
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/59168-wakaf-amalan-para-sahabat-radhiyallahuanhum-bag-3.html" data-darkreader-inline-color="">Wakaf: Amalan Para Sahabat radhiyallahu‘anhum (Bag. 3)</a></span></strong></p>
<p><em>Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah</em>, <em>amma ba’du</em>.</p>
<p><em>Alhamdulillah</em>, telah kami sebutkan riwayat tentang wakaf Khulafa’ur Rasyidin <em>radhiyallahu ‘anhum</em> di serial artikel sebelumnya.</p>
<p>Berikut ini beberapa riwayat tentang wakaf para sahabat selain Khulafa’ur Rasyidin <em>radhiyallahu ‘anhum</em> <strong>[1].</strong></p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Sa’ad bin Abu Waqqash <em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></span></h2>
<p>Al-Baihaqi <em>rahimahullah</em> berkata, “Al Humaidi menuturkan, ‘Sa’ad bin Abu Waqqash <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mewakafkan rumahnya di Madinah dan Mesir kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi pent.).’” <strong>(<em>As-Sunan Al-Kubra</em> 11900).</strong></p>
<p>Aisyah putri Sa’ad <em>radhiyallahu ‘anha</em> berkata tentang wakaf ayahnya berupa rumah, “Sedekah ayahku adalah waqaf yang tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, dan tak boleh diwariskan.” <strong>(<em>Ahkamul Auqaf</em> 14)</strong>.</p>
<p>Namun, wakaf beliau sempat akan dijadikan harta waris oleh sebagian ahli waris beliau, lalu masalah tersebut diangkat ke Marwan, sang gubernur Madinah saat itu, lalu Gubernur tersebut mengumpulkan para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, kemudian mereka <em>radhiyallahu ‘anhum </em>pun memutuskan bahwa harta itu adalah harta wakaf Sa’ad  <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/58780-harta-banyak-yang-tidak-berkah-itu-cepat-hilangnya.html" data-darkreader-inline-color="">Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat Hilangnya</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Az-Zubair bin Al-Awwam <em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></span></h2>
<p>Al-Bukhari <em>rahimahullah</em> berkata, “Az-Zubair <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pernah mewakafkan rumahnya.” <strong>(<em>Sahihul Bukhari</em>)</strong>.</p>
<p>Beliau menyatakan kepada putrinya agar ia menempati rumah tersebut tanpa merugikan dan dirugikan, lalu jika suaminya sudah bisa mencukupi kebutuhannya, maka ia tidak berhak lagi menempati rumah tersebut.</p>
<p>Al-Baihaqi berkata, “Al-Humaidi berkata, ‘Az-Zubair bin Al-Awwam <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mewakafkan rumahnya yang ada di Mekah (Al-Haramiyyah), rumahnya di Mesir, serta hartanya di Madinah kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi,  <em>pent</em>.).” <strong>(<em>As-Sunan Al-Kubra</em>)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu ‘anhum</em></strong></span></h2>
<p>Al-Bukhari <em>rahimahullah</em> berkata, “Ibnu Umar mewakafkan jatah rumah yang didapatkan dari Umar, sebagai tempat tinggal bagi keluarga Abdullah yang membutuhkan.” <strong>(<em>Shahihul Bukhari</em>)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Zaid bin Tsabit <em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></span></h2>
<p>Zaid bin Tsabit <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mewakafkan rumahnya di Baqi’ dan rumahnya yang berada di sebelah masjid <strong>(<em>As-Sunan Al-Kubra</em>)</strong>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57865-bersikap-sewajarnya-dalam-membelanjakan-harta.html" data-darkreader-inline-color="">Bersikap Sewajarnya dalam Membelanjakan Harta</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf ‘Amr bin Al-‘Ash <em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></span></h2>
<p>Berkata Al-Baihaqi, “Al-Humaidi berkata,‘Amr bin Al-‘Ash <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mewakafkan tanahnya di kota Thaif, serta mewakafkan rumahnya di Mekah kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi,  <em>pent</em>.).’” <strong>(<em>As-Sunan Al-Kubra</em>)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Khalid bin Al-Walid <em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></span></h2>
