
<p>Setiap  muslim wajib mengimani tiga pilar tauhid, yaitu tauhid rububiyyah, tauhid  uluhiyyah, dan tauhid asma’ wash shifat. Seluruh kaum muslimin telah bersepakat  bahwa semua pemahaman yang menyimpang terkait dengan tauhid rububiyyah dan  tauhid uluhiyyah adalah perbuatan kufur. Namun, masih banyak syubhat-syubhat  seputar tauhid asma’ wash shifat yang ‘<em>bersliweran’</em> di tengah-tengah  kaum muslimin demi mengkaburkan kemurnian tauhid seorang muslim.</p>
<p>Diantara  syubhat yang kencang berhembus di tengah majelis kaum muslimin adalah masalah turunnya Allah ke langit dunia (sifat <em>an-nuzul</em>).  Terdapat banyak dalil yang berbicara tentang  hal ini, namun, sebagian kaum muslimin pada masa sekarang, merasa kebingungan  dalam menerima <em>khabar</em> ini, sehingga diantara mereka ada yang melakukan <em>takwil</em> dengan hawa nafsu dan <em>ra’yu</em> (akal) mereka. Tapi, benarkah <em>takwil</em> mereka itu? Ataukah ada cara tersendiri untuk mencapai kebenaran tentang <em>khabar</em> ini?</p>
<p><strong>TAKHRIJ  HADITS <em>AN-NUZUL</em></strong></p>
<p class="arab">أَنَّ  رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ  وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ  الأَخِيْرِ يَقُوْلُ : مَنْ  يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ  فَأَغْفِرَ لَهُ</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Rabb kita <em>Tabaraka wa Ta’ala</em> turun ke  langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir,  (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku  kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang  siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’”</p>
<p>Hadits ini dinukil dengan  sanad yang shahih dari generasi ke generasi dan mencapai derajat mutawatir,  karena hadits ini diriwayatkan dari sejumlah  sahabat Nabi, diantaranya:</p>
<p>1. Abu  Bakar Ash-Shiddiq <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>2. Ali  bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>3. Abu  Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>4. Jubair  bin Muth’im <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>5. Jabir  bin ‘Abdillah <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>6. ‘Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>7. Abu  Sa’id Al-Khudri <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>8. Amru  bin ‘Abasah <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>9.  Rifa’ah bin ‘Arabah Al-Juhani <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>10. Utsman bin Abi ‘Ash Ats-Tsaqafi <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>11. Abdul Hamid bin Salamah dari  ayahnya dari kakeknya <em>radhiyallahu’anhum</em>,</p>
<p>12. Abu Darda’ <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>13. Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>14. Abu Tsa’labah Al-Khusyni <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>15. Ummul Mukminin ‘Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em>,</p>
<p>16. Abu Musa Al-Asy’ari <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>17. Ummu Salamah <em>radhiyallahu’anha</em>,</p>
<p>18. Anas bin Malik <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>19. Hudzaifah bin Yaman <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>20. Laqith bin Amir Al-‘Uqaili <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>21. ‘Abdullah bin ‘Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em>,</p>
<p>22. Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu’anhuma</em></p>
<p>23. Ubadah bin Shamith <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>24. Asma’ binti Yazid <em>radhiyallahu’anha</em>,</p>
