
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45911-tauhid-sebagai-sebab-penggugur-dosa-bag-3.html" data-darkreader-inline-color=""> Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 3)</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt; color: #003366; --darkreader-inline-color: #8fcdff;" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan-keutamaan tauhid</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari beberapa penjelasan di atas, maka di antara keutamaan dan pengaruh tauhid adalah:</span></p>
<ul>
<li><b>Dengan sebab tauhid, Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa.</b></li>
<li>Dengan sebab tauhid, daun timbangan kebaikan menjadi lebih berat dibandingkan daun timbangan kejelekan.</li>
<li>Mencegah berada kekal di neraka.</li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam hadits sebelumnya yaitu, </span><i><span style="font-weight: 400;">”AllahTa’ala mengharamkan neraka atasnya”. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun istilah </span><i><span style="font-weight: 400;">“pengharaman” </span></i><span style="font-weight: 400;">di dalam syari’at, misalnya pengharaman atas surga atau neraka, terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:</span></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">pengharaman yang sifatnya selamanya (abadi); dan </span><b>ke dua, </b><span style="font-weight: 400;">pengharaman yang sifatnya sementara. </span><b> </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksud</span> <span style="font-weight: 400;">dari </span><i><span style="font-weight: 400;">”Allah Ta’ala mengharamkan neraka atasnya” </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah</span> <span style="font-weight: 400;">barangsiapa yang bersyahadat, </span><b>dia tidak akan kekal selamanya di neraka.</b><span style="font-weight: 400;"> Bisa jadi dia masuk neraka terlebih dahulu, bisa jadi tidak, sesuai dengan dosa-dosanya. Akan tetapi apakah ahli tauhid berada kekal di neraka? Tentu tidak, berdasarkan janji dari Allah Ta’ala tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">mengharamkan surga atas orang-orang kafir. Pengharaman ini bersifat selamanya. Orang kafir tidak mungkin masuk surga sampai ada unta yang masuk ke dalam lubang jarum. Apakah orang mukmin diharamkan masuk surga? Dalam sebagian dalil terdapat penjelasan bahwa sebagian kaum muslimin diharamkan surga baginya disebabkan dosa-dosanya. Seperti, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Allah mengharamkan surga bagi orang yang memutus silaturahmi” </span></i><span style="font-weight: 400;">atau </span><i><span style="font-weight: 400;">“Dia tidak akan mendapatkan bau surga. Sesungguhnya bau surga dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian”. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengharaman seperti ini tidaklah bersifat selamanya bagi ahli tauhid. Akan tetapi, pengharaman yang sifatnya sementara. Karena sebelum masuk surga, dosa-dosa mereka dibersihkan terlebih dahulu. Mereka terlambat masuk surga sampai Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">selesai meng-adzab mereka sesuai dengan kehendak-Nya atas dasar keadilan dan hikmah-Nya. Oleh karena itu, termasuk di antara keutamaan tauhid adalah bahwa pemiliknya diharamkan untuk berada kekal di neraka.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/14137-tanya-jawab-pernah-berzina-di-mushala-bagaimana-taubatnya.html" data-darkreader-inline-color="">Tanya J<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color="">awab:</span> Pernah Berzina Di Mushala, Bagaimana Taubatnya?</a></strong></p>
<h2><span style="color: #003366; --darkreader-inline-color: #8fcdff;" data-darkreader-inline-color="">Tauhid sebagai sarana meraih syafa’at</span></h2>
<p><b>Tauhid merupakan sarana terbesar untuk meraih syafa’at Nabi Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara keutamaan tauhid bagi pemiliknya adalah tauhid merupakan sarana terbesar untuk meraih syafa’at Nabi Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">bertanya kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafa’atmu?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjawab</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لاَ يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Sungguh aku mengetahui bahwa tidak ada seorang pun sebelum kamu yang bertanya tentang hal ini, wahai Abu Hurairah. Karena aku mengetahui semangatmu untuk mendapatkan hadits. Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafa’atku adalah orang yang mengatakan laa ilaaha illallah secara ikhlas dari hatinya atau dari jiwanya.”</span> <b>(HR. Muslim)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/29205-perbuatan-yang-dilarang-karena-tasyabbuh-tidak-memandang-niat.html" data-darkreader-inline-color="">Perbuatan Yang Dilarang Karena Tasyabbuh, Tidak Memandang Niat</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah orang yang mengatakan </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah </span></i><span style="font-weight: 400;">secara ikhlas dari lubuk hati dan jiwanya. Barangsiapa yang mengatakan </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah </span></i><span style="font-weight: 400;">secara ikhlas dari lubuk hatinya, maka dia adalah orang yang berhak mendapatkan syafa’at Nabi Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun syafa’at Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dapat diraih dengan sarana yang banyak. Di antara para ulama ada yang menghitung lebih dari sepuluh sebagaimana yang terdapat di dalam hadits yang shahih. Akan tetapi, manusia yang berbahagia karena mendapatkan syafa’at tersebut adalah ahli tauhid yang mengikhlaskan tauhidnya. Mereka adalah manusia pertama yang meraih syafa’at ini.</span></p>
