
<h4 style="text-align: center;">Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan</h4>
<p><strong>Soal:</strong></p>
<p>Apa tanda-tanda ibadah haji diterima? tolong jelaskan, <em>jazakumullahu khair.</em></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Nabi <i>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">الحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة</p>
<p>“<em>Haji yang Mabrur tidak ada balasannya melainkan surga</em>”</p>
<p>Haji yang mabrur adalah yang diterima oleh Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>, tanda-tandanya banyak di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<b>Dana haji dari harta / nafkah yang halal<br>
</b>Karena harta adalah pondasi yang utama dalam kehidupan seorang muslim, lebih-lebih untuk ibadah haji. Terdapat riwayat bahwa jika sesorang berhaji dengan harta yang baik maka diserukan padanya:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">زادك حلال، وراحلتك حلال، وحجك مبرور</p>
<p>“<em>akan ditambah harta halalmu, kendaraanmu halal dan hajimu mabrur</em>“.<br>
Sebaliknya, jika ada yang berhaji dengan harta yang kotor (tidak halal), maka akan diseru padanya:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لا لبيك ولا سعديك، زادك حرام، ونفقتك حرام، وحجك مأزور غير مأجور</p>
<p>“<em>tidak ada “labbaik” tidak ada “sa’daik”, akan bertambah harta harammu, nafkahmu haram dan hajimu sia-sia tanpa pahala</em>”<br>
atau semakna dengan ini.</p>
</li>
<li>
<b>Di antara tanda haji mabrur adalah Allah memberikan taufik kepadanya agar bisa melakukan manasik yang sesuai syariat</b>.<br>
Sesuai dengan tuntutan (syariat) tanpa menguranginya. Menjauhi larangan Allah pada ibadah haji. Ia melakukannya sesuai dengan tuntunan syariat.</li>
<li>
<b>Di antara tanda haji mabrur adalah ia kembali (ke daerahnya) dengan keadaan agama yang lebih baik dari sebelumnya.<br>
</b>Kembali dengan keadaan bertaubat dan istiqamah dalam ketaatan serta terus-menerus dalam keadaan ini. Jadilah haji momentum menuju kebaikan. Pemacu dari perbaikan perjalanan kehidupan.</li>
</ol>
<p>Inilah tanda-tanda haji yang mabrur.</p>
<p>Sumber: <em>Majmu’ Fatawa syaikh Shalih Al-Fauzan</em>, 2/494</p>
<p>—</p>
<p>Penerjemah: Dr. <a href="http://www.facebook.com/raehanul.bahraen?ref=tn_tnmn">Raehanul Bahraen</a></p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p> </p>
 