
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya</strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id/45905-tauhid-sebagai-sebab-penggugur-dosa-bag-1.html"> Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 1)</a></span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Islam dapat menghapus dosa dan kesalahan sebelumnya</span></h2>
<p>Ahli tauhid adalah orang-orang yang membersihkan tauhid mereka dari kesyirikan. Hal ini bisa diraih dengan mewujudkan dua kalimat syahadat, yaitu syahadat <i>laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah.</i> Nabi Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الإسلام – يعني التوحيد – يجب ما قبله، والهجرة تجب ما قبلها</span></p>
<p>”Islam (yakni tauhid) akan menghapus (dosa) yang sebelumnya. Dan hijrah juga akan menghapus (dosa) yang sebelumnya.” <b>(HR. Muslim) [1]</b></p>
<p>Orang-orang yang mewujudkan Islam, yaitu dengan berserah diri kepada Allah dengan mengharap wajah-Nya tanpa disertai kemunafikan dan <i>riya’, </i>berlepas diri dari kesyirikan dan mengingkari <i>thaghut, </i>dan mengetahui makna dua kalimat syahadat<i>, </i>maka Islam yang seperti ini akan menghapus (dosa-dosa) sebelumnya. Oleh karena itu, yang pertama kali didapatkan oleh seorang hamba ketika masuk Islam adalah keislamannya itu akan menghapus dosa dan kesalahnnya di masa lampau, meskipun dosa yang terbesar, yaitu <i>syirik akbar </i>kepada Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/22305-fatwa-ulama-berzina-lalu-menikah-sahkah-pernikahannya.html">Berzina Lalu Menikah, Sahkah Pernikahannya?</a></span></p>
<p>Ber-Islam adalah sarana terpenting untuk bertaubat. Islam juga merupakan sarana pengampunan dosa, meskipun <i>syirik akbar. </i>Maka bagaimana lagi dengan dosa di bawahnya seperti <i>syirik ashghar, </i>dosa besar, atau dosa secara umum lainnya? Dengan tauhid kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan berlepas diri dari kesyirikan, maka akan terhapuslah dosa-dosa seorang hamba sebelumnya, apa pun bentuknya. Meskipun <i>syirik akbar, </i>membunuh, mengambil harta, melanggar kehormatan, atau terjatuh ke dalam dosa besar. Maka semua yang sebelum Islam akan diampuni dengan sebab keislamannya. Islam akan menghapus dosa sebelumnya.</p>
<p>Allah akan memberikan keutamaan bagi setiap muslim dengan mengampuni dosa-dosanya di akhirat –jika dia adalah seorang muslim <i>muwahhid</i>– sesuai dengan kehendak Allah <em>Ta’ala,</em> dan di dunia jika dia bertaubat dengan benar. Barangsiapa yang bertaubat, maka tauhidnya akan memberikan manfaat baginya dari segala dosa, sehingga dosa-dosanya akan diampuni. Dan barangsiapa yang mengerjakan dosa yang tingkatannya di bawah dosa besar di dunia, maka tauhid dan amal shalihnya akan menghapus dosa-dosa kecilnya tersebut. <i> </i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/14137-tanya-jawab-pernah-berzina-di-mushala-bagaimana-taubatnya.html">Pernah Berzina Di Mushala, Bagaimana Taubatnya?</a></span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Hakikat tauhid yang dapat menyebabkan dosa-dosa terampuni</span></h2>
<p>Adapun hakikat tauhid yang dapat menyebabkan dosa-dosa diampuni adalah seseorang tidak menyembah kecuali Allah <em>Ta’ala</em> semata. Seorang hamba mengetahui makna syahadat tentang Allah dengan meng-esa-kanNya, dan tentang Nabi-Nya dengan <i>risalah-</i>nya. Tauhid -yang memiliki keutamaan dapat mengampuni dosa- adalah Engkau mengetahui makna syahadat <i>laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. </i>Engkau bersaksi dengan syahadat yang agung ini secara terang-terangan dan tidak sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit <i>radhiyallahu anhu, </i>Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ</span></p>