<p><b>Tauhid merupakan sarana terbesar untuk menghilangkan kesulitan di dunia dan di akhirat.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ ؛ لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنْفُسُهُمْ خَالِدُونَ ؛ لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Orang-orang yang telah ada ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka. Mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diinginkan oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat.”</span> <b>(QS. Al-Anbiya : 101-103)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/27991-ada-apa-dengan-cinta.html" data-darkreader-inline-color="">Ada Apa Dengan Cinta?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siapakah orang-orang yang telah mendapatkan ketetapan yang baik dari Allah? Mereka adalah ahli tauhid, orang yang beriman kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan sebenar-benarnya. Serta beriman kepada malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-Nya, hari akhir, takdir-Nya, dan beramal shalih. Merekalah yang telah mendapatkan ketetapan yang baik dari Allah. Keadaan mereka di akhirat adalah tidak ada rasa takut yang membuat mereka bersedih hati.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun di dunia, Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”</span> <b>(QS. An-Nahl : 97) </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda kepada Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu anhuma,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Wahai sang anak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya Engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian beliau bersabda kepadanya, </span></p>
<p style="text-align: center;"><b>إِ</b><span style="font-size: 21pt;">ذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Jika Engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah.” Ini adalah tauhid. </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika Engkau meminta tolong, mintalah pertolongan kepada Allah.” Ini juga tauhid. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Dan ketahuilah sesungguhnya jika seluruh manusia berkumpul untuk memberikan kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan kebaikan kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mampu untuk mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang sudah ditulis Allah bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat yang lain, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Dan ketahuilah bahwa kemudahan itu akan didapat dengan kesabaran. Sedangkan kemenangan itu akan didapat setelah kesusahan.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini semua adalah untuk ahli tauhid yang memurnikan tauhidnya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/27973-hukum-ghibah-kepada-non-muslim.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Ghibah Kepada Non Muslim</a></strong></p>
<h2><span style="color: #003366; --darkreader-inline-color: #8fcdff;" data-darkreader-inline-color="">Ahli tauhid akan mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan di akhirat.</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ahli tauhid yang meng-esa-kan Allah dan membersihkan diri dari kesyirikan baik dalam perkatan, perbuatan, maupun keyakinan, maka dia akan mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”</span> <b>(QS. Al-An’am : 82)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika ayat ini turun, para shahabat mengadu kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Mereka </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu anhum </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَيُّنَا لَمْ يَلْبِسْ إِيمَانَهُ بِظُلْمٍ؟</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Wahai Rasulullah, siapakah yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/27737-solusi-bagi-yang-tertimpa-penyakit-lgbt.html" data-darkreader-inline-color="">Solusi Bagi Yang Tertimpa Penyakit LGBT</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap orang pasti menzalimi dirinya sendiri dengan apa saja, baik dengan meremehkan kewajiban atau terjatuh ke dalam perbuatan dosa. Jika dia ingat atau diingatkan, maka dia akan bertaubat dari perbuatannya itu. Lalu siapakah yang tidak menzalimi dirinya sendiri? Maka Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّهُ لَيْسَ بِذَاكَ، أَلاَ تَسْمَعُ إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ: إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Bukan itu yang dimaksud. Yang dimaksud dengan kezaliman di sini adalah kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (yang artinya), ’Sesungguhnya kesyirikan itu merupakan kezaliman yang besar.’” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang demikian itu karena terdapat tiga jenis kezaliman:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Kezaliman seorang hamba terhadap hak dirinya sendiri dengan melakukan perbuatan dosa.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Kezaliman seorang hamba terhadap yang lainnya dengan melanggar hak-hak manusia, harta, dan kehormatan mereka.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Kezaliman seorang hamba terhadap hak Rabb-nya dengan melakukan kesyirikan terhadap Allah Ta’ala.