
<p><em>Alhamdulillah</em>, pada kesempatan kali ini kami akan mencoba membahas syarat dan rukun jual beli. Semoga pembahasan ini bisa bermanfaat untuk kita semua.</p>

<p>Jual-beli adalah aktivitas yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Dengan adanya jual-beli, manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Oleh karena itu, Allah <em>Ta’ala</em> halalkan jual beli. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا</span></p>
<p><em>“Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”</em> (QS. Al Baqarah: 275).</p>
<p>Namun, jual beli memiliki syarat dan rukun yang akan mempengaruhi keabsahan jual beli. Orang yang melakukan jual beli hendaknya memperhatikan terpenuhinya syarat dan rukun jual beli tersebut.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Rukun jual beli</strong></span></h2>
<p>Dari penjelasan para ulama, bisa kita simpulkan bahwa jual beli memiliki empat rukun, yaitu:</p>
<p>1. adanya pembeli</p>
<p>2. adanya penjual</p>
<p>3. adanya barang</p>
<p>4. adanya <em>shighah</em> atau <em>ijab-qabul</em>.</p>
<p>Dalam kitab <em>Al-Fiqhul Muyassar</em> dijelaskan, “Rukun jual-beli ada tiga: pihak yang berakad (penjual dan pembeli), <em>ma’qud ‘alaihi</em> (barang), dan <em>shighah</em>. Pihak yang berakad di sini mencakup penjual dan pembeli. Sedangkan <em>ma’qud ‘alaihi</em> adalah barangnya. Dan <em>shighah</em> adalah ijab dan qabul” (<em>Al-Fiqhul Muyassar</em>, hal. 211).</p>
<p>Tidak disebut jual-beli tanpa ada empat komponen di atas. Adapun penjual, pembeli dan barang yang diperjual-belikan, tentu ini mudah dipahami bahwa jual-beli tidak akan terjadi tanpa tiga hal tersebut.</p>
<p>Sedangkan <em>shighah</em> jual-beli adalah ucapan atau perbuatan yang menunjukkan adanya maksud dari kedua belah pihak untuk melakukan jual-beli. <em>Shighah</em> bisa berupa ucapan atau cukup dengan perbuatan. Disebutkan secara ringkas oleh Ibnu Balban ad-Dimasyqi <em>rahimahullah</em> dalam matan <em>Akhsharul Mukhtasharat,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ينْعَقد بمعاطاة وبإيجاب وَقبُول</span></p>
<p>“Jual-beli sah dengan <em>mu’athah</em> (adanya pertukaran barang antara penjual dan pembeli) dan <em>ijab-qabul</em>”.</p>
<p><em>Mu’athah</em> adalah istilah lain untuk <em>shighah fi’liyah</em>, dan <em>ijab-qabul</em> adalah istilah lain untuk <em>shighah qauliyah</em>. Dalam kitab <em>Al-Iqna</em>, Al-Hajjawi <em>rahimahullah</em> menyebutkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وله صورتان ينعقد بهما: إحداهما الصيغة القولية وهي غير منحصرة في لفظ بعينه بلى كل ما أدى معنى البيع … والثانية: الدلالة الحالية – وهي المعاطاة – تصح في القليل والكثير ونحوه</span></p>
<p>“Jual beli memiliki dua bentuk. Yang pertama adalah <em>shighah qauliyah</em> yang tidak terhitung jenis lafadz-nya, yaitu semua lafadz yang menunjukkan maksud untuk berjual-beli .. Yang kedua adalah <em>dalalah haliyah</em> (yaitu <em>al</em>–<em>mu’athah</em>) yang sah hukumnya baik untuk barang yang sedikit ataupun banyak” (<em>Al Iqna’</em>, 2/56-57).</p>
<p>Dalam <em>Al-Fiqhul Muyassar</em> dijelaskan, “<em>Ijab</em> adalah lafadz yang diucapkan oleh penjual. Semisal dia berkata, “Saya jual barang ini …”. Adapun <em>qabul</em>, dia adalah lafadz yang diucapkan oleh pembeli. Semisal dia berkata, “Saya beli barang ini…”. Ini adalah bentuk <em>shighah qauliyah </em>(ucapan). <em>Shighah</em> juga bisa berupa <em>fi’liyah</em> (perbuatan), yaitu dengan <em>mu’athah</em>. <em>Mu’athah</em> adalah serah-terima barang. Contohnya ketika pembeli menyerahkan uang kepada penjual, lalu penjual memberikan barangnya kepada pembeli, tanpa ada perkataan apa-apa” (<em>Al-Fiqhul Muyassar</em>, hal. 211-212).</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/61826-hukum-jual-beli-dengan-uang-muka.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Hukum Jual Beli Dengan Uang Muka</a></strong></em></p></blockquote>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Syarat Jual Beli</strong></span></h2>
