
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>Ikhlas dalam beramal</strong></span></h3>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Bukhari <em>Rahimahullah</em>, Utsman berkata, “Jarir mengabarkan kepada kami dari Manshur dari Abu Wa’il dari Abu Musa –<em>Radhiyallahu’anhu</em>–, dia berkata, ‘Ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> lalu dia mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan perang di jalan Allah? Sebab ada di antara kami ini yang berperang karena kemarahan dan berperang demi kebanggaan.’</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pun mengangkat kepalanya kepada orang itu.</p>
<p>Beberapa riwayat mengatakan bahwa Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>mengangkat kepalanya kepada orang itu karena orang yang bertanya dalam posisi berdiri, sedangkan posisi nabi sedang duduk.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pun menjawab, ‘Barang siapa yang berperang untuk menjadikan kalimat Allah paling mulia, maka dia yang berada di jalan Allah <em>Azza wa jalla</em>.'” (Lihat <em>Shahih Bukhari</em> dan <em>Fath al-Bari</em> Jilid 1 hal. 269 cet. Dar al-Hadits).</p>
<h3><strong>Keterangan ringkas</strong></h3>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>Rahimahullah</em> mengomentari kandungan hadis ini dengan mengatakan, “Di dalam hadis ini terdapat <em>syahid</em>/ dalil pendukung bagi hadis <em>al-a’maalu bin niyaat</em> (amal itu dinilai berdasarkan niatnya) …” (Lihat <em>Fath al-Bari,</em> 1: 270).</p>
<p>Imam Al-‘Aini <em>Rahimahullah</em> menjelaskan, “Di dalamnya terkandung pelajaran bahwa ikhlas merupakan syarat diterimanya ibadah.” (Lihat <em>‘Umdat al-Qari</em>, 2: 297).</p>
<p>Imam Ibnu Rajab <em>Rahimahullah</em> mengutip riwayat serupa dengan berkata,</p>
<p>“An-Nasa’i meriwayatkan hadis dari Abu Umamah <em>Radhiyallahu’anhu</em>,  dia berkata, ‘Ada seorang lelaki datang kepada Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, lalu dia berkata, ‘Bagaimana pendapat Anda tentang seorang lelaki yang berperang untuk mencari pahala sekaligus mencari nama/popularitas, apa yang akan dia dapatkan?’</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menjawab, ‘Dia tidak mendapatkan pahala apa-apa.’ Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan untuk mencari wajah-Nya.'” (Lihat <em>Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 21 cet. Dar al-Hadits).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/72916-buah-manis-keikhlasan.html">Buah Manis Keikhlasan</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kontinyu dalam beramal</strong></span></h3>
<p>Diriwayatkan dari Muhammad bin Salam dia berkata, ‘Abdah mengabarkan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah <em>Radhiyallahu ’anha</em> beliau berkata,</p>
<p>“Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> apabila memerintahkan mereka (orang-orang), maka beliau hanya memerintahkan sebatas amalan yang mampu mereka kerjakan.”</p>
<p>Kemudian orang-orang itu berkata, ‘Sesungguhnya keadaan kami tidak seperti keadaan Anda, wahai Rasulullah. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa Anda yang telah berlalu maupun yang akan datang.’</p>
<p>Mendengar hal itu, Rasulullah pun marah hingga tampak kemarahan itu pada rona wajahnya. Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang paling bertakwa dan paling berilmu tentang Allah di antara kalian adalah aku.'” (Lihat <em>Sahih al-Bukhari</em> dan <em>Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi</em> Juz 1 hal. 89).</p>
<h3><strong>Keterangan ringkas</strong></h3>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>Rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Para ulama mengatakan bahwa makna hadis ini adalah beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> hanya memerintahkan amalan-amalan yang mudah untuk mereka kerjakan, dan bukan amal-amal yang memberatkan. Hal itu karena beliau khawatir mereka tidak bisa terus-menerus/kontinyu dalam melakukannya. Beliau sendiri mengerjakan amal serupa dengan apa yang beliau perintahkan kepada mereka, yang di dalamnya terkandung keringanan.” (Lihat <em>Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi</em>, 1: 90).</p>
