
<p>عن أبي ذرٍّ، قال: قال لي رسول الله – صلى الله عليه وسلم -:«يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي، لَا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ، وَلَا تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ»<br>Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku : ((Sesungguhnya aku melihatmu lemah, dan mengingkan kebaikan bagimu kebaikan yang aku sukai untuk diriku. Janganlag engkau memimpin dua orang, dan janganlah engkau mengurusi harta anak yatim)) (HR Muslim)<br>Tidak diragukan lagi akan kuatnya iman Abu Dzar dan betapa zuhudnya beliau. Akan tetapi beliau lemah dalam “kepemimpinan” dan idaroh.<br>Karenanya kepemimpinan butuh ilmu dan kekuatan dalam memimpin. Ada sabagian ustadz yg masya Allah hebat dalam ilmu dan kepemimpinan. Namun ada juga ustadz yg kuat ilmu namun lemah dalam idaroh/managemen. <br>Meski banyak ustadz punya jiwa kepemimpinan, akan tetapi jiwa dan semangat memimpin saja tdk cukup, perlu juga jago dalam pengaturan. Banyak orang jago dalam teori tapi praktik belum tentu bisa.<br>Wallahu a’lam.</p>
 