
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/09/Syarhus-Sunnah-7.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/09/Syarhus-Sunnah-7.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
<p>Apa manfaat mengenal nama dan sifat Allah?</p>
<p>Ini manfaatnya, masih dari pelajaran Syarhus Sunnah karya Imam Al-Muzani.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;">Imam Al-Muzani <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">الوَاحِدُ الصَّمَدُلَيْسَ لَهُ صَاحِبَةٌ وَلاَ وَلَدٌ جَلَّ عَنِ المَثِيْلِ فَلاَ شَبِيْهَ لَهُ وَلاَ عَدِيْلَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ العَلِيْمُ الخَبِيْرُ المَنِيْعُ الرَّفِيْعُ</p>
<p style="text-align: center;">Allah itu Maha Esa, Allah itu Ash-Shamad (yang bergantung setiap makhluk kepada-Nya), yang tidak memiliki pasangan, yang tidak memiliki keturunan, yang Mahamulia dan tidak semisal dengan makhluk-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang setara dengan Allah. Allah itu Maha Mendengar, Maha Melihat. Allah itu Maha Mengilmui dan Mengetahui. Allah itu yang mencegah dan Mahatinggi.</p>
<p><em> </em></p>
<h3 style="text-align: center;">Kaidah Nama dan Sifat Allah</h3>
<p> </p>
<p><strong>Pertama</strong>: Nama Allah itu tauqifiyah (mesti dengan dalil)</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Rukun iman dengan nama Allah yang husna</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Bentuk penyimpangan dalam nama dan sifat Allah</p>
<ol>
<li>Menamakan berhala dengan nama-nama Allah.</li>
<li>Menyebut Allah dengan panggilan “Bapak” seperti kelakuan orang Nashrani.</li>
<li>Menyifatkan Allah dengan sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan.</li>
<li>Menolak nama dan sifat Allah.</li>
<li>Menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk.</li>
</ol>
<p><strong>Keempat</strong>:  Seluruh nama Allah pasti husna.</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Nama Allah tidak dibatasi oleh jumlah bilangan tertentu.</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Manfaat Mengenal Nama dan Sifat Allah</h3>
<p> </p>
<p><strong>Pertama</strong>: Mengenal nama dan sifat Allah adalah ilmu yang paling utama. Karena mulianya ilmu dilihat dari mulianya sesuatu yang dipelajari.</p>
<p> </p>
<p><strong>Kedua</strong>: Semakin mengenal Allah berarti semakin mencintai dan mengagungkan-Nya, juga semakin takut, berharap, ikhlas dalam beramal kepada-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah, maka semakin ia berserah diri kepada Allah. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia menjalani perintah dan menjauhi larangan dengan baik.</p>
<p> </p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Allah itu menyukai nama dan sifat-Nya, Allah pun suka jika nama dan sifat-Nya nampak bekasnya pada makhluk-Nya. Inilah bentuk kesempurnaan Allah. Allah itu witir, menyukai yang witir (ganjil). Allah itu <em>jamil</em>, menyukai yang <em>jamil </em>(indah). Allah itu ‘<em>alim</em>, menyukai ulama (yang berilmu). Allah itu <em>jawad </em>(Maha Berderma), menyukai orang yang berderma. Allah itu <em>qawiy </em>(Mahakuat), menyukai orang yang kuat (imannya). Allah itu <em>hayyiyun </em>(Maha Pemalu), menyukai yang punya sifat malu.</p>
<p> </p>
<p><strong>Keempat</strong>: Manusia diciptakan untuk menyembah Allah semata dan mengenal-Nya.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِمَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِإِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ</p>
<p>“<em>Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh</em>.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا</p>
<p>“<em>Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu</em>.” (QS. Ath-Thalaq: 12)</p>
<p>Jika seseorang dalam mendalami nama dan sifat Allah berarti ia telah sibuk dalam tujuan ia diciptakan. Melalaikan mempelajarinya berarti melalaikan dari tujuan penciptaan-Nya.</p>
<p> </p>
<p><strong>Kelima</strong>: Di antara rukun iman yang enam adalah iman kepada Allah. Itulah rukun iman yang paling afdal. Iman itu <u>bukan hanya</u>mengatakan aku beriman kepada Allah, namun ia tidak mengenalnya. Beriman yang benar kepada Allah adalah dengan mengenal nama Allah dan sifat-Nya <u>sampai derajat yang yakin</u>. Siapa yang mengenal Allah, maka ia pasti mengenal selainnya. Namun siapa yang <em>jahil </em>(bodoh) dalam mengenal Allah, maka ia akan bodoh untuk hal lainnya.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.</em>” (QS. Al-Hasyr: 19).</p>
<p>Siapa saja yang lupa kepada Allah, maka pasti Allah akan membuatnya lupa pada diri, maslahat dirinya, serta lupa akan sebab yang membahagiakan ia di dunia dan akhirat.</p>
<p> </p>
<p><strong>Keenam</strong>: Ilmu tentang Allah adalah ilmu asas segala sesuatu, sampai ia akan tahu hukum dan ketentuan dengan baik karena mengenal Allah. Karena hukum Allah ada disebabkan konsekuensi dari nama dan sifat-Nya. Semua perbuatan Allah juga berputar pada keadilan, keutamaan dan hikmah.</p>
<p> </p>
<p><strong>Ketujuh</strong>: Mengenal Allah akan menenangkan jiwa dan melapangkan hati. Juga ia akan merindukan surga Firdaus, hingga rindu melihat wajah Allah yang mulia.</p>
<p> </p>
<p><strong>Kedelapan</strong>: Mengenal nama dan sifat Allah adalah sebagai motivasi untuk kuat dalam sabar, semangat dalam ibadah, jauh dari kemalasan, takut berbuat dosa, dan penghibur duka.</p>
<p> </p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<ol>
<li>
<em>Fiqh Al-Asma’ Al-Husna</em>. Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr. Penerbit Ad-Duror Al-‘Almiyyah.</li>
<li>
<em>Syarh Asma’ Allah Al-Husna fi Dhaui Al-Kitab wa As-Sunnah</em>. Cetakan ke-12, Tahun 1431 H. Syaikh Sa’id bin Wahf Al-Qahthani.</li>
<li>
<em>Syarh As-Sunnah</em>. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.</li>
</ol>
<p>—</p>
<p>Diselesaikan di Masjid Al-Ikhlas Karangbendo Yogyakarta, 8 Muharram 1440 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Rumaysho.Com</a></p>
 