<p>25. Abu Al-Khaththab <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>26. ‘Auf bin Malik <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>27. Abu Umamah Al-Bahili <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>28. Tsauban <em>radhiyallahu’anhu</em>,</p>
<p>29. Abu Haritsah <em>radhiyallahu’anhu,</em></p>
<p>30. Khaulah binti Hakim <em>radhiyallahu’anha</em>,  dan</p>
<p>31. ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani <em>radhiyallahu’anhu</em>.</p>
<p>[Lihat <em>Syarh  Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah </em>(I/275-285) dan <em>Mukhtashar  Shawa’iq Mursalah</em>(III/1125)]</p>
<p>Hadits ini  dikeluarkan oleh sekelompok ulama ahli hadits,  diantaranya:</p>
<p>1. Al-Bukhari dalam <em>Shahih</em>-nya,  kitab <em>At-Tahajud</em>, bab <em>Ad-Du’a fish Shalah min Akhiril Lail</em>, no.  1145; kitab <em>Ad-Da’awat</em>, bab <em>Ad-Du’a Nishfu Al-Lail</em>, no. 6321; dan  kitab <em>At-Tauhid</em>, bab <em>Qaul Allahu Ta’ala: Yuriduna An Yubaddilu Kalam  Allah</em>, no. 7494.</p>
<p>2. Muslim dalam <em>Shahih</em>-nya,  kitab <em>Shalatul Musafirin wa Qasriha</em>, bab <em>At-Targhib fid Du’a wal  Dzikri fil Akhiril Lail wal Ijabati Fihi</em>, no. 758.</p>
<p>3. At-Tirmidzi dalam <em>Sunan</em>-nya,  kitab <em>Ash-Shalah</em>, bab <em>Ma Ja’a</em> <em>Fi Nuzulir Rabbi Tabaraka wa  Ta’ala Ilas Sama’i Ad-Dunya Kulla Lailah</em>, no. 446; kitab <em>Ad-Da’awat ‘An  Rasulillah, </em>bab <em>Ma Ja’a Fi ‘Aqdit Tasbih Bil Yad</em>, no. 3498.</p>
<p>4. Abu Dawud dalam <em>Sunan</em>-nya,  kitab <em>Ash-Shalah</em>, bab <em>Ayyu Lail Afdhal?</em>, no. 1315; dan kitab <em>As-Sunnah</em>,  bab <em>Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah</em>, no. 4733.</p>
<p>5. Ibnu Majah dalam <em>Sunan</em>-nya,  kitab <em>Iqamah Ash-Shalah was Sunnah Fiha</em>, bab <em>Ma Ja’a Fi Ayyi Sa’at  Al-Lailah Afdhal</em>, no. 1366 .</p>
<p>6. Imam Malik dalam <em>Muwaththa’</em>,  kitab <em>Ash-Shalah</em>, bab <em>Ma Ja’a Fid Du’a</em>, no. 470.</p>
<p>7. Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab <em>As-Sunnah</em>,  bab <em>Dzikru Nuzul Rabbuna Tabaraka wa Ta’ala Ilas Sama’i Ad-Dunya Lailah  An-Nishfu Min Sya’ban wa Mathla’ihi Ila Khalqihi</em>, no. 492.</p>
<p>8. Ibnu Khuzaimah dalam kitab <em>At-Tauhid</em>,  I/280.</p>
<p>Dan  sejumlah ulama ahli hadits selainnya.</p>
<p><strong>SYARAH  HADITS AN-NUZUL</strong></p>
<p>Turunnya Allah <em>Tabaraka wa Ta’ala</em> ke langit  dunia merupakan salah satu dari sekian banyak sifat-sifat <em>fi’liyah</em> yang  dimiliki-Nya. Sifat <em>fi’liyah</em> adalah sifat-sifat Allah yang berkaitan  dengan kehendak Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, seperti turun, istiwa,  tertawa, murka, ridha, dan selainnya. Sifat-sifat tersebut telah ada sejak  dahulu (<em>qadim</em>) jika dilihat dari segi jenisnya. Artinya sejak dulu Allah  mampu untuk turun, tertawa, murka, ridha, berbicara dst.</p>
<p>Sementara jika dilihat dari kasus  terjadinya maka semua sifat di atas adalah satu hal yang baru, yang bisa muncul  jika Allah berkehendak untuk melakukannya.Ketika Allah berkehendak maka Dia akan melakukan  hal tersebut, namun ketika Allah tidak berkehendak maka Dia tidak melakukannya.  [Lihat <em>Mukhtashar Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah</em> (hal. 30) dan <em>Syarh  Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah</em> (hal. 78-79)]</p>
