
<p>Ini salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah, kita tidak boleh mencela sahabat Nabi.</p>
<p> </p>
<p>Imam Al-Muzani <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَنُخْلِصُ لِكُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنَ المحَبَّةِ بِقَدْرِ الَّذِي أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ التَّفْضِيْلِ , ثُمَّ لِسَائِرِ أَصْحَابِهِ مِنْ بَعْدِهِمْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ</span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَيُقَالُ بِفَضْلِهِمْ وَيُذْكَرُوْنَ بِمَحَاسِنِ أَفْعَالِهِمْ , وَنُمْسِكُ عَنِ الخَوْضِ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ , فَهُمْ خِيَارُ أَهْلِ الأَرْضِ بَعْدَ نَبِيِّهِمْ اِرْتَضَاهُمُ اللهُ لِنَبِيِّهِ وَجَعَلَهُمْ أَنْصَارًا لِدِيْنِهِ فَهُمْ أَئِمَّةُ الدِّيْنِ وَأَعْلاَمُ المسْلِمِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ</span></p>
<p><em>Kita pun diperintahkan untuk mencintai mereka dengan kadar yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan karena keutamaan yang ada pada mereka. Kemudian sahabat yang lain selain itu. Semoga Allah meridai mereka semua.</em></p>
<p><em>Keutamaan dan kebaikan perbuatan mereka disebut-sebut. Kita tahan diri dari membicarakan perselisihan di antara mereka. Karena mereka adalah sebaik-baik manusia di muka bumi sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah rida kepada mereka karena nabi-Nya. Allah menjadikan mereka penolong untuk agama ini. Mereka adalah para imam dalam agama ini. Mereka yang paling berilmu di antara kaum muslimin. Semoga Allah meridai mereka semuanya.</em></p>
<p></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;">Keyakinan Tentang Sahabat dalam Penjelasan Imam Al-Muzani</span></h2>
<p><strong>Pertama</strong>: <strong>Wajib setiap muslim mencintai para sahabat Nabi</strong> karena mereka telah membantu agama ini dan telah berjuang terlebih dahulu, juga karena mereka telah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu dan mendengar hadits-hadits dari beliau. Walaupun dalam mencintai para sahabat tergantung keutamaan dan kemuliaan mereka. Mencintai sahabat adalah bagian dari iman, sedangkan membenci sahabat adalah bagian dari kemunafikan. Sebagaimana hadits yang menyebutkan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">آيَةُ الإِيْمَانِ حُبُّ الأنْصَارِ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأنْصَارِ</span></p>
<p>“<em>Di antara tanda iman adalah mencintai Anshar. Di antara tanda kemunafikan adalah membenci Anshar</em>.” (HR. Bukhari, no. 16)</p>
<p>Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">لاَ يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ ، وَلاَ يُبغِضُهُم إِلَّا مُنَافِقٌ ، مَنْ أَحَبَّهُمْ فَأَحبَّهُ اللَّهُ ، ومَنْ أَبْغَضَهُمْ فَأَبْغَضَهُ اللَّهُ</span></p>
<p>“<em>Tidaklah mencintai para sahabat kecuali mukmin. Tidaklah membenci mereka kecuali munafik. Siapa yang mencintai para sahabat, maka Allah mencintai mereka. Siapa yang membenci para sahabat, maka Allah membenci mereka.</em>” (HR. Muslim, no. 75)</p>
<p> </p>
<p><strong>Kedua</strong>: <strong>Menyebut kebaikan dan keutamaan para sahabat Nabi</strong>. Sampai-sampai ulama salaf itu begitu semangat dalam mengumpulkan keutamaan para sahabat dalam hadits maupun tulisan-tulisan mereka supaya kaum muslimin mengetahui keutamaan para sahabat tadi.</p>
<p> </p>
<p><strong>Ketiga</strong>: <strong>Menahan diri dari perselisihan yang terjadi di antara para sahabat</strong>. Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوْا</span></p>
<p>“<em>Jika para sahabatku disebut-sebut (selain dari pujian), maka tahanlah diri.” </em>(HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no. 1427 dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 34)</p>
<p>Karena ahli bid’ah sibuk membicarakan perselisihan antara para sahabat Nabi dengan membawa kisah-kisah dan hikayat yang dusta.</p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Adapun berita sahih tentang perselisihan para sahabat itu amatlah sedikit. Namun ingat, karena para sahabat Nabi, mereka adalah ahli ijtihad. Jika keliru, akan dimaafkan dan diberi pahala. Jika benar, maka akan mendapatkan dua pahala. Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">إِذَا حَكَمَ الحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ، فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَد فَأَخْطَأَ، فَلَهُ أَجْرٌ</span></p>
<p>“<em>Jika seorang hakim berhukum, lalu ia berijtihad, kemudian benar, maka baginya dua pahala. Namun, jika ia keliru dalam ijtihadnya, maka baginya satu pahala.”</em> (HR. Muslim, no. 1617)</p>
<p> </p>
<p><strong>Kenapa tiga hal tadi kita lakukan pada para sahabat Nabi?</strong></p>
<p>Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “<em>Karena mereka adalah sebaik-baik manusia di muka bumi sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah rida kepada mereka karena nabi-Nya. Allah menjadikan mereka penolong untuk agama ini. Mereka adalah para imam dalam agama ini. Mereka yang paling berilmu di antara kaum muslimin. Semoga Allah meridai mereka semuanya.”</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;">Merenungkan Sifat Mulia Para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></h2>
