
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Tauhid Cabang Keimanan Paling Tinggi</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Tauhid merupakan cabang keimanan yang paling tinggi. Adapun cabang-cabang keimanan yang lainnya tidak akan diterima kecuali setelah sahnya cabang keimanan yang paling tinggi tersebut. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Iman itu lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah perkataan </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaaha illallah’</span></i><span style="font-weight: 400;"> [tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah]. Sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.” </span><b>(HR. Muslim no. 162)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata ketika menjelaskan hadits tersebut,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَقَدْ نَبَّهَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَنَّ أَفْضَلهَا التَّوْحِيد الْمُتَعَيِّن عَلَى كُلّ أَحَد ، وَاَلَّذِي لَا يَصِحّ شَيْء مِنْ الشُّعَب إِلَّا بَعْد صِحَّتِهِ .</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> telah mengingatkan bahwa cabang keimanan yang paling utama adalah tauhid, yang merupakan kewajiban bagi setiap orang. </span><b>Sedangkan cabang keimanan yang lain tidak akan sah kecuali setelah sahnya cabang tauhid tersebut.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(</b><b><i>Syarh Shahih Muslim, </i></b><b>1: 112)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45011-mengikuti-sunnah-lebih-utama-daripada-memperbanyak-amal.html" data-darkreader-inline-color="">Mengikuti Sunah Lebih Utama daripada Memperbanyak Amal</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Ibadah Tidak Diterima Tanpa Tauhid</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad At-Tamimy </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">membuat suatu ilustrasi yang sangat bagus mengenai syarat ibadah yang pertama, yaitu </span><b>tauhid.</b><span style="font-weight: 400;"> Sebagaimana yang dikatakan oleh beliau di dalam kitabnya yang berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">Al</span></i><span style="font-weight: 400;">–</span><i><span style="font-weight: 400;">Qawa’idul Arba’</span></i><span style="font-weight: 400;">. Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فاعلم: أنّ العبادة لا تسمّى عبادة إلا مع التوحيد، كما أنّ الصلاة لا تسمّى صلاة إلى مع الطهارة، فإذا دخل الشرك في العبادة فسدتْ كالحدَث إذا دخل في الطهارة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Ketahuilah, sesungguhnya ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali dengan tauhid (yaitu memurnikan ibadah kepada Allah semata, pen.). Sebagaimana shalat tidaklah disebut sebagai shalat kecuali dalam keadaan bersuci (thaharah). Apabila ibadah tadi dimasuki syirik, maka ibadah itu batal. Sebagaimana hadats yang masuk dalam thaharah.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ilustrasi yang beliau sampaikan tersebut, jelaslah bahwa ibadah kita tidak akan diterima kecuali dengan tauhid. Hal itu seperti ibadah shalat dengan bersuci </span><i><span style="font-weight: 400;">(thaharah). </span></i><span style="font-weight: 400;">Karena tauhid adalah syarat diterimanya ibadah, sebagaimana bersuci adalah syarat sah ibadah shalat. Sebagaimana shalat tidak sah jika tidak dalam kondisi suci, demikian pula ibadah kita tidak akan sah kecuali disertai dengan tauhid, meskipun di dahinya terdapat tanda bekas sujud, berpuasa di siang hari, atau rajin shalat malam. Karena semua ibadah tersebut syaratnya adalah ikhlas dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Apabila terdapat satu saja dari ibadah tersebut yang dicampuri dengan kesyirikan, maka seluruh ibadah yang pernah dia lakukan akan batal dan hilanglah pahalanya. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44488-menakjubkan-raup-pahala-besar-dengan-amal-sederhana-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana</strong></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ؛ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (para Nabi) yang sebelummu,  ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), </span><b>niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.</b><span style="font-weight: 400;"> Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur’.” </span><b>(QS. Az-Zumar [39]: 65-66)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">berfirman tentang orang-orang kafir,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, </span><b>lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(QS. Al-Furqan [25]: 23)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, betapa pun agungnya jenis ibadah yang kita lakukan dan sebanyak apa pun kita mengerjakan ibadah tersebut, namun apabila tidak disertai dengan tauhid, maka ibadah tersebut tidak akan diterima. Sebagaimana seseorang yang tidak dalam keadaan berwudhu, lalu dia melakukan shalat dengan paling sempurna, dia memperlama berdiri, ruku’, dan sujudnya, serta memperbagus shalatnya, maka seluruh kaum muslimin sepakat bahwa shalatnya tidak sah. Bahkan dia dihukumi telah meninggalkan shalat karena agungnya syarat sah shalat ini. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Allah tidak akan menerima shalat seseorang di antara kalian apabila dia berhadats sampai dia berwudhu.” </span><b>(HR. Bukhari no. 6954)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan juga oleh <strong>Muslim (no. 559)</strong> dengan lafadz,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ </b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Shalat salah seorang di antara kalian tidak diterima apabila berhadats sampai dia berwudhu.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ilustrasi ini hanyalah untuk memberikan gambaran secara mudah tentang kedudukan tauhid. </span><b>Karena hakikat yang sebenarnya, syarat ikhlas dan tauhid agar ibadah diterima tentu saja lebih agung dan jauh berbeda jika dibandingkan dengan syarat thaharah agar shalat diterima.</b><span style="font-weight: 400;"> Karena apabila seseorang menunaikan shalat dengan sengaja dalam keadaan </span><i><span style="font-weight: 400;">hadats</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka terdapat perselisihan pendapat di antara ulama tentang kafirnya orang ini. </span><b>Akan tetapi, apabila seseorang beribadah kepada Allah Ta’ala</b> <b>dengan berbuat syirik kepada-Nya, maka para ulama tidak pernah berselisih pendapat bahwa ibadahnya tidak akan diterima. Para ulama juga bersepakat bahwa orang tersebut telah kafir, karena dia telah terjerumus dalam syirik </b><b><i>akbar</i></b><b>, sehingga amal ibadahnya tidak ada satu pun yang diterima. </b><span style="font-weight: 400;">(Lihat </span><b><i>Syarh Al-Qawa’idul Arba’</i></b> <span style="font-weight: 400;">oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal. 4-5)</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43838-apakah-besar-kecil-pahala-suatu-amalan-tergantung-dari-niatnya.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Besar Kecil Pahala Suatu Amalan Tergantung dari Niatnya?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/41889-sibukkanlah-dirimu-dalam-amal-shalih.html" data-darkreader-inline-color="">Sibukkanlah Dirimu dalam Amal Shalih</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 20 Dzulhijjah 1440/21 Agustus 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 