<p>Hadits di atas menyebutkan dengan sangat jelas bahwa  Rabb kita <em>Tabaraka wa Ta’ala</em> turun ke langit dunia pada setiap sepertiga  malam terakhir untuk mengijabahi do’a hamba-Nya. Akan tetapi, Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> tidak menjelaskan kepada kita tentang bagaimana cara  turunnya Allah ke langit dunia. Allah pun tidak mewahyukan bagaimana caranya  kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. [Lihat <em>Syarh ‘Aqidah  Al-Wasithiyyah, </em>Khalil Harras (hal. 165)]</p>
<p>Untuk itu, selaku hamba sekaligus ummat yang taat,  sudah sepatutnya kita menerima <em>khabar</em> ini tanpa menanyakan <em>kaifiyat</em> (cara) turunnya Allah, karena perkara tersebut berada diluar jangkauan nalar  kita. Kalaupun kita hendak bersikap <em>takalluf </em>(memberat-beratkan diri) dengan mengkhayalkan bagaimana turunnya Allah, maka  hakekatnya kita telah melakukan <em>tasybih </em>(menyerupakan Allah dengan  makhlukNya)<em>. </em>Padahal Allah telah berfirman,</p>
<p class="arab">لَيْسَ  كَمِثْلِهِ شَىْءٌۚ وَهُوَالسَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ۝</p>
<p><em>Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia  Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”</em> (Qs. Asy-Syura: 11)</p>
<p>Selain itu, kita juga tidak  patut untuk mengubah hakikat sifat turunnya Allah dengan permisalan-permisalan  yang tidak ada asal-usulnya. Contohnya mengatakan bahwa yang turun bukanlah  Dzat Allah, tetapi yang turun adalah rahmat Allah. Orang yang memiliki  keyakinan ini, berarti telah terjebak dalam <em>tahrif</em> (mengubah makna). Padahal sejatinya, kebiasaan seperti itu adalah  kebiasaan buruk orang-orang Mu’tazilah dan Asy’airah yang <em>zhahir</em>nya  adalah perilaku kaum Yahudi, sebagaimana difirmankan oleh Allah <em>Subhanahu wa  Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">مِنَ  الَّذِيْنَ هَادُوْا يَحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهِ … ۝</p>
<p>Artinya: “<em>Yaitu orang-orang Yahudi, mereka  mengubah perkataan dari tempat-tempatnya…”</em> (Qs. An-Nisa’: 46)</p>
<p>Mengingat pentingnya masalah ini, banyak diantara para ulama  yang menulis risalah khusus tentang hal ini. Dan berikut ini adalah komentar  mereka:</p>
<p>1. Imam  Asy-Syafi’i <em>rahimahullah</em> berkata, “Aqidah yang aku yakini dan diyakini  oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya  adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah  kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah berada di  atas ‘<em>Arsy</em>-Nya di langit-Nya, lalu mendekat kepada makhluk-Nya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, dan  sesungguhnya Allah turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki.”  [Lihat <em>Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyyah</em> (hal. 94 dan 122), <em>Mukhtashar  Al-‘Uluw</em> (hal. 176), <em>Majmu’ Fatawa </em>(IV/181), dan ‘<em>Aunul Ma’bud</em> (XIII/41 dan 47)]</p>
<p>2. Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyyah<em>rahimahullah</em> berkata,  “Sesungguhnya pendapat tentang turunnya Allah setiap malam, telah tersebar luas  melalui Sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para Salafush  Shalih serta para ulama dan ahli hadits telah sepakat membenarkannya dan  menerimanya. Siapa yang berkeyakinan sesuai dengan  apa yang dikatakan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maka  perkataan itu adalah haq dan benar, kendati ia tidak mengetahui tentang hakikat  dan kandungan serta makna-maknanya. Sebagaimana orang yang membaca Al-Qur’an  sedang dia tidak memahami makna ayat yang dibacanya. Karena sebenar-benar <em>kalam</em> adalah Kalam Allah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (as-sunnah).