
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55541-wasiat-luqman-bag-7-jangan-sombong.html" data-darkreader-inline-color="">Wasiat Luqman (Bag.7) : Jangan Sombong !</a></span></strong></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">QS. Luqman Ayat 19</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Nasihat Luqman selanjutnya adalah pelajaran untuk senantiasa tawadhu’ dan tidak sombong, baik ketika berjalan maupun berbicara. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“ Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan pelankanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”</span></i><strong> (QS. Luqman : 19)</strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Berjalanlah dengan Tawadhu’</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan sederhanalah kamu dalam berjalan</span></i><span style="font-weight: 400;"> ”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan maksudnya adalah bersikap pertengahan dalam segala hal, termasuk saat berjalan. Sikap pertengahan dalam berjalan adalah tidak terlampau cepat namun juga tidak lambat. Sikap pertengahan ini hendaknya diterapkan dalam segala hal. Oleh karena itu di antara doa yang Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> ucapkanlah adalah :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْغِنَى وَالْفَقْرِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Aku minta kepada-Mu agar aku bisa melaksanakan sikap pertengahan (kesederhanaan) dalam keadaan kaya atau fakir. </span></i><span style="font-weight: 400;">” <strong>( HR. Ahmad, shahih)</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Makna </span><b>(</b><b>الْقَصْدَ</b><b>)</b><span style="font-weight: 400;"> adalah sikap pertengahan dalam seluruh perkara. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga berfirman : </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَاماً</span></p>
<p><b>“ </b><i><span style="font-weight: 400;">Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.</span></i><span style="font-weight: 400;">” <strong>(QS. Al Furqan : 67) (</strong></span><strong><i>Tafsiir Al Qur’an Al Kariim Surat Luqman</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan maksudnya berjalanlah dengan sikap pertengahan. Jangan terlalu lambat seperti orang malas dan jangan pula terlalu cepat seperti orang yang tergesa-gesa. Namun bersikaplah adil dan pertengahan dalam berjalan, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.”<strong> (</strong></span><strong><i>Tafsiir Al Qur’an Al ‘Adzim</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdurrahman As Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan ayat ini bahwa maksudnya berjalanlah dengan tawadhu’ dan sikap tenang. Jangan bersikap sombong dan takabbur serta jangan pula berjalan seperti orang yang malas. ” <strong>(</strong></span><strong><i>Taisir Al Karimir Rahman</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang mukmin hendaknya memiliki sifat tawadhu’, termasuk ketika berjalan. Sikap tawadhu’ akan menjadikan seorang mulia. Hal ini dijelaskan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam sabda beliau :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya</span></i><span style="font-weight: 400;">”<strong> (HR. Muslim). </strong></span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Adab Tatkala Berbicara</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Luqman kemudian mengajarkan pada anaknya bagaimana adab ketika berbicara. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah larangan melampaui batas dalam berbicara dan berbicara keras dalam hal yang tidak bermanfaat. Oleh karena itu disebutkan dalam ayat bahwa sejelek-jelek suara adalah suara keledai. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Mujahid </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Sejelek-jelek suara adalah suara keledai.” Barangsiapa yang berbicara dengan suara keras, maka ia mirip dengan keledai dalam hal mengeraskan suara. Suara yang seperti ini dibenci oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Disebutkan adanya keserupaan menunjukkan akan keharaman bersuara keras dan tercelanya perbuatan semacam itu sebagaimana Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السَّوْءِ ، الَّذِى يَعُودُ فِى هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَرْجِعُ فِى قَيْئِهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidak ada bagi kami permisalan yang jelek. Orang yang menarik kembali pemberiannya adalah seperti anjing yang menjilat kembali muntahannya</span></i><span style="font-weight: 400;">”<strong> (HR. Bukhari) (</strong></span><strong><i>Tafsiir Al Qur’an Al ‘Adzim</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan bahwa merendahkan suara adalah bentuk beradab dalam berbicara kepada manusia dan adab ketika berbicara kepada Allah. Suara keledai adalah suara yang jelek dan menakutkan. Seandainya mengeraskan suara dianggap ada faidah dan manfaatnya, tentu tidak disebutkan secara khusus dengan suara keledai yang sudah diketahui hina dan pandirnya hewan tersebut.”<strong> (</strong></span><strong><i>Taisiir Al Kariimi Ar Rahman</i> ).</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/35035-sombong-kepada-orang-sombong-adalah-sedekah.html" data-darkreader-inline-color="">Sombong Kepada Orang Sombong Adalah Sedekah?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Faidah Ayat</b></span></h2>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Manusia hendaknya berajalan dengan sikap yang pertengahahn. Tidak terlalu tergesa-gesa dan tidak terlalu lambat karena keduanya tercela. Namun tetap diperbolehkan dalam kondisi tertentu yang memang dibutuhkan untuk berjalan cepat. </span></li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Tidak sepantasnya setiap insan berjalan cepat dan jangan pula berjalan lambat sehingga tidak mendapatkan yang diinginkan. Adapun bersegera berjalan untuk mendapatkan kebaikan maka Allah telah memerintahkannya asalkan tidak melampaui batas, seperti sabda Nabi</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> : </span>
</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلاَ تُسْرِعُوا </b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jika kalian mendengar iqomah, maka segeralah berjalanlah menuju shalat. </span></i><i><span style="font-weight: 400;">Hendaknya anda dalam kondisi tenang dan pelan. Jangan tergesa-gesa</span></i><b>.</b><span style="font-weight: 400;">”<strong> (HR. Bukhari dan Muslim)</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hendaknya setiap manusia merendahkan suaranya, karena Allah berfirman : </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span> <i><span style="font-weight: 400;">Dan rendahkanlah suaramu.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun dalam kondisi tertentu diperbolehkan meninggikan suara semisal ketika adzan, khutbah, dan kondisi lain yang meemang diperlukan. </span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;">Meninggikan suara yang tidak pada tempatnya termasuk perbuatan haram, karena Allah berfirman :</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disebutkannya penyerupaan dalam ayat ini agar dihindari perbuatan yang semisal tersebut. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ليس لنا مثل السوء</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Tidak ada bagi kami permisalan yang jelek</span></i><span style="font-weight: 400;"> “ <strong>(HR. Bukhari)</strong></span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Ayat di atas menunjukkan bahwa suara keledai adalah suara yang tercela</span></li>
</ul>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27448-kesombongan-menghalangi-hidayah.html" data-darkreader-inline-color="">Kesombongan Menghalangi Hidayah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/19778-isbal-tanpa-bermaksud-sombong-tetap-diingkari-oleh-nabi.html" data-darkreader-inline-color="">Isbal Tanpa Bermaksud Sombong, Tetap Diingkari Oleh Nabi</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penulis : <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/adika" data-darkreader-inline-color="">Adika Mianoki</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Referensi :</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">. </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsiir Al Qur’an Al ‘Adzim Surat Luqman</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Imam Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimaullah</span></i><span style="font-weight: 400;">  </span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">. </span><i><span style="font-weight: 400;">Taisiir Al Kariimi Ar Rahman Surat Luqman</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Sayaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">. Tafsiir Al Qur’an Al Kariim Surat Luqman</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin</span><i><span style="font-weight: 400;"> rahimahullah</span></i>
</li>
</ol>
 