
<p>Bagaimana cara menghidupkan lailatul qadar? Apakah harus bergadang semalam full?</p>
<p>Ada tiga tingkatan menghidupkan lailatul qadar. Keterangannya sebagai berikut.</p>
<p> </p>
<p></p>
<p> </p>
<h2>Tingkatan menghidupkan lailatul qadar</h2>
<h3>Tingkatan paling utama:</h3>
<p>Menghidupkan seluruh malam dengan berbagai macam ibadah.</p>
<p>Contoh ibadah saat itu:</p>
<ul>
<li>shalat</li>
<li>membaca Al-Qur’an</li>
<li>memperbanyak doa: ALLOHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNI.</li>
</ul>
<h3>Tingkatan pertengahan:</h3>
<p>Menghidupkan sebagian besar malam dengan berbagai macam ibadah seperti di atas.</p>
<h3>Tingkatan paling rendah:</h3>
<p>Mengerjakan shalat Isya secara berjamaah dan bertekad ingin melaksanakan shalat Shubuh secara berjamaah.</p>
<p>Lihat <em>Haasyiyah Al-Baajuri</em>, 2:462; <em>Haasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Iqna’ li Al-Khathib Asy-Syirbini,</em> 4:2691.</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/3495-tafsir-surat-al-qadr-1-nuzulul-qur-an-dan-lailatul-qadar.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Tafsir Al-Qadr, Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<h2>Dalilnya</h2>
<p>Dinukil oleh Imam Asy-Syafi’i dalam <i>Al-Umm</i> dari sekelompok ulama Madinah dan dinukil pula sampai pada Ibnu ‘Abbas disebutkan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">أَنَّ إِحْيَاءَهَا يَحْصُلُ بِأَنْ يُصَلِّيَ العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ وَ يَعْزِمُ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ</span></p>
<p>“Menghidupkan lailatul qadar bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjama’ah.”</p>
<p>Dalam perkataan Imam Syafi’i yang <i>qadim</i> (yang lama),</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">مَنْ شَهِدَ العِشَاءَ وَ الصُّبْحَ لَيْلَةَ القَدْرِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا</span></p>
<p>“Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari malam tersebut.” Semua perkataan di atas diambil dari <i>Lathaif Al-Ma’arif</i>, hal. 329.</p>
<p>Apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i di atas sejalan dengan hadits dari ‘Utsman bin ‘Affan <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ</span></p>
<p>“<i>Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh</i>.” (HR. Muslim no. 656 dan Tirmidzi no. 221).</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/3500-tafsir-surat-al-qadr-2-keutamaan-lailatul-qadar.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Tafsir Al-Qadr, Keutamaan Lailatul Qadar</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<p>Dalil amalan pada malam lailatul qadar disebutkan dalam dua hadits berikut.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, dari Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, beliau bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</span></p>
<p>“<i>Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni</i>.” (HR. Bukhari no. 1901)</p>
<p>Juga hadits,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى</span></p>
<p>Dari ‘Aisyah –<i>radhiyallahu ‘anha</i>-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, “Berdo’alah: <i>Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni </i>(artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).</p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/11367-cara-mendapatkan-lailatul-qadar.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Cara Mendapatkan Lailatul Qadar</span></a></strong></span></p>
<p>Semoga Allah memudahkan kita meraih lailatul qadar.</p>
<p> </p>
<h3>Referensi:</h3>
<ul>
<li>
<em>Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’.</em> Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmas Al-Baajuri. Penerbit Daar Al-Minhaj.</li>
<li>
<em>Haasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Al-Iqna’ li Al-Khathib Asy-Syirbini.</em> Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Sulaiman bin Umar bin Muhammad Al-Bujairimi. Penerbit Anwar Al-Azhar.</li>
<li>
<em>Lathaif Al-Ma’arif fiimaa Li Mawaasim Al-‘Aam min Al-Wazhaif.</em> Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Ahmad bin Rajab Al-Hambali Al-Baghdadi Ad-Dimasyqi. Penerbit Al-Maktab Al-Islami.</li>
</ul>
<p> </p>
<p>–</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://darushsholihin.com">@ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul</a></span></p>
<p>malam 22 Ramadhan 1443 H, Ahad dini hari</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></span></p>
<p>Artikel <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></span></p>
 