
<p><strong>Setelah Suami dan Istri Berpisah</strong></p>
<p>Seorang wanita yang telah berpisah dengan  suaminya, baik karena suaminya telah meninggal dunia atau karena suaminya telah  menceraikannya, maka dia akan menjadi seorang janda. Wanita yang baru saja  berpisah dengan suaminya harus melewati masa <em>‘iddah</em>, yaitu masa di mana  seorang wanita menunggu untuk dibolehkan menikah lagi setelah habis waktunya,  baik dengan hitungan <em>quru’</em> (masa haidh) atau dengan hitungan bulan.  [Lihat <em>Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu</em> (VII/265), <em>Terj. Al-Wajiz</em> (hal.  642), <em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em> (II/418), dan <em>Panduan Keluarga Sakinah</em> (hal. 321)]</p>
<p>Adapun hikmah disyari’atkannya <em>‘iddah</em> adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Mengetahui terbebasnya rahim, dan  sehingga tidak bersatu air mani dari dua laki-laki atau lebih yang telah  menggauli wanita tersebut pada rahimnya. Sehingga nasab anak yang mungkin  dilahirkan tidak menjadi kacau.</li>
<li>Menunjukkan keagungan, kemulian  masalah pernikahan dan hubungan badan.</li>
<li>Memberi kesempatan bagi sang suami  yang telah mentalak istrinya untuk rujuk kembali. Karena bisa jadi ada suami  yang menyesal setelah mentalak istrinya.</li>
<li>Memuliakan kedudukan sang suami di  mata sang istri. Sehingga dengan adanya masa iddah akan semakin menampakkan  pengaruh perpisahan antara pasangan suami-istri. Karena itu, di masa iddah  karena ditinggal mati, wanita dilarang untuk berhias dan mempercantik diri,  sebagai bentuk berkabung atas meninggalkan sang kekasih.</li>
<li>Berhati-hati dalam menjaga hak suami,  kemaslahatan istri dan hak anak-anak, serta melaksanakan hak Allah yang telah  mewajibkannya. [Lihat <em>I’laamul Muwaqqi’iin</em> (II/85)]</li>
</ol>
<p>Masa <em>‘iddah</em> setiap wanita dapat  berbeda-beda, berdasarkan keadaannya dan sebab perpisahannya. Berikut beberapa  rinciannya:</p>
<ol>
<li>Wanita yang ditinggal mati suaminya,  baik dia sudah dicampuri ataupun belum, maka masa <em>‘iddah</em>nya adalah 4  bulan 10 hari. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,
<p class="arab">وَ الَّذِيْنَ يُتَوَفَّـوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ ازْوَاجًا يَّتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ارْبَعَةَ اَشْهُرٍ وَّعَشْرًاۚ…</p>
<p>“<em>Orang-orang  yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah  para istri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah selama) empat bulan sepuluh  hari.”</em> (Qs. Al-Baqarah:  234)</p>
</li>
<li>Wanita yang ditalak dan sudah dicampuri  suami, serta masih dalam usia haid maka masa <em>‘iddah</em>nya adalah selama  tiga kali haid. Setelah masuk masa suci yang ketiga maka masa <em>‘iddah</em>nya  telah habis. Hal ini berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em>,
<p class="arab">والْمُطَـلَّقَـتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَـلَـثَـةَ قُرُوْءٍۗ …</p>
<p>“<em>Wanita-wanita  yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.”</em> (Qs. Al-Baqarah: 228)</p>
<p>Dan lafazh <em>quru’</em> (<span class="arab">قروء </span>) pada ayat di atas maknanya adalah <em>haidh</em>. [Lihat  penjelasan mengenai hal ini dalam <em>Terj. Subulus Salam</em> (III/126-132) dan  kitab lainnya]</p>
</li>
<li>Wanita yang ditalak dan tidak  mengalami haid, misalnya karena masih kecil atau sudah tua (menopause), maka  masa <em>‘iddah</em>nya adalah 3 bulan. Allah berfirman :
