
<p><a title="aisyah radhiyallahu 'anha" href="http://kisahmuslim.com/tuduhan-dusta-terhadap-istri-rasulullah" target="_blank"><strong>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em></strong>,</a> istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meriwayatkan, “Biasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> apabila hendak keluar untuk melakukan suatu perjalanan, maka beliau mengundi di antara istri-istrinya. Maka, siapa saja di antara mereka yang keluar undiannya, maka dialah yang keluar bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan kisahnya, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melakukan undian di antara kami di dalam suatu peperangan yang beliau ikuti. Ternyata namaku-lah yang keluar. Aku pun berangkat bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Kejadian ini sesudah ayat tentang hijab diturunkan. Aku dibawa di dalam sekedup (tandu di atas punggung onta) lalu berjalan bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> hingga kembali dari perang tersebut.</p>
<p>Ketika telah dekat dengan Madinah, maka pada suatu malam beliau memberi aba-aba agar berangkat. Saat itu aku keluar dari tandu melewati para tentara untuk menunaikan keperluanku. Ketika telah usai,  aku kembali ke rombongan. Saat aku meraba dadaku, ternyata kalungku dari merjan zhifar terputus. Lalu aku kembali lagi untuk mencari kalungku, sementara rombongan yang tadi membawaku telah siap berangkat. Mereka pun membawa sekedupku dan memberangkatkannya di atas ontaku yang tadinya aku tunggangi. Mereka beranggapan bahwa aku berada di dalamnya.</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> mengatakan,</p>
<p>“Pada masa itu perempuan-perempuan rata-rata ringan, tidak berat, dan tidak banyak daging. Mereka hanya sedikit makan. Makanya, mereka tidak curiga dengan sekedup yang ringan ketika mereka mengangkat dan membawanya. Di samping itu, usiaku masih sangat belia. Mereka membawa onta dan berjalan. Aku pun menemukan kalungku setelah para tentara berlalu. Lantas aku datang ke tempat mereka. Ternyata di tempat itu tidak ada orang yang memanggil dan menjawab. Lalu aku bermaksud ke tempatku tadi di waktu berhenti. Aku beranggapan bahwa mereka akan merasa kehilangan diriku lalu kembali lagi untuk mencariku.”</p>
<p>“Ketika sedang duduk, kedua mataku merasakan kantuk yang tak tertahan. Aku pun tertidur. Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sullami adz-Dzakwani tertinggal di belakang para tentara. Ia berjalan semalam suntuk sehingga ia sampai ke tempatku, lalu ia melihat hitam-hitam sosok seseorang, lantas ia menghampiriku. Ia pun mengenaliku ketika melihatku. Sungguh, ia pernah melihatku sebelum ayat hijab turun, Aku terbangun mendengar bacaan <em>istirja’</em>-nya (bacaan <em>Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un</em>) ketika ia melihatku. Kututupi wajahku dengan jilbab. Demi Allah, dia tidak mengajakku bicara dan aku tidak mendengar sepatah kata pun dari mulutnya selain ucapan <em>istirja</em> sehingga ia menderumkan kendaraannya, lalu ia memijak kaki depan onta, kemudian aku menungganginya. Selanjutnya ia berkata dengan menuntun kendaraanu sehingga kami dapat menyusul para tentara setelah mereka berhenti sejenak seraya kepanasan di tengah hari. Maka, binasalah orang yang memanfaatkan kejadian ini (menuduh berzina). Orang yang memperbesar masalah ini ialah Abdullah bin Ubay bin Salul.”</p>
<p>“Kemudian kami sampai ke Madinah. Ketika kami telah sampai di Madinah aku sakit selama sebulan. Sedangkan orang-orang menyebarluaskan ucapan para pembohong. Aku tidak tahu mengenai  hal tersebut sama sekali. Itulah yang membuatku penasaran, bahwa sesungguhnya aku tidak melihat kekasihku Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang biasanya aku lihat dari beliau ketika aku sakit. Beliau hanya masuk, lalu mengucap salam dan berkata, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Itulah yang membuatku penasaran, tetapi aku tidak mengetahui ada sesuatu yang buruk sebelum aku keluar rumah.”</p>