<p>Diantara faedah dan pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadits di atas antara lain:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> amal-amal saleh akan bisa mengangkat kedudukan pelakunya menuju tingkatan yang mulia dan membuat dirinya berpeluang menghapus dosa-dosa.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/27087-keutamaan-membangun-masjid-dengan-niat-yang-ikhlas.html">Keutamaan Membangun Masjid Dengan Niat Yang Ikhlas</a></strong></p>
<p><strong>Kedua,</strong> apabila seorang hamba bisa meraih puncak/akhir dari suatu bentuk ibadah dan bisa merasakan buah-buahnya, maka hal itu seharusnya lebih mendorong dirinya untuk terus-menerus mengerjakannya. Dengan demikian, hal itu lebih mempertahankan nikmat yang ada dan akan semakin mendorongnya untuk mencari tambahan nikmat dengan cara mensyukuri apa yang telah dilakukannya.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> semestinya kita selalu berhenti pada apa-apa yang telah ditetapkan oleh syariat, baik dalam perkara <em>‘azimah</em>/hukum asal yang lebih utama, maupun <em>rukhshah</em>/mengambil keringanan. Di sisi lain, perlu disertai keyakinan bahwa memilih hal-hal yang lebih ringan lagi selaras dengan syariat itu lebih utama daripada mengambil sesuatu yang lebih berat dan menyelisihi syariat.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> hal yang lebih utama untuk dicari dalam hal ibadah adalah sederhana/simpel dan <em>mulazamah</em>/terus-menerus dan konsisten dalam beramal. Bukan sikap berlebih-lebihan yang pada akhirnya menyeret kepada sikap meninggalkan amalan tersebut.</p>
<p><strong>Kelima,</strong> hadis di atas juga menunjukkan besarnya semangat para sahabat dalam mengerjakan ibadah dan besarnya keinginan mereka meraih tambahan kebaikan</p>
<p><strong>Keenam,</strong> disyariatkannya marah ketika terjadi suatu hal yang menyelisihi perintah/ajaran syariat. Hendaknya kemarahan itu ditujukan kepada orang yang cukup cerdas dan bisa menangkap pelajaran yang baik, agar orang tersebut dapat merenungkan lebih dalam dan dapat tergerak hatinya untuk menyadari kekeliruannya.</p>
<p><strong>Ketujuh,</strong> bolehnya menceritakan kepada seseorang mengenai keutamaan yang dimiliki orang tersebut ketika hal itu memang dibutuhkan, selama tidak menimbulkan sikap berbangga diri atau menonjolkan kehebatan diri sendiri.</p>
<p><strong>Kedelapan,</strong> hadis di atas juga menunjukkan bahwa Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> telah mencapai puncak kesempurnaan manusia karena kesempurnaan sifat hikmah yang ada pada ilmu dan amal yang beliau miliki. Kesempurnaan ilmu beliau ditunjukkan dalam sabda beliau <em>‘</em><em>aku adalah orang yang paling berilmu di antara kalian’</em>, sedangkan kesempurnaan amalnya ditunjukkan dari sabda beliau <em>‘</em><em>dan aku juga orang yang paling bertakwa kepada Allah di antara kalian’</em>. (Lihat <em>Fath al-Bari tahqiq Syaibatul Hamdi</em>, 1: 90-91).</p>
<p>Imam Ibnu Baththal <em>Rahimahullah</em> menjelaskan,</p>
<p>“Di dalam kesungguhan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dalam beramal dan sikap marah terhadap ucapan mereka, terkandung dalil yang menunjukkan bahwa seseorang yang beramal itu tidak boleh bersandar atau menggantungkan diri kepada amalnya. Hendaknya orang yang beramal selalu berada di antara perasaan harap dan takut.” (Lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal</em>, 1: 73).</p>
<p>Al-Muhallab <em>Rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Di dalam hadis ini terkandung faedah bahwasanya orang yang saleh wajib memiliki ketakwaan dan rasa takut yang besar, sebagaimana halnya yang seharusnya ada pada seseorang yang melakukan dosa. Orang yang saleh tidak boleh merasa aman dengan bersandar kepada kesalehan dirinya. Demikian juga seorang pelaku dosa tidak boleh berputus asa karena dosa yang dilakukannya. Bahkan, semestinya setiap orang berada di antara perasaan takut dan harap.” (Lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal</em>, 1: 73).</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/25594-agar-tumbuh-keikhlasan.html">Agar Tumbuh Keikhlasan</a></strong></li>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/22547-antara-orang-yang-ikhlas-dan-pengekor-hawa-nafsu.html">Antara Orang Yang Ikhlas Dan Pengekor Hawa Nafsu</a></strong></li>
</ul>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Ari Wahyudi, S.Si</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></strong></p>
 