
<p><strong>Baca artikel sebelumnya di <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/59050-wakaf-amalan-para-sahabat-radhiyallahuanhum-bag-2.html" data-darkreader-inline-color="">Wakaf: Amalan Para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em> (Bag.2)</a></span></strong></p>
<p><em>Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.</em></p>
<p>Dahulu para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum, </em>mereka paling segera dalam melakukan kebaikan. Mereka tidak bakhil (pelit) dalam mengorbankan harta mereka, bahkan jiwa mereka, demi membela agama Islam dan menyebarkannya.</p>
<p>Para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> merupakan contoh terbaik di tengah-tengah umat ini untuk teladan dalam segala kebaikan, termasuk dalam hal berwakaf.</p>
<p>Mereka berlomba-lomba memberikan wakaf yang terbaik.</p>
<p>Mayoritas dari sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> yang memiliki kemampuan harta, mereka telah mewakafkan hartanya di jalan Allah.</p>
<p>Para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> juga bersemangat mewakafkan harta mereka yang termahal, lalu Allah jaga wakaf mereka sehingga terus bermanfaat sampai berabad-abad. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Syafi’i, Al-Humaidi, Abu Bakr Al-Khashshaf, Ibnu Syaibah, Ibnu Hazm, dan selain mereka <em>rahimahumullah</em>.</p>
<p>Berikut ini adalah potret wakaf para sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>. <strong>[1]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/26106-bolehkah-menjual-harta-wakaf.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Menjual Harta Wakaf?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Gambaran Umum Wakaf Para Sahabat <em>Radhiyallahu’anhum</em></strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>Setiap sahabat yang memiliki harta telah mewakafkan hartanya</strong></span></h3>
<p>Jabir <em>radhiyallahu’anhu</em> berkata,</p>
<p>“Saya tidak mengetahui ada seorang pun yang mampu dari para sahabat, baik Muhajirin maupun Anshar <em>radhiyallahu’anhum,</em> melainkan ia mensedekahkan hartanya sebagai wakaf, tidak boleh dibeli, tidak diwariskan, dan tidak dihibahkan.”</p>
<p>Riwayat ini, meskipun disanadnya ada perawi yang <em>majhul</em>, tapi diperkuat dengan penguat-penguat lainnya, seperti:</p>
<p>Muhammad bin Abdur Rahman <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Saya tidak mengetahui seorang pun sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> peserta perang Badar, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, melainkan telah mewakafkan hartanya, tidak boleh dibeli, tidak diwariskan, tidak dihibahkan.”</p>
<p>Riwayat yang semisal juga diriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyib dari para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Riwayat yang semisal juga diriwayatkan dari Imarah bin Ghaziyyah dari para sahabat peserta perang Badar.</p>
<p>Riwayat yang semisal juga diriwayatkan dari Sa’id bin Abdur Rahman dari penduduk Quba’, peserta perang Badar dan Ahli Aqabah, bahwa mereka mewakafkan harta mereka pada orang-orang setelah mereka … ”</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/47415-perluasan-pembangunan-masjid-al-ashri.html" data-darkreader-inline-color="">Yuk, Bantu Perluasan Pembangunan Masjid Al Ashri Pogungrejo</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Gambaran Terperinci Wakaf Para Sahabat <em>radhiyallahu ’anhum</em></strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Khulafa’ur Rasyidin <em>radhiyallahu ‘anhum</em></strong></span></h3>
<p>Para sejarawan, ahli hadits dan selain mereka menyebutkan bahwa setiap sahabat yang memiliki harta telah mewakafkan hartanya <strong>[2]</strong>, baik jenis wakaf <em>dzurri</em> maupun wakaf <em>khairi</em>, di antaranya – sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Syabbah dalam <em>Taariikhul Madiinah</em> <strong>[3]</strong> – yaitu,</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Wakaf Abu Bakar Ash-Shiddiq <em>radhiyallahu ‘anhu.</em></p>
<p>Al-Khashshaf dalam <em>Ahkamul Auqaf</em>  berkata,</p>
<p>“Diriwayatkan bahwa Abu Bakar mewakafkan rumah miliknya di Mekkah dan beliau tinggalkan hingga tidak diketahui bahwa rumah itu diwariskan darinya, namun ditempati orang-orang yang mukim, baik dari golongan anaknya, cucunya dan keturunannya di Mekkah. Mereka pun tidak saling mewariskan.”</p>
<p>Al-Baihaqi berkata dalam <em>As-Sunan Al-Kubra,</em></p>
<p>Al-Humaidi berkata, “Abu Bakar Ash-Shiddiq <em>radhiyallahu ’anhu</em> mewakafkan rumahnya di Mekkah kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi,  pent.).”</p>
<p>Dan rumah tersebut adalah sebuah rumah terkenal di Mekkah.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Wakaf Umar bin Al-Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, bahwa Umar bin Al-Khaththab mendapatkan harta rampasan perang berupa sebidang lahan tanaman di daerah Khaibar, lalu dia pun menemui Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meminta arahan beliau tentangnya. Lalu dia berkata,</p>
