
<p><span style="font-weight: 400;">“Dalil Inabah (kembali dengan bertaubat) adalah firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: right;">وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan kembalilah kepada Robb kalian serta berserah dirilah kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya)</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Az-Zumar: 54).”</span></p>
<p><b>Penjelasan Dalil</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat tersebut, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> memerintahkan hamba-Nya untuk kembali kepada-Nya dengan bertaubat dan mengikhlaskan amal kepada-Nya saja (inabah), hal ini menunjukkan bahwa inabah merupakan perkara yang dicintai oleh-Nya, sehingga termasuk kedalam definisi ibadah.</span></p>
<p><b>Isti’anah (memohon pertolongan)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dalil ibadah <em>Isti’anah</em> (memohon pertolongan) adalah firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: right;">إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al-Fatihah: 4).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dalam hadits</span></p>
<p style="text-align: right;">إذا استعنت فاستعن بالله</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Apabila Anda mohon pertolongan, maka memohonlah pertolongan kepada Allah saja.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><b>Kesimpulan Dalil</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat tersebut merupakan dalil bahwa di antara jenis isti’anah (meminta pertolongan) ada yang tergolong ibadah.</span></p>
<p><b>Penjelasan Dalil</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat tersebut, didahulukan </span><b>إِيَّاكَ</b><span style="font-weight: 400;"> sebelum </span><b>نَسْتَعِينُ </b><span style="font-weight: 400;">menunjukkan pembatasan dan pengkhususan, karena dalam kaidah Ilmu Sastra Arab (</span><i><span style="font-weight: 400;">Ilmu Al-Ma’ani wal Bayan</span></i><span style="font-weight: 400;">) disebutkan bahwa mendahulukan sesuatu yang haknya diakhirkan menunjukkan faidah pembatasan dan dalam bahasa Arab, pada asalnya susunan jenis kalimat yang terkait dengan ayat tersebut di atas adalah didahulukan</span><i><span style="font-weight: 400;"> ‘aamil</span></i><span style="font-weight: 400;"> atas </span><i><span style="font-weight: 400;">ma’muul-</span></i><span style="font-weight: 400;">nya, yaitu نستعين إياك.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan pada ayat tersebut </span><i><span style="font-weight: 400;">ma’muul-</span></i><span style="font-weight: 400;">nya didahulukan atas </span><i><span style="font-weight: 400;">‘aamil-</span></i><span style="font-weight: 400;">nya. Hal ini menunjukkan pembatasan, bahwa ibadah isti’anah hanya boleh ditujukan kepada Allah semata. Dengan demikian, tidak boleh memohon pertolongan yang sampai tingkatan beribadah (menyembah) kepada selain Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun dalil kedua, yaitu hadits At-Tirmidzi dan Ahmad bahwa </span><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: right;">إذا استعنت فاستعن بالله</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Apabila Anda mohon pertolongan, maka memohonlah pertolongan kepada Allah saja</span></i><span style="font-weight: 400;">”, alasan pendalilannya sebagai berikut:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkan kita bahwa jika kita hendak memohon pertolongan, agar memohon pertolongan kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">saja</span><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">karena perintah</span><i><span style="font-weight: 400;"> isti’anah billah,</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu pada kalimat</span><i><span style="font-weight: 400;"> “maka memohonlah pertolongan kepada Allah” </span></i><span style="font-weight: 400;">disebutkan dalam konteks kalimat jawaban (</span><i><span style="font-weight: 400;">jawabusy syarti</span></i><span style="font-weight: 400;">) dari kalimat syarat yang disebutkan sebelumnya, yaitu “</span><i><span style="font-weight: 400;">Apabila kamu mohon pertolongan</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Hal ini mengandung makna pembatasan, dengan demikian makna hadits tersebut adalah “jika anda hendak mohon pertolongan, maka janganlah anda memohon pertolongan kepada siapapun selain kepada Allah saja!” Jadi dapat disimpulkan bahwa <em>isti’anah</em> ada yang tergolong sebagai ibadah yang dicintai oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">karena harus ditujukan kepada-Nya saja.</span></p>
<p><b>[bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 