<p>“Lalu aku dan Ummu Misthah berangkat. Dia adalah putri Abi Ruhm bin Abdul Muththalib bin Abdi Manaf. Ibunya adalah puteri Shakhr bin Amr, bibi Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu ‘anha</em>. Anaknya bernama Misthah bin Utsatsah bin Ubbad bin Abdul Muththalib bin Abdu Manaf. Lantas aku dan putri Abu Ruhm, Ummu Misthah terpeleset dengan pakaian wol yang dikenakannya. Kontan ia berujar, ‘Celakalah Misthah.’ Lantas aku berkata kepadanya, ‘Alangkah buruknya ucapanmu. Kamu mencela seorang lelaki yang ikut serta dalam perang Badr.’ Ia berkata, ‘Apakah engkau belum mendengar apa yang telah ia katakan?’ Aku bertanya, ‘Memang apa yang ia katakan?’ Ia pun menceritakan kepadaku mengenai ucapan para pembuat berita bohong (bahwa Aisyah telah berzina). Aku pun bertambah sakit.”</p>
<p>“Ketika aku pulang ke rumah, aku berkata, ‘Bawalah aku keapda kedua orang tuaku!”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan kisahnya,</p>
<p>“Ketika itu aku ingin mengetahui secara pasti berita tersebut dari kedua orang tuaku. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengizinkanku datang kepada kedua orang tuaku. Lantas aku bertanya kepada ibuku, ‘Wahai Ibu! Apa yang sedang hangat dibicarakan oleh orang-orang?’ Ibuku menjawab, ‘Wahai putriku! Tidak ada apa-apa. Demi Allah, jarang sekali seorang perempuan cantik yang dicintai oleh suaminya sementara ia mempunyai banyak madu melainkan para madu tersebut sering menyebut-nyebut aibnya.’ Lantas aku berkata, ‘Maha Suci Allah! Berarti orang-orang telah memperbincangkan hal ini.’ Maka, aku menangis pada malam tersebut sampai pagi. Air mataku tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kemudian di pagi hari pun aku masih menangis.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan kisahnya,</p>
<p>“Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memanggil Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anh</em><em>u</em> dan Usamah bin Zaid <em>radhiyallahu ‘anh</em><em>u</em> ketika wahyu tidak segera turun. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya kepada keduanya dan meminta pendapat kepada keduanya perihal menceraikan istrinya.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan,</p>
<p>“Sedangkan Usamah <em>radhiyallahu ‘anh</em><em>u</em> memberi pendapat keapda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan apa yang ia ketahui akan jauhnya istri beliau dari perbuatan tersebut dan dengan apa yang ia ketahui tentang kecintaannya kepada beliau. Usamah mengatakan, ‘Wahai Rasulullah! Mereka adalah istri-istrimu, menurut pengetahuan kami mereka hanyalah orang-orang yang baik.”</p>
<p>“Sedangkan Ali bin Abi Thalib berpendapat, ‘Wahai Rasulullah! Allah tidak akan memberikan kesempitan kepadamu. Perempuan selain Aisyah masih banyak. Jika engkau bertanya kepada seorang budak perempuan, pasti ia akan berkata jujur kepadamu.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan,</p>
<p>“Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memanggil Barirah <em>radhiyallahu ‘anh</em><em>u</em>. Beliau bertanya, ‘Hai Barirah! Apakah kamu melihat ada sesuatu yang mengutusmu dengan kebenaran. Aku tidak melihat sesuatu pun pada dirinya yang dianggap cela lebih dari bahwa dia adalah perempuan yang masih belia yang terkadang tertidur membiarkan adonan roti keluarganya, sehingga binatang piarannya datang, lalu memakan adonan rotinya.”</p>
<p>“Lantas Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdiri di atas mimbar seraya bersabda, ‘Wahai kaum muslimin! Siapakah yang sudi membelaku dari tuduhan laki-laki yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku kecuali kebaikan. Dan mereka juga menuduh seorang laki-laki yang sepanjang pengetahuanku adalah orang baik-baik, ia tidaklah datang menemui keluargaku kecuali bersamaku.”</p>
