
<p>Keutamaan <em>tawassul</em> sebagai ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam, telah banyak dipahami oleh kaum muslimin, akan tetapi mayoritas mereka justru kurang memahami perbedaan antara <em>tawassul</em> yang benar dan <em>tawassul</em> yang menyimpang dari Islam. Sehingga banyak di antara mereka yang terjerumus melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari aqidah tauhid, dengan mengatasnamakan perbuatan-perbuatan tersebut sebagai <em>tawassul </em> yang dibenarkan.</p>
<p>Kenyataan pahit ini semakin diperparah keburukannya dengan keberadaan para tokoh penyokong bid’ah dan syirik, yang mempropagandakan perbuatan-perbuatan sesat tersebut dengan <em>iming-iming</em> janji keutamaan dan pahala besar bagi orang-orang yang mengamalkannya.</p>
<p>Bahkan, mereka mengklaim bahwa <em>tawassul</em> syirik dengan memohon/ berdoa kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan orang-orang yang mereka anggap shaleh adalah bukti pengagungan dan kecintaan yang benar kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan orang-orang shaleh tersebut. Dan lebih daripada itu, mereka menuduh orang-orang yang menyerukan untuk kembali kepada <em>tawassul</em> yang benar sebagai orang-orang yang tidak mencintai Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan orang-orang shaleh, serta merendahkan kedudukan mereka.</p>
<p>Inilah sebabnya, mengapa pembahasan tentang <em>tawassul</em> sangat penting untuk dikaji, mengingat keterkaitannya yang sangat erat dengan tauhid yang merupakan landasan utama agama Islam dan ketidakpahaman mayoritas kaum muslimin tentang hakikat ibadah yang agung ini.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu mengungkapkan hal ini dalam kata pengantar buku beliau “<em>Kaifa </em><em>N</em><em>afhamu </em><em>A</em><em>t-</em><em>T</em><em>awassul</em> (Bagaimana Kita Memahami Tawassul)”, beliau berkata, “Sesungguhnya pembahasan (tentang) <em>tawassul</em> sangat penting (untuk disampaikan), (karena) mayoritas kaum muslimin tidak memahami masalah ini dengan benar, disebabkan ketidaktahuan mereka terhadap hakikat <em>tawassul</em> yang diterangkan dalam al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> secara jelas dan gamblang.</p>
<p>Dalam buku ini, aku jelaskan tentang <em>tawassul</em> yang disyariatkan dan <em>tawassul</em> yang dilarang (dalam Islam) dengan meyertakan argumentasinya dari al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang shahih, agar seorang muslim (yang membaca buku ini) memiliki ilmu dan pengetahuan yang kokoh dalam apa yang diucapkan dan diserukannya, sehingga <em>tawassul</em> (yang dikerjakan)nya sesuai dengan syariat Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan doa (yang diucapkan)nya dikabulkan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> (<em>insya Allah</em>).</p>
<p>Dan juga agar seorang muslim tidak terjerumus dalam perbuatan syirik yang bisa merusak amal kebaikannya karena kebodohannya, sebagaimana keadaan sebagian dari kaum muslimin saat ini, semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada mereka.” (Kitab <em>Kaifa </em><em>N</em><em>afhamu </em><em>A</em><em>t-</em><em>T</em><em>awassul</em>, hal. 3).</p>
<h2><strong>Definisi <em>tawassul</em> dan hakikatnya</strong></h2>
<p><span style="line-height: 1.5em;">Secara bahasa, </span><em style="line-height: 1.5em;">tawassul</em><span style="line-height: 1.5em;"> berarti menjadikan sarana untuk mencapai sesuatu dan mendekatkan diri kepadanya (lihat kitab </span><em style="line-height: 1.5em;">A</em><em style="line-height: 1.5em;">n-Nihayah fi Gh</em><em style="line-height: 1.5em;">ariibil H</em><em style="line-height: 1.5em;">adiitsi wal A</em><em style="line-height: 1.5em;">tsar,</em><span style="line-height: 1.5em;"> 5/402 dan </span><em style="line-height: 1.5em;">Lisaanul  ‘Arab</em><span style="line-height: 1.5em;">, 11/724).</span></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Arti <em>tawassul</em> adalah mengambil <em>wasiilah</em> (sarana) yang menyampaikan kepada tujuan. Asal (makna)nya adalah keinginan (usaha) untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.” (<em>Kutubu wa Rasa-il</em> <em>S</em><em>yaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin,</em> 79/1).</p>
