
<p>Sadarkah kita, bahwa setiap diri kita ini memiliki musuh besar? Musuh  yang sangat berkeinginan untuk menyesatkan dan mencelakakan kita! Musuh  yang memiliki berbagai tipu daya dan cara untuk mencapai tujuannya!  Musuh yang kita tidak dapat melihatnya, sedangkan dia melihat kita!  Musuh besar itu adalah <em>syaithan</em>.</p>
<p>Maka, hamba yang ingin selamat perlu mengetahui berbagai rintangan <em>syaithan</em> sehingga selamat dari jerat dan perangkapnya.</p>
<p>Sesungguhnya <em>syaithan</em> berkehendak mengalahkan manusia dengan  tujuh rintangan, sebagian rintangan ini lebih berat dari yang lainnya.  Tujuh rintangan ini adalah:</p>
<p><strong>Rintangan Kekafiran </strong></p>
<p>Yaitu kekafiran kepada Allah, agama-Nya, pertemuan dengan-Nya,  sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan kepada apa yang diberitakan oleh para  rasul dari-Nya. Jika syaithan dapat mengalahkan manusia pada rintangan  ini, maka padamlah api permusuhannya dan dia dapat beristirahat! Karena  jika manusia sudah kafir, maka dia akan menemani <em>syaithan</em> di dalam neraka Jahannam, kekal selamanya-lamanya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإِنسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ  قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ   فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَآ أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا  وَذَلِكَ جَزَاؤُا الظَّالِمِينَ</p>
<p>“<em>(Bujukan orang-orang munafik kepada orang-orang kafir itu adalah)  seperti (bujukan) syaitan ketika ia berkata pada manusia, “Kafirlah  kamu.” Maka, tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, “Sesungguhnya,  aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada  Allah, Rabb semesta alam”. Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa  sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya.  Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim.</em>” (Qs. al-Hasyr: 16-17)</p>
<p>Jika manusia dapat melewati rintangan ini dengan selamat, karena membawa cahaya keimanan, <em>syaithan</em>-pun memburunya dengan tahapan selanjutnya, yaitu:</p>
<p><strong>Rintangan Bid’ah </strong></p>
<p>Imam asy-Syatibi <em>rahimahullah</em> berkata, “<em>Bid’ah</em> adalah  suatu jalan di dalam agama yang dibuat-buat, menyerupai syariat, meniti  jalan tersebut dengan niat berlebihan-lebihan di dalam beribadah kepada  Allah <em>Ta’ala.</em>” <em>Bid’ah</em> ini dapat berupa <em>aqidah</em> (keyakinan) yang menyelisihi kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Atau  berupa peribadatan yang tidak diizinkan oleh Allah. Atau berupa perkara  lainnya yang termasuk cakupan agama.</p>
<p>Telah masyhur perkataan Imam Sufyan ats-Tsauri tentang hal ini,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">اَلْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ, الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَ الْبِدْعَةُ لاَ يُتَابُ مِنْهَا</p>
<p>“<em>Bid’ah itu lebih disukai oleh Iblis daripada maksiat. Terkadang  orang bertobat dari maksiat, tetapi (sulit diharapkan) orang bertobat  dari bid’ah.</em>” (Riwayat al-Lalikai, al-Baghawi, Ibnul Jauzi, dan lainnya).</p>
<p>Jika manusia selamat dari rintangan ini, dengan berpegang teguh dengan cahaya Sunnah Nabi serta meniti jalan <em>Salaf Shalih</em>, <em>syaitha</em>n-pun memburunya dengan tahapan berikutnya, yaitu:</p>
<p><strong>Rintangan Dosa-Dosa Besar </strong></p>
<p>Tahapan selanjutnya adalah <em>syaithan</em> berusaha menjerumuskan manusia ke dalam dosa-dosa besar, perbuatan-perbuatan keji dan kemungkaran. Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ  وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَآءِ  وَالْمُنكَرِ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti  langkah-langkah syaithan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah  syaithan, maka sesungguhnya syaithan itu menyuruh mengerjakan perbuatan  yang keji dan yang mungkar.</em>” (Qs. an-Nur: 21)</p>
<p>Jika hamba dapat melewati rintangan ini dengan penjagaan Allah dan dengan taubat nasuha (yang sebenarnya), maka <em>syaithan</em> akan memburunya dengan:</p>
<p><strong>Rintangan Dosa-Dosa Kecil </strong></p>
<p><em>Syaithan</em> akan membisikkan manusia dengan kata-kata, “Dosa-dosa  kecil tidak masalah bagimu, selama engkau menjahui dosa-dosa besar!”  atau dengan kalimat, “Tidakkah engkau tahu, dosa-dosa kecil itu otomatis  terhapus dengan ditinggalkannya dosa-dosa besar, atau terhapus dengan  perbuatan-perbuatan ketaatan!”</p>
