
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/72506-tafsir-ringkas-surah-al-fatihah-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""> Tafsir Ringkas Surah Al-Fatihah (Bag. 1)</a></span></strong></p>
<p><em>Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.</em></p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Tafsir surah Al-Fatihah ayat kedua</strong></span></h2>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ</span></p>
<p>“<em>Segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah, Tuhan pemelihara seluruh alam” </em>(QS. Al-Fatihah: 2).</p>
<p>(ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ) artinya segala pujian dan syukur yang sempurna hanya hak Allah <em>Ta’ala</em>. Hanya ditujukan kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata. Pada kata <em>al-hamdu</em> terdapat <em>alif lam</em> yang menunjukkan seluruh bentuk pujian dan syukur yang sempurna. Imam ahli tafsir Ath-Thabari <em>Rahimahullah</em> menjelaskan dalam tafsirnya tentang makna <em>alif lam</em> ketika terdapat pada kata <em>hamdu</em> dengan mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">جميع المحامد والشّكر الكامل للّه</span></p>
<p>“Seluruh pujian dan syukur yang sempurna hanya untuk Allah semata.”</p>
<p>Allah dipuji dengan pujian yang sempurna dari segala sisi. Tidak ada aib sedikit pun aib bagi Allah <em>Ta’ala </em>dari segala sisi.</p>
<p><em>Al-hamdu </em>sendiri memiliki makna,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وصف المحمود بالكمال مع المحبة والتعظيم</span></p>
<p>“Mensifati yang dipuji dengan kesempurnaan (<em>dzat</em>, sifat, dan perbuatan-Nya) disertai dengan mencintai-Nya dan mengagungkan-Nya.”</p>
<p>Dengan demikian, hakikat (ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ) adalah memuji Allah dengan pujian yang sempurna, disertai dengan mencintai-Nya dan mengagungkan-Nya. Itu semua didasari dengan keyakinan bahwa Allah <em>Ta’ala</em> itu sempurna, baik <em>dzat</em>, sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada satupun yang sama dengan-Nya.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Buah penghayatan ayat kedua</strong></span></h3>
<p>Buah menghayati ayat kedua adalah menghadirkan di dalam hati rasa cinta kepada Allah yang Mahasempurna <em>dzat</em>, sifat, dan perbuatan-Nya.</p>
<p>(رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ) artinya pemelihara alam semesta dan seluruh makhluk.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Dua bentuk pemeliharaan Allah terhadap makhluk</strong></span></h3>
<p><strong> <em>Pertama, </em>pemeliharaan umum </strong></p>
<p>Pemeliharaan umum adalah pemeliharaan Allah <em>Ta’ala </em>terhadap seluruh makhluk-Nya dengan menciptakan mereka dan memberi rezeki kepada mereka, sehingga mereka bisa hidup di dunia ini.</p>
<p><strong> <em>Kedua, </em>pemeliharaan khusus</strong></p>
<p>Pemeliharaan Allah <em>Ta’ala </em>yang khusus ditujukan bagi wali-wali-Nya dan orang-orang yang dicintai-Nya. Allah <em>Ta’ala </em>menganugerahkan keimanan, taufik, dan penjegaan bagi mereka dari segala hal yang merusak keimanan mereka. Barangkali inilah rahasia mengapa kebanyakan doa para nabi <em>‘Alaihimush shalatu was salam </em>itu memakai lafaz <em>Ar-Rabb</em>. Misalnya, menggunakan lafaz <em>Rabbana</em> atau <em>Rabbi</em>. Hal ini karena isi doa-doa mereka adalah masalah kemakmuran iman.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/72130-keutamaan-surat-al-fatihah-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Surah Al-Fatihah (Bag. 1)</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Makna <em>Ar-Rabb</em></strong></span></h3>
<p>Makna <em>Ar-Rabb</em> mencakup tiga makna, yaitu: Sang Pencipta, Sang Pemilik, dan Sang Pengatur seluruh makhluk.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Kesimpulan tafsir ayat kedua</strong></span></h3>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ</span></p>
<p>Segala kesempurnaan pujian dan syukur hanya ditujukan kepada Allah semata, yang memelihara seluruh makhluk. Pujian dan syukur tersebut disertai dengan mencintai-Nya dan mengagungkan-Nya. Itu semua didasari dengan keyakinan bahwa Allah <em>Ta’ala</em> Mahasempurna dari segala sisi.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Tafsir surat Al-Fatihah ayat ketiga</strong></span></h2>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ</span></p>
<p>“<em>Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”</em> (QS. Al-Fatihah: 3).</p>