<p>“Wahai Rasulullah, saya mendapatkan sebidang lahan tanaman (dari harta rampasan) di Khaibar, saya tidak pernah sekalipun mendapatkan harta sebagus lahan tanaman ini sebelumnya. Lalu apa yang Anda perintahkan kepadaku terhadap lahan tersebut?”</p>
<p>Beliau bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا</strong></span></p>
<p>“Jika Engkau mau, Engkau tahan lahan tersebut (dari dimiliki <strong>[4]</strong>) dan Engkau sedekahkan (hasil tanaman)nya”.</p>
<p>Ibnu Umar berkata,</p>
<p>“Lalu Umar pun mewakafkannya, yang mana tanah itu tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan olehnya.”</p>
<p>(Namun) Umar mewakafkannya untuk orang-orang fakir, kerabat, untuk membebaskan budak, <em>jihad fi sabilillah</em>, musafir (yang kehabisan bekal), dan untuk menjamu tamu.</p>
<p>Tidak berdosa bagi pengurus wakaf tanah tersebut untuk memakan dari (hasil tanaman)nya dengan cara yang baik <strong>[5]</strong>, dan memberi makan teman/tamunya tanpa berlebihan <strong>[6]</strong>.” <strong>(HR. Bukhari, Kitab Asy-Syuruth, Bab Asy-Syuruth fi Al-Waqf 2737)</strong></p>
<p>Al-Baihaqi berkata dalam <em>As-Sunan Al-Kubra,</em> Al-Humaidi berkata, “Umar mewakafkan rumahnya di daerah Al-Marwah dan Ats-Tsaniyyah kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi, pent.).”</p>
<p><strong>Ketiga, </strong>Wakaf Utsman bin Affan <em>radhiyallahu ‘anhu.</em></p>
<p>Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari secara <em>mu’allaq</em> bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ، فَيَكُونُ دَلْوُهُ فِيهَا كَدِلاَءِ المُسْلِمِينَ</strong></span></p>
<p>“Barangsiapa yang membeli sumur “<em>rumatun</em>” <strong>[7]</strong>, maka bagiannya dari air yang ia timba darinya itu seperti bagian air yang ditimba kaum muslimin.” Maka ‘Utsman <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pun membelinya.</p>
<p>Dalam hadits Shahih Bukhari <em>rahimahullah</em> pula, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>مَنْ حَفَرَ رُومَةَ فَلَهُ الجَنَّةُ</strong></span></p>
<p>Barangsiapa yang menggali sumur “<em>rumatun</em>”, maka baginya surga. Lalu ‘Utsman pun menggalinya.</p>
<p>Dan disebutkan dalam salah satu riwayat Basyir bin Basyir Al-Aslami disebutkan bahwa Utsman bin Affan <em>radhiyallahu’anhu</em> mewakafkan sumur itu untuk kaum muslimin.</p>
<p>Dari Al-Walid bin Abi Hisyam berkata,</p>
<p>Utsman berkata, “Rumahku yang di Mekkah ditempati (sebagai wakaf) oleh keturunanku dan orang-orang yang mau menempatinya.”</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Wakaf Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’ anhu</em>.</p>
<p>Al-Baihaqi berkata, Al-Humaidi berkata,</p>
<p>“Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em> mewakafkan tanahnya di daerah Yanbu’, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi,  pent.).”</p>
<p>Dan disebutkan oleh Ibnu Syabbah dalam <em>Taariikhul Madiinah</em> bahwa Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em> juga memiliki banyak mata air yang di wakafkan untuk orang-orang miskin dan orang-orang yang membutuhkan.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/46661-ancaman-terhadap-pembagian-waris-yang-menyelisihi-syariat.html" data-darkreader-inline-color="">Ancaman Terhadap Pembagian Waris yang Menyelisihi Syari’at</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/55437-berobat-dengan-sedekah.html" data-darkreader-inline-color="">Berobat Dengan Sedekah ?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>Penulis <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" data-darkreader-inline-color="">Ustadz Sa’id Abu Ukasyah</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
<p><strong>[1] </strong><em><a href="https://www.alukah.net/sharia/0/75023/#ixzz6XoB4TPSG">Wakaf pada zaman sahabat radhiayallahu ‘anhum</a></em>, dan baca artikel <em><a href="https://muslim.or.id/59050-wakaf-amalan-para-sahabat-radhiyallahuanhum-bag-2.html">Wakaf: Amalan  para sahabat radhiyallahu ‘anhum (Bag. 2)</a></em>.</p>
<p><strong>[2]</strong> Baca artikel <em><a href="https://muslim.or.id/59050-wakaf-amalan-para-sahabat-radhiyallahuanhum-bag-2.html">Wakaf: Amalan Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum (Bag. 2)</a></em>.</p>
<p><strong>[3]</strong> <em><a href="http://almoslim.net/node/267942">Contoh Wakaf Para Sahabat radhiyallahu’anhum</a></em></p>
<p><strong>[4]</strong> Karena barang wakaf itu kepemilikannya kembali kepada Allah <em>Ta’ala</em> semata, sehingga tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwariskan.</p>
<p><strong>[5]</strong> Sebagaimana yang menjadi adat baik setempat.</p>
<p><strong>[6]</strong> Maksudnya seperlunya dan tidak mengambilnya untuk dimiliki dan tidak pula untuk disimpan/ditimbun.</p>
<p><strong>[7]</strong> Sebuah sumur di kota Nabi  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
 