
<p align="center"><span style="color: #ff0000;"><strong> Sahabat </strong></span></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong>Definisi sahabat</strong></span></li>
</ul>
<p>Sahabat  adalah seseorang yang berkumpul dengan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>  atau melihatnya dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman. Maka  termasuk di dalamnya orang yang murtad kemudian kembali masuk Islam, seperti  Syu’bah ibn Qois. Dia murtad setelah wafatnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> kemudian ia diseret sebagai tawanan kepada Abu Bakar, maka ia  bertaubat dan Abu Bakar menerimanya.</p>
<p>Tidak  termasuk sahabat seseorang yang beriman pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> hidup akan  tetapi tidak berkumpul dengannya, seperti Raja Najasyi. Dan juga tidak termasuk  sahabat seseorang yang murtad dan meninggal dalam keadaan murtad, seperti  ‘Abdullah ibn Khotol yang dibunuh saat Fathul Makkah dan Robi’ah ibn Umayyah  ibn Khalaf, yang murtad pada zaman pemerintahan ‘Umar dan meninggal dalam  keadaan murtad.</p>
<p>Sahabat berjumlah banyak, dan tidak  mungkin memastikan batasan jumlah mereka. Akan tetapi dapat dikatakan dengan  perkiraan bahwasannya mereka mencapai jumlah 14000 orang.</p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong>Keadaan sahabat</strong></span></li>
</ul>
<p>Semua sahabat  itu <em>tsiqoh</em> (terpercaya) dan adil sehingga diterima riwayat salah seorang  dari mereka walaupun tidak dikenal (<em>majhul</em>). Karena itu para ulama  mengatakan, “Tidak dikenalnya seorang rowi dari kalangan sahabat tidaklah  membahayakan.”</p>
<p>Dalil untuk atas pensifatan sahabat  tersebut adalah karena Allah dan Rasul-Nya memuji mereka dalam banyak nash. Dan  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menerima perkataan salah seorang di antara  mereka jika diketahui bahwa dia Islam dan Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> tidak bertanya tentang keadaannya.</p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, “Seorang arab badui datang kepada Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> dan mengatakan, ‘Aku melihat hilal – yaitu hilal awal bulan Romadhon –.” Maka Nabi  berkata,<em>‘Apakah engkau  bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah selain Allah?’.</em> Ia menjawab, ‘Ya’. Nabi berkata lagi, ‘Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad  adalah utusan Allah?’. Ia menjawab, ‘Ya’. Maka Nabi berkata, ‘<em>Wahai Bilal, umumkan pada manusia untuk berpuasa  besokpagi.’”</em> (Diriwayatkan  oleh <em>Al Khomsah</em> (1), Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban  menshohihkannya)</p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong>Secara umum sahabat terakhir yang meninggal</strong></span></li>
</ul>
<p>‘Amir ibn Watsilah Al La’its,  meninggal di Mekkah pada tahun 110 H. Dia adalah sahabat yang terakhir  meninggal di Mekkah.</p>
<p>Yang terakhir meninggal di  Madinah,  Muhamad ibn Robi’ah Al Anshori Al  Khazraji meninggal pada tahun 99 H.</p>
<p>Yang terakhir meningal di Syam tepatnya  di Damaskus adalah Watsilah Ibn Al Asq’ Al Laitsi meninggal pada tahun 86 H.</p>
<p>Sedangkan yang di Khims adalah ‘Abdullah ibn Bisri  al Mazini meninggal pada tahun 96 H.</p>
<p>Yang terakhir meninggal di Bashrah  adalah Anas ibn Malik Al Anshori Al Khazraji meninggal pada tahun 93 H.</p>
<p>Yang terakhir meninggal di Kuffah  adalah ‘Abdullah ibn Abi Aufa Al Aslami meninggal pada tahun 87  H.</p>
<p>Dan yang terakhir meninggal di Mesir  adalah ‘Abdullah ibn Haris ibn Juz Az Zubaidi meninggal pada  tahun 89 H.</p>
<p>Tidak ada  seorang sahabat pun yang hidup setelah tahun 110 H, berdasarkan perkataan Ibnu  ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, “Rosulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sholat bersama kami pada akhir hayatnya. Setelah salam, Rosulullah berdiri dan  berkata, ‘Aku teringat kalian pada malam ini, seratus tahun semenjak hari ini  tidak akan ada lagi orang yang saat ini masih hidup di atas muka bumi ini.  melihat kalian pada malam in’i”. (<em>Mutafaq ‘Alaih</em>). Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> mengucapkan itu sebulan sebelum kematiannya – sebagaimana  di riwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir.</p>
<p>Terdapat dua faedah dari mengetahui  sahabat terakhir yang meninggal :</p>
<p>Pertama: orang yang meninggal sesudah  meninggalnya sahabat yang terakhir meninggal tidaklah diterima pengakuan bahwa  beliau adalah sahabat.</p>
<p>Kedua: seseorang yang belum mencapai  usia tamyiz sebelum batas ini, maka hadits yang dia sandarkan kepada sahabat  adalah hadits yang <em>munqothi’</em> (terputus).</p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong>Sahabat yang banyak meriwayatkan hadits</strong></span></li>