<p>Al-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya bahwa, “Khalid bin Al-Walid <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mewakafkan rumahnya di Madinah, tidak dijual, dan tidak diwariskan. Dan wakafnya itu masyhur.” <strong>(<em>Ahkamul Auqaf</em>)</strong>.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda tentang wakaf Khalid yang lainnya,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>وَأَمَّا خَالِدٌ : فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا، قَدِ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتُدَهُ فِي سَبِيلِ الله</strong></span></p>
<p>“Dan adapun Khalid, maka sesungguhnya kalian menzalimi Khalid <strong>[2]</strong>, beliau telah mewakafkan baju besinya dan peralatan perangnya di jalan Allah.” <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Hakim bin Hizam <em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></span></h2>
<p>Disebutkan oleh Ibnu Syabbah bahwa beliau (Hakim bin Hizam) <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mewakafkan rumahnya, tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak pula diwariskan.” <strong>(<em>Taariikhul Madiinah</em>)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></span></h2>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mewakafkan rumahnya di Madinah Al-Munawwarah.</p>
<p>Al-Bukhari berkata, “Anas mewakafkan sebuah rumah, beliau pun dahulu jika mendatangi rumah tersebut, singgah padanya.” <strong>(<em>Shahihul Bukhari</em>)</strong>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/50749-ilmu-agama-itu-lebih-berharga-daripada-harta-benda.html" data-darkreader-inline-color="">Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></span></h2>
<p>Ibnu Syabbah menyebutkan dengan sanadnya sampai Nu’aim bin Abdullah berkata,</p>
<p>“Saya mempersaksikan Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mewakafkan tanahnya.” <strong>(<em>Taariikhul Madiinah</em>)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em></strong></span></h2>
<p>Al-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya kepada Hasyim bin Ahmad bahwa ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> membeli rumah, dan menuliskan (catatan) saat membelinya,</p>
<p>“Sesungguhnya saya membeli rumah dan berniat sesuai dengan tujuanku dalam membelinya: diantaranya untuk tempat tinggal si A dan untuk keturunannya yang masih hidup setelahnya, dan untuk tempat tinggal si B (tak ada keterangan: ‘dan untuk keturunannya’), kemudian setelah itu dikembalikan kepada keluarga Abu Bakr.” <strong>(<em>Ahkamul Auqaf</em>)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Asma’ binti Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anhum</em></strong></span></h2>
<p>Al-Khashshaf meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anha</em> menyedekahkan rumahnya dalam bentuk wakaf,  tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, dan tak boleh diwariskan <strong>(<em>Ahkamul Auqaf</em>)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong></span></h2>
<p>Al-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya dari Musa bin Ya’qub, dari bibinya, dari bapaknya berkata,</p>
<p>“Saya mempersaksikan sedekah Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam bentuk sedekah wakaf, tak boleh dijual, dan tak boleh dihibahkan.” <strong>(<em>Ahkamul Auqaf</em>)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Ummu Habibah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong></span></h2>
<p>Al-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abdullah bin Bisyr bahwa beliau menyebutkan tentang wakaf Ummu Habibah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, yaitu berupa wakaf kepada budak, anak-anaknya, serta anak dari anak-anaknya, tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan <strong>(<em>Ahkamul Auqaf</em>)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Shafiyyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> </strong></span></h2>
<p>Al-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Manbat Al-Muzani berkata,</p>
<p>“Saya mempersaksikan sedekah Shafiyyah bintu Huyaiy <em>radhiyallahu ‘anha</em> (istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>pent</em>.) berupa wakaf rumahnya untuk Bani Abdan, tak boleh dijual serta tak boleh diwariskan.” <strong>(<em>Ahkamul Auqaf</em>)</strong>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/47513-10-sebab-senantiasa-merasa-miskin-dan-kurang-harta.html" data-darkreader-inline-color="">10 Sebab Senantiasa Merasa Miskin Dan Kurang Harta</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Jabir bin Abdullah Al-Anshari <em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></span></h2>
