
<p>UDZUR UNTUK MENINGGALKAN SHALAT JAMA’AH</p>
<p>Oleh<br>
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</p>
<p>1.Dingin dan Hujan<br>
Dari Nafi’, “Pada suatu malam yang dingin dan berhembus kencang, Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma mengumandangkan adzan shalat. Dia mengucapkan, “Hai manusia, shalatlah kalian dalam rumah-rumah kalian!” Setelah itu dia berkata, “Sesungguhnya jika malam dingin dan hujan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mu’adzin mengucapkan, “Hai manusia, shalatlah kalian dalam di rumah-rumah kalian!”[1]</p>
<p>2. Saat Makanan Dihidangkan<br>
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>إِذَا وُضِعَ عَشَاءُ أَحَدِكُمْ وَأُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَابْدَؤُوْ بِالْعَشَاءِ، وَلاَ يَعْجَلْ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهُ.</strong></p>
<p>“<em>Jika makan malam salah seorang di antara kalian dihidangkan sedangkan iqamat telah dikumandangkan, maka dahulukanlah makan malam. Janganlah tergesa-gesa hingga dia menyelesaikan makannya</em>.”</p>
<p>Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma pernah disuguhi makanan ketika iqamat telah dikumandangkan. Dia tidak mendatangi shalat hingga dia menyelesaikan makannya. Padahal dia benar-benar mendengar bacaan imam. [2]</p>
<p>3. Menahan dua Hadats<br>
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَـامِ، وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُ اْلأَخْبَثَيْنِ.</strong></p>
<p>“<em>Tidak sempurna shalat ketika makanan telah dihidangkan. Tidak sempurna pula shalat orang yang menahan dua hadats</em>.” [3]</p>
<p>[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]<br>
_______<br>
Footnote<br>
[1]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/156 no. 666)], Shahiih Muslim (I/484 no. 697), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/391 no. 1050), dan Sunan an-Nasa-i (II/15).<br>
[2]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/159 no. 673)], Shahiih Muslim (I/392 no. 459), tanpa kalimat terakhir, dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (X/229 no. 3739).<br>
[3]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 7509)], Shahiih Muslim (I/393 no. 560), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/190 no. 89).</p>
 