
<p><span style="font-weight: 400;">Disebutkan dalam hadits tentang dalil do’a,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> الدعاء مخ العبادة </span></p>
<p>“<em>Do’a adalah intisari ibadah</em>”[1. <span style="font-weight: 400;">Hadits dho’if, didho’ifkan oleh Al-Albani</span>].</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Penjelasan Dalil</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits yang disebutkan penulis (Syaikh Muhammad At Tammimi) memang <em>dho’if</em> (lemah), namun, sebagai gantinya, ada sebuah hadits shahih yang tidak terdapat dalam matan dan disebutkan oleh para ulama yang telah membahas kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Tsalatsatul Ushul </span></i><span style="font-weight: 400;">ini, yaitu</span></p>
<p style="text-align: right;">الدعاء هو العبادة</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Do’a adalah sesuatu yang sangat mendasar dalam ibadah”</span></i><span style="font-weight: 400;">[2. HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan selainnya, dishahihkan Al-Albani].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasan pendalilan yang menunjukkan bahwa do’a itu adalah ibadah, dapat disimpulkan dari susunan kalimat dalam hadits tersebut. </span><i><span style="font-weight: 400;">Dhomir fashl </span></i><span style="font-weight: 400;">terletak di antara </span><i><span style="font-weight: 400;">mubtada`</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">khobar</span></i><span style="font-weight: 400;">. Keduanya sama-sama <em>ma’rifat</em> (definit).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika diterapkan dalam hadits ini, maka detailnya sebagai berikut:</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Mubtada`</span></i><span style="font-weight: 400;">: </span><b>الدعاء</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dhomir Fashl</span></i><span style="font-weight: 400;">: </span><b>هو</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Khobar</span></i><span style="font-weight: 400;">: </span><b>العبادة</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menyebutkan dalam kitabnya </span><i><span style="font-weight: 400;">Ushulun Fit Tafsir, </span></i><span style="font-weight: 400;">bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">dhomir fashl </span></i><span style="font-weight: 400;">memiliki tiga faedah, yaitu penegasan, pembatasan, dan pembeda.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, hadits yang agung ini mengandung</span></p>
<ol>
<li>
<b></b><b>Penegasan: </b><span style="font-weight: 400;">yaitu menguatkan makna bahwa do’a adalah sesuatu yang sangat mendasar dan termasuk perkara yang terbesar dalam ibadah.</span>
</li>
<li>
<b> Pembatasan: </b><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan maksud pembatasan</span> <span style="font-weight: 400;">adalah mengkhususkan sesuatu yang disebutkan sebelum </span><i><span style="font-weight: 400;">dhomir fashl</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan sesuatu yang disebutkan sesudah </span><i><span style="font-weight: 400;">dhomir fashl</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, dalam hadits  </span>الدعاء هو العبادة, i<span style="font-weight: 400;">ni mengandung pembatasan bahwa seolah-olah hanya do’a lah yang menjadi kandungan dari sebuah ibadah. Ini adalah gaya bahasa Arab untuk mengungkapkan betapa sangat besar kedudukan do’a sebagai sebuah ibadah (majas). Bahkan dalam setiap ibadah itu ada unsur do’a (permohonan dan perendahan diri).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Al-Albani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan bahwa hadits tersebut seperti sabda beliau (Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> )</span></p>
<p style="text-align: right;">الحج عرفة</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">(Rukun yang terbesar) ibadah haji adalah wuquf di Arafah</span></i><span style="font-weight: 400;">“[3. HR. At-Tirmidzi dan selainnya, dishahihkan oleh Al-Albani].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksud dari dua hadits tersebut adalah seakan-akan seluruh ibadah itu adalah do’a dan seakan-akan seluruh ibadah haji itu adalah wuquf di Arafah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ungkapan tersebut merupakan gaya bahasa penyangatan (majas) yang sangat kuat sekali untuk menjelaskan kedudukan ibadah dan do’a ditinjau dari sisi keberadaannya sebagai ibadah. Demikian pula, ungkapan tersebut menjelaskan kedudukan haji bahwa wuquf di Arafah adalah rukun mendasar dari ibadah haji[4. Lihat: http://www.alalbany.net/play.php?catsmktba=21672].</span></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> dalam Fathul Bari menjelaskan makna hadits (الحج عرفة) ,</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">أي معظم الحج وركنه الأكبر</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maksudnya  (wuquf di Arafah adalah) perkara yang paling agung dan rukun yang terbesar dalam ibadah haji”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini selaras juga dengan kandungan hadits lainnya, yaitu</span></p>