<p>Al-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Salim Maula Tsabit, dari Amr bin Abdullah berkata,</p>
<p>“Saya memasuki rumah Muhammad bin Jabir bin Abdullah, maka sayapun mengatakan, ‘Kebun mu ada di tempat ini dan itu.’ Muhammad bin Jabir berkata, ‘Kebun itu wakaf dari bapakku (Jabir), tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan.’” <strong>(<em>Ahkamul Auqaf</em>)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Sa’ad bin ‘Ubadah Al-Anshari <em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></span></h2>
<p>Al-Khashshaf menyebutkan bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah Al-Anshari <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mewakafkan sebagian hartanya, tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan.” <strong>(<em>Ahkamul Auqaf</em>)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf ‘Uqbah bin ‘Amir <em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></span></h2>
<p>Al-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abu Su’ad Al-Juhani berkata,</p>
<p>“’Uqbah bin ‘Amir <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menjadikan saya sebagai saksi atas rumah yang disedekahkan sebagai wakaf,  tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan, untuk anaknya, dan anak dari anaknya, lalu jika mereka telah tiada, maka kepada orang yang paling dekat denganku …”. <strong>(<em>Ahkamul Auqaf</em>)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Wakaf Abu Arwa Ad-Dausi <em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></span></h2>
<p>Al-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abu Masurah berkata, “Saya mempersaksikan Abu Arwa Ad-Dausi <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mewakafkan lahan, tak boleh dijual serta tak boleh diwariskan selamanya.” <strong>(Ahkamul Auqaf)</strong>.</p>
<p>Sanad-sanad dari riwayat di atas, meski tidak lepas dari kritikan, namun kemasyhurannya menunjukkan bahwa masalah wakaf adalah masalah yang dikenal luas di kalangan para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Renungan</strong></span></h2>
<p>Mereka, para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>, adalah teladan umat ini, karena mereka adalah umat terbaik dari seluruh umat para Rasul <em>‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Sebagaimana Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ</strong></span></p>
<p><em>“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”</em>  <strong>(QS. Ali-Imran: 110)</strong>.</p>
<p>Dari Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ</strong></span></p>
<p>“Sebaik-baik (umat) manusia adalah kurunku, kemudian orang-orang yang setelah mereka, kemudian setelah mereka.” <strong>(HR. Al-Bukhari &amp; Muslim)</strong>.</p>
<p>Para pembaca, persembahkan wakaf dari diri anda kepada Allah <em>ta’ala</em>, Tuhan alam semesta, baik banyak atau sedikit wakaf anda tersebut, agar anda berada dalam barisan orang-orang yang shaleh dengan mengikuti jalan <em>salafus shalih</em>, mendapatkan pahala amal jariah, sebagai umur kedua anda setelah anda meninggal dunia, serta sebagai salah satu bukti dari kebaikan iman Anda.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45039-mengapa-disebut-sebagai-budak-harta.html" data-darkreader-inline-color="">Mengapa Disebut Sebagai “Budak Harta”</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43401-berkorban-harta-untuk-menuntut-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">Berkorban Harta Untuk Menuntut Ilmu</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><em>Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimu shalihat</em>.</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu Ukasyah</span></a></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Catatan Kaki</strong></p>
<p><strong>[1] </strong>Diintisarikan dari <a href="http://almoslim.net/node/267942">almoslim.net</a>.</p>
<p><strong>[2] </strong>Mereka meminta kepada Khalid zakat mal baju besi dan peralatan perangnya karena menyangka bahwa barang-barang itu adalah barang dagangan Khalid <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p><strong>[3] </strong>Bahwa aslinya adalah حائط yang bisa bermakna dinding, namun juga bisa bermakna kebun, <em>wallahu a’lam</em>. Mungkin makna “kebun” lah yang lebih mendekati kebenaran.</p>
 