<p>Jika ayat ini digabungkan dengan ayat sebelumnya <em>“(2) Segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah, Tuhan pemelihara seluruh alam. (3) yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”</em>, maka menunjukkan sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Pada dua ayat ini, Allah <em>Ta’ala </em>disifati dengan tiga sifat, yaitu:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> Tuhan pemelihara seluruh alam;</p>
<p><strong>Kedua,</strong> yang Maha Pengasih;</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> yang Maha Penyayang.</p>
<p>Dengan demikian, Allah <em>Ta’ala </em>adalah Tuhan pemelihara seluruh alam, yang Maha Pengasih, dan yang Maha Penyayang.</p>
<p>Digandengkannya <em>Rububiyyah </em>(pemeliharaan) Allah dan rahmat (kasih sayang) Allah dalam dua ayat secara berturut-turut memiliki faedah bahwa <em>Rububiyyah</em> Allah dibangun di atas dasar kasih sayang-Nya. Allah <em>Ta’ala </em>memelihara alam semesta dan mengatur seluruh makhluk dengan kasih sayang-Nya yang meliputi seluruh makhluk.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/32347-khasiat-rahasia-surat-al-fatihah.html" data-darkreader-inline-color="">Khasiat Rahasia Surat Al-Fatihah</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Dua bentuk kasih sayang (rahmat) Allah</strong></span></h3>
<p><strong><em>Pertama, </em>rahmat Allah <em>Ta’ala </em>yang umum</strong></p>
<p>Secara umum, bentuk kasih sayang Allah <em>Ta’ala </em>adalah dengan menganugerahkan kenikmatan duniawi kepada seluruh makhluk-Nya, sehingga mereka dapat hidup di dunia ini. “Seluruh makhluk” di sini meliputi semua manusia, baik manusia beriman maupun kafir, binatang, dan makhluk ciptaan Allah yang lain. Sehingga rahmat yang bersifat umum ini tidak menunjukkan kecintaan Allah <em>Ta’ala </em>kepada orang yang mendapatkannya.</p>
<p><strong><em>Kedua, </em>rahmat Allah <em>Ta’ala </em>yang khusus</strong></p>
<p>Bentuk kasih sayang Allah yang khusus adalah menganugerahkan nikmat iman pada kehidupan hamba-Nya. Nikmat iman ini berupa ilmu <em>syar’i</em> dan amal saleh. Allah <em>Ta’ala </em>juga memberikan kehidupan duniawi yang bermanfaat untuk keimanan hamba-Nya. Rahmat yang bersifat khusus ini hanya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Rahmat khusus ini menunjukkan kecintaan Allah <em>Ta’ala </em>kepada orang yang mendapatkannya.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Buah penghayatan ayat ketiga</strong></span></h3>
<p>Buah menghayati ayat ketiga ini adalah menghadirkan di dalam hati pembacanya rasa harap kepada Allah <em>Ta’ala</em> agar mencurahkan kasih sayang untuk dirinya, demi kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Kesimpulan tafsir ayat ketiga</strong></span></h3>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ</span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah <em>Ta’ala </em>menyayangi seluruh makhluk-Nya dengan rahmat umum, dan menyayangi hanya hamba-hamba-Nya yang beriman dengan rahmat khusus.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Tafisr surah Al-Fatihah ayat keempat</strong></span></h2>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ</span></p>
<p>“<em>Pemilik hari pembalasan”</em> (QS. Al-Fatihah: 4).</p>
<p>(الدِّيْنِ) bisa bermakna pembalasan dan bisa bermakna amal ibadah (pelaksanaan agama Islam). Sedangkan dalam ayat yang mulia ini, (الدِّيْنِ) bermakna pembalasan. Sebagaimana tafsir Ibnu Abbas<em> Radhiyallahu ‘anhuma </em>[1]. Sehingga ayat yang agung ini menunjukkan bahwa Allah (الدِّيْنِ) disifati dengan sifat pemilik hari pembalasan.</p>
<p>Dengan demikian, dari ayat kedua, ketiga dan keempat, Allah (الدِّيْنِ) disifati dengan Tuhan pemelihara seluruh alam, yang Maha Pengasih, yang Maha Penyayang, dan pemilik hari pembalasan.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Rahasia dikhususkannya kepemilikan Allah terhadap hari pembalasan</strong></span></h3>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> adalah pemilik segala sesuatu, baik hari pembalasan maupun selainnya. Namun, dikhususkannya kepemilikan Allah <em>Ta’ala </em>terhadap hari pembalasan karena sangat tampak kepemilikan dan kekuasan Allah <em>Ta’ala </em>atas segala sesuatu saat hari pembalasan. Hal ini sebagaimana tafsir Ibnu Abbas <em>Radhiyallahu ‘anhuma </em>terhadap ayat ini yang disebutkan dalam tafsir Ath-Thabari <em>Rahimahullah,</em></p>
<p>“Tidak ada satu pun selain Allah yang memiliki keputusan hukum di hari pembalasan tersebut, seperti raja mereka sewaktu di dunia.”</p>
<p>Beliau <em>Radhiyallahu ‘anhuma </em>juga berkata,</p>