<p>Maka arti “ber-<em>tawassul</em> kepada Allah” adalah melakukan suatu amalan (shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya (lihat kitab <em>Lisaanul  ‘Arab</em><em>,</em> 11/724).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</span></p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman</em><em>,</em><em> bertakwalah </em><em>k</em><em>epada Allah dan carilah wasilah (jalan/</em> <em>sarana untuk mendekatkan diri) kepada-Nya</em><em>,</em><em> serta berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan</em><em>.</em>” (QS. al-Maaidah: 35).</p>
<p>Beliau berkata, “<em>Wasiilah</em> adalah sesuatu yang dijadikan (sebagai sarana) untuk mencapai tujuan.” (Kitab <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 2/73).</p>
<p>Inilah hakikat makna <em>tawassul</em>, oleh karena itu Imam Qotadah al-Bashri (beliau adalah Qatadah bin Di’aamah as-Saduusi al-Bashri (wafat setelah tahun 110 H), imam besar dari kalangan<em> tabi’in</em> yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> [lihat kitab <em>Taqriibut Tahdziib</em>, hal. 409]) menafsirkan ayat di atas dengan ucapannya, “Artinya: dekatkanlah dirimu kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengamalkan perbuatan yang diridhai-Nya.” (Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 2/73).</p>
<p>Imam ar-Raagib al-Ashfahani ketika menjelaskan makna ayat di atas, beliau berkata, “Hakikat  <em>tawassul</em> kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> adalah memperhatikan (menjaga) jalan (agama)-Nya dengan memahami (mempelajari agama-Nya) dan (mengamalkan) ibadah (kepada-Nya) serta selalu mengutamakan (hukum-hukum) syariat-Nya yang mulia.” (Kitab <em>Mufraadaatu </em><em>Gh</em><em>ariibil Quran</em>, hal. 524).</p>
<p>Bahkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa makna <em>tawassul</em> inilah yang dikenal dan digunakan oleh para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di zaman mereka (lihat kitab <em>Qaa’idatun Jaliilah fit Tawassul wal Wasiilah</em>, hal. 4).</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/1677-memahami-pengertian-ibadah.html" target="_blank" rel="noopener">Memahami Pengertian Ibadah</a></strong></em></p></blockquote>
<h2><strong>Pembagian <em>tawassul</em></strong></h2>
<p>Secara garis besar, <em>tawassul</em> terbagi menjadi dua, yaitu <em>tawassul</em> yang disyariatkan (<em>tawassul</em> yang benar) dan <em>tawassul</em> yang dilarang (<em>tawassul</em> yang salah) [lihat rincian pembagian ini dalam <em>Kutubu wa Rasa-il Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin</em> (79/1-5) dan kitab <em>Kaifa Nafhamut Tawassul</em> (hal. 4 -14), tulisan Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu).</p>
<p><strong>1. <em>Tawassul</em> yang disyariatkan</strong> adalah <em>tawassul</em> yang diperintahkan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dalam al-Quran (dalam ayat tersebut di atas) dan dijelaskan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> serta diamalkan oleh para shahabat<em>radhiallahu ‘anhum</em> (lihat kitab <em>Kaifa Nafhamut Tawassul,</em> hal. 4). Yaitu ber-<em>tawasssul</em> kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>dengan sarana yang dibenarkan (dalam agama Islam) dan menyampaikan kepada tujuan yang diinginkan (mendekatkan diri kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) [<em>Kutubu wa Rasa-il syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin </em>(79/1)].</p>
<p><em>Tawassul</em> ini ada beberapa macam:</p>
<p><strong>A- </strong><em>Tawassul</em> dengan nama-nama Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang Mahaindah, inilah yang diperintahkan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وللهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا</span></p>
<p>“<em>Dan Allah mempunyai al-asma-ul husna (nama-nama yang Mahaindah), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut al-asma-ul husna itu</em>.” (QS. al-A’raaf: 180).</p>
<p>Artinya: berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang Mahaindah sebagai wasilah (sarana) agar doa tersebut dikabulkan-Nya (lihat kitab <em>At-Tawassulu Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu</em>, hal. 32).</p>