<p class="arab">وَالَئِيْ يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيْضِ مِنْ نِسَآئٍكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِـدَّتُهُنَّ ثَلَـثَةُ اَشْهُـرٍ وَّالَّئِيْ لَمْ يَحِضْنَۗ …</p>
<p>“<em>Wanita-wanita  yang tidak haidh lagi (menopause) di antara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu  (tentang masa ‘iddahnya), maka ‘iddahnya adalah tiga bulan. Dan begitu (pula)  perempuan-perempuan yang tidak haidh.”</em> (Qs. Ath-Thalaaq: 4)</p>
</li>
<li>Wanita yang ditalak oleh suaminya dan  belum dicampuri, maka tidak ada <em>‘iddah</em> baginya. Sebagaimana disebutkan  dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,
<p class="arab">يَـاَيُّـهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْآ اِذَا نَكُحْتُمُ الْمُؤْمِنَتِ ثُـمَّ طَلَّقْتُمُوْهُنَّ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَمَسُّوْ هُنَّ فَمَالَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَـدُّوْ نَهَاۚ …</p>
<p>“<em>Wahai  orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi wanita-wanita mukmin, kemudian  kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka tidak ada masa ‘iddah atas  mereka yang perlu kamu perhitungkan..”</em> (Qs. Al-Ahzaab: 49)</p>
</li>
<li>Wanita yang ditalak atau ditinggal mati  oleh suaminya dalam keadaan hamil, maka masa <em>‘iddah</em>nya adalah sampai  melahirkan. Hal ini berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em>,
<p class="arab">وَاُلَاتُ الْاَحْمَالِ اَجَلُهُنَّ اَنْ يَّضَعْنَ حَمْلَهُنَّۗ …</p>
<p>“<em>Dan  wanita-wanita yang hamil, (waktu ‘iddah mereka itu) adalah sampai mereka  melahirkan kandungannya.”</em> (Qs. Ath-Thalaq: 4)</p>
<p><strong>Catatan</strong>:</p>
<ul>
<li>Wanita hamil yang berpisah dengan  suaminya, diperbolehkan untuk menikah lagi, setelah dia melahirkan, meskipun  masa nifasnya belum selesai. Namun suami yang barunya tidak boleh mencampurinya  hingga wanita tersebut suci dari darah nifasnya. [Lihat <em>Umdatul Ahkaam</em> Kitab <em>Ath-Thalaq</em> bab <em>‘Iddah</em> (no. 325) dan <em>Terj. Subulus Salam</em> (III/108-109)]</li>
<li>Wanita hamil yang mengalami keguguran  sehingga mengakibatkan luruhnya janin dari rahimnya maka masa ‘iddahnya selesai  bersamaan dengan gugurnya janin. [Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di  dalam <em>Al-Majmu’ Al-Kamilah Limu’allafatisy Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di</em> (VII/384-385) dan <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em> (II/224-225). Lihat juga <em>Terj.  Subulus Salam</em> (III/109)]</li>
</ul>
</li>
<li>Wanita <em>al-Murtaabah</em>. Wanita <em>murtabah</em> adalah wanita yang  siklus haidnya tidak teratur. Wanita dalam kondisi ini ada dua keadaan:
<ul>
<li>Sebelumnya memiliki siklus haid yang  teratur kemudian siklus haidnya berubah karena sebab yang diketahui, seperti  menyusui, cacat atau sakit yang masih ada harapan untuk sembuh. Dalam kondisi  ini, wanita diwajibkan untuk bersabar sampai siklus haidnya kembali normal,  meskipun waktunya panjang. Setelah siklus haid kembali normal maka dia  menjalani masa <em>iddah</em>nya dengan hitungan <em>quru’</em> (menjalani 3 kali  haid). Ini adalah pendapat Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin  Tsabit <em>radhiyallahu ‘anhum</em>.</li>
