
<h1><b>Tukang Bangunan dan Para Pekerja Berat Tetap Harus Puasa</b></h1>
<p><em><b>Pertanyaan:</b></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Apakah benar bahwa tukang bangunan boleh untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena pekerjaannya berat?</span></em></p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini adalah salah kaprah yang ada di tengah masyarakat, yaitu bahwa para pekerja berat diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Ini anggapan yang keliru. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu disadari bahwa puasa Ramadhan hukumnya</span><i><span style="font-weight: 400;"> fardhu ‘ain</span></i><span style="font-weight: 400;">. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Baqarah: 183).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka tidak boleh bermudah-mudahan meninggalkan puasa Ramadhan kecuali dengan berlandaskan kepada dalil syar’i yang menunjukkan ada </span><i><span style="font-weight: 400;">udzur</span></i><span style="font-weight: 400;"> pada dirinya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para pekerja berat, seperti tukang bangunan, pekerja tambang, pekerja pengeboran minyak, dan semisalnya selama ia tidak memiliki </span><i><span style="font-weight: 400;">udzur syar’i</span></i><span style="font-weight: 400;">, seperti sakit, safar, tua renta, atau lainnya, maka ia tetap wajib berpuasa. Namun andaikan di tengah hari ia merasa berat dan sakit, maka ia boleh berbuka dan meng-</span><i><span style="font-weight: 400;">qadha</span></i><span style="font-weight: 400;"> puasanya di hari lain. Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> memerintahkan kita untuk menjauhkan diri dari kebinasaan. Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا * وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرًا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. An-Nisa: 29-30).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alahi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">juga bersabda: </span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak boleh membiarkan bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Ahmad no.2865, dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk kasus pekerja berat, Al-Allamah Nizhamuddin menyebutkan,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">المُحترِفُ المُحتاجُ إلى نفقَتِه عَلِمَ أنَّه لو اشتغل بحِرفَتِه يلحَقُه ضَرَرٌ مُبيحٌ للفِطرِ، يَحرُمُ عليه الفِطرُ قبل أن يَمرَضَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang yang sangat butuh kepada penghasilan dan ia tahu bahwa jika ia bekerja (dalam kondisi puasa) maka ia akan terkena bahaya. Maka ia diharamkan untuk meninggalkan puasa sebelum ia merasakan sakit” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Fatawa Al-Hindiyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1/208).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Buhuti </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga menjelaskan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وقال أبو بكر الآجري: مَن صنعَتُه شاقَّةٌ، فإن خاف بالصَّومِ تلفًا؛ أفطَرَ وقَضَى، إن ضَرَّه تركُ الصَّنعةِ، فإن لم يَضُرَّه تَرْكُها أثَمِ بالفِطرِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Abu Bakar Al-Ajurri mengatakan: orang yang pekerjaannya berat, jika ia khawatir binasa ketika berpuasa, maka ia boleh berbuka dan meng-</span><i><span style="font-weight: 400;">qadha</span></i><span style="font-weight: 400;"> di hari lain. Ini jika meninggalkan pekerjaan akan membahayakan dia. Namun jika meninggalkan pekerjaan tidak masalah untuknya, maka ia berdosa jika meninggalkan puasa. ” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Kasyful Qana</span></i><span style="font-weight: 400;">‘, 2/310).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan Al-Ajurri ini juga kita dapati faedah bahwa pekerja berat yang boleh berbuka jika tidak kuat adalah jika ia tidak memiliki tabungan harta yang memadai. Dia harus bekerja untuk memenuhi penghidupannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jika seorang pekerja berat memiliki tabungan yang banyak dan memadai untuk penghidupannya, maka ia tidak boleh nekat bekerja berat di bulan puasa yang bisa membuat ia harus membatalkan puasanya.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam.</span></i></p>
<p>***</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.</span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
<p> </p>
 