
<p><b>Khauf (Takut) adalah Ibadah</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil ibadah Khauf (takut) adalah firman Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Ali Imran: 175).</span></p>
<p><b>Kesimpulan Dalil</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat ini merupakan dalil bahwa di antara jenis khauf (takut) ada yang tergolong ibadah. Ibadah tersebut tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Barangsiapa yang takut kepada selain Allah dengan jenis takut ibadah tersebut, maka ia telah menyembah selain-Nya, karena telah mempersembahkan ibadah takut kepada selain-Nya[1. Untuk mengetahui kapan sebuah rasa takut dikatakan ibadah, silahkan simak pada artikel tersendiri, <em>in sya Allah</em>].</span></p>
<p><b>Penjelasan Dalil</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada dua alasan pendalilan dalam ayat tersebut untuk menunjukkan bahwa di antara jenis Khauf (takut) ada yang tergolong ibadah, yaitu:</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Dalam petikan firman Allah </span><b>فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ</b><span style="font-weight: 400;">, </span><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkan para hamba untuk takut kepada-Nya dan melarang mereka dari takut kepada wali-wali setan (makhluk).  Hal ini menunjukkan bahwa takut adalah ibadah, karena Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkannya dan tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali Allah mencintainya. Setiap perkara yang dicintai Allah, maka perkara itu adalah ibadah.</span>
</li>
</ol>
<ol start="2">
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Sedangkan dalam firman Allah </span><b>إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</b><span style="font-weight: 400;">, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menjadikan takut sebagai syarat keimanan. Tentu tidaklah suatu perkara dijadikan syarat syahnya keimanan seseorang melainkan perkara tersebut adalah ibadah. Jika seorang hamba takut kepada selain Allah dengan jenis takut ini, maka ia bukanlah orang yang beriman, karena ia telah memalingkan peribadatan takut kepada selain Allah.</span>
</li>
</ol>
<p><b>Raja` (Harap) adalah Ibadah </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil Raja’ (harapan) adalah firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: right;"><b>فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan dengan apapun dalam beribadah kepada Robbnya</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al-Kahfi: 110).</span></p>
<p><b>Kesimpulan Dalil</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat tersebut merupakan dalil bahwa di antara jenis Raja’ (harapan) ada yang tergolong ibadah[2. Untuk mengetahui kapan sebuah rasa harap dikatakan ibadah, silahkan simak pada artikel tersendiri, <em>in sya Allah</em>].</span><span style="font-weight: 400;"> Dengan demikian, ibadah mengharap tersebut tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Barangsiapa yang mengharap kepada selain Allah dengan jenis harapan yang tergolong ibadah tersebut, maka telah menyembah selain-Nya, karena telah mempersembahkan ibadah harap kepada selain-Nya.</span></p>
<p><b>Penjelasan Dalil</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat tersebut, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memuji orang yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya. Hal ini menunjukkan bahwa harapan tersebut termasuk ibadah, karena Allah memujinya. Setiap perkara yang dipuji oleh Allah pastilah perkara itu merupakan ibadah. Dalam ayat itu pula, Allah melarang seorang hamba mempersekutukan-Nya dalam semua bentuk peribadatan kepada-Nya, termasuk dalam masalah ibadah mengharap.</span></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>___</p>
 