<p>Sifat mulia para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> termaktub dalam ayat berikut setelah Allah memuji Rasul-Nya yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا</span></p>
<p>“<em>Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar</em>.” (QS. Al-Fath: 29).</p>
<p>Mula-mula ayat ini berisi pujian Allah <em>Ta’ala</em> kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau tidak diragukan lagi adalah benar. Lalu beliau dipuji sebagai utusan Allah, di mana pujian ini mencakup semua sifat yang mulia. Kemudian setelah itu, barulah datang pujian kepada sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Apa saja pujian bagi para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?</p>
<p><strong>Pertama</strong>: <strong>Mereka keras terhadap orang kafir</strong><strong>, tetapi </strong><strong>begitu penyayang terhadap sesama mereka yang beriman</strong>sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ</span></p>
<p><em>“Dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.</em><em>”</em></p>
<p>Pujian seperti itu terdapat pula dalam ayat lainnya,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ</span></p>
<p>“<em>Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir</em>.” (QS. Al-Maidah: 54).</p>
<p>Inilah sifat yang semestinya dimiliki oleh orang beriman. Mereka keras dan berlepas diri dari orang kafir dan mereka berbuat baik terhadap orang-orang beriman. Mereka bermuka masam di depan orang kafir dan bermuka ceria di hadapan saudara mereka yang beriman. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً</span></p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.</em>” (QS. At-Taubah: 123).</p>
<p>Dari An-Nu’man bin Basyir <em>radhiyallahu. ‘anhuma</em>, ia berkata bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى</span></p>
<p>“<em>Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan</em><em>,</em><em> maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam</em>.” (HR. Muslim, no. 2586).</p>
<p>Dari Abu Musa <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا</span></p>
<p>“<em>Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan satu dan lainnya</em>.” (HR. Bukhari, no. 6026 dan Muslim, no. 2585).</p>
<p><strong>Kedua</strong>: <strong>Para sahabat nabi adalah orang yang gemar beramal </strong><strong>saleh</strong>, juga memperbanyak shalat dan shalat adalah sebaik-baik amalan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: <strong>Mereka dikenal ikhlas dalam beramal dan selalu mengharapkan pahala di sisi Allah, yaitu balasan surga.</strong></p>
<p>Kedua sifat ini disebutkan dalam ayat di atas,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا</span></p>
<p><em>“Kamu lihat mereka rukuk</em><em> dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya”</em></p>
<p><strong>Keempat</strong>: Mereka terkenal khusyuk dan <em>tawadhu’</em>. Itulah yang disebutkan dalam ayat,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ</span></p>
<p><em>“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”</em></p>
<p>Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>mengatakan bahwa yang dimaksud adalah tanda yang baik. Mujahid dan ulama tafsir lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah <strong>khusyu</strong><strong>k</strong><strong> dan <em>tawadhu’</em>.</strong></p>
<p>Ulama pakar tafsir lainnya, yaitu As-Sudi berkata bahwa yang dimaksud adalah <strong>shalat telah membaguskan wajah mereka.</strong></p>
<p>Sebagian salaf berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">مَنْ كَثُرَتْ صَلاَتُهُ بِاللَّيْلِ حَسُنَ وَجْهُهُ بِالنَّهَارِ</span></p>
<p>“Siapa yang banyak shalatnya pada malam hari, maka akan berserilah wajahnya pada siang hari.”</p>
<p>Sebagian mereka pula berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">إِنَّ لِلْحَسَنَةِ نُوْرًا فِي القَلْبِ، وَضِيَاءً فِي الوَجْهِ، وَسَعَةً فِي الرِّزْقِ، وَمَحَبَّةً فِي قُلُوْبِ النَّاسِ.</span></p>
<p><em>“Setiap kebaikan akan memancarkan cahaya di hati dan menampakkan sinar di wajah, begitu pula akan melapangkan rezeki</em><em> dan semakin membuat hati manusia tertarik padanya.”</em></p>
<p>Karena baiknya hati, hal itu akan dibuktikan dalam amalan lahiriyah. Sebagaimana kata ‘Umar bin Al-Khaththab,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">مَنْ أَصْلَحَ سَرِيْرَتَهُ أَصْلَحَ اللهُ عَلاَنِيَتَهُ.</span></p>
<p><em>“Siapa yang baik hatinya, maka Allah pun akan memperbaiki lahiriyahnya.”</em></p>
<p><strong>Niat p</strong><strong>ara sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> </strong><strong>dan amal baik mereka adalah murni hanya untuk Allah. Sehingga siapa saja yang memandang mereka, maka akan terheran dengan tanda kebaikan dan jalan hidup mereka.</strong> Demikian kata Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> dalam tafsirnya.</p>