<p>Sedangkan syarat jual beli ada tujuh syarat. Ibnu Balban <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Dengan memenuhi tujuh syarat: [1] adanya rida antara dua pihak, [2] pelaku jual-beli adalah orang yang dibolehkan untuk bertransaksi, [3] yang diperjual-belikan adalah harta yang bermanfaat dan mubah (bukan barang haram), [4] harta tersebut dimiliki atau diizinkan untuk diperjual-belikan, [5] harta tersebut bisa dipindahkan kepemilikannya, [6] harta tersebut jelas tidak samar, [7] harganya jelas” (<em>Akhsharul Mukhtasharat, </em>hal. 164).</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>1. Adanya rida dari kedua belah pihak</strong></span></h3>
<p>Sebagaimana Allah<em> Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ</span></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan rida (suka sama-suka) di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”</em> (QS. An Nisa: 29).</p>
<p>Syaikh Abdullah Al-Jibrin <em>rahimahullah </em>menjelaskan, “Jual-beli harus disertai rida dari kedua pihak. Contoh yang tidak memenuhi syarat ini adalah perampasan. Jika barang dagangan diambil tanpa keridaan pemiliknya, maka jual-beli seperti ini batal. Karena penjualnya tidak rida. Demikian juga karena penjualnya belum ridha dengan harganya. Baik perampasan ini karena pembelinya segera ingin memiliki barangnya … atau karena harga yang ditawarkan terlalu sedikit. Demikian juga, (termasuk jual-beli yang batal) jika pembeli dipaksa untuk membeli. Maka jual-beli seperti ini batal” (<em>Syarah Akhsharul Mukhtasharat</em>, 25: 7).</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>2. Pelaku jual-beli adalah orang yang dibolehkan untuk bertransaksi</strong></span></h3>
<p>Maksudnya, pelaku jual beli adalah orang yang <em>baligh</em> dan berakal sehat. Syaikh ‘Abdullah Al-Jibrin <em>rahimahullah </em>menjelaskan, “Pelaku transaksi haruslah orang yang dibolehkan untuk bertransaksi. Baik penjualnya maupun pembelinya. Jika pelakunya orang yang <em>safih</em> (dungu), atau anak kecil, atau orang gila, atau hamba sahaya, maka tidak sah jual-belinya.</p>
<p>Namun para ulama membolehkan anak kecil untuk menjual atau membeli pada <em>al-muhqarat</em> (barang-barang yang nilainya kecil). Anak kecil di bawah 10 tahun atau sekitar itu jika datang kepada Anda dengan membawa 1 atau 5 riyal, lalu ingin membeli sesuatu dari anda, maka penuhilah. Karena bentuk transaksi yang seperti ini sah berdasarkan ‘<em>urf</em>. Karena secara umum, bentuk transaksi seperti ini dianggap wajar (dalam <em>‘urf</em>). Adapun jika anak kecil membawa uang yang banyak seperti 50 atau 100 riyal, maka hukum asalnya ini bukan atas perintah walinya. Yaitu dia mengambil uang dari walinya tanpa izin, sehingga transaksi seperti ini tidak sah” (<em>Syarah</em> <em>Akhsharul Mukhtasharat</em>, 25: 8).</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/61823-adakah-batasan-keuntungan-dalam-jual-beli.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Adakah Batasan Keuntungan Dalam Jual Beli?</a></strong></em></p></blockquote>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>3. Yang dijual adalah harta yang bermanfaat dan mubah</strong></span></h3>
<p>Barang yang diperjual-belikan haruslah berupa <em>al-maal</em>. Dan suatu hal disebut dengan <em>al-maal</em>, jika ia memiliki nilai manfaat dan mubah (boleh digunakan).</p>
<p>Syaikh Abdullah Al-Jibrin <em>rahimahullah </em>menjelaskan, “Barang yang diperjual-belikan haruslah berupa <em>al-maal</em>. Dan <em>al-maal</em> adalah semua yang mengandung manfaat dan mubah. Maka tidak boleh menjual sesuatu yang tidak bermanfaat. Atau, yang bermanfaat namun haram digunakan, seperti <em>khamr</em>. Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا</span></p>
<p><em>“(Judi dan khamr) mengandung manfaat bagi manusia. Namun dosanya lebih besar dari manfaatnya”</em> (QS. Al Baqarah: 219).</p>
