwa ilmu yang kita butuhkan dalam keseharian berupa ilmu tentang iman dan tauhid (keyakinan yang benar), serta ibadah (amal yang sah), inilah yang harus kita dahulukan dibandingkan dengan selainnya dari ilmu ushul fikih, qawa’idut tafsir, dan selainnya dari ilmu-ilmu fardhu kifayah.</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Ulama dari dulu telah menjelaskan tentang adanya jenis ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu ‘ain, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah </span><span style="color: #000000;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span style="color: #000000;">:</span></p>
<p class="arab">طلب العلم فريضة على كل مسلم</p>
<p>“<i>Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”</i><span style="color: #000000;"> (HR. Ibnu Majah. Hadits ini dihasankan oleh As-Suyuthi, Adz-Dzahabi dan disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam </span><span style="color: #000000;"><i>Shahih Ibnu Majah</i></span><span style="color: #000000;">).<br>
Dan juga berdasarkan kaidah:</span></p>
<p class="arab">ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب</p>
<p>“<i>Suatu perkara yang sebuah kewajiban tidak bisa terlaksana kecuali dengannya,maka hukum perkara tersebut juga wajib”.</i></p>
</li>
</ol>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Wallahu a’lam</i></span><span style="color: #000000;">. Selanjutnya, silahkan baca artikel <strong>Sk</strong></span><span style="color: #000000;"><b>ala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (2).</b></span></p>
<p align="LEFT">***</p>
<h5 align="LEFT"><span style="color: #000000;">Referensi :</span></h5>
<ul>
<li><span style="color: #000000;"><em>Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab</em>, An-Nawawi (Pdf,Waqfeya.com)</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Website resmi <em>Komite Tetap Pmbahasan Ilmiyyah dan Fatwa KSA</em> : <a href="http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=3&amp;View=Page&amp;PageNo=1&amp;PageID=4335&amp;languagename=">http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=3&amp;View=Page&amp;PageNo=1&amp;PageID=4335&amp;languagename=</a></span></li>
<li>
<span style="color: #000000;">Transkrip Muhadharah Syaikh Shaleh Alusy Syaikh </span><span style="color: #000000;"><i>hafizhahullah, </i></span><span style="color: #000000;">berjudul : </span><span style="color: #000000;">“<em>Al-Manhajiyyah fi qira`ati kutubi Ahlil ‘Ilmi</em>”, dari http://saleh.af.org.sa/node/28</span>
</li>
<li>
<span style="color: #000000;"><em>Hushulul Ma`mul bi syarh Tsalatsatil Ushul</em>, Syaikh Abdullah Al-Fauzan </span><span style="color: #000000;"><i>hafizhahullah</i></span>
</li>
<li><span style="color: #000000;"><em>At-Ta`shil fi thalabil ‘Ilmi</em>, Syaikh Muhammad Umar Bazmul</span></li>
</ul>
<h5>Catatan kaki</h5>
<div id="sdfootnote1">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a> <span style="color: #000000;">Transkrip Muhadharah Syaikh Shaleh Alusy Syaikh </span><span style="color: #000000;"><i>hafizhahullah, </i></span><span style="color: #000000;">berjudul : “<em>Al-Manhajiyyah fi qira`ati kutubi Ahlil ‘Ilmi</em>”, dari http://saleh.af.org.sa/node/28)</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a><span style="color: #000000;">  <em>Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab</em>, An-Nawawi, hal. 49 (Pdf,Waqfeya.com)</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a> <a href="http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=3&amp;View=Page&amp;PageNo=1&amp;PageID=4335&amp;languagename=">http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=3&amp;View=Page&amp;PageNo=1&amp;PageID=4335&amp;languagename=</a></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a><span style="color: #000000;"> <em>Hushulul Ma`mul bi syarh Tsalatsatil Ushul</em>, Syaikh Abdullah Al-Fauzan </span><span style="color: #000000;"><i>hafizhahullah</i></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a> <span style="color: #000000;">At-Ta`shil fi thalabil’ilmi, Syaikh Muhammad Umar Bazmul, hal. 9</span></p>
<h5>Indeks artikel</h5>
<p><a href="https://muslim.or.id/24642-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-1-ilmu-fardhu-ain.html" target="_blank" rel="noopener">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (1): Ilmu Fardhu ‘Ain</a></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/24689-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-2-ilmu-fardhu-ain-dan-ilmu-fardhu-kifayah.html" target="_blank" rel="noopener">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (2): Ilmu Fardhu ‘Ain Dan Ilmu Fardhu Kifayah</a></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/24714-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-3-ilmu-tujuan-dan-ilmu-sarana.html" target="_blank" rel="noopener">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (3): Ilmu Tujuan Dan Ilmu Sarana</a></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/24722-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-4-ilmu-inti-dan-ilmu-penunjang.html" target="_blank" rel="noopener">Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (4): Ilmu Inti dan Ilmu Penunjang</a></p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
</div>
 