
<p>Penyusun: Ummu Aiman<br>
Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar</p>
<p>Saudariku, betapa banyaknya umat muslim yang  berpaling dari sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan kemudian menggantinya dengan kebiasaan orang-orang kafir. Lihatlah  bagaimana kebiasaan mereka dalam berpakaian, berkata, tata cara makan,  dan pola pikir yang sangat jauh dari sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> namun mirip kebiasaan orang-orang kafir.</p>
<p><!--more--> Pembaca yang budiman, tidakkah kita pernah mendengar sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p><em>“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dalam golongan kaum tersebut.”</em> (HR. Ahmad dan Abu Daud)</p>
<p>Maka kita semestinya bersemangat dalam melakukan kebaikan dan menghidupkan serta menyuburkan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Saudariku seakidah, menebar salam antar umat muslim adalah salah satu sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hendaknya setiap diri menumbuhkan kebiasaan yag mulia ini pada diri sendiri dan lingkungannya.</p>
<p>Dalam <em>Shahih Muslim</em> (54) disebutkan: <em>Dari Abu Hurairah  radiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan  tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu  bentuk kecintaan adalah menebar salam antar sesama muslim.” </em></p>
<p>Di dalam hadits tersebut Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjelaskan diantara syarat masuk surga adalah keimanan kemudian  menggantungkan keimanan dengan saling cinta-mencintai sesama muslim,  dan itu semua tidak akan terwujud kecuali dengan salah satu caranya,  yaitu menebarkan salam antara sesama muslim.</p>
<p><strong>Definisi Salam</strong></p>
<p>Ulama berbeda pendapat akan makna salam dalam kaliamat <em>‘Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu’</em>. Berkata sebagian ulama bahwasanya salam adalah salah satu nama dari nama-nama Allah sehingga kalimat <em>‘Assalaamu ‘alaik’</em> berarti Allah bersamamu atau dengan kata lain engkau dalam penjagaan  Allah. Sebagian lagi berpendapat bahwa makna salam adalah keselamatan  sehingga maknanya <em>‘Keselamatan selalu menyertaimu’.</em> Yang benar, keduanya adalah benar sehingga maknanya semoga Allah bersamamu sehingga keselamatan selalu menyertaimu.</p>
<p><strong>Wajibnya Menjawab Salam</strong></p>
<p>Saudariku seiman, jika ada yang mengucapkan salam kepada kita sedang  kita dalam kondisi sendiri, maka kita wajib menjawabnya karena menjawab  salam dalam kondisi tersebut hukumnya adalah fardu ‘ain. Sedang jika  salam diucapkan pada suatu rombongan atau kelompok, maka hukum  menjawabnya adalah fardu kifayah. Jika salah satu dari kelompok  tersebut telah menjawab salam yang diucapkan kepada mereka, maka sudah  cukup. Sedang hukum memulai salam adalah sunnah (dianjurkan) namun  untuk kelompok hukumnya sunnah kifayah, jika sudah ada yang mengucapkan  maka sudah cukup.</p>
<p>Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Sudah mencukupi untuk suatu rombongan jika melewati seseorang, salah satu darinya mengucapkan  salam.”</em> (HR. Ahmad dan Baihaqi)</p>
<p><strong>Adab Mengucapkan Salam</strong></p>
<p>1. Mengucapkannya Dengan Sempurna</p>
<p>Pembaca, semoga Allah merahmatiku dan merahmati kalian semua, sangat  dianjurkan bagi kita untuk mengucapkan salam dengan sempurna, yaitu  dengan mengucapkan, <em>“Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.”</em></p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Imran bin Hushain <em>radiallau ‘anhu</em>, ia berkata: <em>“Seorang  laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan  mengucapkan , ‘Assalaamu’alaikum’. Maka dijawab oleh Nabi shalallahu  ‘alaihi wa sallam kemudian ia duduk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, ‘Sepuluh’. Kemudian datang lagi orang yang kedua, memberi  salam, ‘Assalaamu’alaikum wa Rahmatullaah.’ Setelah dijawab oleh Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam ia pun duduk, Nabi shalallahu ‘alaihi wa  sallam bersabda, ‘Dua puluh’. Kemudian datang orang ketiga dan  mengucapkan salam: ‘Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh’.  Maka dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia pun  duduk dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tiga puluh’.”</em> (Hadits Riwayat Bukhari dalam <em>Al-Adabul Mufrad</em> no. 986, Abu Dawud no. 5195, dan At-Tirmidzi no. 2689 dan beliau meng-hasankannya).</p>
<p>2. Memulai Salam Terlebih Dahulu</p>
<p>Saudariku di jalan Allah, memulai mengucapkan salam kepada orang  lain adalah sangat dianjurkan. Hendaknya yang lebih muda mengucapkan  salam kepada yang lebih tua, yang lewat memberi salam kepada yang  sedang duduk, dan yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak,  serta yang berkendaraan mengucapkan salam kepada yang berjalan. Hal  tersebut sejalan dengan hadist dari Abu Hurairah. Pengucapan salam yang  berkendaraan kepada yang berjalan adalah sebagai bentuk syukur dan  salah satu keutamaannya adalah agar menghilangkan kesombongan.</p>