<p><em>Tawassul</em> ini disebutkan dalam banyak hadits yang shahih, di antaranya dalam doa yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bagi orang yang ditimpa kesedihan dan kegundahan, “Aku memohon kepada-Mu (ya Allah) dengan semua nama (yang Mahaindah) yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan (bagi diri-Mu) pada ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan al-Quran sebagai penyejuk hatiku, cahaya (dalam) dadaku, penerang kesedihanku dan penghilang kegundahanku.” [HR. Ahmad (1/391), Ibnu Hibban (no. 972) dan al-Hakim (no. 1877), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, Ibnul Qayyim dalam <em>Syifa-ul ‘Aliil</em> (hal. 274) dan Syaikh al-Albani dalam <em>Ash-Shahiihah</em> (no. 199)].</p>
<p><strong>B- </strong><em>Tawassul</em> dengan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, sebagaimana doa Nabi Sulaiman <em>‘alaihissalam</em> dalam al-Quran,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِين</span></p>
<p>“<em>Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh</em>.” (QS. an-Naml: 19).</p>
<p>Juga dalam doa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> “Ya Allah, dengan pengetahuan-Mu terhadap (hal yang) gaib dan kemahakuasaan-Mu untuk menciptakan (semua makhluk), tetapkanlah hidupku selama Engkau mengetahui kehidupan itu baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika selama Engkau mengetahui kematian itu baik bagiku.” [HR. an-Nasa-i (no. 1305 dan 1306), Ahmad (4/264) dan Ibnu Hibban (no. 1971), dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani].</p>
<p><strong>C- </strong><em>Tawassul</em> dengan beriman kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, sebagaimana doa hamba-hamba-Nya yang shaleh dalam al-Quran,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ</span></p>
<p>“<em>Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Rabb-mu.’; maka kamipun beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.”</em> (QS. Ali ‘Imran: 193).</p>
<p><strong>D- </strong><em>Tawassul</em> dengan kalimat tauhid, sebagaimana doa Nabi Yunus <em>‘alaihissalam</em> dalam al-Quran,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ</span></p>
<p>“<em>Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru (berdoa kepada Allah) di kegelapan, ‘Laa ilaaha illa anta (Tidak ada sembahan yang benar selain Engkau), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikanlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman</em>.” (QS. al-Anbiyaa’: 87-88).</p>
<p>Dalam hadits yang shahih, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjamin pengabulan doa dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> bagi orang yang berdoa kepada-Nya dengan doa ini (HR. at-Tirmidzi, no. 3505 dan Ahmad, 1/170, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani).</p>
<p><strong>E- </strong><em>Tawassul </em>dengan amal shaleh, sebagaimana doa hamba-hamba Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang shaleh dalam al-Quran,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ</span></p>
<p>“<em>Wahai Rabb kami, kami beriman kepada apa (kitab-Mu) yang telah Engkau turunkan dan kami mengikuti (petunjuk) rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang tauhid dan kebenaran agama-Mu)</em>.” (QS. Ali ‘Imran: 53).</p>
<p>Demikian pula yang disebutkan dalam hadits yang shahih, kisah tentang tiga orang shaleh dari umat sebelum kita, ketika mereka melakukan perjalanan dan bermalam dalam sebuah gua, kemudian sebuah batu besar jatuh dari atas gunung dan menutupi pintu gua tersebut sehingga mereka tidak bisa keluar, lalu mereka berdoa kepada Allah dan ber-<em>tawassul</em> dengan amal shaleh yang pernah mereka lakukan dengan ikhlas kepada Allah, sehingga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> kemudian menyingkirkan batu tersebut dan merekapun keluar dari gua tersebut [Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 2152) dan Muslim (no. 2743)].</p>
<p><strong>F- </strong><em>Tawassul</em> dengan menyebutkan keadaan dan ketergantungan seorang hamba kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, sebagaimana dalam doa Nabi Musa <em>‘alaihissalam</em> dalam al-Quran,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ</span></p>
<p>“<em>Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”</em> (QS. al-Qashash: 24).</p>
