
<p><span style="font-weight: 400;">Puasa Ramadhan adalah ibadah yang agung dan salah satu rukun Islam. Maka meninggalkan puasa tanpa udzur merupakan dosa besar dan berat konsekuensinya. Bahkan para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa udzur syar’i, apakah ia masih Muslim ataukah keluar dari Islam?</span></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Pendapat Sebagian Ulama</strong></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang meninggalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tanpa udzur maka ia kafir keluar dari Islam. Disebutkan dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Shifatu Shalatin Nabi </span></i><span style="font-weight: 400;">(hal. 18) karya Ath Tharifiy :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ذهب بعض العلماء – وهو مروي عن الحسن, و قال به نافع و الحاكم و ابن حبيب من المالكية, و قال به إسحاق بن راهويه, وهو رواية عن الإمام أحمد – إلى أن من ترك شيئا من أركان الإسلام, و إن كان زكاة أو صياما أو حجا, متعمدا كسلا أو تهاونا أو جحودا, فإنه كافر. والجمهور على عدم الكفر</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sebagian ulama berpendapat, pendapat ini diriwayatkan dari Al Hasan (Al Bashri), juga merupakan pendapat Nafi’, Al Hakim, Ibnu Habib dari Malikiyyah, Ishaq bin Rahuwaih, dan salah satu pendapat Imam Ahmad, bahwa orang yang meninggalkan satu saja dari rukun Islam, baik itu zakat, puasa atau haji, dengan sengaja atau karena malas atau meremehkan atau karena mengingkari kewajibannya, maka ia kafir. Sedangkan jumhur ulama berpendapat tidak sampai kafir”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil ulama yang mengkafirkan, diantaranya hadits-hadits tentang rukun Islam. Bahwa Islam dibangun di atas 5 perkara, yaitu: syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji, maka konsekuensinya jika salah satu ditinggalkan, hancurlah Islam seseorang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka juga berdalil dengan riwayat dari Umar bin Khathab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwa beliau berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَن أطاقَ الحجَّ، فلم يحُجَّ فسواءٌ عليه مات يهوديًّا أو نصرانيًّا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang mampu berhaji namun tidak berangkat haji, maka sama saja ia mati apakah sebagai orang Yahudi atau sebagai orang Nashrani”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, 1/387, dishahihkan Hafizh Al Hakami dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Ma’arijul Qabul</span></i><span style="font-weight: 400;">, 639/2).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan haji adalah salah satu rukun Islam. Perkataan semisal ini juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47161-semoga-kita-diampuni-selama-ramadhan.html" data-darkreader-inline-color="">Semoga Kita Diampuni Selama Ramadhan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Pendapat yang Rajih</strong></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, yang tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan puasa. Diantara dalilnya, hadits dari Auf bin Malik dari Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ia bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">خيار أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم ويصلون عليكم وتصلون عليهم وشرار أئمتكم الذين تبغضونهم ويبغضونكم وتلعنونهم ويلعنونكم قيل يا رسول الله أفلا ننابذهم بالسيف فقال لا ما الصلاة وإذا رأيتم من ولاتكم شيئا تكرهونه فاكرهوا عمله ولا تنزعوا يدا من طاعة</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai, dan mereka pun mencintai kalian. Kalian mendo’akan mereka, mereka pun mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci, mereka pun benci kepada kalian. Kalian pun melaknat mereka, mereka pun melaknat kalian”. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah apakah kita perangi saja mereka dengan senjata?”. Nabi menjawab, “Jangan, selama mereka masih shalat. Bila kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka cukup bencilah perbuatannya, namun jangan kalian melepaskan tangan kalian dari ketaatan kepadanya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no. 2155).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini yang menjadi patokan kufur-tidaknya seorang pemimpin adalah meninggalkan shalat, bukan puasa, zakat atau haji. Dan ini adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">ijma</span></i><span style="font-weight: 400;">‘ para sahabat Nabi, Abdullah bin Syaqiq Al ‘Uqaili </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لم يكن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يرون شيئا من الأعمال تركه كفر غير الصلاة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dahulu para sahabat Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak memandang ada amalan yang bisa menyebabkan kekufuran jika meninggalkannya, kecuali shalat” (HR. At Tirmidzi no. 2622, dishahihkan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih At Tirmidzi</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan riwayat ini, para sahabat Nabi tidak menganggap kufurnya orang yang meninggalkan puasa, zakat atau haji.