<p><strong>Kelima: Para sahabat dipuji oleh umat sebelum Islam dan mereka adalah sebaik-baik umat.</strong></p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata bahwa telah sampai pada beliau, jika kaum Nashrani melihat para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menaklukkan Syam, mereka berkata, “Demi Allah, mereka sungguh lebih baik dari Hawariyyin (pengikut setia Nabi ‘Isa ‘<em>alaihis salam</em>), sebagaimana yang sampai pada kami.” Kaum Nashrani telah membenarkan hal ini. Ini menunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang dalam anggapan umat-umat sebelum Islam sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab mereka. Umat Islam yang paling mulia dan utama adalah para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, dalam ayat yang kita bahas di atas disebutkan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ</span></p>
<p><em>“Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.”</em></p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, “Demikianlah sahabat Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, mereka menguatkan, mendukung dan menolong Nabinya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, juga mereka selalu bersamanya sebagaimana tunas yang selalu menyertai tanaman.” Tunas itulah ibarat para sahabat dan tanaman itulah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> panutan mereka.</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;">Kafirnya Orang yang Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></h2>
<p>Setelah disebutkan sifat-sifat mulai para sahabat, kemudian Allah menyebutkan sifat mereka yang selalu menolong Nabi mereka <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagaimana halnya tunas pada tanaman, lalu disebutkan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ</span></p>
<p><em>“Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.”</em></p>
<p>Sebagaimana dalam salah satu riwayat dari Imam Malik <em>rahimahullah</em>, beliau mengafirkan Rafidhah (Syi’ah) di mana mereka menaruh kebencian pada para sahabat. Imam Malik berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">لِأَنَّهُمْ يُغِيْظُوْنَهُمْ، وَمَنْ غَاظَ الصَّحَابَةَ فَهُوَ كَافِرٌ لِهَذِهِ الآيَةِ</span></p>
<p>“Karena para sahabat membuat hati mereka jengkel. Siapa yang jengkel (murka) pada para sahabat, maka <strong>ia kafir </strong>berdasarkan ayat ini.”</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/2331-kafirnya-orang-yang-mencela-sahabat-nabi.html" target="_blank" rel="noopener"><strong>Kafirnya Orang yang Mencela Sahabat Nabi</strong></a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/27164-syarhus-sunnah-tak-boleh-mencela-sahabat-nabi.html" target="_blank" rel="noopener">Syi’ah Tega Mencela Sahabat</a></strong></span></li>
</ul>
<p> </p>
<p>Sekelompok ulama sependapat dengan Imam Malik dalam hal ini. Juga banyak hadits yang menunjukkan keutamaan para sahabat dan larangan mencela mereka sebagai pendukung. Cukup dengan pujian dan rida Allah atas mereka sebagaimana terbukti dalam ayat ini.</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;">Pujian Tinggi pada Para Sahabat</span></h2>
<p>Di akhir ayat, Allah menyebutkan pujian tinggi pada para sahabat,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا</span></p>
<p><em>“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”</em></p>
<p>Siapa saja yang mengikuti para sahabat dalam sifat mulia mereka, ia akan mendapatkan keutamaan demikian.</p>
<p>Ya Allah, berilah kami petunjuk untuk mengikuti jejak mulia para sahabat dan moga kami menjadi orang-orang yang mencintai mereka.</p>
<p>Kami tutup tulisan ini dengan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ</span></p>
<p>“<em>Janganlah kalian mencela sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka itu tidak bisa menandingi satu mud infak sahabat, bahkan tidak pula separuhnya</em>.” (HR. Bukhari, no. 3673 dan Muslim, no. 2540).</p>
<p><strong>Baca juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/2331-kafirnya-orang-yang-mencela-sahabat-nabi.html" target="_blank" rel="noopener"><strong>Kafirnya Orang yang Mencela Sahabat Nabi</strong></a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/216-syiah-tega-mencela-sahabat.html" target="_blank" rel="noopener"><strong>Syiah Tega Mencela Sahabat Nabi</strong></a></span></li>
</ul>
<p> </p>
<p><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p> </p>
<h4><strong>Referensi:</strong></h4>
<ol>
<li>
<em>Syarh As-Sunnah</em>. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.</li>
<li>
<em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 6:699-701.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>—</p>
<p>Diselesaikan di<a href="https://darushsholihin.com"> @ Darush Sholihin</a>, 14 Februari 2021 (3 Rajab 1442 H)</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com">Rumasyho.Com</a></p>
 