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengucapkan  perkataan ini dan yang semisalnya secara umum, tidak mengistimewakan seseorang  atas orang lain, dan tidak pula disembunyikannya dari seseorang. Sedangkan para  Sahabat serta para Tabi’in menyebutkannya, menukilnya, menyampaikannya dan  meriwayatkannya di majelis-majelis khusus dan umum pula, yang selanjutnya  dimuat dalam kitab-kitab Islam yang dibaca di majelis-majelis khusus maupun  umum, seperti <em>Shahih Al-Bukhari</em>, <em>Shahih Muslim</em>, <em>Muwaththa’  Imam Malik</em>, <em>Musnad Imam Ahmad</em>, <em>Sunan Abi Dawud</em>, <em>Sunan  At-Tirmidzi</em>, <em>Sunan An-Nasa’i</em>, dan yang semisalnya.” [Lihat <em>Majmu’  Fatawa</em> (V/322-323) dan <em>Syarah Hadits Nuzul</em>(hal. 69)]</p>
<p>3. Abdul Ghani  Al-Maqdisi <em>rahimahullah</em> berkata<em>,</em> “Hadits-hadits  tentang turunnya Allah ke langit dunia setiap hari telah mencapai derajat  mutawatir dan (sanadnya) shahih. Maka wajib bagi kita untuk mengimaninya,  pasrah menerimanya, tidak menentangnya, menjalankannya tanpa <em>takyif </em>(menanyakan caranya) dan <em>tamtsil </em>(menyerupakan  dengan makhluk) serta<em>takwil </em>(menyelewengkan artinya) sehingga  meniadakan hakikat turunnya Allah.” [Lihat <em>Al-Iqtishad fil I’tiqad</em>(hal.  100)]</p>
<p>4. Imam  Al-Ajurri <em>rahimahullah</em>berkata, “Mengimaninya  adalah wajib, tetapi tidak boleh bagi seorang muslim untuk bertanya, ‘Bagaimana  cara Allah turun?’ Dan tidak ada yang mengingkari hal ini, kecuali golongan  Mu’tazilah. Adapun ahlul haq, mereka mengatakan, “Mengimaninya adalah wajib  tanpa <em>takyif</em> (menanyakan caranya), sebab telah datang hadits-hadits  yang shahih dari Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bahwa Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> turun ke langit  dunia setiap malam. Orang-orang yang meriwayatkan hadits ini kepada kita,  mereka pula yang meriwayatkan hadits-hadits tentang hukum halal haram, shalat,  zakat, puasa, haji dan jihad. Maka seperti halnya para ulama dalam menerima  semua itu, mereka (ahlul haq) juga menerima hadits-hadits ini, bahkan mereka  menegaskan, ‘Barang siapa yang menolaknya maka dia sesat dan keji.’” Mereka  (ahlul haq) bersikap waspada darinya (para penolak kebenaran itu) dan  memperingatkan ummat dari penyimpangannya.”[Lihat <em>Asy-Syari’ah</em>(II/93)  dan ‘<em>Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits</em> (hal. 81)]</p>
<p>5. Imam  Ash-Shabuni <em>rahimahullah</em> berkata, “Para  ulama ahli hadits menetapkan turunnya Rabb ‘<em>Azza wa Jalla</em> ke langit  terendah pada setiap malam tanpa menyerupakan turun-Nya Allah itu dengan  turunnya makhluk (<em>tasybih</em>), tanpa memisalkan  (<em>tamtsil</em>) dan tanpa menanyakan bagaimana sifat turun-Nya (<em>takyif</em>).  Tetapi menetapkannya sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> dengan mengakhiri perkataan padanya (tanpa ada komentar  lagi), memperlakukan kabar shahih yang memuat hal itu sesuai dengan zhahirnya,  serta menyerahkan ilmunya kepada Allah.” [Lihat ‘<em>Aqidatus Salaf Ash-habil  Hadits</em> (hal. 75)]</p>
<p>Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah bersepakat mengenai  wajibnya mengimani turunnya Allah <em>Tabaraka wa Ta’ala </em>ke langit dunia  pada setiap malam, karena <em>khabar</em> tentang hal ini telah shahih datang  dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai penerima wahyu dan  pembawa risalah. Dengan demikian, cukuplah bagi kita untuk  mengimani bahwa Allah memang benar turun ke langit dunia pada setiap sepertiga  malam, yang merupakan waktu paling baik untuk di<em>ijabah</em>nya do’a-do’a,  tanpa mempertanyakan <em>kaifiyat</em>nya (<em>takyif</em>), tanpa