
<p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta  alam. Shalawat dan salam  semoga tercurah kepada penutup para rasul,  kepada para keluarga dan  sahabat beliau.</em></p>
<p>Dari ‘Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash <em>radhiallahu ‘anhuma</em>, dia mengatakan,</p>
<h3 style="text-align: center;">أن أبا بكر الصديق رضي الله عنه قال للنبي   صلى الله عليه وسلم: يا رسول الله علمني دعاء أدعو به في صلاتي قال: «قل   اللهم إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا أنت فاغفر لي من عندك   مغفرة إنك أنت الغفور الرحيم</h3>
<p>“Abu Bakr <em>radhiallahu ‘anhu</em> pernah berkata kepada nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Wahai rasulullah, ajarilah aku sebuah do’a yang bisa kupanjatkan dalam shalatku.” Nabi menjawab, “Katakanlah, <em>Allahumma   inni zhalamtu nafsi zhulman katsira wa laa yaghfirudz dzunuba illa  anta  faghfirli min ‘indika maghfiratan innaka antal ghafurur rahim</em> (Ya  Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzhalimi diri sendiri dan  tidak  ada yang mampu mengampuni dosa melainkan Engkau, maka berilah  ampunan  kepadaku dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau maha pengampun dan  maha  penyayang.”<a href="http://ikhwanmuslim.com/manajemen-hati/ya-allah-sungguh-aku-telah-banyak-menzhalimi-diri#_ftn1">[1]</a></p>
<p>  <!--more-->  </p>
<p> </p>
<p>Saudaraku, sidang pembaca yang dimuliakan Allah. Cobalah Anda memerhatikan dan merenungkan hadits yang agung ini. Bagaimana <em>Ash Shiddiqul Akbar</em>, Abu Bakr <em>radhiallahu ‘anhu</em> meminta kepada nabi agar mengajarkan sebuah do’a untuk dipanjatkan   dalam shalatnya, dan nabi pun memerintahkan beliau untuk mengucapkan   do’a di atas. Padahal kita semua tahu kedudukan Abu Bakr. Menurut anda,   bagaimana dengan diri kita, yang senantiasa melampaui batas terhadap   dirinya sendiri, apa yang layak kita ucapkan?!</p>
<p>Mengenai keutamaan Abu Bakr disebutkan dalam hadits Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bertanya kepada sahabatnya,</p>
<h3 style="text-align: center;">«من أصبح منكم اليوم صائما؟ قال أبو بكر:   أنا، قال: فمن تبع منكم اليوم جنازة؟ قال أبو بكر: أنا، قال: فمن أطعم  منكم  اليوم مسكينا؟ قال أبو بكر: أنا، قال فمن عاد منكم اليوم مريضا؟ قال  أبو  بكر: أنا، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: ((ما اجتمعن في امرئ إلا  دخل  الجنة))</h3>
<p>Siapakah diantara kalian yang memasuki  waktu pagi dalam keadaan  berpuasa di hari ini? Abu Bakr menjawab,  “Saya.” Rasulullah balik  bertanya, “Siapakah diantara kalian yang  mengiringi jenazah pada hari  ini?” “Saya”, jawab Abu Bakr. “Rasulullah  bertanya, “Siapakah diantara  kalian yang member makan kepada orang  miskin pada hari ini?” Abu Bakr  kembali menjawab, “Saya.” Rasulullah  kembali bertanya, “Siapakah  diantara kalian yang membesuk orang sakit  pada hari ini?” Abu Bakr  menjawab, “Saya.” Maka nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun bersabda, “Tidaklah seluruh perkara tersebut terkumpul pada diri seserang melainkan dia akan masuk surga.”<a href="http://ikhwanmuslim.com/manajemen-hati/ya-allah-sungguh-aku-telah-banyak-menzhalimi-diri#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Benar, dialah Abu Bakr, wahai saudaraku, pribadi terbaik umat ini setelah nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sesuai kesepakatan ahli sunnah, tanpa ada khilaf. Barangsiapa yang   mengingkari status sahabat beliau, sungguh dia telah mendustakan firman   Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<h3 style="text-align: center;">ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا</h3>
<p><em>Dia salah seorang dari dua orang  ketika keduanya berada dalam  gua, di waktu dia berkata kepada temannya:  “Janganlah kamu berduka  cita, sesungguhnya Allah beserta kita.”</em> (At Taubah: 40).</p>
<p>Dan barangsiapa yang mendustakan Allah, sungguh dia telah terjerumus ke dalam kekafiran!</p>
<p>Abu Bakr <em>radhiallahu ‘anhu</em> adalah sahabat nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bahkan sahabat yang paling utama dan telah dipastikan akan masuk surga, meski demikian nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menuntun beliau untuk senantiasa mengucapkan,”Wahai Allah sesungguhnya aku telah banyak menzhalimi diri.”</p>
