
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/54118-wasiat-luqman-bag-3-birrul-walidain.html" data-darkreader-inline-color=""> Wasiat Luqman (Bag. 3) : Birrul Walidain</a></span></strong></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Ketaatan pada Orang Tua Tidak Mutlak</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Pembahasan ayat sebelumnya menjelaskan tentang wajibnya berbakti kepada orang tua dan berbuat baik kepada mereka. Namun ketaatan kepada mereka tidak secara mutlak dalam seluruh perkara. Selama itu dalam ketaatan pada Allah atau masih dalam kebaikan, maka perintah mereka harus ditaati. Adapun jika mereka memerintahkan untuk berbuat syirik, maksiat dan bid’ah, maka tidak ada ketaatan kepada keduanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ</span></p>
<p><b><i>“ </i></b><i><span style="font-weight: 400;">Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mentaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.“</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Luqman : 15)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47359-berikut-ini-bukan-durhaka-kepada-orang-tua.html" data-darkreader-inline-color="">Berikut Ini Bukan Durhaka Kepada Orang Tua</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Jika Orangtua Menyuruh Berbuat Syirik </span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila orang tua menyuruh untuk berbuat syrik, maka Allah melarang untuk mentaatinya. Allah berfirman : </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“ Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mentaati keduanya !“</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam firman Allah (فَلَا تُطِعْهُمَا) “</span><i><span style="font-weight: 400;">janganlah kamu mentaati keduanya” </span></i><span style="font-weight: 400;">terdapat dua faedah :</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">. Tidak boleh mantaati kedaunya dalam melakukan perbuatan syirik karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perbuatan maksiat kepada Allah Al Khaliq. Hak  Allah lebih wajib ditunaikan daripada hak kedua orang tua. </span></li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">. Allah menggunakan ungkapan (فَلَا تُطِعْهُمَا) “</span><i><span style="font-weight: 400;">jangan mentaati keduanya</span></i><span style="font-weight: 400;">” dan tidak menggunakan ungkapan </span><b>(فاعصهما) </b><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">selisihlah keduanya</span></i><span style="font-weight: 400;">” karena ungkapan yang pertama lebih lembut dan mudah diterima jiwa. Begitu pula tidak digunakan ungkapan </span><b>(لا تبرهما)</b><span style="font-weight: 400;"> “</span><i><span style="font-weight: 400;">janganlah berbuat baik kepada keduanya</span></i><span style="font-weight: 400;">” atau </span><b>(لا تقم بحقهما)</b><span style="font-weight: 400;"> “</span><i><span style="font-weight: 400;">janganlah tunaikan hak keduanya</span></i><span style="font-weight: 400;">” karena berbuat baik dan menunaikan hak keduanya adalah kewajiban meskipun mereka menyuruh untuk berbuat syirik. </span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kedua orang tua masih punya hak meskipun memerintahkan kesyirikan, maka bagaimana lagi jika mereka memerintahkan yang selain syirik ? Hal ini menunjukkan bahwa menunaikan hak kedua orangtua merupakan perkara yang agung dan bukanlah perkara yang remeh dalam Islam.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimanapun keadaan orang tua, kita diwajibkan oleh Allah untuk berbakti kepada mereka, selama bukan merupakan perkara maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika orang tua memerintahkan kita untuk bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban untuk mentaati perintah mereka. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> telah bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR dan Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Ahmad, shahih)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan dalam tafsirnya bahwasanya jangan disangka mentaati keduanya dalam perbuatan syirik adalah termasuk bentuk ihsan (berbuat baik) kepada keduanya. Hak Allah tentu lebih diutamakan dan didahulukan daripada hak siapapun. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat pada Al Khaliq (Sang Pencipta). Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidaklah mengatakan, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka </span><b>(</b><b><i>فعقهما</i></b><b>) </b><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">durhakailah keduanya</span></i><span style="font-weight: 400;"> . Namun Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> katakan (فَلَا تُطِعْهُمَا)  </span><i><span style="font-weight: 400;">“janganlah mentaati keduanya”</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu dalam berbuat syirik. Adapun dalam berbuat baik pada orang tua maka tetap harus dilakukan. ” (Taisir Al Karimir Rahman)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47188-hukum-mencium-tangan-kaki-orang-tua.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Mencium Tangan dan Kaki Orang Tua</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Tetap Berbuat Baik Meskipun Orangtua Musyrik</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Andaikan orang tua musyrik, seeorang anak tetap diwajibkan berbuat baik kepadanya. Dalam lanjutan ayat Allah berfirman : </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً </span></p>