<li>Sebelumnya memiliki siklus haid yang  teratur kemudian siklus haidnya berubah namun sebabnya tidak diketahui. Dalam  kondisi ini, wanita wajib menunggu selama 9 bulan, sehingga diketahui dengan  pasti bahwa rahimnya bersih, kemudian melakukan <em>‘iddah</em>nya selama 3  bulan. Dengan demikian, <em>‘iddah</em>nya menjadi 1 tahun. [Lihat <em>Ad-Dasuqi </em>(II/470), <em>Al-Mughni</em> (VII/466), dan <em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em> (II/420-421), <em>Mausu’ah  Fiqhiyah Kuwaitiyah</em> (XXIX/329)]Hal ini berdasarkan perkataan ‘Umar bin  Al-Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, tentang wanita <em>murtabah</em> namun  sebabnya tidak diketahui, “<em>Hendaklah ia menunggu selama sembilan bulan,  kemudian jika tidak nampak pada dirinya (tanda-tanda) kehamilan, maka hendaklah  ia melakukan ‘iddah selama tiga bulan, maka semuanya menjadi satu tahun penuh.</em>”  [Riwayat Imam Asy-Syafi’i dalam <em>Musnad</em>nya (II/107 <em>Syifaa-ul ‘Ayy</em>)]</li>
</ul>
</li>
<li>Wanita <em>al-mustahadhah</em>. Dalam kondisi <em>istihadhah</em>, wanita  ada dua keadaan:
<ul>
<li>Dia dapat membedakan antara darah  haidh dan darah <em>istihadhah</em>, maka <em>‘iddah</em>nya adalah tiga kali  siklus haid.</li>
<li>Dia tidak dapat membedakan antara  darah haidh dan darah <em>istihadhah.</em> Wanita yang mengalami kondisi semacam  ini disebut <em>al-mutahayyirah</em> (wanita yang ragu), dan masa <em>‘iddah</em>nya  adalah selama 3 bulan. [Lihat <em>Fat-hul Baari</em> (IV/312), <em>Ad-Dasuqi</em> (II/470), <em>Mughni Muhtaaj</em> (III/385), <em>Al-Mughni</em> (III/468), dan <em>Ensiklopedi  Fiqh Wanita</em> (II/ 421)]Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah <em>Ta’ala</em>,
<p class="arab">… إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِـدَّتُهُنَّ ثَلَـثَةُ اَشْهُـرٍ …</p>
<p>“…<em>jika  kamu ragu-ragu (tentang masa ‘iddahnya), maka ‘iddahnya adalah tiga bulan…”</em> (Qs. Ath-Thalaaq: 4)</p>
</li>
</ul>
</li>
<li>Wanita menuntut cerai kepada suaminya  (melakukan <em>khulu’</em>), maka tidak ada ‘<em>iddah</em> baginya, karena <em>khulu’</em> adalah <em>fasakh</em> (pembatalan akad nikah) dan bukan talak. Namun wanita  tersebut menunggu selama satu kali haidh, setelah itu halal baginya untuk  menikah lagi. [Lihat <em>Zaadul Ma’ad</em> (V/199), <em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em> (II/428)]Sebagaimana diriwayatkan dari Rubayi’  binti Mu’awwidz,
<p class="arab">أَنَّهَا اِخْتَـلَعْـتَ مِنْ زَوْجِهَا فَـأَتَتْ عُـثْمَانَ بْنَ عَـفَّانَ فَـسَأَلْـتَهُ : مَاذَا عَـلَيَّ مِنَ الْعِـدَّةِ ؟ فَـقَالَ : لاَعِـدَّةَ عَلَيْـكِ إِلاَّ أَنْ تَـكُوْ نِيْ حَدِيْـثَـةَ عَـهْـدٍ بِهِ فَـتَمْكُثِي حَتَّى تَحِيضِي حَيْضَةً ، قَالَ : وَأَنَا مُتَّبِـعٌ فِي ذَلِـكَ قَضَاءَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي مَرْيَمَ الْمُغَالِيَّةِ ، كَانَتْ تَحْتَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسْ فَاخْتَـلَعَتْ مِنْهُ .</p>
<p>“<em>Bahwasanya  dia mengajukan khulu’ dari suaminya, lalu dia mendatangi ‘Utsman bin ‘Affan dan  bertanya kepadanya, ‘Apakah ada kewajiban ‘iddah kepadaku?’ Utsman menjawab,  ‘Tidak ada ‘iddah kepadamu, kecuali kamu baru saja bersenggama dengannya  sehingga datang kepadamu haidh satu kali.’ ‘Utsman melanjutkan perkataannya,  ‘Dan aku mengikuti apa yang diputuskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam di dalam masalah ini kepada Maryam al-Mughaliyah.’ Dia (Maryam) adalah  istri Tsabit bin Qais bin Syammas yang mengajukan khulu’ darinya.”</em> [Hadits shahih li ghairih. Riwayat  An-Nasa’i (VI/186) dan Ibnu Majah (no. 2058)]</p>
</li>
</ol>
