
<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Benarkah tidur orang yang puasa bernilai ibadah?<br>
<!--more--><br>
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Hadis tentang “<em>tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah</em>” merupakan hadis yang <strong>tidak benar</strong>. Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam <em>Syu’abul Iman,</em> dari Abdullah bin Abi Aufa <em>radhiallahu ‘anhu</em>. Hadis ini juga disebutkan Imam Al-Ghazali dalam <em>Ihya’ Ulumuddin</em>, 1:242. Teks hadisnya,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف</strong></p>
<p>“<em>Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan</em>.”</p>
<p>Dalam sanad hadis ini terdapat perawi yang bernama Ma’ruf bin Hassan dan Sulaiman bin Amr An-Nakha’i. Setelah membawakan hadis di atas, Al-Baihaqi memberikan komentar, “Ma’ruf bin Hassan itu <em>dhaif</em>, sementara Sulaiman bin Amr lebih <em>dhaif </em>dari dia.”</p>
<p>Dalam <em>Takhrij Ihya’ Ulumuddin</em>, 1:310, Imam Al-Iraqi mengatakan, “Sulaiman An-Nakha’i termasuk salah satu pendusta.” Hadis ini juga dinilai <em>dhaif</em> oleh Imam Al-Munawi dalam kitabnya, <em>Faidhul Qadir Syarh Jami’us Shaghir</em>. Sementara, Al-Albani mengelompokkannya dalam kumpulan hadis <em>dhaif</em> (<em>Silsilah Adh-Dhaifah</em>), no. 4696.</p>
<p>Oleh karena itu, wajib bagi seluruh kaum muslimin, terutama para khatib, untuk memastikan kesahihan hadis, sebelum menisbahkannya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. <strong>Kita kita boleh mengklaim suatu hadis sebagai sabda beliau, sementara beliau tidak pernah menyabdakannya</strong>. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah memperingatkan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama kalian. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka</em>.” (H.r. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Tanya-jawab ini disadur dari Fatwa Islam (<em>http://www.islam-qa.com/ar/ref/106528</em>) oleh Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Munajid.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="https://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
 