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memberitahukan kepada para shahabat bahwa keumuman (yaitu kezaliman) dalam ayat ini dimaksudkan untuk kekhususan. Yaitu, adalah salah satu dari tiga jenis kezaliman, yaitu kezaliman seorang hamba terhadap hak Rabb-nya dengan berbuat kesyirikan terhadap Allah Ta’ala.</span> <span style="font-weight: 400;">Kezaliman tersebut merupakan jenis kezaliman yang terbesar, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya kesyirikan merupakan kezaliman yang besar.” </span></i><span style="font-weight: 400;">Inilah makna melaksanakan tauhid dan berlepas diri serta membersihkan diri dari kesyirikan. Dengannya seorang hamba dapat meraih keamanan dan petunjuk.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/27509-membenarkan-lgbt-karena-alasan-takdir.html" data-darkreader-inline-color="">Membenarkan LGBT Karena Alasan Takdir?</a></strong></p>
<h2><span style="color: #003366; --darkreader-inline-color: #8fcdff;" data-darkreader-inline-color="">Tingkatan manusia dalam melaksanakan tauhid</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam melaksanakan tauhid ini, manusia bertingkat-tingkat. Sehingga dalam meraih keamanan dan petunjuk, mereka juga memiliki tingkatan-tingkatan. Apabila tauhid seorang hamba sempurna -yaitu seorang hamba melaksanakan tauhid dan membersihkan diri dari kesyirikan dengan sempurna, baik secara ilmu dan amal- maka akan sempurna pula keamanan dan petunjuk yang diberikan oleh Allah baik di dunia maupun di akhirat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila ada seseorang yang bertanya, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Kami memahami adanya keamanan di dunia. Yaitu keamanan diri sendiri, sehingga tidak disakiti oleh orang lain, kuatnya hati, keamanan masyarakat, keamanan pemerintahan dan negara. Ini semua masuk ke dalam keamanan di dunia. Demikian juga hidayah di dunia, dengan mendapatkan taufik untuk mengerjakan amal shalih. Dapat melihat kebenaran sebagai sebuah kebenaran, dan mendapatkan karunia dari Allah sehingga dapat mengikutinya. Dia juga dapat melihat kebatilan sebagai sebuah kebatilan, dan mendapatkan karunia dari Allah sehingga dapat menjauhinya. Hal ini juga dapat dipahami. Keamanan di akhirat dengan tidak adanya ketakutan dan kesedihan, tidak dimasukkan ke dalam neraka, hal ini juga dapat dipahami. Akan tetapi, bagaimana dengan mendapatkan hidayah di akhirat? Bukankah beban syariat telah terputus? Sehingga apakah di akhirat terdapat hidayah?” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ ؛ سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ ؛ وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberikan petunjuk kepada mereka”,</span> <span style="font-weight: 400;">yaitu setelah mereka terbunuh, ”dan memperbaiki keadaan mereka. Serta memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.”</span> <b>(QS. Muhammad : 4-6)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/26985-bolehkah-melihat-gambar-porno-demi-kepuasan-hubungan-suami-istri.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Melihat Gambar Porno Demi Kepuasan Hubungan Suami Istri?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada ayat tersebut, Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">menjadikan tiga tingkatan:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pertama mereka terbunuh,</span></li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Kemudian Allah Ta’ala</span> <span style="font-weight: 400;">memberikan hidayah kepada mereka,</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Lalu memasukkannya ke dalam surga.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Hidayah ini adalah hidayah di akhirat. Para ulama tafsir menafsirkan dengan hidayah untuk melintasi </span><i><span style="font-weight: 400;">shirath </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika terdapat kegelapan. Karena sebelum </span><i><span style="font-weight: 400;">shirath </span></i><span style="font-weight: 400;">terdapat kegelapan yang membuat jalan tersebut menjadi samar. Terkadang manusia bermaksud melintasi atau berjalan di atas jalan tersebut, akan tetapi justru terjatuh ke dalam neraka, </span><i><span style="font-weight: 400;">wal ‘iyadhu billah! </span></i><span style="font-weight: 400;">Atau baru melintasi </span><i><span style="font-weight: 400;">shirath </span></i><span style="font-weight: 400;">sedikit, kemudian mereka tersesat, tidak mengetahui bagaimana untuk sampai. Karena di dalamnya terdapat kegelapan, dan dia tidak memiliki cahaya yang terang benderang. Cahaya tersebut padam, setelah itu mereka terjatuh ke dalam neraka. Sehingga di sana terdapat hidayah berupa jalan yang terang menuju surga di akhirat. Hal ini diraih berbanding lurus dengan kuatnya tauhid yang dimiliki. Apabila tauhidnya kuat, maka akan kuat pula hidayah dan cahayanya di dunia dan di akhirat.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/25338-kunci-ketentraman-sudahkah-kita-miliki.html" data-darkreader-inline-color="">Kunci Ketentraman, Sudahkah Kita Miliki?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24471-apakah-mengikuti-hawa-nafsu-itu-syirik-akbar-1.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Mengikuti Hawa Nafsu Itu Syirik Akbar?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018</span></p>
<p><b>Penerjemah:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
 