<p>”Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, (dan bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, serta ruh dari-Nya, (dan bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya, bahwa neraka adalah benar adanya, <b>maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya.</b>” <b>(HR. Bukhari dan Muslim)</b></p>
<p>Di dalam riwayat yang lain, <i>”Allah akan mengharamkan neraka baginya”. </i>Barangsiapa yang bersaksi bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka keutamaan pertama kali yang akan didapatkan –dengan derajat paling rendah sebagaimana penjelasan yang akan datang- adalah Allah <em>Ta’ala</em> akan memasukkannya ke dalam surga sebagai sebuah janji dari-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> juga akan mengharamkan neraka baginya sebagai sebuah janji dari-Nya. Sedangkan janji Allah <em>Ta’ala</em> pasti benar dan jujur.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/40688-peran-wanita-dalam-dakwah.html">Inilah Peran Wanita Dalam Dakwah</a></span></p>
<p>Dalam hadits dari ‘Itban bin Malik <i>radhiyallahu anhu, </i>Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda ketika menjelaskan keutamaan dua kalimat syahadat,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إنّه مَنْ قال لا إله إلا الله أو من شهد أنه لا إله إلا الله وأني رسول الله حرم الله عليه النار</span></p>
<p>”Barangsiapa yang mengatakan tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, atau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan sesungguhnya aku (Muhammad) adalah utusan Allah, <b>maka Allah akan mengharamkan neraka baginya.</b>” <b>(HR. Bukhari dan Muslim)</b></p>
<p>Di dalam teks yang lain, <i>”maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya”, </i>seperti yang terdapat di dalam hadits Ubadah. Ini semua adalah keutamaan dan pengaruh dari tauhid yang agung.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/34261-melepas-jilbab-berarti-melepas-kemuliaan-wanita.html">Melepas Jilbab Berarti Melepas Kemuliaan Wanita</a></span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Pengelompokan ahli tauhid</span></h2>
<p>Di sini kita perlu mencermati dua masalah berikut ini:</p>
<ul>
<li>Apakah makna tauhid ini -yaitu beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> semata dan tidak menyekutukan-Nya; berlepas diri dari kesyirikan dan ahlinya; mengingkari <i>thaghut</i>; meninggalkan syirik, baik besar maupun kecil- yang dapat memasukkan ke dalam surga betapa pun amal yang diperbuatnya?</li>
<li>Apakah makna bahwa Allah <em>Ta’ala</em> mengharamkan neraka baginya?</li>
</ul>
<p>Adapun masalah yang pertama, yaitu akan dimasukkan ke dalam surga betapa pun amal yang diperbuatnya, maksudnya adalah <b>“tempat kembali ahli tauhid adalah di surga”</b>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/31942-adab-berinteraksi-dengan-wanita-di-internet.html">Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di Internet</a></span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Beberapa kelompok ahli tauhid:</span></h2>
<p><strong>Pertama</strong> adalah kelompok yang men-<i>tahqiq </i>(mewujudkan) tauhid</p>
<p><strong>Kedua</strong> adalah kelompok yang di dalam tauhidnya tercampur antara amal yang baik dan amal yang buruk</p>
<p><strong>Ketiga</strong> adalah kelompok yang bertauhid, namun membawa dosa yang banyak sekali.</p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Golongan yang pertama</span></h2>
