
<h2><strong>Menerjemahkan Al-Quran</strong></h2>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p class="arab">وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا</p>
<p><em>“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”</em> (Al-Israa`:36).</p>
<p>Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu mendasari setiap kegiatan kita, baik pebuatan mauun ucapan. Termasuk ketika kita berbicara tentang islam. Tertama ketika berbicara tentang dalil al-Quran. Karena al-Quran adalah firman Allah. Menerjemahkan al-Quran, termasuk menafsirkan al-Quran, berarti menyampaikan apa maksud firman Allah.</p>
<p>Apa yang bisa kita bayangkan, ketika ada orang yang berbicara tentang al-Quran, menerjemahkan isi al-Quran, sementara Allah menolak terjemah darinya.</p>
<h4><strong>Terjemah al-Qur’an</strong></h4>
<p>Terjemah berarti,</p>
<p class="arab">التعبير عن الكلام بلغة أخرى</p>
<p>“Mengungkapkan ucapan/materi teks (dari bahasa sumber) dengan bahasa lain”.</p>
<p>Terjemah Al-Quran berarti mengungkapkan makna Al-Quran dengan bahasa lain.</p>
<h4><strong>Macam Terjemah</strong></h4>
<p>Terjemah ada dua macam,</p>
<ol>
<li>Terjemah <em>harfiyah</em>, yaitu menerjemahkan setiap kata (dalam bahasa sumber) dengan kata yang sepadan (dalam bahasa kedua).</li>
</ol>
<p>Contoh, firman Allah Ta’ala,</p>
<p class="arab">إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ  (Az-Zukhruf: 3)</p>
<p>Ayat ini diterjemahkan;</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-26389" src="https://konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2016/02/terjemah-ayat-quran.png" alt="terjemah ayat quran" width="1130" height="103" srcset="https://konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2016/02/terjemah-ayat-quran.png 1130w, https://konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2016/02/terjemah-ayat-quran-150x14.png 150w, https://konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2016/02/terjemah-ayat-quran-300x27.png 300w, https://konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2016/02/terjemah-ayat-quran-768x70.png 768w, https://konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2016/02/terjemah-ayat-quran-1024x93.png 1024w, https://konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2016/02/terjemah-ayat-quran-696x63.png 696w, https://konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2016/02/terjemah-ayat-quran-1068x97.png 1068w" sizes="(max-width: 1130px) 100vw, 1130px"></p>
<ol start="2">
<li>Terjemah <em>maknawiyah</em> atau <em>tafsiriyah</em>,</li>
</ol>
<p>Ini sangat berbeda dengan terjemah harfiyah. Terjemah tafsiriyah berarti ada tafsir dari suatu ayat, kemudian tafsir itu diterjemahkan ke bahasa lain. Misalnya tafsir surat az-Zukhruf ayat 3, dalam kitab Jalalain yang berbahasa arab, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Sehingga terjemah ini sama sekali terikat dengan kosakata dan urutan kata dalam ayat.</p>
<p>Tafsir Jalalin untuk surat az-Zukhruf: 3 di atas,</p>
<p class="arab">“إنَّا جَعَلْنَاهُ” أَوْجَدْنَا الْكِتَاب “قُرْآنًا عَرَبِيًّا” بِلُغَةِ الْعَرَب “لَعَلَّكُمْ” يَا أَهْل مَكَّة “تَعْقِلُونَ” تَفْهَمُونَ مَعَانِيه</p>
<p>Kemudian diterjemahkan,</p>
<p>Sesungguhya Kami jadikan kitab ini sebagai al-Quran yang berbahasa arab, agar kalian – wahai penduduk Mekah – memahami maknanya.</p>
<h4><strong>Hukum Terjemah harfiyyah</strong></h4>
