
<p>Sekarang kita pelajari dari Tafsir Jalalain mengenai ayat pertama dari <a href="https://rumaysho.com/tag/surat-al-fatihah">surah Al-Fatihah</a> yaitu Basmalah.</p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Tafsir Surah Al-Fatihah, siapa yang menulis dari dua Jalaluddin?</strong></span></h2>
<p>Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri berkata bahwa di naskah asli, tafsir surah Al-Fatihah diletakkan setelah surah An-Naas. Hal ini dikarenakan Jalaluddin Al-Mahalli adalah yang menulis tafsir surah Al-Fatihah dan ia menulisnya setelah surah An-Naas. Lihat ta’liq Tafsir Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-Jalalain, hlm. 10.</p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/23416-mengenal-tafsir-jalalain.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Mengenal Tafsir Jalalain</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kenapa disebut Al-Fatihah?</strong></span></h2>
<p>Al-Fatihah artinya <strong>pembuka</strong>. Surah Al-Fatihah disebut demikian karena surah inilah yang membuka Al-Quran Al-Karim. Ada pula yang mengatakan bahwa surah inilah yang turun pertama kali secara utuh. Lihat bahasan Syaikh Ibnu’ Utsaimin dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, hlm. 7.</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Keistimewaan surah Al-Fatihah</strong></span></h2>
<p>Para ulama menyebut surah ini berisi makna Alquran secara keseluruhan, di dalamnya ada kandungan tauhid, hukum, jaza’ (balasan), jalan hidup bani Adam, dan selainnya. Itulah kenapa surah ini disebut dengan<em> Ummul Quran</em> (induknya Alquran). Karena tempat kembali sesuatu disebut <em>Umm</em> (induk).</p>
<p>Surah ini merupakan <a href="https://rumaysho.com/22938-manhajus-salikin-rukun-shalat-ucapan-dan-gerakan-serta-wajib-shalat.html">rukun shalat</a> karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sampai menyatakan bahwa tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Al-Fatihah. Padahal shalat merupakan rukun Islam yang paling utama.</p>
<p>Surah ini disebut pula dengan <a href="https://rumaysho.com/2383-kriteria-ruqyah-yang-dibolehkan.html">Ruqyah</a>, artinya jika surah ini dibacakan pada orang sakit akan sembuh dengan izin Allah sebagaimana hal ini terdapat dalam kisah para sahabat yang meruqyah seorang tokoh ketika mereka mampir, mereka menggunakan surah Al-Fatihah sebagai bacaan ruqyah.</p>
<p>Lihat <em>Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma</em>, hlm. 7.</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bidah terkait surah Al-Fatihah</strong></span></h2>
<p>Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> menyatakan, “Di antara bentuk bid’ah yang dilakukan terkait surah Al-Fatihah adalah surah ini terus dijadikan bacaan penutup setelah doa. Juga surah ini dijadikan pendahuluan sebelum khutbah, juga dibaca pada acara-acara tertentu, yaitu ada yang mengatakan bacalah Al-Fatihah. Seperti ini keliru. Karena ibadah itu harus dibangun di atas dalil dan mengikuti petunjuk Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lihat <em>Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma</em>, hlm. 7.</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Tafsir Surah Al-Fatihah</strong></span></h2>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)</span></p>
<p>Artinya:</p>
<ol>
<li>Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.</li>
<li>Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam,</li>
<li>Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,</li>
<li>Pemilik hari pembalasan.</li>
<li>Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.</li>
<li>Tunjukilah kami jalan yang lurus,</li>
<li>(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 1-7)</li>
</ol>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Basmalah tidak ditafsirkan oleh Jalaluddin Al-Mahalli</strong></span></h2>
<p>Berikut kami ringkaskan beberapa poin dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam tafsirnya:</p>
<p>1. <em>Basmalah</em> itu disebut dan akan terkait dengan perbuatan tertentu. Kalau kita memulai membaca Alquran dengan basmalah, berarti “<em>dengan nama Allah saya membaca Alquran”</em>. Kalau mau makan membaca basmalah berarti “<em>dengan nama Allah saya makan”</em>. Nama Allah di sini disebut duluan dibanding perbuatan membaca dan makan dengan dua tujuan:</p>
<ul>
<li>Untuk <em>tabarruk</em> (meraih berkah).</li>
<li>Untuk menunjukkan adanya <em>hashr</em> (pembatasan makna), berarti “<em>hanya</em>“.</li>
</ul>
<p>2. “<em>Allah</em>” adalah di antara nama Allah, tidak ada makhluk yang boleh bernama dengan nama ini. Inilah pokok nama Allah, nama lainnya adalah turunan dari nama ini.</p>
<p>3. <em>Ar-Rahman</em> artinya Allah memiliki rahmat yang luas.</p>
<p>4.<em> Ar-Rahiim</em> artinya Allah memiliki rahmat yang khusus pada orang yang Allah kehendaki.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/23679-tafsir-surat-al-fatihah-ayat-2-memahami-alhamdulillah.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tafsir Surat Al-Fatihah (Ayat 2): Memahami Alhamdulillah</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/20129-manhajus-salikin-sifat-shalat-nabi-membaca-surat-setelah-al-fatihah.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Membaca Surat Setelah Al-Fatihah</strong></span></a></li>
</ul>
<h3 style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><strong>Referensi:</strong></span></h3>
<ol>
<li>
<em>Tafsir Al-Jalalain.</em> Cetakan kedua, Tahun 1422 H.  Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Mahalli dan Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi. Ta’liq: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury. Penerbit Darus Salam.</li>
<li>
<em>Tafsir Jalalain.</em> Penerbit Pustaka Al-Kautsar</li>
<li>
<em>Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma.</em> Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.</li>
</ol>
<p> </p>
<p> </p>
<hr>
<p style="text-align: center;">Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align: center;">Artikel <a href="https://rumaysho.com">Rumasyho.Com</a></p>
<p> </p>
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2020/03/Buletin-DS-Edisi-131.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2020/03/Buletin-DS-Edisi-131.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
 