<p>“Selanjutnya Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari <em>radhiyallahu ‘anh</em><em>u</em> berdiri lalu berkata, ‘Aku akan membelamu wahai Rasulullah! Jika ia dari kabilah Aus, maka akan kami tebas batang lehernya. Jika ia dari kalangan saudara-saudara kami kalangan Khazraj, maka apa yang engkau perintahkan kepada kami, pastilah kami melaksanakan perintahmu.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan kisahnya,</p>
<p>“Kemudian Sa’ad bin Ubadah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj, maka apa yang engkau perintahkan kepada kami, pastilah kami melaksanakan perintahmu.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan kisahnya,</p>
<p>“Kemudian Sa’ad bin Ubadah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz <em>radhiyallahu ‘anh</em><em>u</em>, ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.”</p>
<p>“Lalu Usaid bin Hudhair <em>radhiyallahu ‘anh</em><em>u</em> berdiri. Ia adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz <em>radhiyallahu ‘anh</em><em>u</em>. Ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah <em>radhiyallahu ‘anh</em><em>u</em>, ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh padahal Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri juga terdiam.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan kisahnya,</p>
<p>“Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan,</p>
<p>“Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> masuk kemudian duduk. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘Amma ba’du, hai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> akan menerima taubat-Nya.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan kisahnya,</p>
<p>“Tatkala Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atas nama aku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kuktakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf Alaihi Salam:</p>
<p>“<em>Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan</em>.” (QS. Yusuf: 18)</p>
<p>“Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan kisahnya,</p>
<p>“Aku <em>wallahu a’lam</em> ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> membebaskanku dari tuduhan tersebut.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan,</p>
<p>“Demi Allah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan,</p>
<p>“Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menurunkan ayat berikut:</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).</em>” (QS. An-Nur: 11)</p>
<p>Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.”</p>
<p>“Ketika Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar <em>radhiyallahu ‘anha</em> –beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah <em>radhiyallahu ‘anha</em> karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir- berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menurunkan ayat berikut:</p>
<p>“<em>Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em>.” (QS. An-Nur: 22)</p>
<p>“Lantas Abu Bakar <em>radhiyallahu ‘anha</em> berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan, ‘Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya kepada Zainab binti Jahsy <em>radhiyallahu ‘anha</em>, istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> melindunginya dengan sifat wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy <em>radhiyallahu ‘anha</em> bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.”</p>
<p>“Ketahulah bahwa di dalam hadis tentang cerita bohong ini terkandung beberapa faedah, yaitu:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, kewajiban mengundi di antara beberapa istri ketika hendak mengajak pergi sebagian di antara mereka.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, bolehnya seorang suami bepergian dengan istrinya, mengajak istri safar berperang, kaum perempuan menaiki sekedup, dan laki-laki melayani perempuan ketika dalam perjalanan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, boleh bagi kaum perempuan keluar untuk memenuhi kebutuhannya tanpa izin suami. Ini termasuk hal-hal pengecualian.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, seseorang yang menaikkan perempuan ke atas onta dan kendaraan lainnya tidak boleh mengajak bicara perempuan tersebut jika bukan mahramnya kecuali karena suatu kebutuhan. Sebab, para sahabat hanya membawa sekedup. Mereka tidak mengajak bicara orang yang mereka duga ada di dalam sekedup.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, menolong orang yang butuh pertolongan, membantu orang yang terpisah dari rombongannya, menyelamatkan orang hilang, dan memuliakan orang yang mempunyai kedudukan sebagaimana yang dilakukan oleh Shafwan <em>radhiyallahu ‘anh</em><em>u</em>.</p>
