
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/53861-wasiat-luqman-bag-2-laa-tusyrik-billah.html" data-darkreader-inline-color="">Wasiat Luqman (Bag. 2) : Laa Tusyrik Billah !</a></span></strong></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Alquran Surat Luqman:14</span></strong></h2>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ</span></p>
<p> </p>
<p><b><i>“ </i></b><i><span style="font-weight: 400;">Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu, hanya kepada-Ku kalian akan kembali.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Luqman : 14)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47188-hukum-mencium-tangan-kaki-orang-tua.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Mencium Tangan dan Kaki Orang Tua</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Perintah Birrul Walidain dan Betapa Agung Kedudukannya dalam Islam</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Allah memerintahkan untuk berbakti kepada keduanya setelah menjelaskan tentang larangan berbuat kesyirikan. Ini menunjukkan berbuat baik kepada kedua orang tua memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berulang kali dalam banyak ayat Allah menyebutkan kewajiban untuk menunaikan hak kedua orang tua setelah memerintahkan untuk menunaikan hak Allah, yaitu hanya beribadah kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Ini menunjukkan bahwa hak kedua orang tua adalah hak yang terbesar setelah hak Allah dan rasul-Nya.  Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman dalam beberapa ayat-Nya : </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua. </span></i><span style="font-weight: 400;">“ (An Nisaa’:36)</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.</span></i><span style="font-weight: 400;">“ (Al Isra’: 23)</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua. </span></i><span style="font-weight: 400;">” (Al An’am 151)</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لاَ تَعْبُدُونَ إِلاَّ اللّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“ Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada kedua orang tua.“</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Al Baqarah : 83). ( </span><i><span style="font-weight: 400;">At Tashiil li Ta’wiil at Tanziil Tafsir Surat Luqman </span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44134-kenapa-seseorang-lari-dari-istri-anak-dan-ayah-ibunya-di-hari-kiamat.html" data-darkreader-inline-color="">Kenapa Seseorang Lari dari Anak, Istri, dan Orang Tuanya di Hari Kiamat?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Bakti kepada Ibu Lebih Utama</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat ini disebutkan bagaimana kesusahan seorang ibu ketika mengandung anaknya :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“ Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya selama dua tahun “</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’ahu</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau bertanya kepada Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu orang yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, hasan).</span></p>
<p><strong>Apakah yang dimaksud firman Allah  (وَهْناً عَلَى وَهْنٍ ) ?</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Mujahid menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kesulitan ketika mengandung anak. Imaam Qatadah menjelaskan maksudnya adalah ibu mengandung dengan penuh usaha yang berat. ‘Atha’ al Kharasani menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung dalam keadaan kondisi lemah yang terus semakin bertambah lemah. (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Qur’an Al ‘Adziim</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Ibnu ‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelasakan bahwa hak ibu lebih wajib ditunaikan daripada hak bapak. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> menyebutkan apa yang dialami ibu berupa berat dan kesulitan saat hamil mengisyaratkan bahwasanya hak ibu lebih besar. Kesulitan yang dialami ibu tidaklah dialami oleh bapak, hanya ibu yang mengalami kesulitan dan rasa berat tersebut. Memang benar bahwa bapak juga mengalami kesulitan yang lain seperti misalnya ketika menceri nafkah atau kesulitan yang lain. Akan tetapi penderitaan fisik bagi seorang ibu ketika hamil tidak seperti yang dialami oleh bapak. Oleh karena itu ibu memiliki hak yang lebih besar untuk ditunaikan daripada bapak. (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Surat Luqman, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/40675-pulang-kampung-kesempatan-berbakti-dan-berdakwah-kepada-orang-tua.html" data-darkreader-inline-color="">Pulang Kampung Kesempatan Berbakti dan Berdakwah Kepada Orang Tua</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Bersyukur Kepada Keduanya Setelah Bersyukur Kepada Allah</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita telah mengetahui bagaiamana beratnya kedua orang tua mengasuh dan mendidik kita sejak kecil, maka menjadi kewajiban kita untuk berterima kasih dan berbakti kepada keduanya. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ</span></p>