<p style="text-align: right;">الدين النصيحة</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">(Perkara yang terbesar dalam) Agama Islam ini adalah nasehat</span></i><span style="font-weight: 400;">”[5. HR. Muslim dari hadits Tamim Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu ulama besar <em>Haiah Kibaril Ulama’</em>, Syaikh Abdul Karim Al-Khudeir</span><i><span style="font-weight: 400;"> hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam memahami hadits tersebut. Sebagian mereka memahami bahwa hadits tersebut mengandung pembatasan yang hakiki (</span><i><span style="font-weight: 400;">al-hashr al-haqiqi</span></i><span style="font-weight: 400;">), namun sebagian ulama menyatakan hadits tersebut mengandung pembatasan dengan tinjauan tertentu (</span><i><span style="font-weight: 400;">al-hashr al-idhofi</span></i><span style="font-weight: 400;">)[6. Lihat: <a href="http://shkhudheir.com/lecture/1673122921">http://shkhudheir.com/lecture/1673122921</a>].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika hadits tersebut dibawakan kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">al-hashr al-idhofi, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka maksudnya nasihat adalah perkara yang terbesar dalam agama Islam ini</span><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">Disebutkan dalam bentuk pembatasan agar nasihat mendapatkan perhatian yang besar dari seorang hamba.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal inilah yang disampaikan Al-Hafizh Ibnu Hajar </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam Fathul Bari,</span></p>
<p style="text-align: right;">قوله (الدين النصيحة) يحتمل أن يحمل على المبالغة، أي معظم الدين النصيحة، كما قيل في حديث ” الحج عرفة ” ، ويحتمل أن يحمل على ظاهره.</p>
<p>“Sabda beliau الدين النصيحة, mengandung kemungkinan makna penyangatan (majas), sehingga maksudnya adalah perkara yang terbesar dalam Agama Islam ini adalah nasihat, (hal ini) selaras dengan makna hadits الحج عرفة. Akan tetapi, mungkin juga mengandung arti sesuai dengan makna tekstualnya”[7. Lihat: library.Islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=107&amp;idto=110&amp;bk_no=52&amp;ID=44].</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul ‘Arabi Al-Maliki </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan,</span> <span style="font-weight: 400;">bahwa </span><span style="font-weight: 400;">secara umum dikatakan bahwa do’a termasuk bagian (terbesar) dari ibadah, sebagaimana ungkapan majas </span><i><span style="font-weight: 400;">harta itu adalah onta dan manusia itu adalah ulama</span></i><span style="font-weight: 400;">. Hal ini bisa dibenarkan dari dua sisi, yaitu:</span></p>
<ol>
<li>
<b> </b><span style="font-weight: 400;">Setiap ibadah itu mengandung permohonan (do’a), karena (dalam setiap ketaatan terdapat) permohonan/mengaharap pahala.</span>
</li>
<li>
<b></b><span style="font-weight: 400;">Mayoritas yang terjadi, di dalam ibadah itu pastilah mengandung perendahan diri diiringi dengan permohonan[8. <em>Taisiril Wushul</em>, hal. 47, Syaikh Nu’man bin Abdul Karim].</span>
</li>
</ol>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Kesimpulan Dalil</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Meski hadits yang disebutkan dalam matan adalah</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> الدعاء مخ العبادة </span></p>
<p><b>“</b><i><span style="font-weight: 400;">Do’a itu adalah sari ibadah</span></i><b>” </b><span style="font-weight: 400;">adalah hadits yang dho’if (lemah), namun sebagai gantinya, para pensyarah matan </span><i><span style="font-weight: 400;">Tsalatsatul Ushul</span></i> <span style="font-weight: 400;">telah menyebutkan sebuah hadits yang shahih, yaitu</span></p>
<p style="text-align: right;">الدعاء هو العبادة</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Do’a adalah sesuatu yang sangat mendasar dalam ibadah” </span></i><span style="font-weight: 400;">dan hadits yang shohih ini menunjukkan bahwa do’a itu adalah ibadah.</span></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>___</p>
 