<p>“Hari perhitungan amalan makhluk, yaitu hari kiamat. Allah membalas mereka sesuai dengan amalan mereka. Jika amalan mereka baik, maka baik pula balasannya. Namun, jika amalan mereka buruk, maka buruk pula balasannya, kecuali jika hamba yang Allah <em>Ta’ala </em>maafkan. Sehingga semua urusan kembali kepada keputusan-Nya.”</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Buah penghayatan ayat keempat</strong></span></h3>
<p>Buah menghayati ayat keempat adalah menghadirkan di dalam hati rasa takut kepada Allah <em>Ta’ala. </em>Khawatir dirinya disiksa di hari pembalasan disebabkan oleh dosa-dosanya.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<p> </p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Faedah dari ayat kedua, ketiga, dan keempat</strong></span></h3>
<p>Ayat kedua membuahkan ibadah cinta kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Ayat ketiga membuahkan ibadah harap kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Ayat keempat membuahkan ibadah takut kepada Allah <em>Ta’ala. </em>Dengan demikian, menghayati Al-Fatihah membuahkan tiga rukun ibadah hati dan penggeraknya, yaitu: ibadah berupa rasa cinta, harap, takut kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>Rahimahullah </em>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اعلم أن محركات القلوب إلى الله عز وجل ثلاثة: المحبة، والخوف، والرجاء. وأقواها المحبة، وهي مقصودة تراد لذاتها؛ لأنها تراد في الدنيا والآخرة بخلاف الخوف فإنه يزول في الآخرة</span></p>
<p>“Ketahuilah, bahwa penggerak hati menuju kepada Allah <em>‘Azza wa jalla</em> itu ada tiga, yaitu: cinta, takut, dan harap. (Penggerak) yang terkuat adalah cinta. Cinta (kepada Allah) itu menjadi tujuan karena bentuknya ada di dunia dan di akhirat. Lain halnya dengan takut. Rasa takut kepada Allah <em>Ta’ala </em>akan hilang di akhirat (surga).”</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Kesimpulan tafsir </strong><strong>ayat keempat</strong></span></h3>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ</span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>adalah Tuhan pemilik hari pembalasan. Allah <em>Ta’ala </em>membalas mereka sesuai dengan amalan mereka. Jika amalan mereka baik, maka baik pula balasannya. Namun jika amalan mereka buruk, maka buruk pula balasannya, kecuali hamba yang Allah <em>Ta’ala </em>maafkan. Sehingga semua urusan kembali kepada keputusan-Nya. Karena hanya Allah <em>Ta’ala </em>pemilik hari pembalasan.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Tafisr surah Al-Fatihah ayat kelima</strong></span></h2>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</span></p>
<p><em>“Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan”</em> (QS. Al-Fatihah: 5).</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Kaidah “mendahulukan sesuatu yang haknya diakhirkan menunjukkan kepada pembatasan”</strong></span></h3>
<p>Susunan (إِيَّاكَ نَعْبُدُ) pada asalnya adalah نعبدك, dengan mengakhirkan objek setelah kata kerjanya. Namun dalam ayat yang mulia ini, susunan kalimatnya dibalik, yaitu objek didahulukan daripada kata kerjanya. Hal ini menunjukkan faedah pembatasan yang diterjemahkan dengan, “<em>hanya kepada Engkau-lah kami beribadah</em>”.</p>
<p>Demikian pula (إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) pada asalnya نستعين بك, dengan mengakhirkan objek setelah kata kerjanya. Namun dalam ayat yang mulia ini, susunan kalimatnya dibalik, yaitu objek didahulukan daripada kata kerjanya. Hal ini menunjukkan faedah pembatasan yang diterjemahkan dengan, “<em>hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan”</em>.</p>
<p>Di dalam pembatasan ini terdapat dua rukun tauhid, yaitu:</p>
<p><strong>Rukun pertama,</strong> <em>nafi</em> (meniadakan sesembahan selain Allah <em>Ta’ala</em>);</p>
<p><strong>Rukun kedua,</strong> <em>itsbat</em> (menetapkan satu-satunya sesembahan yang berhak disembah adalah Allah <em>Ta’ala</em>).</p>
<p>Inilah hakikat tauhid. Bahwa hanya kepada Allah-lah seluruh peribadatan ditujukan. Tidak mempersembahkan ibadah apa pun kepada selain-Nya. Salah satu bentuk ibadah adalah ibadah <em>isti’anah </em>(memohon pertolongan). Sehingga wajib memohon pertolongan (<em>isti’anah</em>) hanya kepada Allah <em>Ta’ala</em> semata.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Definisi ibadah ditinjau dari jenis ibadah yang disyariatkan oleh Allah <em>Ta’ala</em></strong></span></h3>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>Rahimahullah </em>mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau <em>Al-‘Ubudiyyah</em> [2] dengan mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ</span></p>
<p>“Ibadah adalah suatu kata yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah <em>Ta’ala</em>, baik berupa ucapan maupun perbuatan, baik ibadah yang batin (di dalam hati) maupun ibadah yang <em>dzahir</em> (dengan anggota badan).”</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Definisi ibadah ditinjau dari sisi perbuatan yang dilakukan seorang hamba</strong></span></h3>