<p>Terjemah harfiah untuk al-Qur’an mustahil menurut sebagian besar ulama. Karena ada banyak syarat yang tidak mungkin diwujudkan. Diantaranya,</p>
<ol>
<li>Harus ada kosakata yang sepadan antara bahasa sasaran dengan kosakata dalam bahasa sumber.</li>
<li>Harus ada alat bahasa dan pelengkap kalimat yang sama antara bahasa sasaran dengan bahasa sumber.</li>
<li>Harus ada kesamaan antara bahasa sumber dengan bahasa sasaran dalam sistematika kalimat ketika disusun dalam bentuk kalimat, frase, atau kalimat majemuk bertingkat.</li>
</ol>
<p>Sebagian ulama menyatakan bahwa terjemah harfiyah memungkinkan untuk sebagian ayat. Meskipun demikian, hukumnya tetap terlarang, karena beberapa alasan. Diantaranya,</p>
<ol>
<li>Tidaklah mungkin bisa mengungkapkan makna ayat dengan sempurna,</li>
<li>Tidak mungkin bisa mempengaruhi pembaca sebagaimana pengaruh Al-Quran yang berbahasa Arab yang jelas,</li>
<li>Tidak ada kebutuhan yang memaksa untuk menerjemahkan Al-Quran secara harfiyah. Karena kebutuhan masyarakat adalah memahami kandungan Al-Quran, dan itu pada terjemah maknawi.</li>
</ol>
<p>Karena itu, sekalipun memungkinkan untuk diterjemahkan harfiyah, tapi secara hukum ini terlarang. Kecuali jika untuk tujuan belajar bahasa arab, dan itu hanyna untuk sebagian ayat.</p>
<h3><strong>Hukum Terjemah Maknawiyah</strong></h3>
<p>Terjemah maknawiyah pada asalnya diperbolehkan,  karena tidak ada dalil yang melarangnya. Bahkan bisa jadi wajib ketika itu dibutuhkan. Terutama ketika itu menjadi wasilah untuk menyampaikan kandungan al-Quran kepada masyarakat yang tidak paham bahasa arab.</p>
<p>Hanya saja, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam terjemah maknawi,</p>
<ol>
<li>Terjemah maknawi al-Quran tidak boleh menggantikan Al-Quran. Sehingga orang merasa tidak membutuhkan lagi teks al-Quran. Karena itu, teks asli al-Quran harus tetap dicantumkan, kemudian disampingnya ditulis terjemah maknanya, sehingga seperti tafsir bagi ayat sebelahnya.</li>
<li>Orang yang menerjemahkan harus paham tentang makna kedua bahasa. Bahasa arab dan bahasa sasaran. Dia harus paham konteks kalimat dalam masing-masing bahasa.</li>
<li>Penerjemah harus orang jujur, yang menjunjung tinggi aturan syariat. Agamanya baik, komitmen dengan aturan syariat. Bukan orang liberal atau memiliki pemikiran menyimpang.</li>
<li>Penerjemah harus paham istilah-istilah syar’i dalam al-Quran, sehingga dia tidak salah dalam memahami istilah yang beda maknanya dengan makna bahasanya.</li>
</ol>
<p>Rujukan: <em>Ushul fi Tafsir</em>, Ibnu Utsaimin, hlm. 31 – 32.</p>
<h4><strong>Terjemah Depag &amp; Tafsir Jalalain</strong></h4>
<p>Terjemah depag hakekatnya adalah terjemah makna al-Quran, bukan terjemah <em>harfiyah</em>. Dan jika kita perhatikan, secara umum, terjemah depag lebih mengacu kepada tafsir Jalalain. Sehingga lebih mendekati ringkasan terjemah tafsir Jalalain.</p>
<p>Karena itu, sangat mungkin jika ini direvisi. Baik karena latar belakang penyesuaian bahasa atau karena mengacu pada kitab tafsir lainnya.</p>
<p><em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)</strong></p>
<p>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank"><strong>Tanya Ustadz untuk Android</strong></a>.<br>
<a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank"><strong>Download Sekarang !!</strong></a></p>
<p><strong>KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 