merubah maknanya  (<em>tahrif</em>), tanpa menyerupakan cara turunnya Allah dengan cara turun  makhluk (<em>tasybih</em>), tanpa membuat permisalan-permisalan yang tidak ada  asal-usulnya (<em>tamtsil</em>), dan juga tanpa pengingkaran dalam bentuk apa pun  (<em>ta’thil</em>). Itulah penjelasan dan pemahaman paling baik serta paling  selamat –<em>insya Allah</em>– untuk permasalahan ini, karena demikianlah yang  difahami oleh orang-orang dari generasi terbaik, dan mereka itulah orang-orang  yang paling mengerti dengan sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Sebagaimana dikatakan oleh  Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em>, “Pendapat yang benar  adalah pendapat Salafush Shalih, yaitu menyakini turunnya Allah dan memahami  riwayat ini sebagaimana datangnya, tanpa <em>takyif</em> (mempertanyakan  caranya) dan tanpa <em>tamtsil</em> (menyerupakan dengan makhluk). Inilah jalan  yang paling benar, paling selamat, paling cocok, dan paling bijaksana.  Pegangilah keyakinan ini dan gigitlah dengan gigi gerahammu serta waspadalah  dari keyakinan-keyakinan yang menyelisihnya.” [Lihat <em>Ta’liq Fathul Bari</em> (III/30)]</p>
<p>bersambung insyaallah</p>
<p>***<br>
<a href="https://muslimah.or.id">muslimah.or.id</a><br>
Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad<br>
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<p><strong>Maraji’:</strong><br>
1. <em>Al-Muwaththa’  Imam Malik</em>, Imam Malik bin Anas, cet. Maktabah Al-Furqan.<br>
2. ‘<em>Aqidah  As-Salaf wa Ash-habul Hadits</em>, Imam Ash-Shabuni, cet. Darul ‘Ashimah, Riyadh.<br>
3. <em>Ar-Risalah</em>,  Imam Muhammad bin ‘Idris Asy-Syafi’i, <em>tahqiq </em>dan <em>syarah</em>: Ahmad  Muhammad Syakir, cet. Maktabah Darut Turats, Kairo.<br>
4. <em>Asy-Syari’ah</em>.  Imam Al-Ajurri, cet. Mausu’ah Qurthubah.<br>
5. <em>Ijtima’ul  Juyusy Al-Islamiyyah ‘ala Ghazwil Mu’aththilah wal Jahmiyyah</em>, Ibnu Qayyim  Al-Jauziyyah, <em>tahqiq</em>: Basyir Muhammad ‘Uyun, cet. Maktabah Darul Bayan, Beirut.<br>
6. <em>Kitab  As-Sunnah</em>, Al-Hafizh Ibnu Abi ‘Ashim, cet. Al-Maktab Al-Islamiy, Amman.<br>
7. <em>Mukhtashar  Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil ‘Azhim</em>, Imam Abu ‘Abdillah Muhammad Adz-Dzahabi, <em>tahqiq</em>:  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cet. Al-Maktab Al-Islami, Amman.<br>
8. <em>Mukhtashar  Shawa’iq Al-Mursalah ‘Alal Jahmiyyah wal Mu’aththilah</em>, Imam Ibnu Qayyim  Al-Jauziyyah, cet. Maktabah Adhwa’us Salaf, Riyadh.<br>
9. <em>Shahih  Al-Bukhari</em>, Imam Al-Bukhari, cet. Dar Ibnu Katsir, Damaskus.<br>
10. <em>Shahih Muslim</em>, Imam Muslim,  cet. Dar Al-Mughni, Saudi Arabia.<br>
11. <em>Sunan Abu Dawud</em>, Imam Abu  Dawud, cet. Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh.<br>
12. <em>Sunan At-Tirmidzi</em>, Imam  At-Tirmidzi, cet. Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh.<br>
13. <em>Sunan Ibnu Majah</em>, Imam Ibnu  Majah, cet. Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh.<br>
14. <em>Syarh ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal  Jama’ah</em>, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta.<br>
15. <em>Syarh ‘Aqidah Al-Wasithiyyah</em>,  Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cet. Dar Ibnul Jauzi, Riyadh.<br>
16. <em>Syarh Hadits An-Nuzul</em>,  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, <em>tahqiq</em>: Muhammad bin ‘Abdurrahman  Al-Khumaiyis, cet. Darul ‘Ashimah, Riyadh.<br>
17. <em>Syarh I’tiqad Ahlus Sunnah wal  Jama’ah</em>, Imam Al-Lalika’i, cet. Dar Al-Hadits, Kairo.</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 