<p>Juga doa Nabi Zakaria <em>‘alaihissalam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا. وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا</span></p>
<p>“<em>Wahai Rabb-ku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, wahai Rabb-ku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari Engkau seorang putera</em>.” (QS. Maryam: 4-5).</p>
<p><strong>G- </strong><em>Tawassul</em> dengan doa orang shaleh yang masih hidup dan diharapkan terkabulnya doanya<strong>. </strong>Sebagaimana yang dilakukan oleh para shahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> di masa hidup Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, seperti perbuatan seorang Arab dusun yang meminta kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar berdoa kepada Allah <em>Ta’ala</em> memohon diturunkan hujan, ketika beliau sedang berkhutbah hari Jumat, lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdoa meminta hujan, lalu hujanpun turun sebelum beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> turun dari mimbar [Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 968) dan Muslim (no. 897)].</p>
<p>Kemudian setelah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> wafat, para shahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> tidak meminta kebutuhan mereka kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan datang ke kuburan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, karena mereka mengetahui perbuatan ini dilarang keras dalam Islam. Akan tetapi, yang mereka lakukan adalah meminta kepada orang shaleh yang masih di antara mereka untuk berdoa kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p>
<p>Seperti perbuatan shahabat yang mulia Umar bin khattab <em>radhiallahu ‘anhu</em> di zaman kekhalifahan beliau <em>radhiallahu ‘anhu</em>, jika manusia mengalami musim kemarau, maka beliau berdoa kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan ber-<em>tawassul</em> dengan doa paman Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib <em>radhiallahu ‘anhu</em>. Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em> berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya dulu kami selalu ber-<em>tawassul</em> kepada-Mu dengan (doa) Nabi kami <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami, dan (sekarang) kami ber-<em>tawassul</em> kepada-Mu dengan (doa) paman Nabi kami <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (‘Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em>), maka turunkanlah hujan kepada kami.” Lalu hujanpun turun kepada mereka (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 964 dan 3507).</p>
<p>Demikian pula perbuatan shahabat yang mulia, Mu’awiyah bin Abi Sufyan <em>radhiallahu ‘anhu</em> di masa pemerintahan beliau <em>radhiallahu ‘anhu</em>. Ketika terjadi musim kemarau, Mu’awiyah <em>radhiallahu ‘anhu</em> bersama penduduk Damaskus bersama-sama melaksanakan shalat <em>istisqa’</em> (meminta hujan kepada Allah <em>Ta’ala</em>). Ketika Mu’awiyah telah naik mimbar, beliau berkata, “Dimanakah Yazid bin al-Aswad al-Jurasyi?” Maka orang-orangpun memanggilnya, lalu diapun datang melewati barisan manusia, kemudian Mu’awiyah menyuruhnya untuk naik mimbar dan beliau sendiri duduk di dekat kakinya dan beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya hari ini kami meminta syafa’at kepada-Mu dengan (doa) orang yang terbaik dan paling utama di antara kami, ya Allah, sesungguhnya hari ini kami meminta syafa’at kepada-Mu dengan (doa) Yazid bin al-Aswad al-Jurasyi,” wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu (untuk berdoa) kepada Allah!” Maka, Yazidpun mengangkat kedua tangannya, demikian pula manusia mengangkat tangan mereka. Tak lama kemudian muncullah awan (mendung) di sebelah barat seperti perisai dan anginpun meniupnya, lalu hujan turun kepada kami sampai-sampai orang hampir tidak bisa kembali ke rumah-rumah mereka (karena derasnya hujan) [<em>Atsar</em> riwayat Ibnu ‘Asakir dalam <em>Tarikh Dimasq</em> (65/112) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitab <em>At-Tawassulu Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu </em>(hal. 45)].</p>
