
<p><b>Kedua</b>[1. Dintisarikan dari <em>I’anatul Mustafid</em>, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 216.]
</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan mentasydidkan huruf </span><i><span style="font-weight: 400;">ta` </span></i><span style="font-weight: 400;">(ت), sehingga dibaca</span><i><span style="font-weight: 400;"> al-laatta </span></i><span style="font-weight: 400;">(اللاَتَّ) yang merupakan </span><i><span style="font-weight: 400;">ism fa’il</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari  </span><i><span style="font-weight: 400;">latta-yaluttu </span></i><span style="font-weight: 400;">( لَتَّ-يَلُتُّ ). Dan bacaan dengan tasydid ini merupakan bacaan Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, Mujahid, dan selainnya[2. Lihat: <em>Taisiirul Aziziil Hamiid</em>, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 175.]</span><span style="font-weight: 400;">. Pada asalnya</span><i><span style="font-weight: 400;"> al-laatta </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah orang saleh yang dahulu membuat adonan (makanan) dari tepung untuk memberi makan jama’ah haji, sebagai bentuk ibadah kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanahu wa Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu ketika ia meninggal dunia, kaum musyrikin berdiam diri di kuburannya dan mencari berkah darinya, sebagaimana peristiwa yang terjadi di kaum Nabi Nuh tatkala mereka bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. Dengan demikian </span><i><span style="font-weight: 400;">al-laatta </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah kuburan yang dikeramatkan dan dicari berkahnya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah </span><i><span style="font-weight: 400;">al-laatta</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah ngalap berkah (</span><i><span style="font-weight: 400;">tabarruk bil qubuur) </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada kuburan yang dikeramatkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan kandungan ayat ini mencakup kedua tafsiran ini, sehingga mencakup larangan terhadap dua tabarruk yang syirik ini, yaitu  ngalap berkah (</span><i><span style="font-weight: 400;">tabarruk bil ahjaar</span></i><span style="font-weight: 400;">) kepada batu-batu yang dikeramatkan dan ngalap berkah (</span><i><span style="font-weight: 400;">tabarruk bil qubuur) </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada kuburan yang dikeramatkan.</span></p>
<p><b><i>Al-’uzza </i></b><b>dan Bentuk Penyembahannya</b>[3. Dintisarikan dari At-Tamhid, Syaikh Sholeh Alusy Syaikh, hal. 130-131, I’anatul Mustafid,Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 216, dan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 176-177]
</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Al-uzza </span></i><span style="font-weight: 400;">(الْعُزَّىٰ)</span> <span style="font-weight: 400;">adalah sebuah pohon yang berada antara kota Mekkah dan Thaif. Di dekatnya, dibangun rumah dan ada seorang dukun perempuan yang menjadi penunggunya, ia menghadirkan jin sehingga orang-orang tertipu dengan kekeramatan pohon tersebut, semua itu dilakukan dalam rangka menyesatkan orang-orang. Dahulu kaum musyrikin Quraisy dan Mekkah menyembah pohon yang dikeramatkan tersebut, yang hakekatnya adalah menyembah setan (jin) yang dihadirkan oleh dukun perempuan tersebut. Setan itulah yang terkadang berbicara dengan suara yang didengar oleh manusia, seolah-olah terkesan pohon itu yang berbicara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka menamai pohon yang dikeramatkan tersebut dengan (الْعُزَّ),</span> <span style="font-weight: 400;">karena</span> <span style="font-weight: 400;">mengambil dari</span><b> (العزيز), </b><span style="font-weight: 400;">dan ini adalah penyelewengan terhadap nama Allah, karena menamai sesembahan selain Allah dengan nama yang diambil dari nama Allah adalah pelecehan terhadap Allah. Hal ini dikarenakan tertutupnya hati mereka dari kebenaran, dengan dalih “pengagungan” terhadap sesembahan selain Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Tabaraka wa Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dahulu kaum musyrikin Quraisy dan Mekkah meyakini bisa mendapatkan berkah dari pohon yang dikeramatkan tersebut dengan mengagungkannya dan melakukan ritual penyembahan kepadanya. Dengan demikian </span><i><span style="font-weight: 400;">al-’uzza </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah pohon yang dikeramatkan dan dicari berkahnya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah </span><i><span style="font-weight: 400;">al-uzza</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah ngalap berkah (</span><i><span style="font-weight: 400;">tabarruk bil qubuur) </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada pohon yang dikeramatkan.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>M</b><b><i>anaah</i></b><b> dan Bentuk Penyembahannya<span style="color: #000000;">[4. Dintisarikan dari At-Tamhid, Syaikh Sholeh Alusy Syaikh, hal. 130-131, I’anatul Mustafid,Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 217, dan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 177]</span></b></span></h4>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Manaah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah batu besar (patung) yang dikeramatkan. </span><i><span style="font-weight: 400;">maanah </span></i><span style="font-weight: 400;">berada di antara kota Mekah dan Madinah. Dahulu suku </span><i><span style="font-weight: 400;">khuza’ah, aus dan khazraj </span></i><span style="font-weight: 400;">mengagungkannya, mereka berihram untuk haji dan umrah dari tempat patung tersebut. Penamaannya diambil dari nama Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mannan</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Yang Maha Memberi Karunia) dan dinamakan dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">manaah</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena banyaknya darah binatang yang dialirkan dalam rangka ngalap berkah dengan cara menyembelih binatang di sisi batu besar tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ingatlah! Bahwa di antara ciri khas kaum musyrikin dalam melariskan dagangan kesyirikannya adalah mengadakan upacara ritual pengaliran darah binatang untuk selain Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">ataupun upacara-upacara ritual selainnya yang dibuat-buat dan dikesankan memiliki nilai filosofis yang tinggi, padahal itu hanya tipu daya setan belaka, tak satupun dalil yang menunjukkan kebernarannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, </span><i><span style="font-weight: 400;">manaah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah batu (patung) yang dikeramatkan dan dicari berkahnya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah </span><i><span style="font-weight: 400;">manaah</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah ngalap berkah (</span><i><span style="font-weight: 400;">tabarruk bil qubuur) </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada batu (patung) yang dikeramatkan.</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>___</p>
 