
<p>Suami hendaknya berusaha lebih peka dalam memahami istrinya</p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Berusaha Memahami Keinginan Istri</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara faktor penting kelanggengan rumah tangga adalah seorang suami yang mampu membaca keinginan dan maksud tersembunyi yang ditunjukkan oleh sang istri. Bisa jadi sang istri menginginkan A, namun kalimat yang terucap adalah B. Di waktu lain, dia sangat menginginkan B, namun yang diucapkan adalah kalimat C. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang suami yang polos, yang belum mampu memahami seluk beluk wanita, tentu tidak berpikir panjang. Dan hanya menuruti apa yang tersurat diucapkan atau sikap yang ditunjukkan sang istri. Padahal, bukan itu yang dia inginkan. Di sinilah akhirnya timbullah masalah karena sang suami yang belum mampu membaca keinginan tersembunyi dari sang istri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita pun menjumpai hal semacam ini dari kisah rumah tangga Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersama istri-istrinya. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/53076-untuk-para-istri-jangan-ingkari-kebaikan-suami.html" data-darkreader-inline-color="">Untuk Para Istri, Jangan Ingkari Kebaikan Suami</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Kisah Pertama</span></strong></h2>
<p><span style="font-size: 14pt;"><b>Kisah ibunda ‘Aisyah terkait dengan posisi Abu Bakar sebagai imam shalat</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diceritakan dari ibunda ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي مَرَضِهِ: «مُرُوا أَبَا بَكْرٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ» قَالَتْ عَائِشَةُ: قُلْتُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعِ النَّاسَ مِنَ البُكَاءِ، فَمُرْ عُمَرَ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ لِحَفْصَةَ: قُولِي لَهُ: إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعِ النَّاسَ مِنَ البُكَاءِ، فَمُرْ عُمَرَ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ، فَفَعَلَتْ حَفْصَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَهْ إِنَّكُنَّ لَأَنْتُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ، مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ» فَقَالَتْ حَفْصَةُ لِعَائِشَةَ: مَا كُنْتُ لِأُصِيبَ مِنْكِ خَيْرًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata saat sakit menjelang wafatnya, “Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat orang-orang.” ‘Aisyah berkata, “Aku lalu berkata, </span><b>“Jika Abu Bakar menggantikan posisi Engkau, maka suaranya tidak akan bisa didengar oleh orang-orang karena dia mudah menangis (ketika membaca Al-Qur’an, pent.). Sebaiknya, suruhah Umar untuk memimpin shalat orang-orang.”</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47972-menceritakan-rahasia-hubungan-suami-istri.html" data-darkreader-inline-color="">Menceritakan Rahasia Hubungan Suami-Istri</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Aisyah berkata, “Aku lalu sampaikan kepada Hafshah, “Katakanlah kepada beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, “Jika Abu Bakar menggantikan posisi Engkau, maka suaranya tidak akan bisa didengar oleh orang-orang karena dia mudah menangis. Maka perintahkanlah ‘Umar untuk memimpin shalat orang-orang.”” Maka Hafshah pun melaksanakannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa asallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, “Celakalah kalian! Sungguh kalian ini seperti isteri-isterinya Yusuf. Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat orang-orang.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hafshah kemudian berkata kepada ‘Aisyah, “Sungguh aku tidak mendapatkan kebaikan darimu.” </span><b>(HR. Bukhari no. 679)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits di atas, ibunda ‘Aisyah mengatakan suatu kalimat yang seolah-olah beliau menyarankan agar ‘Umar bin Khaththab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">saja yang menggantikan posisi Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagai imam ketika beliau sakit, bukan Abu Bakar sebagaimana yang dikehendaki oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Ini adalah kalimat yang diucapkan ‘Aisyah. Akan tetapi, ada maksud tersembunyi dari perkataan ini. Maksud tersembunyi tersebut ibunda ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha </span></i><span style="font-weight: 400;">ceritakan sendiri di hadits yang lain,</span></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>لَقَدْ رَاجَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذَلِكَ، وَمَا حَمَلَنِي عَلَى كَثْرَةِ مُرَاجَعَتِهِ إِلَّا أَنَّهُ لَمْ يَقَعْ فِي قَلْبِي: أَنْ يُحِبَّ النَّاسُ بَعْدَهُ رَجُلًا، قَامَ مَقَامَهُ أَبَدًا، وَلاَ كُنْتُ أُرَى أَنَّهُ لَنْ يَقُومَ أَحَدٌ مَقَامَهُ إِلَّا تَشَاءَمَ النَّاسُ بِهِ، فَأَرَدْتُ أَنْ يَعْدِلَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku selalu membantah Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Tidak ada yang mendorongku untuk selalu membantah beliau, kecuali karena aku cemas orang-orang belum menyukai seseorang (yaitu Abu Bakr, pen.) yang menggantikan kedudukan beliau sepeninggal beliau nanti. Aku khawatir tidak ada orang yang menggantikan beliau, kecuali orang-orang hanya akan merasa pesimis terhadapnya. Karena itulah, aku ingin agar Rasulullah segera memalingkan tugas itu dari Abu Bakr.” </span><b>(HR. Bukhari no. 4445 dan Muslim no. 418)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, sebetulnya yang diinginkan oleh ‘Aisyah adalah agar orang-orang tau secara yakin bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">betul-betul menginginkan sahabat Abu Bakar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagai imam shalat, bukan orang lain. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, ‘Aisyah seolah-olah menyarankan agar ‘Umar saja yang menjadi imam. Jika Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">benar-benar menginginkan Abu Bakar, tentu Nabi akan menolak dengan keras saran ‘Aisyah tersebut, dan itulah sebetulnya yang diinginkan oleh ‘Aisyah. Yaitu agar manusia melihat bahwa nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">benar-benar menginginkan Abu Bakar sebagai imam, bukan ‘Umar, bukan pula sahabat yang lainnya. Hal ini supaya manusia ridha Abu Bakar sebagai imam, karena hal itu adalah isyarat dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">siapakah yang akan beliau kehendaki sebagai khalifah sepeninggal beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47427-kewajiban-suami-kepada-istri-untuk-mengajarkan-perkara-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Kewajiban Suami kepada Istri dalam Mengajarkan Perkara Agama </a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/41075-menambahkan-nama-suami-setelah-menikah.html" data-darkreader-inline-color="">Menambahkan Nama Suami Setelah Menikah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>Simak pembahasan selanjutnya: <a href="https://muslim.or.id/53450-wahai-suami-istri-itu-penuh-dengan-misteri-bag-2.html"><span style="color: #ff0000;">Wahai Suami, Istri Itu Penuh dengan Misteri (Bag. 2)</span></a></b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 25 Shafar 1441/24 Oktober 2019</span></p>
<p><b>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 