
<p><strong>TAQLID YANG WAJIB</strong><a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Setiap orang diperintahkan oleh Allâh untuk mengikuti wahyu yang telah diturunkan lewat RasûlNya. Mengikuti wahyu disebut ittibâ’. Demikian juga mengikuti seorang ‘alim karena dalil yang dia bawakan dalam suatu permasalahan disebut ittibâ’. Sedangkan mengikuti pendapat orang lain atau meniru perbuatan orang lain tanpa berdasarkan dalil maka bukanlah ittibâ’ namun <em>taqlîd</em>. Lalu bagaimana hukum <em>taqlîd</em> ? Pada edisi yang lalu kita sudah membahas <em>taqlîd</em> yang diharamkan. Pada edisi ini kita akan membahas lawannya yaitu <em>taqlîd</em> yang diwajibkan.</p>
<p><strong>APAKAH ORANG AWAM BOLEH TAQLID?</strong><br>
Pada dasarnya, manusia diperintahkan untuk <em>ittibâ’</em>, bukan <em>taqlîd</em>. Namun bagaimana dengan orang-orang awam yang mereka tidak mampu memahami dalil ? Ada beberapa pendapat tentang taqlîd yang dilakukan orang awam :</p>
<ol>
<li>Jumhur ulama berpendapat, orang awam atau yang semisalnya wajib (boleh) <em>taqlîd</em> kepada orang ‘âlim.</li>
<li>Pendapat kedua, <em>taqlîd</em> bagi orang awam hukumnya haram. Pendapat ini, mengharuskan setiap orang berakal memeriksa dalil dan berijtihad secara mutlak, baik dalam masalah <em>ushûl</em> (pokok) maupun <em>furû’</em> (cabang-cabang). Pendapat adalah pendapat sebagian <em>Qadariyah</em> (Mu’tazilah) dan Ibnu Hazm.</li>
<li>Orang awam wajib <em>taqlîd</em> kepada imam yang <em>ma’shûm</em> (yang terbebas dari kesalahan dan dosa-red). Ini adalah pendapat <em>Syi’ah Imâmiyah</em>.</li>
</ol>
<p>Pendapat yang <em>râjih</em> (kuat) adalah pendapat pertama, berdasarkan dalil-dalil yang akan kami sampaikan nanti, <em>insya Allâh</em>. Sedangkan pendapat kedua dan ketiga, itu adalah pendapat yang bertentangan dengan dalil-dalil yang membolehkan <em>taqlîd</em> bagi orang awam kepada orang ‘<em>âlim </em> tanpa memilih seorang <em>‘âlim</em> tertentu. Walaupun orang ‘âlim itu tidak <em>ma’shûm</em>, karena menurut Ahlus Sunnah, tidak ada yang <em>ma’shûm</em> dari umat ini kecuali Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .</p>
<p><strong>PENJELASAN ULAMA</strong><br>
Berikut ini adalah perkataan sejumlah ulama yang memandang orang awam boleh ber kepada orang ‘âlim :</p>
<ul>
<li>
<strong>Imam Ibnu Abdil Barr</strong> rahimahullah mengatakan, “Para Ulama tidak berselisih pendapat tentang keharusan orang-orang awam ber<em>taqlîd</em> kepada ulama mereka. Mereka inilah yang dimaksud dalam firman Allâh :</li>
</ul>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui</em> [an-Nahl/16:43]</p>
<p style="padding-left: 40px;">Para Ulama juga sepakat, orang buta yang kesusahan mengetahui kiblat harus <em>taqlîd</em> (ikut) orang lain yang dia yakini mengetahui kiblat. Demikian juga orang yang tidak memiliki ilmu dan wawasan tentang agama, dia harus <em>taqlîd </em>kepada ulama’nya”. (<em>Jâmi’ Bayân Ilmi wa Fadhlihi</em>, 2/140)</p>
<ul>
<li>
<strong> Abu Hamîd al-Ghazâli</strong> rahimahullah mengatakan dalam kitab <em>al-Mustash-fa</em>, 2/124, “Orang awam wajib meminta fatwa dan mengikuti ulama’.”</li>
<li>
<strong> Ibnu Quddâmah</strong> rahimahullah berkata dalam <em>Raudhatun Nazhîr</em> (hlm. 206), “<em>Taqlîd</em> dalam masalah <em>furû’</em> (cabang) itu boleh berdasarkan <em>ijmâ</em>’”.</li>
<li>
<strong> Asy-Syathibi </strong>rahimahullah mengatakan dalam kitab <em>al-I’tishâm</em> 2/343, “Kedua : orang itu <em>muqallid</em> murni, dia sama sekali tidak memiliki ilmu untuk memutuskan. Orang ini harus memiliki orang yang akan menuntuntunnya, hakim yang akan menghukuminya, serta seorang ‘alim yang dia teladani”.</li>
<li>
<strong> Ibnul Jauzi </strong>rahimahullah mengatakan dalam <em>Talbîs Iblîs</em> hlm. 79, “Sedangkan dalam masalah-masalah <em>furû’</em> (fiqih), karena kejadiannya banyak, bagi orang sudah untuk memahaminya serta dalam masalah ini orang awam dekat kepada kesalahan, maka yang terbaik bagi mereka adalah <em>taqlîd</em> dalam masalah ini kepada orang yang telah meneliti dan mengkaji”.</li>
<li>
<strong> Al-Amidi</strong> rahimahullah berkata, “Menurut para ahli ushûl fiqih yang sudah melakukan penelitian, orang awam dan orang yang tidak memiliki kemampuan ber<em>ijtihâd</em>, walaupun memiliki sebagian ilmu yang diakui dalam <em>ijtihâd</em>, ia wajib mengikuti perkataan ulama <em>mujtahidîn</em> dan memegangi fatwanya”. (<em>al-Ihkâm</em> 4/228)</li>
<li>