<p>Barangsiapa yang men-<i>tahqiq </i>tauhid maka akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Makna men-<i>tahqiq </i>tauhid adalah menyempurnakan tauhid, sehingga dia ikhlas kepada Rabb-nya, takut dan berharap kepada-Nya. Men-<i>tahqiq </i>tauhid juga berarti membersihkan diri dari syirik besar dan kecil, dari sarana yang mengantarkan kepada syirik besar dan kecil, dari bid’ah baik yang besar maupun yang kecil, serta dari maksiat dan dosa baik besar maupun kecil. Kecuali orang-orang yang bertaubat apabila berbuat dosa serta beramal shalih sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<p>Keutamaan tauhid bagi orang seperti ini adalah bahwa akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab berjumlah tujuh puluh ribu sesuai dengan dalil dari hadits yang menjelaskan bahwa di antara umat ini pada saat hari kiamat terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Ini adalah sesuatu dimana kita berlomba-lomba untuk meraihnya.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/39299-sudah-taubat-lalu-bermaksiat-lagi-apakah-diterima-taubatnya.html">Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?</a></span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Golongan yang kedua</span></h2>
<p>Mereka adalah orang-orang yang mengamalkan tauhid, mentauhidkan Allah di dalam <i>rububiyyah, uluhiyyah, </i>dan <i>asma’ wa shifat. </i>Mereka beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Mereka membersihkan diri dari kesyirikan sebagai bentuk pelaksanaan dari firman Allah <em>Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا</span></p>
<p>”Barangsiapa yang berharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka kerjakanlah amal shalih dan janganlah ia menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada-Nya.” <b>(QS. Al-Kahfi : 110)</b></p>
<p>Akan tetapi, tercampur dalam amal mereka antara amal shalih dan amal yang buruk. Maka keutamaan tauhid bagi mereka adalah:</p>
<ol>
<li>Apabila mereka bertaubat, maka Allah <em>Ta’ala</em> akan menerima taubatnya.</li>
<li>Jika mereka bertemu Allah <em>Ta’ala</em> dengan membawa dosa besar dan belum bertaubat, maka Allah <em>Ta’ala</em> mengampuni dosa tersebut bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Yaitu tanpa menghisabnya, Allah <em>Ta’ala</em> mengampuninya sesuai dengan kehendak-Nya.</li>
<li>Di antara mereka, amal buruk mereka ditimbang dan Allah <em>Ta’ala</em> memenangkan tauhid atas amal <strong>Baca Baca Juga:Juga:</strong>buruknya tersebut sebagai sebuah anugerah dari Allah <em>Ta’ala.</em>
</li>
</ol>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/31148-larangan-mencela-dosa-maksiat-orang-lain.html">Larangan Mencela Seorang Muslim yang Sudah Bertaubat Dari Dosa Maksiatnya</a></span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Golongan yang ketiga</span></h2>
<p>Mereka adalah orang-orang yang bertauhid. Keikhlasan dan tauhid mereka sangat kuat, demikian pula penjagaannya terhadap tauhid, berlepas dirinya dari kesyirikan, kebencian mereka terhadap kesyirikan dan kekufuran serta orang-orangnya, dan pengingkaran mereka terhadap <i>thaghut</i>. Akan tetapi, kesalahan dan dosa mereka juga banyak sekali.</p>
<p>Mereka digambarkan sebagai seorang lelaki yang datang pada hari kiamat sebagaimana yang terdapat di dalam hadits,</p>
<p>”Seorang lelaki datang pada hari kiamat di hadapan seluruh manusia. Ketika itu dibentangkan sembilan puluh sembilan lembaran catatan dosa-dosanya. Setiap lembaran jauhnya sejauh mata memandang, di dalamnya terdapat (catatan) kesalahan dan dosanya. Ketika melihat hal itu, dia merasa takut dan gelisah. Maka Allah <em>Ta’ala</em> berfirman kepadanya (yang artinya), ’Apakah ada yang Engkau ingkari dari semua ini?’ Dia menjawab, ’Aku tidak mengingkari sedikit pun’.</p>
<p>Maka diletakkanlah lembaran-lembaran tersebut pada daun timbangan kejelekan, sehingga menjadi lebih berat. Kemudian Allah <em>Ta’ala</em> berfirman kepadanya lagi (yang artinya), ’Apakah Engkau memiliki amal?’ Dia menjawab, ’Tidak wahai Tuhanku’. Allah Ta’ala berfirman kepadanya (yang artinya), ’Sekali-kali tidak’. Kemudian Allah <em>Ta’ala</em> mengeluarkan sebuah kartu. Dia bertanya, ’Apakah ini wahai Tuhanku?’ Maka kartu tersebut diletakkan pada daun timbangan kebaikan, sehingga terangkatlah gulungan-gulungan tersebut.” <b>[2]</b></p>
