
<p><span style="font-weight: 400;">Belajar fikih itu memiliki beberapa sisi yang masing-masingnya memiliki tuntunannya sendiri.</span></p>
<p><b>Pertama</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sisi niat, maka kita diwajibkan untuk mengikhlaskan amalan ibadah kita hanya kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanahu wa Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Tidak diragukan lagi, belajar fikih adalah ibadah, sehingga wajib bagi kita untuk senantiasa meluruskan dan memurnikan niat ketika belajar.</span></p>
<p><b>Kedua</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sisi cara belajar, maka tidak wajib bagi kita untuk belajar fikih dengan mazhab. Apalagi jika kita adalah orang awam, yang bisa jadi fokus utama kita hanyalah bagaimana cara beribadah kepada Allah <em>Ta’ala </em>sesuai dengan tuntunan dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tanpa ingin berdalam-dalam di ilmu fikih. Maka belajar fikih kepada ahli ilmu itu sudah mencukupi, tanpa harus bermazhab. Akan tetapi, dia harus ingat bahwa dia adalah orang awam, sementara ilmu fikih itu adalah samudra yang sangat luas. Tidak boleh baginya untuk mengatakan bahwa kebenaran itu terletak pada pendapat gurunya seluruhnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jika kita adalah penuntut ilmu yang ingin menguasai ilmu fikih </span><i><span style="font-weight: 400;">bi-idznillah</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka sangat direkomendasikan untuk belajar fikih dengan mazhab. Karena literatur fikih di mazhab itu sudah lengkap, dari kitab ulama’ kontemporer yang biasanya untuk pemula, hingga kitab ulama’ terdahulu yang biasanya tidak akan bisa dipahami dengan baik kecuali oleh orang yang telah mendapatkan training yang bagus dalam ilmu fikih. Kalau belajar fikihnya tidak terstruktur, maka pasti akan babak belur ketika membaca kitab-kitab <em>mutaqaddimin</em>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, seorang penuntut ilmu yang bermazhab itu tidak boleh fanatik dengan mazhabnya. Tidak boleh baginya untuk mengatakan bahwa kebenaran itu terletak pada pendapat mazhabnya seluruhnya. Jadikan diskusi ilmiah memang sebagai diskusi ilmiah, bukan untuk menjatuhkan mazhab lain atau merasa mazhabnya dijatuhkan.</span></p>
<p><b>Ketiga</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sisi guru, maka wajib bagi kita untuk berguru pada seorang yang <em>mutqin</em> ilmunya dan lurus akidahnya. Misalnya, jika kita belajar mazhab Syafi’iy, maka belajarlah dari ulama’ mazhab Syafi’iy yang akidahnya lurus. Jika kita belajar mazhab Hanbaliy, maka belajarlah dari ulama’ mazhab Hanbaliy yang akidahnya lurus. Demikian pula untuk mazhab-mazhab yang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diperhatikan bahwa dalam masalah akidah, maka seorang Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy, ataupun Hanbaliy, semuanya seharusnya berada di atas aqidah yang sama, yaitu aqidah <em>ahlussunnah</em> sesuai dengan pemahaman <em>salaf</em> yakni generasi terdahulu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itu mengapa tidak tepat jika seorang pelajar itu menjadi <em>zuhud</em> yakni menjauh dari kitab-kitab akidah <em>shahihah</em> yang ditulis oleh para ulama’ yang bermazhab lain dari mazhabnya. Misalnya, walaupun kita bermazhab Syafi’iy, maka jangan zuhud (merasa tidak butuh) dari kitab-kitab Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad ibn ‘Abdil Wahhab <em>rahimahumullah</em>, dan lain-lain, walaupun mereka bermazhab Hanbaliy. Demikian pula, walaupun kita bermazhab Hanbaliy, maka jangan zuhud dari kitab-kitab al-Muzaniy, al-Lalika’iy, al-‘Imraniy <em>rahimahumullah</em>, dan lain-lain, walaupun mereka bermazhab Syafi’iy. Dan demikian juga para ulama’ lainnya di mazhab-mazhab lainnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullahu ajma’in</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanahu wa Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberikan kita ke<em>faqih</em>an dalam agama-Nya ini dan memudahkan kita untuk mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari. </span><i><span style="font-weight: 400;">Aamiin Yaa Rabb</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong>Permasalahan Fikih Terkait Virus Corona</strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/55471-beberapa-fikh-kesehatan-terkait-wabah-korona.html" data-darkreader-inline-color="">Beberapa Fikih Kesehatan Terkait Wabah Corona</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>***</p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/andylatief"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.</span></a></strong></span></p>
<p><strong>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></a></strong></p>
 