<p><b><i>“ </i></b><i><span style="font-weight: 400;">…  dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik“</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Luqman : 15)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh As Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan dalam tafsirnya, “ Adapun dalam berbuat baik pada orang tua maka tetap harus dilakukan, oleh karena itu selanjutnya Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman (yang artinya), “pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”. Adapun mengikuti mereka dalam kekufuran dan maksiat maka tidak diperbolehkan.“ (Taisir Al Karimir Rahman).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun bentuk berbuat baik kepada orang tua yang kafir di antaranya adalah dengan </span><span style="font-weight: 400;">membantu memberikan harta jika mereka fakir dan miskin, berkata-kata lemah lembut kepada keduanya, mendakwahi mereka, serta mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah Islam. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/39028-orang-tua-tidak-pernah-menafkahi-wajibkah-anak-tetap-berbakti.html" data-darkreader-inline-color="">Orang Tua Tidak Pernah Menafkahi, Wajibkah Anak Tetap Berbakti?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Mengikuti Jalan Orang yang Taat</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Selanjtnya Allah perintahkan :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ</span></p>
<p><b><i>“ </i></b><i><span style="font-weight: 400;">.. dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.“</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Luqman : 15)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksudnya adalah kita diperintahkan agar mengikuti orang-orang mukmin yang kembali bertaubat kepada Allah. Bertaubat dari perbuatan syirik menuju tauhid, dari maksiat menuju taat, dan dari perbuatan fasik menuju istiqomah dan taqwa. </span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Faidah Ayat</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara faidah surat Luqman ayat 15 adalah :</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">. Haramnya mentaati kedua orang tua apabila mereka memerintahkan untuk berbuat syirik. Termasuk dalam hal ini tidak boleh mantaati berbagai kemaksiatan lain yang mereka perintahkan.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">. Perbuatan kefasikan dan kekufuran yang dilakukan kedua orang tua tidaklah menggugurkan hak keduanya untuk mendapatkan kebaikan. Allah memerintahkan tetap berbuat baik kepada keduanaya meskipun mereka berdua kafir dan memerintahkan untuk berbuat kekafiran. </span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">. Wajibnya mengikuti jalannya orang-orang beriman. Allah berfirman :</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ </span></p>
<p><b><i>“ </i></b><i><span style="font-weight: 400;">.. dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku“</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat lain Allah berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. </span></i><span style="font-weight: 400;">“ (An Nisa’:115) </span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">. Seluruh makhluk, baik orang mukmin maupun kafir semuanya akan kembali kepada Allah, karena Allah berfirman :</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"> ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ</span></p>
<p><b><i>“ </i></b><i><span style="font-weight: 400;">kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.“</span></i></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">. Luasnya pengilmuan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> terhadap segala sesuatu. Hal ini ditunjukkan dalam potongan ayat : </span>
</li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"> فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ</span></p>
<p><b><i>“ </i></b><i><span style="font-weight: 400;">kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini menunjukkan bahwa Allah memiliki kesempurnaan sifat ilmu sehingga bisa mengetahui segala sesuatu yang diperbuat oleh seluruh hamba-Nya di dunia. Dalam ayat ini sekaligus terdapat peringatan agar menjauhi amalan kejelekan sehingga tidak terjerumus ke dalamnya, karena setiap amal kebaikan dan kejelekan akan mendapatkan balasannya. </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/28700-orang-tua-dan-anak-saling-mengangkat-derajat-di-akhirat.html" data-darkreader-inline-color="">Orang Tua Dan Anak Saling Mengangkat Derajat Di Akhirat</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/28443-kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-antara-dalil-dan-perasaan.html" data-darkreader-inline-color="">Kafirkah Kedua Orang Tua Nabi? (Antara Dalil Dan Perasaan)</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penulis : <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/adika" data-darkreader-inline-color="">Adika Mianoki</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Referensi :</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">. </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsiir Al Qur’an Al ‘Adzim Surat Luqman</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Imam Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimaullah</span></i><span style="font-weight: 400;">  </span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">. </span><i><span style="font-weight: 400;">Taisiir Al Kariimi Ar Rahman Surat Luqman</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Sayaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">. Tafsiir Al Qur’an Al Kariim Surat Luqman</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin</span><i><span style="font-weight: 400;"> rahimahullah</span></i>
</li>
</ol>
 