<p>Yakni, daun timbangan kebaikan menjadi turun karena lebih berat, sedangkan daun timbangan yang lain akan naik. Sehingga gulungan-gulungan tersebut akan naik karena sedemikian beratnya kartu tersebut. Di dalam kartu tersebut tertulis <i>laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah.</i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27961-meninggalkan-maksiat-bukan-karena-allah-apakah-berpahala.html">Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala?</a></span></p>
<p>Akan tetapi, apakah keutamaan ini didapatkan oleh setiap orang yang mengucapkan <i>Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah? </i>Kalau demikian halnya, maka tidak ada seorang pun dari ahli tauhid yang masuk neraka. Karena Allah <em>Ta’ala</em> juga mengancam ahli tauhid yang melakukan dosa besar atau dosa lainnya bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam neraka terlebih dahulu, kemudian membersihkannya, dan memasukkannya ke dalam surga.</p>
<p>Akan tetapi, ini adalah keadaan khusus dimana tauhid di hati seseorang sangat besar. Demikian pula kecintaannya kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan kepada Rasul-Nya <i>shallallahu alaihi wa sallam </i>serta keikhlasannya kepada Allah. Dia beriman kepada Allah Ta’ala dengan mentauhidkan-Nya di dalam <i>rububiyyah, uluhiyyah, </i>dan <i>asma’ wa shifat. </i>Tidaklah dia beribadah kecuali hanya kepada Allah <em>Ta’ala</em> semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dia mencintai tauhid dan orang yang bertauhid, serta membenci kesyirikan dan pelakunya. Maka kartu inilah yang membedakannya dari seluruh umat yang lain sehingga terangkatlah lembaran-lembaran dosanya melawan besarnya keagungan tauhid.</p>
<p>Demikian pula, jika tauhid dalam hati seseorang sangat besar, maka hampir-hampir dia tidak akan berani untuk melakukan dosa atau terus-menerus terjatuh ke dalam dosa besar. Maka hal ini merupakan keadaan yang khusus bagi hamba tersebut yang membedakannya di hadapan manusia atau yang lainnya, dimana dia memiliki dosa yang sangat banyak, akan tetapi tauhid dan keikhlasannya kepada Allah Ta’ala juga sangat besar.</p>
<p>Hal ini akan memikat setiap orang dan memikat setiap di antara kita yang tidak dapat menjaga dirinya dari maksiat dan dosa. Atau yang mengerjakan dosa dan sedikit berbuat kebaikan. Setiap kali ilmu seorang hamba terhadap Rabb-nya bertambah, dia akan mengetahui bahwa dirinya membutuhkan sesuatu yang dapat membersihkannya dari dosa dan kesalahan, serta dari sedikit melaksanakan kewajiban.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li>
<div><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/25858-mengapa-kemaksiatan-tetap-ada-di-bulan-ramadhan.html">Mengapa Kemaksiatan Tetap Ada Di Bulan Ramadhan?</a></span></div>
</li>
<li>
<div><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24594-pengaruh-shalat-dan-maksiat-terhadap-rezeki.html">Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap Rezeki</a></span></div>
</li>
</ul>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p>@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018</p>
<p><b>Penerjemah:<span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim"><span style="color: #ff0000;"> M. Saifudin Hakim</span></a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id"><strong>Muslim.or.id</strong></a></span></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><b> </b>Lafadz hadits sebagaimana yang terdapat dalam <i>Shahih Muslim </i>adalah:</p>
<p><b>أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا؟ وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟</b></p>
<p>“Apakah kamu tidak tahu bahwa Islam menghapuskan dosa yang telah lalu, hijrah menghapuskan dosa yang telah lalu, dan juga haji menghapuskan dosa yang telah lalu?” <b>(HR. Muslim no. 121)</b></p>
<p><b>[2]</b> HR. Tirmidzi no. 2644; Ibnu Hibban no. 2523; al-Hakim, 1/6; dan An-Nasai no. 4300. Dinilai <i>shahih </i>oleh Syaikh Albani dalam <i>Silsilah Ash-Shahihah </i>no. 2563.</p>
 