
<p><iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/566933421&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe></p>
<h2><strong>Waktu Walimahan</strong></h2>
<p><em>Kapan waktu walimah yang paling afdhal? Bolehkah menunda walimah, shg tidak langsung dilakukan setelah akad.</em></p>
<p><strong>Jawab: </strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Ada 2 acara yang perlu dibedakan dalam pernikahan,</p>
<p>[1] Akad nikah dan [2] Walimah nikah. Dua hal ini berbeda, meskipun umumnya masyarakat sering menggabungkannya.</p>
<p>Akad nikah adalah pernyataan akad atau <em>ijab qabul</em> antara seorang lelaki dengan wali seorang wanita untuk membangun ikatan keluarga sesuai cara yang ditetapkan syariat.</p>
<p>Sementara walimah nikah adalah acara makan-makan yang diselenggarakan untuk merayakan pernikahan.</p>
<p>Berdasarkan pengertian di atas, walimah nikah baru ada jika akad nikah telah dilakukan. Karena acara walimah nikah adalah turunan dari akad nikah. Karena itu, jika ada orang yang menyelenggarakan walimah nikah sebelum akad nikah, maka tidak disebut sebagai walimah nikah.</p>
<p>Lalu kapan waktu yang tepat melaksanakan walimah nikah?</p>
<p>Ada beberapa keterangan dalam dalil yang bisa kita jadikan sebagai acuan dalam hal ini.</p>
<p>[1] Hadis dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">بَنَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِامْرَأَةٍ فَأَرْسَلَنِى فَدَعَوْتُ رِجَالاً إِلَى الطَّعَامِ</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah kumpul dengan istri barunya, lalu beliau menyuruhkan untuk mengundang para sahabat untuk makan. (HR. Bukhari 5170)</p>
<p>[2] Peristiwa pernikahan Abdurrahman bin Auf <em>radhiyallahu ‘anhu.</em></p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bercerita,</p>
<p class="arab">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ وَعَلَيْهِ رَدْعُ زَعْفَرَانٍ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَهْيَمْ ». فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً. قَالَ « مَا أَصْدَقْتَهَا ». قَالَ وَزْنَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ. قَالَ « أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ ».</p>
<p>Bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihat Abdurrahman bin Auf sementara ada bekas za’faran di bajunya. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya, “Apa yang terjadi dengan kamu?”</p>
<p>“Ya Rasulullah, saya telah menikahi seorang wanita.” Jawab Abdurrahman.</p>
<p>“Berapa maharnya?” Tanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p>“Setengah dinar.” Jawab Abdurrahman.</p>
<p>Kemudian beliau bersabda, <em>“Adakan walimah, meskipun dengan seekor kambing.”</em> (HR. Muttafaq ‘alaih).</p>
<p>Berdasarkan hadis di atas, para ulama menyimpulkan bahwa waktu yang tepat – sesuai sunah – untuk pelaksanaan walimah nikah adalah setelah malam pertama atau setelah hubungan badan.</p>
<p>As-Shan’ani membawakan beberapa keterangan ulama tentang ini,</p>
<p class="arab">وصرح الماوردي من الشافعية بأنها عند الدخول.  قال السبكي : والمنقول من فعل النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنها بعد الدخول .وكأنه يشير إلى قصة زواج زينب بنت جحش ، لقول أنس : أصبح النبي صلى الله عليه وآله وسلم عروساً بزينب ، فدعا القوم</p>
<p>Al-Mawardi – ulama Syafiiyah – menegaskan, bahwa walimah dilakukan setelah hubungan badan. As-Subki – ulama Syafiiyah – mengatakan, ‘Menurut riwayat dari praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa walimah dilakukan setelah hubungan badan.’ Keterangan beliau mengisyaratkan kisah pernikahan Zainab bintu Jahsy. Sebagaimana kata Anas bin Malik, ‘Di pagi hari, setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menikahi Zainab, lalu beliau undang para sahabat.’ (Subulus Salam, 1/154).</p>
<p>Berbeda dengan pendapat jumhur, menurut Malikiyah, walimah diadakan sebelum hubungan badan, setelah pengantin dipertemukan. Dalam Fathul Bari dinyatakan,</p>
<p class="arab">واستحب بعض المالكية أن تكون عند البناء ويقع الدخول عقبها وعليه عمل الناس اليوم</p>
<p>Sebagian Malikiyah menganjurkan agar walimah diadakan setelah pertemuan pengantin, dan hubungan badan dilakukan setelah walimah. Dan itu yang dilakukan masyarakat saat ini. (Fathul Bari, 9/231).</p>
<p>Ada juga ulama yang menganjurkan agar waktu walimah dikembalikan ke urf (tradisi) yang berlaku di masyarakat. ini merupakan pendapat Ibnu Thulun. (Fashul Khawatim fima Qila fil Walaim, hlm. 44).</p>
<p>Apapun itu, walimah harus dilakukan setelah akad. Mengenai perbedaan pendapat waktunya, sifatnya hanya afdhaliyah (mana yang paling afdhal).</p>
<p><em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)</strong></p>
<p>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Tanya Ustadz untuk Android</strong></a>.<br>
<a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Download Sekarang !!</strong></a></p>
<p><strong>KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 