<p>Demikian juga tidak boleh menjual barang yang manfaatnya tidak mutlak, seperti anjing. Karena walaupun anjing mengandung manfaat untuk menjaga ladang dan berburu, namun manfaat ini hanya sifatnya khusus bagi orang yang membutuhkan saja. … Dan dibolehkan menjual barang yang bermanfaat walaupun haram dimakan. Seperti menjual keledai jinak, manfaatnya termasuk mubah. Dan secara <em>‘urf</em>, manusia membutuhkannya untuk membawa barang atau untuk ditunggangi. Walaupun memang dia haram dimakan. Maka memperjual-belikannya boleh” (<em>Syarah</em> <em>Akhsharul Mukhtasharat</em>, 25/9).</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>4. Barangnya dimiliki atau diizinkan untuk dijual</strong></span></h3>
<p>Dari Hakim bin Hizam <em>radhiallahu’anhu</em>, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يا رسول الله يأتيني الرجل فيسألني البيع ليس عندي ، أبيعه منه ثم أبتاعه له من السوق ؟ فقال: (لا تبع ما ليس عندك)</span></p>
<p>“Wahai Rasulullah, seseorang datang kepadaku, lalu ia memintaku untuk menjual barang yang belum aku miliki. Yaitu saya membelinya dari pasar lalu aku menjual barang tersebut kepadanya. Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> lalu bersabda, “Jangan Engkau menjual barang yang bukan milikmu” (HR. Tirmidzi no. 1232, disahihkan Al Albani dalam <em>Shahih At Tirmidzi</em>).</p>
<p>Maka barang yang diperjual-belikan haruslah dimiliki terlebih dahulu atau ia milik orang lain namun diizinkan untuk dijual. Syaikh Abdullah Al-Jibrin <em>rahimahullah </em>menjelaskan, “Barang yang dijual harus dimiliki atau diizinkan untuk dijual. Contoh yang tidak memenuhi syarat ini adalah jika seseorang menjual barang yang bukan miliknya. Maka janganlah seseorang menjual kambing milik orang lain, atau rumah milik orang lain, walaupun rumah itu milik ayahnya atau ibunya. Kecuali jika ia dijadikan sebagai wakil dan diizinkan untuk menjualnya. Maka ketika itu ia berposisi sebagai pemilik barangnya” (<em>Syarah</em> <em>Akhsharul Mukhtasharat</em>, 25: 10).</p>
<p>Namun, syarat ini berlaku untuk barang yang <em>mu’ayyan </em>(spesifik) bukan pada barang yang <em>maushuf</em>. Syaikh Abdullah Al Jibrin <em>rahimahullah </em>menjelaskan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وهذا يعتبر من الشروط المشهورة، وهو كون البائع مالكاً للعين أو وكيلاً في تلك العين مأذوناً له فيها</span></p>
<p>“Syarat ini adalah syarat yang dikenal para ulama. Yaitu, penjual berlaku sebagai pemilik barang yang spesifik atau ia wakil dari barang yang spesifik tersebut yang diizinkan untuk menjualnya” (<em>Syarah</em> <em>Akhsharul Mukhtasharat</em>, 25: 10).</p>
<p>Contohnya, “mobil merah milik pak Prasetyo”. Ini contoh barang yang spesifik. Maka tidak boleh dijual kecuali oleh pak Prasetyo atau sebagai wakil dari pak Prasetyo.</p>
<p>Adapun menjual barang yang <em>maushuf</em> (hanya disebutkan sifat-sifatnya saja), tidak spesifik, maka tidak harus dimiliki terlebih dahulu. Seperti pada akad salam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>menjelaskan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">السلم هو على شيء موصوف في الذمة ، فالفرق أن قوله صلى الله عليه وسلم ( لا تبع ما ليس عندك ) يقصد المعين .أما الموصوف في الذمة : فهذا غير معين . ولهذا نطالب الذي باع الشيء الموصوف بالذمة ، نطالبه بإيجاده على كل حال</span></p>
<p>“Akad salam itu menjual barang yang <em>maushuf fi dzimmah</em> (dideskripsikan sifatnya dengan tempo tertentu). Bedanya dengan sabda Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em>: jangan menjual yang belum menjadi milikmu, yang dimaksud dalam hadis ini adalah barang yang sudah ada dan spesifik. Adapun barang yang <em>maushuf fi dzimmah</em> itu tidak spesifik. Oleh karena itu, orang yang menjual dengan akad salam diminta untuk menghadirkan barang yang dideskripsikan tersebut dengan bagaimana pun caranya.” (<em>Syarhul Kafi fi Fiqhil Imam Ahmad</em>, 1: 1274, Asy Syamilah).</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>5. Barang harus bisa diserahkan</strong></span></h3>
