
<p> </p>
<p>Pernah mendengar mitos apabila orang mendengar suara burung gagak petanda berita kematian dirinya atau keluarganya. Atau saat mendengar kokok ayam di awal malam petanda ada janda atau wanita belum menikah hamil. Meyakini bahwa angka tiga belas sebagai angka sial hingga menghilangkan angka tersebut di maskapai pesawat, di hotel-hotel ataupun penomoran rumah. Dan masih banyak lagi anggapan sial yang sebenarnya tak ada landasan syariatnya dalam Islam.</p>
<p>Menurut syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (wafat tahun 1421 H <em>rahimahullah</em>); “<em>Tathayyur</em> adalah menganggap sial apa yang dilihat, didengar, atau yang diketahui. Seperti yang dilihat yaitu, melihat sesuatu yang menakutkan. Yang didengar seperti mendengar burung gagak atau yang diketahui seperti melihat tanggal, angka, atau bilangan tertentu. <em>Tathayyur</em> berarti menafikan (meniadakan) tauhid dari dua segi:</p>
<p>1. Orang yang ber<em>-tathayyur</em> tidak memiliki rasa tawakal kepada Allah dan senantiasa bergantung kepada selain Allah.</p>
<p>2. Ia bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakekatnya bahkan ia bergantung pada sesuatu yang termasuk <em>takhayyul</em> dan keragu-raguan (lihat <em>al-Qaulul Mufiid ‘alaa Kitaab at-Tauhiid</em> I/559-560).</p>
<p><em>Tathayyur</em> bisa merusak tawakal kepada Allah <em>ta’ala</em>. Dan perbuatan tersebut mengindikasikan rendahnya tauhid pelakunya. Padahal tak ada bukti ilmiah bahwa tanda-tanda yang diyakini dalam tathayyur bisa mendatangkan malapetaka atau pun keberuntungan. Kejadian buruk yang menimpa manusia pada hakekatnya merupakan takdir Allah <em>Ta’ala</em>. Manusia hendaknya menempuh sebab-sebab syar’i dan kauni agar terhindar dari malapetaka dan mendapatkan keselamatan hidup mukmin bertakwa harus menyandarkan hidupnya pada Allah <em>Ta’ala</em> bukan pada berbagai mitos menyesatkan, bisikan-bisikan setan, dan berbagai praduga yang menyalahi petunjuk Islam. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">الطيارة شرك الطيارة شرك الطيارة شرك وما منّا إلا ولكنّ الله يذهبه بالتوكل</p>
<p>“<em>Thiyarah itu syirik, Thiyarah itu syirik, Thiyarah itu syirik, dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakal kepada-Nya</em>” (HR. al-Bukhari dalam <em>al-Adabul Mufrad</em> no. 909, Abu Dawud no. 3910, dishahihkan Al Albani dalam <em>Silsilatul Ahaadits Ash-Shahihah</em> no. 429).</p>
<p>Hendaklah mukmin sejati senantiasa bergantung pada Allah <em>Ta’ala</em> tidak terpengaruh berbagai <em>tathayyur</em> yang berkembang di tengah masyarakat dengan menguatkan keimanan pada takdir Allah <em>Ta’ala</em>. Dengan demikian hati akan tenang apapun yang terjadi. Tak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu Allah <em>Ta’ala</em>. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">قَالَ طَٰٓئِرُكُمْ عِندَ ٱللَّهِ ۖ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ</p>
<p>“<em>Ketahuilah sesungguhnya kesialan, murka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui</em>” (QS. Al-A’raf: 131).</p>
<p>Intinya, seorang muslim harus ekstra hati-hati agar tidak terjerumus pada <em>tathayyur</em> yang menodai kebersihan iman.</p>
<p><em>Tathayyur</em> termasuk syirik akbar jika sesuatu yang didengar atau dilihat mampu mendatangkan kesialan dengan sendirinya. Dan termasuk <em>syirik</em> <em>ashgar</em> jika hanya diyakini sebagai sebab atau alamat (<em>Mutiara Faidah Kitab Tauhid,</em> Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam, hal. 143).</p>
<p>Imam Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Orang yang ber<em>tathayyur</em> itu tersiksa jiwanya, sempit dadanya, tidak pernah terang, buruk akhlaknya, dan mudah terpengaruh oleh apa yang dilihat dan didengarnya. Orang-orang ini menjadi manusia yang paling penakut, paling sempit hidupnya dan paling gelisah jiwanya. Banyak memelihara dan menjaga hal-hal yang tidak memberi manfaat dan mudharat kepadanya, dan tidak sedikit dari mereka yang kehilangan peluang dan kesempatan (untuk berbuat amal kebajikan)” (<em>Miftaah Daaris Sa’aadah</em>, III/273).</p>
<p>Kita mohon kekuatan dari Allah <em>Ta’ala</em> agar terhindar dari was-was setan dan bisikan buruk hawa nafsu yang membuat hati dan langkah kita ragu-ragu dalam berbuat dan beramal shalih. Tidak ada daya dan kekuatan selain dari Allah <em>Ta’ala</em>. Apa yang dikehendaki-Nya terjadi meskipun sesuatu itu sepertinya mustahil bagi manusia. Dan apa-apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi meskipun manusia menginginkannya. Semua yang dikehendaki Allah <em>Ta’ala</em> baik dari segala sisi meskipun kadang manusia tidak menyadarinya.</p>
<p>Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa</p>
<p>Referensi:</p>
<p>1. <em>Mutiara Faidah Kitab Tauhid,</em> Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam, Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary, Yogyakarta, 1426 H</p>
<p>2. <em>Tauhid, Jalan Kebahagiaan</em>, Keselamatan &amp; Keberkahan Dunia-Akhirat, Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Media Tarbiyah Bogor, 2017</p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<p> </p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 