<p><b><i>“ </i></b><i><span style="font-weight: 400;">Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku kalian akan kembali.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Luqman : 14)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat lain Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan ucapkanlah: “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil</span></i><span style="font-weight: 400;">” (Al Isra’: 24).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud bersyukur kepada Allah adalah dengan dengan mewujudkan peribadatan hanya kepada-Nya, menunaikan hak-hak Allah, serta tidak menggunakan nikmat yang Allah berikan untuk berbuat maksiat. Adapun bersyukur kepada kedua orang tua yaitu berbuat baik kepada keduanya dengan berkata yang lemah lembut, melakukan perbuatan yang baik, bersikap </span><i><span style="font-weight: 400;">tawadhu’</span></i><span style="font-weight: 400;">, menghormati dan memuliakan mereka, membantu kebutuhan mereka, serta meninggalkan berbagai perkataan maupun perbuatan yang menyakiti mereka”. (</span><i><span style="font-weight: 400;">Taisiir Al Karimir Rahman Tafsir Surat Luqman</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat ini didahulukan penyebutan syukur kepada Allah daripada kepada kedua orang tua. Meskipun hak orang tua sangat besar, namun hak Allah tetap harus didahulukan daripada hak-hak yang lainnya. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/39028-orang-tua-tidak-pernah-menafkahi-wajibkah-anak-tetap-berbakti.html" data-darkreader-inline-color="">Orang Tua Tidak Pernah Menafkahi, Wajibkah Anak Tetap Berbakti?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Faidah-Faidah Ayat</b><span style="font-weight: 400;"> </span></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">1. Ayat ini menunjukkan perhatian dari Allah kepada para hamba dalam berinteraksi dengan kedua orang tua. Oleh karena itu Allah mewasiatkan para hamba untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">2. Allah lebih kasih sayang kepada para orang tua daripada anak kepada kedua orang tuanya, karena Allah lah yang memerintahkan anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> 3. Penjelasan tentang agungnya kedudukan berbakti kepada kedua orang tua karena Allah menjadikannya sebagai wasiat untuk para hamba, yaitu sesuatu perjanjian yang sangat ditekankan yang hendaknya ditunaikan.. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">4. Hak ibu lebih wajib ditunaikan daripada hak bapak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">5. Hendaknya para ibu bersabar ketika mengalami berbagai kesusahan dan rasa berat yang dirasakan selama hamil, karena demikianlah hal yang dialami wanita ketika hamil, sebagaimana Allah berfirman : </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“ Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, ”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Luqman : 14)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">6. Ayat ini menunujukkan bahwa waktu minimal kehamilan normal adalah enam bulan. Hal ini berdasarkan ayat :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“ dan menyapihnya dalam dua tahun “</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sementara dalam ayat lain Allah berfriman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً</span></p>
<p><b>“ </b><i><span style="font-weight: 400;">Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan</span></i><span style="font-weight: 400;"> “ (Al Ahqaf : 15).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Total seluruh masa hamil dan menyusui adalah 30 bulan, sedangkan masa menyusui selama 24 bulan, sehingga minimal masa kehamilan seorang wanita normal adalah 6 bulan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">7. Wajib bersyukur kepada kedua orang tua sebagaimana wajibnya bersyukur kepada Allah. Akan tetapi syukur kepada Allah lebih didahulukan daripada kepada kedua orang tua. </span><span style="font-weight: 400;">( Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Surat Luqman, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga kita dimudahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua kita. Kita berharap mudah-mudahan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengampuni dosa-dosa kita dan dosa kedua orang tua kita.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/28443-kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-antara-dalil-dan-perasaan.html" data-darkreader-inline-color="">Kafirkah Kedua Orang Tua Nabi? (Antara Dalil Dan Perasaan)</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27537-beberapa-adab-terhadap-orang-tua.html" data-darkreader-inline-color="">Beberapa Adab Terhadap Orang Tua</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penulis : <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/adika" data-darkreader-inline-color="">Adika Mianoki</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Referensi :</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">. </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsiir Al Qur’an Al ‘Adzim Surat Luqman</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Imam Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimaullah</span></i><span style="font-weight: 400;">  </span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">. </span><i><span style="font-weight: 400;">Taisiir Al Kariimi Ar Rahman Surat Luqman</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Sayaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">. Tafsiir Al Qur’an Al Kariim Surat Luqman</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin</span><i><span style="font-weight: 400;"> rahimahullah</span></i>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">. At Tashiil li Ta’wiil at Tanziil Surat Luqman</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Musthofa al ‘Adawiy </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah</span></i>
</li>
</ol>
 