<p>Syaikh Abdullah Al-Jibrin <em>rahimahullah </em>menjelaskan, “Barang yang diperjual-belikan harus bisa diserahkan. Jika tidak bisa diserahkan, maka tidak sah akadnya. Para ulama mencontohkan dengan jual beli unta yang kabur. Secara umum, unta yang kabur itu tidak bisa ditemukan lagi. Terkadang bisa dikejar dengan kuda, namun tidak bisa ditangkap. Andaikan bisa dikejar dengan kuda, biasanya unta akan mengalahkan kudanya. Terkadang unta akan menendangnya sampai terjatuh. Maka para ulama mengatakan: tidak boleh menjual unta yang kabur … Demikian juga menjual budak yang kabur. Karena dia tidak mungkin untuk diserahkan. Demikian juga menjual burung yang terbang di udara” (<em>Syarah Akhsharul Mukhtasharat</em>, 25: 11).</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>6. Barangnya jelas, tidak samar</strong></span></h3>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ’anhu</em>, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">نَهَى رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ عن بَيْعِ الحَصَاةِ، وَعَنْ بَيْعِ الغَرَرِ</span></p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> melarang jual beli dengan mengundi kerikil dan melarang jual beli <em>gharar</em>” (HR. Muslim no. 1513).</p>
<p>Jual beli <em>gharar</em> adalah jual beli yang terdapat unsur ketidak-jelasan. Maka barang yang diperjual-belikan harus jelas. Syaikh Abdullah Al-Jibrin <em>rahimahullah </em>menjelaskan, “Barang yang dijual harus bisa dilihat atau jelas sifat-sifatnya. Contoh barang yang bisa dilihat seperti unta, dia bisa dilihat dan diperhatikan. Juga seperti pakaian yang bisa dibolak-balik (untuk dicek). Juga seperti kuali yang bisa diangkat dan diperhatikan (untuk dicek). Juga seperti buku yang bisa dibolak-balik lembarannya dan bisa dikenali. Maka menjual barang-barang seperti ini hukumnya sah setelah dilihat dan dibolak-balik (dicek).</p>
<p>Adapun barang yang tidak ada di tempat, maka harus disebutkan sifat-sifatnya secara detail sehingga tidak mungkin salah atau tertukar” (<em>Syarah</em> <em>Akhsharul Mukhtasharat</em>, 25: 12).</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>7. Harganya jelas</strong></span></h3>
<p>Syaikh Abdullah Al-Jibrin <em>rahimahullah </em>menjelaskan, “Harga barang harus diketahui. Karena harga adalah salah satu dari <em>al-‘iwadh</em> (yang ditukarkan dalam jual-beli). Dan <em>al-‘iwadh</em> itu harus jelas bagi kedua pihak. Maka uang yang harus dibayarkan oleh pembeli haruslah jelas” (<em>Syarah</em> <em>Akhsharul Mukhtasharat</em>, 25: 13).</p>
<p>Demikian juga dalam akad ijarah (sewa-menyewa). Syaikh Abdul Aziz bin Baaz <em>rahimahullah </em>menjelaskan, “Pemilik usaha wajib menentukan upah yang jelas. Ia tidak boleh mempekerjakan orang seperti itu yaitu tanpa upah yang jelas. Karena ini akan membawa kepada perselisihan dan permusuhan. Karena ini merupakan bentuk upah yang <em>majhul</em> (tidak jelas), maka tidak diperbolehkan” (<em>Fatawa Nurun ‘alad Darbi</em>, 1: 1481).</p>
<p>Dan dibolehkan tidak menyebutkan harga dengan pasti ketika akad, ketika harganya sudah sama-sama diketahui. Syaikh Abdullah Al-Jibrin <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Contohnya jika ada orang berkata, “Saya ingin beli beberapa kantong ini, tolong ambilkan 10 buah dengan harga yang sama seperti di pasar”. Di sini tidak jelas berapa harganya. Para ulama <em>khilaf</em> tentang jual-beli seperti ini. Namun yang lebih tepat, jual-beli seperti ini boleh jika harganya sudah diketahui secara <em>‘urf</em>. Ulama yang melarang hal ini mereka mengkhawatirkan termasuk dalam jual beli yang <em>majhul</em> (tidak jelas)” (<em>Syarah</em> <em>Akhsharul Mukhtasharat</em>, 25: 13).</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em> Semoga pembahasan syarat dan rukun jual beli yang sedikit ini bermanfaat. <em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: </strong></em><em><strong><a href="https://muslim.or.id/60984-serba-serbi-jual-beli-online-dalam-islam.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Serba-Serbi Jual Beli Online Dalam Islam</a></strong></em></p></blockquote>
<p>—</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://kangaswad.wordpress.com/about/" target="_blank" rel="noopener">Yulian Purnama</a></strong></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.or.id</strong></p>
 