<p>Syekh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin <em>Rahimahullah </em>menjelaskan definisinya dengan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">التذلل لله – عز وجل – بفعل أوامره واجتناب نواهيه؛ محبة وتعظيماً</span></p>
<p>“Merendahkan diri kepada Allah <em>‘Azza wa jalla</em> dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, disertai cinta dan mengagungkan-Nya” [3].</p>
<p>Dalam (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) terdapat pendahuluan ibadah daripada <em>isti’anah</em>. Hal ini dikarenakan alasan-alasan sebagai berikut:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> <em>isti’anah</em> dibutuhkan dalam setiap ibadah;</p>
<p><strong>Kedua,</strong> mendahulukan hak Allah <em>Ta’ala </em>daripada makhluk;</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> mendahulukan tujuan (<em>‘</em><em>ibadatullah</em>) sebelum sarana (<em>isti’anah billah</em>);</p>
<p><strong>Keempat,</strong> mendahulukan ibadah secara umum daripada khusus.</p>
<p>Dalam (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) terdapat tujuan dan sarana yang paling mulia. Tujuan yang paling mulia tersebut adalah ibadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> semata. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ</span></p>
<p><em>”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)”</em> (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).</p>
<p>Sedangkan sarana yang paling mulia untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah <em>isti’anah</em> (memohon pertolongan) kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Faedah penghayatan ayat kelima ini</strong></span></h3>
<p><strong>Pertama,</strong> hidup kita adalah untuk beribadah kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata. Hal itu tidak bisa tercapai kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> dalam ayat kelima ini terdapat dua dari tiga prinsip istikamah dalam beragama Islam. Pertama, ikhlas beribadah kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata. Murni dan bersih dari kesyirikan. Kedua, tawakal dan memohon pertolongan kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata agar bisa beribadah hanya kepada-Nya. Sedangkan prinsip istikamah ketiga terdapat pada ayat keenam, yaitu <em>Al-Mutaba’ah </em>(meniti jalan lurus yang diajarkan oleh Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dalam beribadah kepada-Nya).</p>
<p><strong>Catatan: </strong>ibadah kepada Allah tidak mungkin diterima kecuali jika disertai ikhlas dan <em>mutaba’ah</em>. Keduanya adalah syarat diterimanya amal ibadah. Begitu pun tidak mungkin amal ibadah bisa diterima kecuali dengan bertawakal dan mohon pertolongan kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Kesimpulan tafsir ayat kelima</strong></span></h3>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</span></p>
<p>Tujuan hidup kita hanyalah beribadah kepada Allah dan hanya memohon pertolongan kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/25584-dalil-manhaj-salaf-dalam-surat-al-fatihah.html" data-darkreader-inline-color="">Dalil Manhaj Salaf Dalam Surat Al Fatihah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24257-hukum-mengucapkan-aamiin-setelah-membaca-al-fatihah-di-luar-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Mengucapkan Aamiin Setelah Membaca Al Fatihah di Luar Shalat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p>***</p>
<p><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><strong><span style="color: #000000; --darkreader-inline-color: #f2f0ed;" data-darkreader-inline-color="">Penulis:</span> <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu Ukkasyah</a></span></strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><strong><span style="color: #000000; --darkreader-inline-color: #f2f0ed;" data-darkreader-inline-color="">Artikel:</span> <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></span></p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>1. <em>Tafsir Ath-Thabari</em></p>
<p>2. <em>Tafsir As-Sa’di</em></p>
<p>3. <em>Tafsir Al-‘Utsaimin</em></p>
<p>4. <em>Al-‘Ubudiyyah</em>, Ibnu Taimiyyah</p>
<p>5. <em>Al-Qoulul Mufid</em>, Al-‘Utsaimin.</p>
<p>6. <em>Syarah Aqidah Wasithiyyah</em>, Al-‘Utsaimin.</p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
[1]  https://tafsir.app/zad-almaseer/1/4
[2] <em>Al-‘Ubudiyyah</em>, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 4
[3] <em>Al-Qoulul Mufid,</em> hal. 10
 