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa udzur, dia tidak sampai kafir namun telah melakukan dosa besar. Terlebih lagi terdapat ancaman mengerikan bagi orang yang meninggalkan puasa. Sebagaimana hadits dari Abu Umamah al-Bahili </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ فَأَتَيَا بِى جَبَلاً وَعْرًا فَقَالاَ لِىَ : اصْعَدْ فَقُلْتُ : إِنِّى لاَ أُطِيقُهُ فَقَالاَ : إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ قَالُوا : هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua laki-laki yang mendatangiku. Keduanya memegangi kedua lenganku, kemudian membawaku ke sebuah gunung terjal. Keduanya berkata kepadaku: “naiklah!”. Aku menjawab: “Aku tidak mampu”. Keduanya berkata, “Kami akan memudahkannya untukmu”. Maka aku naik. Ketika aku berada di tengah gunung itu, tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang keras, sehingga aku bertanya: “suara apa itu?”. Mereka menjawab, “Itu teriakan penduduk neraka”. Kemudian aku dibawa ke tempat lain, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang digantung terbalik dengan urat-urat kaki mereka sebagai ikatan. Ujung-ujung mulut mereka sobek dan mengalirkan darah. Aku bertanya, “Mereka itu siapa?” Keduanya menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Ibnu Hibban no.7491, dishahihkan Syu’aib Al Arnauth dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Takhrij Shahih Ibnu Hibban</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adanya hadits ini dan juga adanya sebagian ulama yang menganggap kafirnya orang yang meninggalkan puasa, ini membuat kita semakin takut dan waspada jangan sampai meninggalkan puasa tanpa udzur. Dan juga kita mesti peringatkan keluarga dan orang-orang terdekat kita jangan sampai meninggalkan puasa tanpa udzur.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46880-dosa-juga-dilipatgandakan-di-bulan-ramadhan.html" data-darkreader-inline-color="">Dosa Juga Dilipatgandakan Di Bulan Ramadhan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Meninggalkan Puasa Bisa Murtad Jika Istihlal</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang-orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja jika mereka menganggap halal (istihlal) hal tersebut atau mengingkari wajibnya puasa Ramadhan, maka ia murtad keluar dari Islam. Para ulama menyebut hal ini sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">kufur juhud</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu orang yang meyakini kebenaran ajaran Rasulullah namun lisannya mendustakan bahkan memerangi dengan anggota badannya, menentang karena kesombongan. Ini seperti kufurnya iblis terhadap Allah ketika diperintahkan sujud kepada Adam </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihissalam</span></i><span style="font-weight: 400;">, padahal iblis mengakui Allah sebagai Rabb,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS. Al Baqarah: 34)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan: “Seorang hamba jika ia melakukan dosa dengan keyakinan bahwa sebenarnya Allah mengharamkan perbuatan dosa tersebut, dan ia juga berkeyakinan bahwa wajib taat kepada Allah atas segala larangan dan perintah-Nya, maka ia tidak kafir”. Lalu beliau melanjutkan, “..barangsiapa yang melakukan perbuatan haram dengan keyakinan bahwa itu halal baginya maka ia kafir dengan kesepatakan para ulama” (Ash Sharimul Maslul, 1/521).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Lajnah Ad Daimah menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">من ترك الصوم جحداً لوجوبه فهو كافر إجماعاً ، ومن تركه كسلاً وتهاوناً : فلا يكفر ، لكنه على خطر كبير بتركه ركناً من أركان الإسلام ، مجمعاً على وجوبه ، ويستحق العقوبة والتأديب من ولي الأمر ، بما يردعه وأمثاله ، بل ذهب بعض أهل العلم إلى تكفيره .</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وعليه قضاء ما تركه ، مع التوبة إلى الله سبحانه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa yang meninggalkan puasa karena juhud (menentang) wajibnya puasa maka ia kafir berdasarkan sepakat ulama. Namun yang meninggalkan puasa karena malas dan meremehkan, maka ia tidak kafir. Namun ia berada pada bahaya yang besar karena meninggalkan salah satu rukun Islam yang disepakati wajibnya. Dia wajib dihukum dan dibina oleh pemerintah, agar ia dan orang yang semisal dia jera. Namun sebagian ulama ada yang berpendapat ia kafir dan wajib meng-qadha puasa yang ditinggalkan setelah ia bertaubat kepada Allah Subhaanahu” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Fatawa Al Lajnah Ad Daimah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 10/143).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/40463-sedih-apabila-amalan-tidak-diterima-di-bulan-ramadhan.html" data-darkreader-inline-color="">Sedih Apabila Amalan Tidak Diterima di Bulan Ramadhan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Jika Bertaubat, Apakah Wajib Meng-qadha Puasa yang Ditinggalkan?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat hadits:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">من أفطر يوما من رمضان من غير رخصة لم يقضه وإن صام الدهر كله</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari  di bulan Ramadhan, padahal ia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus”.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di </span><i><span style="font-weight: 400;">Al’Ilal Al Kabir </span></i><span style="font-weight: 400;">(116), oleh Abu Daud di </span><i><span style="font-weight: 400;">Sunan</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya (2396), oleh Tirmidzi di </span><i><span style="font-weight: 400;">Sunan</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya (723), Imam Ahmad di </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Mughni </span></i><span style="font-weight: 400;">(4/367), Ad Daruquthni di </span><i><span style="font-weight: 400;">Sunan</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya (2/441, 2/413), dan Al Baihaqi di </span><i><span style="font-weight: 400;">Sunan</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya (4/228).