<p><strong>Keenam</strong>, menjaga tatakrama yang baik bersama perempuan bukan mahram, terutama ketika di tempat sepi bersamanya dalam kondisi darurat, baik di tanah lapang atau di tempat lain sebagaimana yang dilakukan oleh Shafwan <em>radhiyallahu ‘anha</em>, yaitu menderumkan onta tanpa berbicara dan tanpa bertanya. Di samping itu, seyogyanya ia berjalan di depan perempuan tersebut, tidak di sampingnya, dan tidak pula di belakangnya.</p>
<p><strong>Ke</strong><strong>tujuh</strong>, sunnah membaca istirja, yaitu bacaan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ketika tertimpa musibah, baik dalam bidang agama atau dunia, baik menimpa pada diri sendiri maupun orang lain.</p>
<p>Kesembilan, disunnahkan menutupi desas-desus mengenai seseorang dari orang yang bersangkutan jika tidak ada gunanya menuturkan isu tersebut, sebagaimana mereka menyembunyikan isu tersebut dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> selama sebulan. Setelah itu, Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> baru mendengarnya lantaran ada suatu kejadian, yaitu pernyataan Ummi Misthah yang mencela Misthah.</p>
<p><strong>Kesepuluh</strong>, sunnah bagi seorang suami bersikap lemah lembut dan berinteraksi dengan baik terhadap istrinya. Dan apabila ada sesuatu yang dapat menghalangi hubungannya dengan istri dan lain sebagainya, maka suami mengurangi sikap lemah lembutnya dan sebagainya agar istrinya paham bahwa ada sesuatu yang terjadi, sehingga si istri menanyakan penyebabnya, lalu ia dapat melenyapkannya.</p>
<p><strong>Kesebelas</strong>, apabila seorang perempuan hendak keluar untuk memenuhi kebutuhannya, maka disunnahkan baginya ditemani oleh perempuan lain yang dapat membuatnya nyaman dan tidak diganggu oleh orang lain.</p>
<p><strong>Ke</strong><strong>dua</strong><strong> belas</strong>, seorang istri tidak diperkenankan pergi ke rumah orang tuanya kecuali dengan izin suaminya.</p>
<p><strong>Ke</strong><strong>tiga</strong> <strong>belas</strong>, sunnah bagi suami meminta pendapat kepada orang terdekatnya, keluarganya, dan teman-temannya mengenai persoalan yan gdihadapinya.</p>
<p><strong>Ke</strong><strong>empat</strong><strong> belas</strong>, terbebasnya Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> dari cerita bohong yang dituduhkan kepadanya. Ia telah terbebas secara pasti berdasarkan nash Alquran. Jadi, seandainya ada seseorang yang meragukannya, wal-iyadzu billah, maka ia menjadi kafir dan murtad berdasarkan ijma kaum muslimin.</p>
<p><strong>Ke</strong><strong>lima</strong><strong> belas</strong>, keutamaan-keutamaan Abu Bakar <em>radhiyallahu ‘anh</em><em>u</em> sebagaimana tercantum dalam firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>;</p>
<p>“<em>Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em>.” (QS. An-Nur: 22)</p>
<p><strong>Ke</strong><strong>enam</strong><strong> belas</strong>, sunnah bersilaturrahim meskipun kepada orang-orang yang buruk serta sunnah memberi maaf kepada orang yang berbuat buruk.</p>
<p><strong>Ketujuh belas</strong>, orang yang telah mengucapkan suatu sumpah dan memandang ada sesuatu lain yang lebih baik daripada mengikuti sumpahnya, maka disunnahkan baginya melakukan sesuatu yang lebih baik dan mebayar kaffarat atas sumpahnya tersebut.”</p>
<p>(<em>Syarh Muslim</em> karya Imam An-Nawawi dengan perubahan).</p>
<p>Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1</p>
<p><strong>Artikel <a title="cerita kisah cinta penggugah jiwa" href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
 