
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil nadzar adalah firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: right;">يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang keburukannya menyebar</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al-Insan: 7).</span></p>
<h4><b><span style="color: #ff0000;">Kesimpulan Dalil</span> </b></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat tersebut merupakan dalil bahwa nadzar adalah ibadah.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Penjelasan Dalil</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Sisi pendalilan dari ayat ini adalah Allah memuji orang-orang yang menunaikan nadzar. Tidaklah Allah memuji sesuatu melainkan sesuatu tersebut merupakan salah satu dari tiga hal berikut ini:</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pengamalan perkara yang wajib.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pengamalan perkara yang sunnah.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Meninggalkan suatu keharaman.</span></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Tiga perkara tersebut merupakan perkara yang dicintai-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, nadzar termasuk ibadah yang harus dipersembahkan kepada Allah saja dan dilarang dipersembahkan kepada selain Allah. Barangsiapa yang mempersembahkan ibadah nadzar kepada selain Allah, maka dia telah melakukan kesyirikan.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Catatan</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui, bahwa nadzar yaitu seseorang mewajibkan kepada dirinya sendiri sesuatu yang tidak wajib baginya. Terkait dengan nadzar, perkara yang termasuk ibadah adalah nadzar yang mutlak, penunaian nadzar mutlak (tanpa syarat) dan penunaian nadzar muqoyyad (bersyarat). Adapun untuk nadzar <em>muqoyyad</em>, maka hukumnya makruh. </span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Penutup</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan disebutkannya dalil-dalil keempat belas macam ibadah yang terdapat dalam prinsip pertama, yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">ma’rifatullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> di dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Tsalatsatul Ushul</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang telah disebutkan dalam serial artikel ini, maka telah selesai penyebutan dalil dan pendalilan dalam matan yang disebut sebagai matan “Dalil tentang macam-macam ibadah” tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesimpulan dari matan tentang “Dalil tentang macam-macam ibadah” ini adalah sebagai berikut:</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Inti dari ibadah adalah sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala.</span></i>
</li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Ibadah itu meliputi ucapan dan perbuatan yang lahir, ucapan, dan perbuatan hati.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Pembuktian sesuatu dikatakan sebagai sebuah ibadah bisa dengan dalil-dalil khusus, seperti khauf, raja`, dan tawakal, serta ada bisa dengan dalil umum, seperti ibadah do’a.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Semua jenis ibadah wajib dipersembahkan kepada Allah semata, inilah yang dikenal dengan sebutan Tauhid Uluhiyyah.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Jika salah satu saja dari ibadah-ibadah tersebut dipersembahkan kepada selain Allah, maka pelakunya telah menyembah selain-Nya dan disebut sebagai orang yang musyrik kafir.</span></li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Yang perlu diingat bahwa vonis musyrik kafir bagi orang yang mempersembahkan ibadah kepada selain Allah adalah vonis </span><i><span style="font-weight: 400;">Takfir muthlak </span></i><span style="font-weight: 400;">dan bukan vonis </span><i><span style="font-weight: 400;">Takfir Mu’ayyan. Takfir Mutlak</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah vonis hukum kafir dalam Syari’at Islam untuk suatu ucapan atau perbuatan atau keyakinan (ucapan hati atau perbuatannya[1. Tafsir “keyakinan” berupa “ucapan hati atau perbuatannya” ini, terisyaratkan dari penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menjelaskan masalah iman dalam <em>Majmu’ Fatawa</em> 7/506]</span><span style="font-weight: 400;">) dan untuk pelaku perkara-perkara tersebut, dalam bentuk umum (tanpa menyebut nama orang tertentu)</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, berarti </span><i><span style="font-weight: 400;">Takfir Mutlak </span></i><span style="font-weight: 400;">itu</span> <span style="font-weight: 400;">berkaitan dengan penjelasan hukum Syar’i yang umum (tanpa sebut nama orang tertentu) tentang vonis kafir. Contoh </span><i><span style="font-weight: 400;">Takfir Mutlak </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah barangsiapa yang meyakini bahwa Allah tidak Esa maka ia kafir atau barangsiapa yang menghina Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maka ia kafir. Sedangkan </span><i><span style="font-weight: 400;">Takfir Mu’ayyan </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah hukum Syar’i bagi orang muslim tertentu, karena adanya kekafiran pada dirinya, baik dengan meyakini suatu keyakinan kekafiran[2. Kekafiran keyakinan tersebut berupa ucapan hati atau perbuatannya]</span><span style="font-weight: 400;"> atau mengucapkan suatu ucapan kekafiran ataupun melakukan suatu perbuatan kekafiran, dengan terpenuhi syarat dan tidak adanya penghalang pengkafiran</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Contoh </span><i><span style="font-weight: 400;">Takfir Mu’ayyan </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah fulan murtad kafir, karena ia menghina Allah atau fulan murtad kafir, karena menghina Al-Qur’an!”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Takfir </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’ayyan </span></i><span style="font-weight: 400;">seperti ini, tidaklah boleh dijatuhkan kepada orang muslim tertentu kecuali jika telah memenuhi syarat dan hilang penghalang pengkafirannya. Ulama-lah yang bertugas menjatuhkan vonis </span><i><span style="font-weight: 400;">Takfir Mu’ayyan </span></i><span style="font-weight: 400;">dan</span> <b>bukan</b><span style="font-weight: 400;"> tugas setiap orang. </span><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush sholihat.</span></i></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>___</p>
 