<p><strong>2. <em>Tawassul</em> yang dilarang (dalam Islam)</strong> adalah <em>tawassul</em> yang tidak ada asalnya dalam agama Islam dan tidak ditunjukkan dalam dalil al-Quran maupun hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Yaitu ber-<em>tawasssul</em> kepada Allah <em>Ta’ala</em> dengan sarana yang tidak ditetapkan dalam syariat Islam.</p>
<p><em>Tawassul</em> ini juga ada beberapa macam:</p>
<p><strong>A- </strong><em>Tawassul</em> dengan orang yang sudah mati dan berdoa kepadanya selain Allah <em>Ta’ala</em>. Ini termasuk perbuatan syirik besar yang bisa menjadikan pelakunya keluar dari Islam. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ</span></p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu menyeru (memohon) kepada sembahan-sembahan selain Allah yang tidak mampu memberikan manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu), maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).</em>” (QS. Yuunus: 106).</p>
<p>Termasuk dalam hal ini adalah ber-<em>tawassul</em> dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> setelah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> wafat, ini termasuk perbuatan syirik. Oleh karena itu, para shahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> tidak pernah melakukannya, padahal mereka sangat mencintai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>B- </strong><em>Tawassul</em> dengan <em>jaah</em> (kedudukan) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atau orang-orang yang shaleh di sisi Allah. Ini termasuk <em>tawassul</em> yang bid’ah dan tidak pernah dilakukan oleh para shahabat <em>radhiallahu ‘anhum,</em> padahal mereka sangat mencintai dan memahami tingginya kedudukan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di sisi Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p>Hal ini dikarenakan kedudukan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidaklah bisa bermanfaat bagi siapapun kecuali bagi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri, meskipun bagi orang-orang terdekat dengan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (lihat <em>Kutubu wa Rasa-il S</em><em>yaikh Muhammad bin Shali</em><em>h al-’Utsaimin</em> [79/5]), sebagaimana sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> “<em>Wahai Fathimah putri (Nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mintalah dari hartaku (yang aku miliki) sesukamu, sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi (memberi manfaat) bagimu sedikitpun di hadapan Allah.</em>” (Kitab <em>Kaifa </em><em>N</em><em>afhamut T</em><em>awassul,</em> hal. 13).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata, “<em>Tawassul</em> ini adalah bid’ah dan bukan kesyirikan, karena memohon kepada Allah. Akan tetapi terkadang bisa membawa kepada kesyirikan, yaitu jika orang yang ber<em>tawassul</em> itu berkeyakinan bahwa Allah butuh kepada perantara (untuk mengetahui permintaan makhluk-Nya) sebaimana seorang pemimpin atau presiden (butuh kepada perantara), (maka ini termasuk syirik/ kafir) karena telah menyerupakan (Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) Yang Maha Pencipta dengan makhluk-Nya, padahal Allah  berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ</span></p>
<p>“<em>Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.</em>” (QS. asy-Syuura: 11) (Kitab <em>Kaifa </em><em>N</em><em>afhamut T</em><em>awassul,</em> hal. 13).</p>
<p>Sebagian orang yang membolehkan <em>tawassul</em> ini berdalil dengan sebuah hadits palsu, “Ber-<em>tawassul-</em>lah kalian (dalam riwayat lain: Jika kalian memohon kepada Allah maka memohonlah) dengan kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sngat agung.”</p>
<p>Hadits ini adalah hadits yang palsu dan merupakan kedustaan atas nama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bahkan hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorangpun dari para ulama ahli hadits dalam kitab-kitab mereka, sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (lihat kitab <em>A</em><em>l-Fatawal </em><em>K</em><em>ubra</em><em>,</em> 2/433 dan <em>At-Tawassulu Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu,</em> hal. 128).</p>
