
<p><span style="font-weight: 400;">Allah tidak rela</span> <span style="font-weight: 400;">dipersekutukan dengan sesuatu apapun dalam peribadatan (seorang hamba) yang ditujukan kepada-Nya, baik dengan  malaikat yang didekatkan (kedudukannya) atau dengan seorang Nabi yang diutus. Dalilnya adalah firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: right;">وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kalian menyembah apapun di dalamnya di samping (menyembah) Allah</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al-Jin : 18).</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Kesimpulan Dalil</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah tidak rela dipersekutukan dengan apapun dalam peribadatan (apapun bentuk ibadah tersebut).</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Penjelasan Dalil</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat di atas, terdapat dua keumuman. Yang pertama adalah larangan beribadah pada selain Allah dan yang kedua adalah terkait dengan sesembahan selain Allah. Berikut penjelasannya.</span></p>
<h5><b>1. Larangan Ibadah pada Selain Allah</b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kata kerja </span><b>فَلَا </b><b>تَدْعُوا</b> <i><span style="font-weight: 400;">fal</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ā</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">tad’</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ū</span></i> <span style="font-weight: 400;">terdapat mashdar nakirah</span> <span style="font-weight: 400;">pada konteks kalimat larangan yang menunjukkan keumuman cakupan makna kata kerjanya, yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">ad-du’a</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang mencakup do’a masalah (berdo’a) maupun do’a ibadah (beribadah selain berdo’a). Sehingga makna </span><b>فَلَا تَدْعُو </b><span style="font-weight: 400;">adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">janganlah kalian menyembah.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Maksudnya adalah janganlah kalian menyembah selain Allah, baik dengan ibadah dalam bentuk do’a kepada selain Allah maupun mempersembahkan ibadah lainnya (selain ibadah do’a) kepada selain Allah.</span></p>
<h5><b>2. Keumuman Kedua</b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam </span><b>فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا </b><i><span style="font-weight: 400;">fal</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ā</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> tad’</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ū</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> ma’all</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ā</span></i><i><span style="font-weight: 400;">hi ahad</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ā</span></i> <span style="font-weight: 400;">disebutkan kata </span><b>أَحَدًا </b><i><span style="font-weight: 400;">ahad</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ā</span></i> <span style="font-weight: 400;">adalah</span> <i><span style="font-weight: 400;">nakirah </span></i><span style="font-weight: 400;">(tidak ber alif lam) dan berada dalam konteks kalimat larangan, maka menunjukkan bahwa seluruh sesembahan selain Allah dilarang disembah, baik dari kalangan malaikat, wali, jin, manusia, dan selainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penjelasan tentang kedua keumuman di atas, disebutkan oleh Syaikh Sholeh Alusy- Syaikh –</span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah- </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam kitab beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Tsalatsatil Ushul, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau menjelaskan</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanahu wa Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kalian menyembah apapun di dalamnya di samping (menyembah) Allah</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (maksudnya) tidak (menyembah selain Allah) dengan do’a masalah dan tidak pula dengan do’a ibadah. </span></p>
<p style="text-align: right;">فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">karena itu janganlah kalian menyembah apapun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”, </span></i><span style="font-weight: 400;">maksudnya janganlah kalian beribadah kepada siapapun di samping beribadah kepada Allah[1. <em>Syarh Tsalatsatil Ushul</em>, Syaikh Sholeh Alusy- Syaikh, hal. 70].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, tepatlah ucapan Syaikh Muhammad At-Tamimi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu </span></i><span style="font-weight: 400;">di atas, bahwa Allah tidak ridho</span> <span style="font-weight: 400;">dipersekutukan dengan sesuatu apapun dalam peribadatan.</span></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>___</p>
 