
<h1><b>Sudah Layakkah Aku Menikah?</b></h1>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ustadz, sebenarnya kapan seseorang dikatakan layak untuk menikah? Jazakumullah khayran.</span></i></p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawaban atas pertanyaan ini perlu melihat tiga sisi pandang:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Sisi hukum syar’i.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Sisi batasan usia minimal.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Sisi waktu ideal untuk menikah.</span></li>
</ol>
<ol>
<li><b> Sisi hukum syar’i.</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Kapan seseorang layak untuk menikah? Ini tergantung apa hukum menikah bagi dia. Dalam al-Qur’an dan hadis, kita dapati perintah untuk menikah. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. an-Nur: 32).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">النِّكَاحُ من سُنَّتِي فمَنْ لمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَليسَ مِنِّي ، و تَزَوَّجُوا ؛ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku (di hari Kiamat)” (HR. Ibnu Majah no. 1846, dishahihkan al-Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah ash-Shahihah</span></i><span style="font-weight: 400;"> no. 2383).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun para ulama berbeda pendapat mengenai apakah menikah itu wajib ataukah sunnah menjadi 3 pendapat:</span></p>
<ol start="1" type="a">
<li>
<b> Pendapat pertama, </b><span style="font-weight: 400;">mazhab Zhahiri berpendapat bahwa hukum menikah adalah wajib, dan orang yang tidak menikah itu berdosa. Mereka berdalil dengan ayat di atas, yang menggunakan kalimat perintah </span><b>وَأَنْكِحُوا</b><span style="font-weight: 400;"> (dan nikahkanlah..) dan perintah itu menunjukkan hukum wajib.</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka juga mengatakan bahwa menikah adalah jalan untuk menjaga diri dari yang haram. Dan kaidah mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu tersebut hukumnya wajib”.</span></p>
<ol start="2" type="a">
<li>
<b> Pendapat kedua, </b><span style="font-weight: 400;">madzhab Syafi’i berpendapat bahwa hukum menikah adalah mubah, dan orang yang tidak menikah itu tidak berdosa. Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa menikah itu adalah sarana menyalurkan syahwat dan meraih kelezatan syahwat (yang halal), maka hukumnya mubah saja sebagaimana makan dan minum.</span>
</li>
<li>
<b> Pendapat ketiga, </b><span style="font-weight: 400;">pendapat jumhur ulama, yaitu mazhab Maliki, Hanafi, dan Hambali berpendapat bahwa hukum menikah itu </span><i><span style="font-weight: 400;">mustahab</span></i><span style="font-weight: 400;"> (sunnah) dan tidak sampai wajib.</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka berdalil dengan beberapa poin berikut:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Andaikan menikah itu wajib maka tentu ternukil riwayat dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang menyatakan hal itu karena menikah adalah kebutuhan yang dibutuhkan semua orang. Sedangkan kita temui, di antara para sahabat Nabi ada yang tidak menikah. Demikian juga kita temui orang-orang sejak zaman Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> hingga zaman kita sekarang ini ada yang sebagian yang tidak menikah sama sekali. Dan tidak ternukil satupun pengingkaran beliau terhadap hal ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Jika menikah itu wajib, maka seorang wali boleh memaksakan anak gadisnya untuk menikah. Padahal memaksakan anak perempuan untuk menikah justru dilarang oleh syariat. Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan”. Seorang sahabat bertanya: “Bagaimana persetujuan seorang perawan?”. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda: “dengan diamnya ketika ditanya” (HR. Bukhari &amp; Muslim).</span></p>
<p><b>Yang rajih</b><span style="font-weight: 400;"> adalah bahwa hukum menikah itu tergantung kondisi masing-masing orang. Al-Qurthubi berkata: “Para ulama kita berkata, hukum nikah itu berbeda-beda tergantung keadaan masing-masing orang dalam tingkat kesulitannya menghindari zina dan juga tingkat kesulitannya untuk bersabar. Dan juga tergantung kekuatan kesabaran masing-masing orang serta kemampuan menghilangkan kegelisahan terhadap hal tersebut. Jika seseorang khawatir jatuh dalam kebinasaan dalam agamanya atau dalam perkara dunianya, maka nikah ketika itu hukumnya wajib. Dan orang yang sangat ingin menikah dan ia memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar untuk menikah hukumnya </span><i><span style="font-weight: 400;">mustahab</span></i><span style="font-weight: 400;"> baginya. Jika ia tidak memiliki sesuatu yang tidak bisa dijadikan mahar, maka ia wajib untuk isti’faf (menjaga kehormatannya) sebisa mungkin. Misalnya dengan cara berpuasa, karena dalam puasa itu terdapat perisai sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir al-Qurthubi</span></i><span style="font-weight: 400;">, 12/201).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka ketika seseorang sudah termasuk kategori </span><i><span style="font-weight: 400;">mustahab</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau bahkan wajib, hendaknya segeralah menikah.</span></p>
<ol start="2">
<li><b> Kadar batasan usia minimal menikah.</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak terdapat batasan tertentu dalam syariat terkait usia menikah. Namun Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menganjurkan para pemuda yang sudah bisa melakukan hubungan intim untuk segera menikah. Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai para pemuda, barang siapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadis ini, yang diserukan oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">asy-syabab</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dalam bahasa Arab, </span><i><span style="font-weight: 400;">asy-syabab</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah rentang usia setelah baligh sampai 30 tahun. Ini menunjukkan beliau memotivasi para pemuda dalam rentang usia tersebut untuk segera menikah. Oleh karena itu, hendaknya para pemuda tidak menunda menikah sehingga usianya lebih dari 30 tahun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan kata </span><i><span style="font-weight: 400;">ba’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam hadis ini, secara bahasa artinya:</span><i><span style="font-weight: 400;"> al-jima’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (hubungan intim). Secara istilah,</span><i><span style="font-weight: 400;"> ba’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga maksudnya adalah</span><b> kemampuan untuk menyediakan mahar dan nafkah bagi calon istri</b><span style="font-weight: 400;"> (lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Manhajus Salikin</span></i><span style="font-weight: 400;">, dengan ta’liq Syaikh Muhammad al-Khudhari, hal. 191). Maka pemuda yang sudah mampu melakukan hubungan intim, mampu menyediakan mahar, dan mampu memberi nafkah, hendaknya mereka segera menikah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun wanita, terdapat dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah tentang sahnya pernikahan wanita yang masih kecil yang sudah </span><i><span style="font-weight: 400;">mumayyiz</span></i><span style="font-weight: 400;"> walaupun belum baligh. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddahnya adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang belum haid” (QS. ath-Thalaq: 4).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat ini bicara tentang masa iddah, yaitu masa menunggu bagi seorang istri jika dicerai oleh suaminya. Salah satu yang disebutkan dalam ayat ini adalah wanita yang belum haid. Sehingga ini menunjukkan bahwa wanita yang belum haid boleh menikah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anha</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga berkata:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – تَزَوَّجَهَا وَهْىَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، وَبَنَى بِهَا وَهْىَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menikahi Aisyah ketika beliau berusia 6 tahun. Dan beliau tinggal serumah bersama Aisyah ketika ia berusia 9 tahun” (HR. Bukhari no.5134).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan ulama</span><i><span style="font-weight: 400;"> ijma’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (sepakat) tentang bolehnya menikahi anak wanita yang masih kecil walau belum baligh.</span></p>
<ol start="3">
<li><b> Sisi waktu ideal untuk menikah.</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Walaupun syariat memotivasi para pemuda dan pemudi untuk segera menikah, namun bukan berarti ini membolehkan untuk tergesa-gesa menikah. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">التَّأنِّي من اللهِ و العجَلَةُ من الشيطانِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Berhati-hati itu dari Allah, tergesa-gesa itu dari setan” (HR. al-Baihaqi dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Sunan al-Kubra</span></i><span style="font-weight: 400;"> [20270], dishahihkan al-Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah ash-Shahihah</span></i><span style="font-weight: 400;"> no. 1795).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tergesa-gesa adalah melakukan sesuatu sebelum datang waktu yang seharusnya. Al-Munawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">العجلة فعل الشيء قبيل مجيء وقته</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tergesa-gesa itu melakukan sesuatu sebelum datang waktu yang seharusnya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Faidhul Qadir</span></i><span style="font-weight: 400;">, 6/72).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Definisi lain dari tergesa-gesa adalah melakukan sesuatu tanpa berpikir dan tanpa memperhatikan dengan seksama terlebih dahulu. Syaikh Ibnu al-Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">يأخذ الإنسان الأمور بظاهرها فيتعجَّل ويحْكُم على الشَّيء قبل أن يتأنَّى فيه وينظر</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Tergesa-gesa adalah) seseorang mengambil </span><i><span style="font-weight: 400;">lahiriyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari sesuatu semata dan menghukumi sesuatu sebelum berhati-hati menilainya dan sebelum memperhatikan dengan seksama” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarah Riyadhis Shalihin</span></i><span style="font-weight: 400;">, 3/573).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka yang ideal, orang yang menikah hendaknya menyiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam pernikahan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Menyiapkan diri untuk memahami ilmu agama yang mendasar, seperti ilmu tauhid dasar, fiqih shalat, fiqih thaharah, fiqih puasa, dll sebagai bekal untuk menjalani agama dalam rumah tangga.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Menyiapkan diri untuk memahami ilmu terkait hak dan kewajiban suami istri dalam Islam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Menyiapkan mental untuk menjadi suami dan istri dengan segala tanggung jawabnya kelak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Menyiapkan mahar, dan mahar itu tidak harus mahal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Menyiapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">walimatul ursy</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan </span><i><span style="font-weight: 400;">walimatul ursy</span></i><span style="font-weight: 400;"> itu tidak harus mewah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Menyiapkan rencana seputar nafkah, tempat tinggal, dll yang terkait dengan kewajiban-kewajiban pasca pernikahan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">* Mendiskusikan dengan orang tua tentang kesiapan untuk menikah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seseorang sudah menyiapkan semua poin di atas, insyaAllah sudah termasuk siap dan layak untuk menikah. Dan inilah bentuk </span><i><span style="font-weight: 400;">ihsan</span></i><span style="font-weight: 400;"> (muamalah yang baik) dalam menyiapkan pernikahan. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat </span><i><span style="font-weight: 400;">ihsan</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam segala hal” (HR. Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberi taufik.</span></p>
<p><span style="font-size: inherit;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh Ustadz </span><span style="font-weight: 400;">Yulian Purnama, S.Kom.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
 