
<p><b>2. Tafsiran kedua</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apakah kalian menganggap </span><i><span style="font-weight: 400;">al-laata, al-uzza,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">manaah</span></i><span style="font-weight: 400;"> itu sesembahan-sesembahan perempuan dan kalian tetapkan sesembahan-sesembahan permpuan tersebut sebagai sekutu-sekutu Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">yang layak untuk disembah, padahal biasanya kalian merendahkan perempuan dan kalian malu jika memiliki anak perempuan”[1. <em>Ringkasan Taisiirul Aziziil Hamiid</em>, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 178].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selanjutnya, Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ</p>
<p><b><i>(22) </i></b><i><span style="font-weight: 400;">Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksudnya adalah itu merupakan pembagian yang zalim dan batil. Bagaimana bisa kalian membagi untuk Rabb kalian dengan model pembagian yang kalau seandainya pembagian seperti itu diterapkan di antara makhluk saja, akan terhitung sebagai bentuk kecurangan, ketidakadilan, kebatilan dan kedunguan. Bahkan sebenarnya kalian pun juga tidak mau mendapatkan pembagian anak perempuan, tapi kalian tetapkan anak perempuan itu untuk Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p style="text-align: right;">إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ</p>
<p><b><i>(23)</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Kemudian Allah berfirman mengingkari mereka terkait dengan bid’ah yang mereka ada-adakan dan perbuat, berupa kedustaan, mengada-ada dan kekufuran, dalam bentuk menyembah patung dan berhala serta menyebut patung dan berhala tersebut sebagai “sesembahan-sesembahan”, (maka Allah pun mengingkari mereka)</span></p>
<p style="text-align: right;">إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">maksudnya (penamaan itu hanyalah) dari diri kalian sendiri,</span></p>
<p style="text-align: right;">مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya,” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">maksudnya: (tidak menurunkan) hujjah (yang benar sedikit pun),</span></p>
<p style="text-align: right;">إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">maksudnya: mereka tidak memiliki landasan (yang benar) kecuali sebatas berbaik sangka kepada bapak-bapak (pendahulu) mereka yang meniti jalan kebatilan sebelum mereka. Seandainya tidak demikian, tentulah penamaan itu dikarenakan mereka mengikuti nafsu mengejar kepemimpinan (kekuasaan) dan mengagungkan bapak-bapak mereka terdahulu.</span></p>
<p style="text-align: right;">وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka,” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">maksudnya: Allah telah mengutus kepada mereka para rasul yang membawa kebenaran yang terang dan hujjah yang tegas, namun kendati demikian, mereka tidaklah mengikuti petunjuk (Allah) yang sampai kepada mereka dan mereka pun tidak mau tunduk melaksanakannya.</span></p>
<p><b>Penutup</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa faidah sebagai berikut:</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Kesalahan musyrikin yang disebutkan dalam Surat An-Najm: 19-23 ini ada tiga, yaitu:</span>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;">Mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak mampu menimpakan mudharat (bahaya).</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;">Mereka memberi nama dan sifat kepada tiga sesembahan tersebut dengan nama yang diambil dari nama Allah.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;">Mereka anggap ketiga sesembahan tersebut sebagai anak-anak perempuan Allah.</span></li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol start="2">
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Di antara jurus kaum musyrikin dalam melegalkan kesyirikan mereka adalah memberi nama dan sifat kepada sesembahan-sesembahan mereka dengan nama dan sifat yang mengandung kesan indah dan mengandung kekhususan </span><i><span style="font-weight: 400;">Ilahiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span>
</li>
</ol>
<ol start="3">
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Inti kesyirikan mereka adalah bahwa mereka meyakini akan memperoleh barakah dari </span><i><span style="font-weight: 400;">al-laatta, al-uzza, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">manaah </span></i><span style="font-weight: 400;">(tabarruk) dengan mengagungkan, berharap, dan mempersembahkan ritual ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut.         </span>
</li>
</ol>
<ol start="4">
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada kuburan yang dikeramatkan, maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">al-laatta</span></i><span style="font-weight: 400;">, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada pohon yang dikeramatkan,  maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">al-uzza</span></i><span style="font-weight: 400;">, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada batu yang dikeramatkan (patung), maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">manaah</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span>
</li>
</ol>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
 