<p><strong>C- </strong><em>Tawassul</em> dengan hak Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan hak para wali Allah.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata, “<em>Tawassul</em> ini tidak diperbolehkan (dalam Islam), karena tidak ada satu nukilanpun dari shahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menjelaskan (kebolehannya). Imam Abu Hanifah dan dua orang murid utama beliau (Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani) membenci (mengharamkan) seseorang yang mengucapkan dalam doanya, ‘(Ya Allah), aku memohon kepada-Mu dengan hak si Fulan, atau dengan hak para Nabi dan Rasul-Mu <em>‘alaihissalam</em>, atau dengan hak <em>Baitullah al-Haram</em> (Ka’bah)’, atau yang semisal itu, karena tidak ada seorangpun yang mempunyai hak atas Allah (lihat kitab <em>Syarhul Ihya’</em>) (Kitab <em>Kaifa </em><em>N</em><em>afhamut T</em><em>awassul,</em> hal. 13).</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/67459-apakah-ibadah-harus-diketahui-hikmahnya.html" target="_blank" rel="noopener">Apakah Ibadah Harus Diketahui Hikmahnya?</a></strong></em></p></blockquote>
<h2><strong>Pengaruh positif memahami dan mengamalkan <em>tawassul</em> dengan benar</strong></h2>
<p><a href="https://rumaysho.com/617-biografi-syaikhul-islam-ibnu-taimiyah.html" target="_blank" rel="noopener">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</a> menjelaskan faidah yang agung ini di sela-sela penjelasan beliau tentang kaidah-kaidah dalam memahami <em>tawassul</em> yang benar dan sesuai dengan syariat Islam, beliau berkata, “Sesungguhnya, kaidah-kaidah ini berkaitan erat dengan penetapan tauhid (mengesakan Allah <em>Ta’ala</em> dalam beribadah) dan peniadaan unsur kesyirikan serta sikap <em>ghuluw</em> (melampaui batas dalam agama). (Sehingga jika) semakin diperinci keterangannya dan semakin jelas penyampaiannya, maka sungguh yang demikian itu adalah <em>nuurun ‘ala nuur</em> (cahaya di atas cahaya), dan Allah Dialah tempat meminta pertolongan.” (Kitab <em>Qaa’idatun Jaliilah fit Tawassuli wal Wasiilah</em>” (hal. 244).</p>
<p>Dari keterangan beliau ini dapat disimpulkan bahwa tujuan pembahasan mengenai <em>tawassul</em> yang benar adalah [lihat keterangan Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali dalam <em>muqaddimah</em> kitab <em>Qaa’idatun Jaliilah fit Tawassuli wal Wasiilah</em> (hal. 20-21)]:</p>
<ul>
<li>Penetapan/ penegakan tauhid yang untuk tujuan mulia inilah Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengutus para Rasul-Nya <em>‘alahimussalam</em> dan menurunkan kitab-kitab-Nya.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Peniadaan/ pembatalan unsur-unsur kesyirikan yang ini merupakan inti kandungan agama yang dibawa oleh para Rasul <em>‘alaihimussalam</em>, yaitu membasmi kesyirikan dan membersihkan permukaan bumi, hati serta jiwa manusia dari kotoran dan noda syirik.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Pembatalan unsur-unsur sikap <em>ghuluw</em> (melampaui batas dalam agama) dalam semua sendi-sendi agama Islam. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ</span></p>
<p>“<em>Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar</em>.” (QS. an-Nisaa’:  171).</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Janganlah kalian memuji diriku secara berlebihan dan melampaui batas, sebagaimana orang-orang Nasrani melampaui batas dalam memuji (Nabi Isa) bin Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya.’</em>” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 3261).</p>
<h2><strong>Penutup</strong></h2>
<p>Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin yang membacanya untuk memurnikan akidah dan tauhid mereka, serta menjauhkan mereka dari segala bentuk kesyirikan, yang besar maupun kecil.</p>
<p>Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan nama-nama-Nya yang Mahaindah dan sifat-sifat-Nya yang Mahasempurna, agar Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk selalu menegakkan tauhid kepada-Nya dan menjauhi segala bentuk perbuatan syirik, yang besar maupun kecil, serta menjaga kita dari semua bencana yang merusak agama dan keyakinan kita, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/426-cinta-takut-harap-kepada-allah.html" target="_blank" rel="noopener">Cinta, Takut dan Harap Kepada Alloh</a></strong></em></p></blockquote>
<p>—</p>
<p>Kota Kendari, 7 Shafar 1432 H</p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A.</strong></p>
<p><strong>Artikel muslim.or.id</strong></p>
 