<strong> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</strong> rahimahullah berkata, “Orang yang tidak mampu mencari dalil boleh ber<em>taqlîd</em> kepada orang ‘alim”. [<em>Majmû’ Fatâwâ</em>, 19/262]</li>
<li>
<strong> Syaikh Hamd bin Nâshir bin Mu’ammar</strong> dalam risâlah <em>al-Ijitihâd wat Taqlîd</em> mengatakan, “Orang-orang awam yang tidak memiliki ilmu fiqih dan hadits serta tidak mengkaji perkataan ulama, maka mereka ini harus ber<em>taqlîd</em>, dengan tanpa ada perbedaan pendapat diantara para ulama, bahkan beberapa ulama menyebutkan adanya ijmâ’ dalam hal itu”. [<em>Majmû’atur Rasâil wal Masâil an-Najdiyah. </em>Lihat,<em> Risâlah al-Ijtihâd wat Taqlîd</em>, 2/6, 7, 21]</li>
</ul>
<p>Diantara dalil-dalil yang menjadi landasan pendapat di atas adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Perintah Allâh untuk bertanya kepada ahli ilmu. Allah Azza wa Jalla berfirman :</li>
</ul>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ</strong><strong> ۚ</strong><strong> فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Dan Kami tidak mengutus sebelummu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.</em> [an-Nahl/16: 43]</p>
<p style="padding-left: 40px;">Sisi pengambilan dalil  dari ayat ini yaitu Allah Azza wa Jalla memerintahkan orang yang tidak berilmu agar bertanya kepada yang berilmu. Ini berarti boleh mengamalkan pendapat orang yang ditanya. Walaupun rangkaian ayat ini berkaitan dengan perintah bertanya kepada orang ‘alim Ahli Kitab, tetapi ayat ini dapat digunakan dalam keumuman maknanya, sebagaimana kaidah dalam ilmu tafsir. Dan pertanyaan dalam ayat itu meliputi pertanyaan tentang masalah yang ada nashnya, maka yang ditanya harus menjawab dengan nash; Dan mencakup juga masalah yang tidak ada nashnya, sehingga dia menjawab dengan ijtihâd. Mengikuti ijtihâd orang ‘alim ini adalah <em>taqlîd</em>. Ini menunjukkan <em>taqlîd</em> itu boleh. Adapun berpegang dengan pendapat orang ‘alim yang menyelisihi nash, maka ini merupakan <em>ta’asshub</em> (fanatisme) terhadap sebagian ahli fiqih. Ini termasuk taqlîd yang haram.</p>
<ul>
<li>Firman Allâh Ta’ala:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allâh dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu.</em> [An-Nisâ’/4: 59]</p>
<p style="padding-left: 40px;">Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla memerintahkan agar mentaati ulil amri. <em>Ulil amri</em> adalah umarâ’ (penguasa) dan ulama’. Berdasarkan perintah Allah ini, maka mentaati mereka adalah wajib, baik dalam perkara yang diperintahkan oleh Allâh dan RasulNya atau dalam perkara yang mubah. Ini berarti  <em>taqlîd</em> kepada ulama’ dalam perkara yang bukan maksiat, hukumnya boleh.</p>
<ul>
<li>Ijmâ’ sahabat tentang keberadaan orang yang bertanya dan orang yang ditanya. Sejak dulu, orang-orang awam meminta fatwa ulama’, dan ulama memberi fatwa dengan tanpa menyebutkan dalil dan tidak menyuruh orang awam untuk meraih derajat <em>ijtihâd</em>. Kondisi seperti ini tidak ada yang mengingkari. Ini telah diketahui pasti dan telah mutawâtir, bahwa para ulama’ dahulu berfatwa sedangkan orang-orang awam bertanya kepada ulama’. (1/22)</li>
<li>Dalil secara akal, yaitu ulama’ yang berijtihad dalam masalah furu’ terkadang benar sehingga mendapatkan dua pahala dan terkadang salah sehingga mendapatkan satu pahala. Jadi seorang mujtahid tetap mendapatkan pahala, ketika ijtihadnya salah dan benar. Maka, orang awam boleh <em>taqlîd</em> pada masalah itu, bahkan wajib –menurut sebagian ulama-.</li>
<li>Seandainya orang awam tidak boleh ber<em>taqlîd</em>, dan mereka diharuskan ijtihâd, maka urusan-urusan dunia akan terbengkelai, tidak ada yang mengurusi pertanian, perkebunan dan peternakan, perkerjaan menjadi terlantar, sehingga mengakibatkan kekacauan. Karena untuk memiliki keahlian yang bagus dalam memahami dalil agar bisa mengetahui hukum-hukum agama berdasarkan dalilnya membutuhkan sarana-sarana yang akan menghabiskan waktu seseorang. Jadi mewajibkan pada semua orang untuk berijtihad, termasuk orang awam, merupakan kesusahan besar yang tidak mungkin dibawa oleh syari’at.</li>
</ul>
<p>Inilah sedikit pembahasan tentang orang awam boleh bertaqlîd kepada ulama’. Semoga bermanfaat bagi kita.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XIV/1413H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Dirangkum oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari kitab <em>at-Taql</em><em>î</em><em>d wal Ift</em><em>â</em><em>’ wal Istift</em><em>â</em><em>’</em>, karya syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi</p>
 