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini didhaifkan oleh Al Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Hazm di </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Muhalla</span></i><span style="font-weight: 400;"> (6/183), Al Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">At Tamhid </span></i><span style="font-weight: 400;">(7/173), juga oleh Al Albani di </span><i><span style="font-weight: 400;">Dhaif At Tirmidzi </span></i><span style="font-weight: 400;">(723), </span><i><span style="font-weight: 400;">Dhaif Abi Daud</span></i><span style="font-weight: 400;"> (2396), </span><i><span style="font-weight: 400;">Dhaif Al Jami’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (5462) dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah Adh Dha’ifah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (4557). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, memang sebagian ulama ada yang menshahihkan hadits ini seperti Abu Hatim Ar Razi di </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Ilal </span></i><span style="font-weight: 400;">(2/17), juga ada yang menghasankan seperti Ibnu Hajar Al Asqalani di </span><i><span style="font-weight: 400;">Hidayatur Ruwah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (2/329) dan Al Haitsami di </span><i><span style="font-weight: 400;">Majma’ Az Zawaid </span></i><span style="font-weight: 400;">(3/171). Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai ada-tidaknya qadha bagi orang yang sengaja tidak berpuasa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jumhur ulama berpendapat orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja wajib meng-qadha setelah bertaubat. Bahkan Ibnu ‘Abdil Barr mengklaim ijma atas hal ini, beliau mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وأجمعت الأمة ، ونقلت الكافة ، فيمن لم يصم رمضان عامداً وهو مؤمن بفرضه، وإنما تركه أشراً وبطراً، تعمَّد ذلك ثم تاب عنه : أن عليه قضاءه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ulama sepakat dan dinukil dari banyak ulama bahwa orang yang tidak puasa Ramadhan dengan sengaja dengan masih meyakini kewajibannya, namun ia tidak puasa karena bermaksiat dan sombong, dan sengaja melakukannya, maka ia wajib diminta bertaubat dan wajib meng-qadha puasanya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al Istidzkar</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1/77).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan ini juga pendapat yang dikuatkan Al Lajnah Ad Daimah dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Namun klaim ijma ini kurang tepat, karena dinukil adanya pendapat lain dari sebagian ulama Syafi’iyyah dan juga zhahiriyyah, juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang menyatakan bahwa tidak diwajibkan qadha atas mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ولا يقضي متعمد بلا عذر : صوماً ولا صلاة ، ولا تصح منه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang yang sengaja meninggalkan ibadah tanpa udzur maka tidak ada qadha baginya, baik itu puasa maupun shalat, dan (andai qadha dilakukan) ia tidak sah” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 460).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Beliau mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فالراجح أنه لا يلزمه القضاء ؛ لأنه لا يستفيد به شيئاً ؛ إذ إنه لن يقبل منه ، فإن القاعدة أن كل عبادة مؤقتة بوقت معين ، فإنها إذا أخرت عن ذلك الوقت المعين بلا عذر ، لم تقبل من صاحبها</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang rajih, ia tidak wajib meng-qadha. Karena andaikan meng-qadha pun tidak bermanfaat karena tidak diterima. Karena kaidahnya adalah: setiap ibadah yang waktunya tertentu, jika diakhirkan sehingga keluar dari waktu tersebut tanpa udzur maka tidak akan diterima ibadahnya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ Al Fatawa Syaikh Ibnu Al Utsaimin</span></i><span style="font-weight: 400;">, 19/89).</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">, nampaknya pendapat yang pertama adalah pendapat yang lebih hati-hati, yaitu wajibnya meng-qadha bagi yang meninggalkan puasa dengan sengaja. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama. Dan sesuai dengan kaidah fiqhiyyah:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">عبادة ثبتت في ذمة العبد ، فلا تسقط عنه إلا بفعلها</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ibadah yang sudah jatuh menjadi beban seseorang, tidak bisa gugur sampai ia mengerjakannya”.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/40009-benarkah-al-quran-turun-tanggal-17-ramadhan.html" data-darkreader-inline-color="">Benarkah Al-Quran Turun Tanggal 17 Ramadhan?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/39880-asal-penamaan-bulan-ramadhan.html" data-darkreader-inline-color="">Asal Penamaan bulan “Ramadhan”</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Semoga Allah memberi taufik.</strong></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></p>
 