</ul>
<p>Diantara para  sahabat, ada yang sering menyampaikan hadits sehingga banyak tabi’in yang  mengambil hadits darinya. Sahabat yang meriwayatkan hadits lebih dari 1000  adalah:</p>
<p>Abu Huroiroh <em>radhiyallahu  ‘anhu</em>, diriwayatkan darinya 5374 hadits.</p>
<p>‘Abdullah ibn ‘Umar ibn Khattab <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, diriwayatkan  darinya 2630 hadits.</p>
<p>Anas ibn Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,  diriwayatkan darinya 2286 hadits.</p>
<p>‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,  diriwayatkan darinya 2210 hadits.</p>
<p>‘Abdullah ibn ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,  diriwayatkan darinya 1660 hadits.</p>
<p>Jabir ibn ‘Abdullah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,  diriwayatkan darinya 1540 hadits.</p>
<p>Abu Sa’id Al Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu</em> diriwayatkan darinya 1170 hadits.</p>
<p>Banyaknya hadits dari para sahabat ini  tidaklah mesti berarti mereka adalah yang paling banyak mengambil hadits dari  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dibandingkan sahabat yang lain.  Karena sedikitnya hadits dari seorang sahabat memiliki sebab-sebab, seperti  meninggal lebih dulu, semisal  Hamzah <em>radhiyallahu  ‘anhu</em> – paman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  disibukkan dengan sesuatu yang lebih penting, seperti ‘Utsman <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, atau  karena kedua sebab di atas seperti Abu Bakar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Beliau  meninggal lebih dahulu dan disibukkan dengan perkara kekhilafaan atau  dikarenakan sebab-sebab yang lain.</p>
<p align="center"><span style="color: #ff0000;"><strong> Al  Mukhodrom </strong></span></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong>Mukhodrom (المخضرم )  : </strong></span></li>
</ul>
<p>Mukhodrom  adalah orang yang beriman pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pada  masa hidupnya namun tidak bertemu dengan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.  Para <em>mukhodrom </em>memiliki tingkatan tersendiri diantara sahabat dan  tabi’in. Ada yang berpendapat bahwasannya mereka ini termasuk kibar tabi’in.  Sebagian ulama mengatakan bahwa jumlah mereka kurang lebih 40 orang. Diantara  mereka adalah Al Ahnif ibn Qoids, Al Aswad ibn Yazid, Sa’ad ibn Iyyas, ‘Abdullah  ibn Ukain, ‘Amr ibn Matmun, atau Muslim Al Khoulani, An Najasyi raja negeri  Habasyah.</p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong>Hukum haditsnya</strong></span></li>
</ul>
<p>Hadits dari <em>mukhodrom</em> penerimaanya seperti <em>mursal tabi’in</em> maka dia terputus (<em>munqothi’</em>),  dan hukum untuk menerima hadits dari <em>mukhodrom</em> itu sama seperti menerima  hadits <em>mursal tabi’i</em>.</p>
<p align="center"><span style="color: #ff0000;"><strong> At  Tabi’i </strong></span></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong>Tabi’i (التبعي ) </strong></span></li>
</ul>
<p>Tabi’i<strong> </strong>adalah seseorang yang berkumpul dengan sahabat dalam  keadaan beriman pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan meninggal  dalam keadaan beriman.</p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong>Tabi’in sangat banyak dan  tidak mungkin menghitung jumlah mereka. </strong></span></li>
</ul>
<p>Mereka memiliki  tiga lapisan: <em>kubro</em> (<strong>كبرى</strong> ), <em>sughro</em> (<strong>صغرى</strong> ) dan yang berada diantara keduanya  (<strong>بينهما</strong> ).<br>
<span style="color: #ff0000;"><br>
Tabi’in kubro </span>adalah seseorang yang riwayatnya paling banyak  berasal dari sahabat. Contoh : Sa’id ibn Musayyib, ‘Urwah ibn Zubair, dan  ‘Alqomah ibn Qois.<br>
<span style="color: #ff0000;"><br>
Tabi’in  sughro</span> adalah seseorang yang banyak  meriwayatkan dari sesama tabi’in akan tetapi hanya bertemu sedikit dari para sahabat.  Contoh : Ibrohim An Nakho’i, Abu Aznadi, Yahya ibn Sa’id.</p>
<p><span style="color: #ff0000;">Tabi’in  wustho</span> adalah yang banyak meriwayatkan dari  sahabat dan kibar tabi’in. Contoh : Hasan Al Bashri, Muhammad ibn Sirin, Mujahid  ibn ‘Ikrimah, Qotadah, As Sya’bi, Az Zuhri, ‘Atha, ‘Umar ibn Abdul ‘Aziz, Salim ibn ‘Abdullah ibn ‘Umar ‘ibn Khattab.</p>
<p>***<br>
(1) Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah</p>
<p><a href="https://muslimah.or.id">muslimah.or.id</a><br>
Diterjemahkan dari Kitab <span> تيسير مصطلح الحديث  </span> (<em>Taisir Musthalah Hadits</em>) karya Syaikh Muhammad ibn Shaleh ibn ‘Utsaimin rahimahullah oleh Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 