
<p><strong>Wanita  Ingin Mengulang Hafalan al-Qur’annya Pada Bulan Ramadhan Sementara Dia Sedang  Haidh/Nifas</strong><br>
  Menjaga al-Qur’an merupakan suatu keharusan, karena hal ini  sangat membantu dalam melestarikan hafalan dan menjaganya agar tidak terlepas  dari ingatan (lupa). Manusia sangat cepat melupakan hafalan al-Qur’annya jika  ia tidak selalu mengulangnya dengan <em>muraja’ah</em> (mengulang-ulang bacaan) dan <em>tilawah</em> (membaca). Sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,
 </p>
<p class="arab"> تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنْ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا وَلَفْظُ الْحَدِيثِ لِابْنِ بَرَّادٍ .</p>
<p>  <em>“Ulang-ulangilah (hafalan) al-Qur’an. Demi  Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya al-Qur’an itu lebih cepat  hilang dari hati manusia daripada unta yang terlepas dari ikatannya.”</em> [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 5033) dan Muslim (no. 791) dari Abu Musa <em>radhiyallahu  ‘anhu</em>]<br>
  Hal ini juga dapat terjadi kepada kaum wanita, namun  kemudian timbul permasalahan mengenai hukum yang ditetapkan bagi seorang wanita  haidh atau nifas untuk membaca dan menyentuh al-Qur’an. Telah terjadi perbedaan  pendapat di antara para ulama mengenai boleh atau tidaknya seorang wanita yang  sedang haidh atau nifas menyentuh al-Qur’an dalam rangka membacanya atau  menghafalnya. Pihak yang melarang berdalil dengan firman Allah Ta’ala yang  artinya,</p>
<p class="arab"> لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ </p>
<p>  <em>“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.”</em> (Qs. Al-Waaqi’ah: 79)<br>
  Dan riwayat yang berbunyi,</p>
<p class="arab"> لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ </p>
<p>  <em>“Tidak ada yang menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang  suci.”</em> [Hadits shahih. Lihat <em>Irwaa-ul Ghalil</em> (I/158)]<br>
  Dalil yang digunakan untuk maksud  pelarangan di atas bukan ditujukan kepada orang yang memiliki hadats, baik  hadats besar maupun hadats kecil. Pengecualian yang disebutkan pada surat al-Waaqi’ah ayat 79  dimaksudkan kepada para Malaikat yang disucikan oleh Allah <em>ta’ala</em>,  sebagaimana disebutkan pada ayat sebelumnya bahwa al-Qur’an yang dimaksudkan  adalah yang tersimpan di <em>Lauh  Mahfuzh</em>. Sedangkan pengecualian yang  disebutkan dalam hadits di atas maknanya adalah untuk orang mukmin. Sebagaimana  disabdakan oleh Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> kepada Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p class="arab">إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ  </p>
<p>  <em>“Sesungguhnya  orang mukmin itu tidak najis.”</em> [Hadits shahih. Riwayat Muslim no. ]<br>
  Maka hadits di atas dimaknai  sebagai larangan menyentuh al-Qur’an oleh selain orang mukmin, yaitu orang  musyrik, dan bukan kepada wanita haidh atau nifas.<br>
  Adapun dalil-dalil yang  menyebutkan tentang larangan bagi wanita yang sedang haidh atau nifas membaca  al-Qur’an, semuanya memiliki <em>‘illat</em> atau cacat. Dan tidak ada riwayat  shahih dan <em>sharih</em> (tegas) yang menyebutkan tentang larangan bagi wanita  haidh atau nifas untuk membaca al-Qur’an. Selain itu, ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> pernah menyebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdzikir dalam setiap keadaan, baik dalam keadaan  suci maupun berhadats. [Hadits shahih. Riwayat  Muslim dalam Shahih-nya (I/194)]<br>
  Hadits di atas menunjukkan  tentang bolehnya wanita haidh atau nifas dan orang junub membaca al-Qur’an.  Karena berdzikir secara umum mencakup ke dalam membaca al-Qur’an. [Lihat <em>Syarah Riyadhush Shalihin</em> (IV/389)]<br>
  Dengan demikian, jika dilihat  dari sisi daliliyah, maka wanita haidh maupun nifas boleh menyentuh mushaf  al-Qur’an dalam rangka membacanya dan atau menghafalnya. Namun, membaca  al-Qur’an dan menyentuhnya dalam keadaan suci (berwudhu) adalah <strong>lebih diutamakan</strong>, sebagaimana sabda  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>,</p>
<p class="arab">إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا عَلَى طُهْرٍ أَوْ قَالَ عَلَى طَهَارَةٍ </p>
<p>  <em>“Sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama  Allah (berdzikir) kecuali dalam keadaan suci (berwudhu).”</em> [Hadits shahih. Riwayat Abu Dawud (no. 17),  an-Nasa’i (I/16), Ibnu Majah (no. 350), ad-Daarimi (II/287) dan Ahmad (V/80).  Lihat juga Silsilah ash-Shahiihah (no. 834)]<br>
  Maka solusi lain bagi wanita yang  sedang haidh maupun nifas, jika ingin mengulang hafalan Qur’annya, <em>insya  Allah</em>, dapat dibantu dengan mendengarkan suara qari’ melalui kaset  murattal, atau dapat membuka aplikasi al-Qur’an melalui komputer (atau  perangkat sejenis), atau dapat juga meminta orang lain untuk membacakan ayat  atau surat yang  ingin dihafal. Sesungguhnya Allah hendak memudahkan dan bukan menyulitkan.<br>
  ***<br>
  artikel <a href="https://muslimah.or.id/">muslimah.or.id</a> (Bagian ke 3 dari pembahasan: Problema Muslimah di Bulan Ramadhan)<br>
  Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad</p>
<p>  Lihat <br>
  pembahasan  bagian 1: Belum Mengqadha Hutang Puasa Hingga Datang Ramadhan Berikutnya<br>
  pembahasan  bagian 2: Wanita Mengkonsumsi Obat Pencegah Haidh Agar Dapat Berpuasa Sebulan  Penuh<br>
  <strong>Maraji’:</strong> </p>
<ul type="disc">
<li>
<em>Al-Adzkar an-Nawawi</em>, Imam an-Nawawi;       takhrij, tahqiq dan ta’liq oleh Syaikh Amir bin Ali Yasin, cet. Daar Ibn       Khuzaimah</li>
<li>
<em>Ahkaamul Janaaiz wa       Bida’uha</em>,       Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma’arif</li>
<li>
<em>Ensiklopedi Adab       Islam Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah</em>, ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid       Nada, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i</li>
<li>
<em>Ensiklopedi Fiqh       Wanita</em>,       Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Pustaka Ibnu Katsir</li>
<li>
<em>Fatwa-Fatwa Tentang       Wanita</em>,       Lajnah ad-Daimah lil Ifta’, cet. Darul Haq</li>
<li>
<em>Meneladani Shaum       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali       dan Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali al-Halabi al-Atsari, cet. Pustaka Imam       asy-Syafi’i</li>
<li>
<em>Syarah Riyadhush       Shalihin</em>,       Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i</li>
<li>
<em>Tamamul Minnah fii       Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah</em>, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani,       cet. Daar ar-Raayah</li>
<li>
<em>Tiga Hukum       Perempuan Haidh dan Junub</em>, Abdul Hakim bin Amir Abdat, cet. Darul       Qolam</li>
</ul>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 