<p><em>Syaithan </em>akan selalu menjadikan orang tersebut meremehkan  dosa-dosa kecil, sehingga dia akan terus-menerus melakukannya.  Rasulullah telah memperingatkan umatnya tentang dosa-dosa kecil dengan  sabdanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ</p>
<p>“<em>Jauhilah dosa-dosa yang dianggap kecil, karena dosa-dosa itu akan berhimpun pada seseorang, sehingga akan membinasakannya.</em>” (HR. Ahmad, ar-Ruyani, al-Baihaqi. Lihat <em>Silsilah ash-Shahihah</em>, no. 389, karya al-Albani).</p>
<p>Jika seseorang selamat dari rintangan ini, karena selalu mewaspadai  dirinya dan selalu bertobat, maka syaithan akan mengejarnya dengan:</p>
<p><strong>Rintangan Perkara-Perkara yang Mubah </strong></p>
<p>Syaithan akan berusaha menyibukkan manusia melakukan perbuatan-perbuatan <em>mubah</em>, sehingga lalai untuk memperbanyak ketaatan, dan tidak bersungguh-sungguh mencari bekal untuk akhiratnya.</p>
<p>Allah<em> Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلآ  أَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ  الْخَاسِرُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan  anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat  demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.</em>” (Qs. al-Munafiqun: 9)</p>
<p>Alangkah banyaknya manusia di zaman ini yang telah tersungkur dengan rintangan <em>syaithan</em> ini! Mereka terjatuh ke dalam jurang kelalaian dan tidak pernah terlintas untuk menyiapkan bekal yang cukup untuk akhiratnya!!</p>
<p>Berapa banyak manusia sibuk berolahraga, lalai kalau malaikat maut segera menjemputnya?</p>
<p>Berapa banyak manusia tenggelam dalam kesenian dan kesenangan, lupa  bekal untuk akhiratnya? Berapa banyak manusia larut dalam hiburan,  sehingga menyia-nyiakan waktunya?</p>
<p>Berapa banyak manusia menekuni ilmu dunia semata, mengabaikan ilmu agamanya?</p>
<p>Jika manusia selamat dari rintangan ini, maka syaithan akan mengejarnya dengan:</p>
<p><strong>Rintangan Amalan-Amalan Ketaatan yang Tidak Utama </strong></p>
<p><em>Syaithan</em> menjadikan manusia sibuk dengan amalan-amalan yang  tidak utama, sehingga tidak mendapatkan yang utama. Sibuk dengan amalan  yang dicintai Allah, sehingga tidak mendapatkan yang lebih dicintai.  Sibuk dengan amalan yang sedikit pahalanya, sehingga tidak mendapatkan  yang lebih besar pahalanya.</p>
<p>Padahal, jika manusia menyadari umurnya yang pendek, sedangkan dia  membutuhkan bekal yang cukup untuk perjalanannya yang panjang menuju  keridhaan Allah <em>Ta’ala</em>, maka dia akan memilih amalan-amalan yang bernilai tinggi di sisi Allah.</p>
<p>Akan tetapi, siapakah yang dapat mencapai tingkatan ini? Mereka  jumlahnya sedikit saja, karena mayoritas manusia telah dikalahkan oleh  syaithan pada rintangan-rintangan sebelumnya! Sehingga, tidaklah  melewati rintangan ini kecuali orang yang memiliki keyakinan,  keikhlasan, ilmu, dan mendapatkan taufiq dari Allah Ta’ala. Pada tahapan  ini, syaithan-pun melancarkan jurusnya yang terakhir:</p>
<p><strong>Rintangan Gangguan </strong></p>
<p>Rintangan terakhir ini pasti akan menimpa manusia yang telah melewati  semua rintangan di atas, seandainya ada seseorang yang selamat,  pastilah para rasul dan nabi Allah selamat darinya.</p>
<p>Pada fase ini, <em>syaithan</em> akan mengerahkan bala tentaranya agar  memberikan berbagai gangguan dengan tangan, lisan, dan hati. Gangguan  tersebut akan menimpa hamba sesuai dengan kadar keimanan dan  kebaikannya. Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar dan berat cobaan  yang dia terima.</p>
<p>Rasulullah bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ  أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ  فَالْأَمْثَلُ</p>
<p>“<em>Dari Mush’ab bin Sa’d, dari bapaknya, dia berkata, “Aku berkata,  ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat musibahnya?’  Beliau menjawab, ‘Para nabi, kemudian yang lebih sebanding (dengan para  nabi), kemudian yang lebih sebanding (dengan mereka)</em>.’” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lain-lain).</p>
<p>Inilah sedikit keterangan tentang syaithan dan tipu-dayanya, semoga bermanfaat bagi kita semua. <em>Aamiin. Wallahul Musta’an. </em></p>
<p>[Tujuh rintangan <em>syaithan</em> ini berasal dari penjelasan Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah di dalam kitab <em>Madarijus Salikin</em>, 1/185-18188, penerbit: Darul Hadits Kairo, tahun: 1424 H/2003 M]</p>
<p>Penulis: Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari<br> Artikel www.PengusahaMuslim.com</p>
 