
<p><iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/11/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-58.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/11/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-58.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a></p>
<p> </p>
<p>Ada tiga praktik yang kita bisa amalkan sebelum tidur, dan ada doa penting di dalamnya yang bisa diamalkan. Moga tidur kita bawa berkah.</p>
<p> </p>
<h4 style="text-align: center;">Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Adzkar, Bab 249. Dzikir Ketika Menjelang Tidur</h4>
<h3 style="text-align: center;">Hadits #1462</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَعَنِ البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا أَتَيتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأيْمَن ، وَقُلْ : <strong>اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيَ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إليكَ ، وأَلْجَأتُ ظَهْرِي إلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرهْبَةً إِلَيْكَ ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ ، آمَنْتُ بِكِتابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ</strong>، فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .</p>
<p style="text-align: center;">Dari Al-Bara’ bin ‘Azib <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “Apabila engkau telah bersiap tidur, berwudhulah seperti wudhu untuk shalat. Kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan, lalu ucapkanlah:</p>
<p style="text-align: center;">ALLOHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIK, WA WAJJAHTU WAJHIYAILAIK, WA FAWWADH-TU AMRII ILAIK, WA ALJA’TU ZHOHRII ILAIK, ROGH-BATAN WA ROHBATAN ILAIK, LAA MALJA-A WA LAA MANJAA MINKA ILLA ILAIK. AAMANTU BIKITAABIKALLADZI ANZALTA, WA BI NABIYYIKALLADZI ARSALTA.</p>
<p style="text-align: center;">Artinya:</p>
<p style="text-align: center;">‘Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, aku menyerahkan urusanku kepada-Mu, aku menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena senang (mendapatkan rahmat-Mu) dan takut pada (siksaan-Mu, bila melakukan kesalahan). Tidak ada tempat perlindungan dan penyelamatan dari (ancaman)-Mu, kecuali kepada-Mu. Aku beriman pada kitab yang telah Engkau turunkan, dan (kebenaran) Nabi-Mu yang telah Engkau utus.’</p>
<p style="text-align: center;">Maka jika engkau mati pada malam ini, engkau mati dalam keadaan fitrah (tauhid, iman, dan Islam). Jadikan pula kalimat tersebut sebagai akhir perkataanmu.” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>) [HR. Bukhari, no. 247, 6313 dan Muslim, no. 2710]<br>
 </p>
<h3 style="text-align: center;">Faedah Hadits</h3>
<p> </p>
<ol>
<li>Hendaklah setiap orang yang mau tidur melakukan adab-adab seperti yang disebutkan dalam hadits, yaitu: berwudhu seperti wudhu untuk shalat, berbaring di atas tubuh yang kanan, lalu membaca doa yang disebutkan.</li>
<li>Kita diperintahkan menyerahkan diri, menyerahkan segala urusan kita kepada Allah karena yang melindungi dan menyelamatkan kita hanyalah Allah.</li>
<li>Siapa yang menyandarkan segala urusannya kepada Allah, Allah akan beri kecukupan.</li>
<li>Manusia dalam beribadah hendaklah menghimpun <em>raghbah </em>(rasa harap) dan <em>rahbah </em>(rasa takut).</li>
<li>Kita diperintahkan untuk meyakini dan mengimani kitab dan membenarkan Rasul yang membawa kitab tersebut.</li>
<li>Membaca bacaan ini punya keutamaan, jika meninggal dunia dalam keadaan meyakini bacaan tersebut, maka akan mati di atas fitrah (tauhid, iman, dan Islam).</li>
<li>Hendaklah berpegang pada lafazh seperti yang disebutkan dalam hadits, itu lebih utama.</li>
</ol>
<p>Dalam kelanjutan hadits ini, Al-Bara’ bin ‘Azib menyebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَرَدَدْتُهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا بَلَغْتُ: آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، قُلْتُ: وَرَسُولِكَ ، قَالَ: لاَ ، وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ.</p>
<p>“Aku mengulangi bacaan tadi di hadapan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ketika sampai pada kalimat ‘AAMANTU BIKITAABIKALLADZI ANZALTA’, aku lanjutkan dengan ‘WA ROSUULIKA’.” Lalu Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan harusnya, “WA NABIYYIKALLADZI ARSALTA.” (HR. Bukhari, no. 247 dan Muslim, no. 2710)</p>
<p><strong> </strong></p>
<h4>Referensi:</h4>
<ol>
<li>
<em>Adzkar Ash-Shabaah wa Al-Masaa’ Riwayatan wa Dirayatan</em>. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi.</li>
<li>
<em>Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin</em>. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</li>
</ol>
<p>—</p>
<p>Disusun saat safar hujan di Pogung Dalangan (Dasinem), Kamis sore, 21 Rabi’ul Awwal 1440 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Rumaysho.Com</a></p>
 