<p>Setelah mengetahui batasan waktu yang  ditetapkan oleh Islam untuk wanita yang menjalani masa <em>‘iddah</em>, maka kita  pun perlu mengetahui apa saja yang ditetapkan oleh syari’at untuk wanita yang  sedang dalam masa <em>‘iddah</em>.</p>
<ol>
<li>Wanita tersebut wajib untuk tetap  tinggal di rumah suaminya atau di rumah mahramnya. Dan dia tidak keluar rumah  kecuali untuk suatu kebutuhan yang mendesak dan bergegas kembali apabila  kebutuhannya telah terpenuhi.</li>
<li>Wajib bagi wanita tersebut untuk  menjauhi segala bentuk perhiasan, wewangian, dan aktivitas berhias, seperti  bercelak, mengenakan inai (pacar) dan sebagainya yang dapat membangkitkan  hasrat lawan jenis untuk meminangnya. [Lihat <em>Al-‘Adad wal Ihdaad</em> (hal.  18), <em>Al-Mughni</em> (VII/518), <em>Al-Muwaththa’ </em>(II/599), <em>Terj.  Subulus Salam</em> (III/117-123), dan <em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em> (I/408-411)]
</li>
</ol>
<p>bersambung <em>insyaallah</em></p>
<p>***<br>
Artikel <a href="https://muslimah.or.id">muslimah.or.id</a><br>
Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad<br>
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<p>Maraji’:</p>
<ul>
<li>
<em>Ahkaam al-Janaaiz wa Bidaa’uha,</em> Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma’arif, Riyadh</li>
<li>
<em>Al-Wajiz</em> (Edisi Terjemah), Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, cet. Pustaka as-Sunnah, Jakarta</li>
<li>
<em>Do’a dan Wirid</em>, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta</li>
<li>
<em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em>, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Pustaka Ibnu Katsir, Bogor</li>
<li>
<em>Ensiklopedi Islam al-Kamil</em>, Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri, cet. Darus Sunnah, Jakarta</li>
<li>
<em>Ensiklopedi Larangan Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah</em>, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta</li>
<li>
<em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Lajnah ad-Daimah lil Ifta’, cet. Darul Haq, Jakarta</li>
<li>
<em>Meniru Sabarnya Nabi</em>, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, cet. Pustaka Darul Ilmi, Jakarta</li>
<li>
<em>Panduan Keluarga Sakinah</em>, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka at-Taqwa, Bogor</li>
<li>
<em>Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z</em>, Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq, cet. Pustaka Ibnu Katsir, Bogor</li>
<li>
<em>Penyimpangan Kaum Wanita</em>, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin, cet. Pustaka Darul Haq, Jakarta</li>
<li>
<em>Pernikahan dan Hadiah Untuk Pengantin</em>, Abdul Hakim bin Amir Abdat, cet. Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Jakarta</li>
<li>
<em>Shahiih Fiqhis Sunnah</em>, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Maktabah at-Taufiqiyyah, Kairo</li>
<li>
<em>Subulus Salam</em> (Edisi Terjemah), Imam Muhammad bin Ismail al-Amir ash-Shan’ani, cet. Darus Sunnah, Jakarta</li>
<li>
<em>Syarah Al-Arba’uun Al-Uswah Min al-Ahaadiits Al-Waaridah fii An-Niswah</em>, Manshur bin Hasan al-Abdullah, cet. Daar al-Furqan, Riyadh</li>
<li>
<em>Syarah Riyaadhush Shaalihiin</em>, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, cet. Daar al-Wathaan, Riyadh</li>
<li>
<em>Syarah Riyadhush Shalihin</em> (Edisi Terjemah), Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Bogor</li>
<li>
<em>‘Umdatul Ahkaam</em>, Syaikh ‘Abdul Ghani al-Maqdisi, cet. Daar Ibn Khuzaimah, Riyadh</li>
</ul>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 