
<h2><strong>Wakaf Harta Sengketa</strong></h2>
<p><em>Bolehkah wakaf objek yang masih sengketa?</em></p>
<p><strong>Jawab: </strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Objek sengketa dalam wakaf bisa kita bagi menjadi 2:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, harta sengketa yang belum jelas kepemilikannya.</p>
<p>Wakaf semacam ini tidak diperbolehkan. Karena kepemilikan belum jelas.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, harta sengketa yang sudah jelas kepemilikannya</p>
<p>Harta semacam ini diistilahkan dengan <em>al-Musya’</em>. Misal, tanah atau rumah atau properti milik bersama semua ahli waris. Harta milik bersama ini disebut <em>mal</em> <em>musya’</em>.</p>
<p>Wakaf harta musya’ dibolehkan. Bahkan hal ini pernah dilakukan oleh Umar bin Khatab ketika beliau memiliki jatah tanah di Khaibar.</p>
<p>Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> bercerita,</p>
<p>Umar bin Khatab memiliki saham 100 dari tanah Khaibar. Lalu beliau laporkan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Umar mengatakan,</p>
<p class="arab">أَصَبْتُ أَرْضًا لَمْ أُصِبْ مَالاً قَطُّ أَنْفَسَ مِنْهُ ، فَكَيْفَ تَأْمُرُنِى بِهِ</p>
<p>“Saya mendapat sebidang tanah, dimana tidak ada harta yang lebih berharga bagiku dari pada tanah itu. Apa yang anda sarankan untukku terhadap tanah itu?”</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberi saran,</p>
<p class="arab">إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا ، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا</p>
<p><em>“Jika mau, kamu bisa mempertahankan tanahnya dan kamu bersedekah dengan hasilnya.”</em> (HR. Bukhari 2772)</p>
<p>Kemudian Umar mewakafkan tanah itu.</p>
<p>Hadis ini dalil, bolehnya wakaf harta musya’ (milik bersama).</p>
<p>Dalam Mawahib al-Jalil dinyatakan,</p>
<p class="arab">يجوز وقف العقار سواء كان شائعا كما لو وقف نصف داره أو غير شائع</p>
<p>Boleh melakukan wakaf tanah milik bersama, sebagaimana boleh wakaf setengah rumah atau tanah yang bukan milik bersama. (Mawahib al-Jalil, 7/626).</p>
<p>Keterangan lain disampaikan as-Sarkhasi,</p>
<p class="arab">ولو وقف نصف أرض أو نصف دار مشاعا على الفقراء فذلك جائز في قول أبي يوسف رحمه الله، لأن القسمة من تتمة القبض</p>
<p>Jika ada orang yang wakaf harta musya’, setengah tanahnya atau setengah rumahnya kepada orang fakir, hukumnya boleh, menurut pendapat Abu Yusuf rahimahullah. Karena pembagian merupakan penyempurna qabdh (serah terima).  (al-Mabsuth, 12/64).</p>
<p><em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)</strong></p>
<p><strong>PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 