<p>Dalam hadits tersebut, bukan berarti bahwa apabila orang-orang yang  diutamakan untuk memulai salam tidak melakukannya, kemudian gugurlah  ucapan salam atas orang yang lebih kecil, atau yang tidak berkendaraan,  dan semisalnya. Akan tetapi Islam tetap menganjurkan kaum muslimin  mengucapkan salam kepada yang lainnya walaupun orang yang lebih dewasa  kepada yang lebih muda atau pejalan kaki kepada orang yang  berkendaraan, sebagaiman sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p><em>“Yang lebih baik dari keduanya adalah yang memulai salam.”</em> (HR. Bukhori: 6065, Muslim: 2559)</p>
<p>Salah satu upaya menyebarkan salam diantar kaum muslimin adalah  mengucapkan salam kepada setiap muslim, walaupun kita tidak  mengenalnya.</p>
<p>Hal ini didasari sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: <em>Dari  ‘Abdullah bin Amr bin Ash radiallahu ‘anhuma, ada seorang laki-laki  bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Islam bagaimana  yang bagus?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Engkau  memberi makan ( kepada orang yang membutuhkan), mengucapkan salam  kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.”</em> (HR. Bukhori: 2636, Muslim: 39)</p>
<p>3. Mengulangi Salam Tatkala Berjumpa Lagi Walaupun Berselang Sesaat</p>
<p>Bagi seseorang yang telah mengucapkan salam kepada saudaranya,  kemudian berpisah, lalu bertemu lagi walaupun perpisahan itu hanya  sesaat, maka dianjurkan mengulang salamnya. Bahkan seandainya terpisah  oleh suatu pohon lalu berjumpa lagi, maka dianjurkan mengucapkan salam,  sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p><em>“Apabila di antara kalian berjumpa dengan saudaranya, maka  hendaklah mengucapkan salam kepadanya. Apabila terhalang oleh pohon,  dinding, atau batu (besar), kemudian dia berjumpa lagi, maka hendaklah  dia mengucapkan salam (lagi).”</em> (HR. Abu Dawud: 4200, dishohihkan oleh Al-Albani dalam <em>Misykat al-Mashobih</em>: 4650, dan lihat <em>Silsilah Shohihah</em>: 186)</p>
<p>4. Tidak Mengganggu Orang yang Tidur Dengan Salamnya</p>
<p>Dari Miqdad bin Aswad <em>radiallahu ‘anhu</em>, beliau berkata: <em>“Kami  mengangkat jatah minuman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  (karena beliau belum datang), kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wa  sallam datang di malam hari, maka beliau mengucapkan salam dengan  ucapan yang tidak sampai mengganggu/ membangunkan orang tidur dan dapat  didengar orang yang tidak tidur, kemudian beliau masuk masjid dan  sholat lalu datang (kepada kami) lalu beliau minum (minuman kami).”</em> (HR. Timidzi: 2719 dan dishohihkan oleh Al-Albani dalam <em>Adab Az-Zifaf</em> hal. 167-196 cet. terbaru)</p>
<p>5. Tidak Memulai Ucapan Salam Kepada Orang Yahudi dan Nasrani</p>
<p>Dari Ali bin Abi Thalib <em>radiallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Janganlah  kalian mengucapkan salam lebih dahulu kepada Yahudi dan Nashrani, dan  bila kalian bertemu mereka pada suatu jalan maka desaklah mereka ke  sisi jalan yang sempit.”</em></p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mulia dan  unggul dari yang lainnya. Jika mereka mengucapkan salam kepada kita,  maka balaslah salamnya dengan ucapan <em>‘Wa ‘alaikum’</em>.</p>
<p>6. Berusaha Membalas Salam Dengan yang Lebih Baik atau Semisalnya</p>
<p>Maksudnya, tidak layak kita membalas salam orang lain dengan salam yang lebih sedikit. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya:</p>
<p><em>“Apabila kalian diberi salam/penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.”</em> (QS. An-Nisa’: 86)</p>
<p><strong>Kebiasaan Para Sahabat Berjabat Tangan</strong></p>
<p>Adalah kebiasaan para sahabat jika mereka berjumpa maka saling  berjabat tangan antar satu dengan yang lain. Maka apabila kita bertemu  dengan seorang teman, cukupkanlah dengan berjabat tangan disertai  dengan ucapan salam (<em>Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh</em>)  tanpa berpelukan kecuali ketika menyambut kedatangannya dari bepergian,  karena memeluknya pada saat tersebut sangat dianjurkan. Hal ini  berdasarkan hadits Anas bin Malik <em>radiallahu ‘anhu</em>, ia berkata:</p>
<p><em>“Apabila sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  saling berjumpa, maka mereka saling berjabat tangan dan apabila mereka  datang dari bepergian, mereka saling berpelukan.”</em> (HR. At-Tabrani dalam <em>Al-Mu’jamul Ausath</em> no. 97 dan Imam Al-Haitsami berkata dalam kitab <em>Majma’uz Zawaa’id</em> VIII/ 36, “<em>Para perawinya adalah para perawi tsiqah.”</em>)</p>
<p>Saudariku muslimah, yang berusaha meniti jalan kebenaran, hendaklah  adab-adab di atas kita jaga. Kita berusaha untuk menanamkannya pada  diri kita, memupuknya, memeliharanya serta mengajak orang lain  kepadanya. Semoga Allah, Dzat yang membalas kebaikan sebesar dzarrah  dengan kebaikan dan membalas keburukan sebesar dzarrah dengan keburukan  memberikan kita keistiqamahan untuk senantiasa berjalan di atas  Kitabullah dan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. <em>Wa Allahu A’lam</em>.</p>
<p><strong>Maraji:</strong></p>
<ol>
<li>Terjemah: <em>Adab Harian Muslim Teladan</em>. ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani. Pustaka Ibnu Katsir. Cetakan pertama. 2005.</li>
<li>Majalah Al-Furqon Tahun 6 Edisi 7. Shofar 1428 H.</li>
<li>Catatan Kajian <em>‘Kitabul Jami’ min Taudhiihul Ahkam min Buluughul Maraam’</em>.</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 