<p>Saudaraku, bukankah diri kitalah yang  lebih pantas mengucapkan do’a  di atas? Bukankah kita senantiasa berbuat  dosa sepanjang siang dan  malam? Apabila memasuki waktu pagi, kita tidak  sadar akan dosa dan  kesalahan yang telah diperbuat kecuali hanya sedikit  saja, kita sangat  jarang mengetahui betapa minimnya usaha kita dalam  menjalankan berbagai  kewajiban? Bukankah kita senantiasa merasa bahwa  tidak ada seorang pun  yang lebih baik dari diri kita, bukankah kita  senantiasa memandang  kitalah yang paling baik dalam beragama? Demi  Allah, wahai saudaraku,  sesungguhnya seluruh hal tersebut adalah  penyakit yang akut.</p>
<h3 style="text-align: center;">فإن كنت تدري فتلك مصيبة * وإن كنت لا تدري فالمصيبة أعظم</h3>
<p><em>Apabila engkau tahu, maka itulah musibah</em></p>
<p><em>Dan jika ternyata engkau tidak tahu, maka musibahnya lebih besar</em></p>
<p>Oleh karena itu, saya mengajak diri  saya dan Anda sekalian untuk  rehat dan mengoreksi diri di setiap saat.  Mari kita memperbanyak  istighfar dan taubat serta senantiasa kembali  kepada-Nya.</p>
<p>Ketahuilah saudaraku, semoga Allah  memberikan taufik-Nya kepadaku  dan dirimu, mengakui dosa merupakan jalan  menuju taubat dan sebab  turunnya maghfirah. Anda tentu tahu hadits <em>Sayyidul Istighfar</em> yang masyhur, bukankah di  dalam hadits tersebut tercantum lafadz do’a berikut,</p>
<h3 style="text-align: center;">وأبوء بذنبي فاغفر لي فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت</h3>
<p><em>Saya mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang kuasa mengampuni melainkan Engkau semata.</em><a href="http://ikhwanmuslim.com/manajemen-hati/ya-allah-sungguh-aku-telah-banyak-menzhalimi-diri#_ftn3"><em><strong>[3]</strong></em></a><em> </em></p>
<p>Perhatikan, wahai Saudaraku, mengakui dosa merupakan awal perjalanan taubat.</p>
<p>Oleh karenanya, marilah kita menyesali  segala dosa dan tindakan  melampaui batas yang telah diperbuat, begitu  pula berbagai kewajiban  yang telah dikerjakan dengan penuh kekurangan.  Dengan demikian, wahai  saudaraku, seorang yang berakal, jika melihat  orang yang lebih tua akan  berujar di dalam hati, “Beliau telah terlebih  dahulu beribadah kepada  Allah daripada diriku”; jika melihat orang yang  lebih muda, dia  berujar, “Saya telah mendahuluinya dalam hal dosa”; jika  melihat  da’i-da’i pemberi petunjuk, dia mencintai dan berusaha  meneladani  mereka; dan apabila melihat mereka yang tersesat dan  tenggelam dalam  kubangan kemaksiatan, dirinya memuji Allah <em>ta’ala</em> dan tidak  mencela mereka. Bahkan dia memanjatkan pujian kepada-Nya  karena telah  melindungi dari kesesatan yang menimpa mereka, dia memuji  Allah karena  telah mengutamakan dirinya dengan petunjuk-Nya dari sekian  banyak  makhluk-Nya.</p>
<p>Seandainya Allah ingin, tentulah dia  akan semisal dengan mereka.  Dengan demikian, dia tidak akan merasa  tinggi hati, bahkan kepada  pelaku maksiat dan mereka yang tersesat. Dia  justru merasa kasihan dan  merasa sayang serta berusaha untuk memperbaiki  mereka, di samping dia  berkewajiban untuk membenci tindakan mereka yang  telah menyelisihi  perintah Allah dan rasul-Nya. Perkara inilah yang  patut diteliti dan  diperhatikan.</p>
<p>Akhir kata, saya memohon kepada Allah  agar memberi ampunan dari  sisi-Nya dan mencurahkan rahmat-Nya kepada  kita dan segenap kaum  muslimin. <em>Walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.</em></p>
<p>Diterjemahkan dari artikel Dr. Salim ath Thawil yang berjudul “<em>Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsira</em>“.</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://ikhwanmuslim.com/">Muhammad Nur Ichwan Muslim</a></p>
<p>Artikel <a href="undefined/">www.muslim.or.id</a>, dipublish ulang oleh <a href="undefined/">www.remajaislam.com</a><a href="http://muslim.or.id/"><br></a></p>
<hr size="1">
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/manajemen-hati/ya-allah-sungguh-aku-telah-banyak-menzhalimi-diri#_ftnref1">[1]</a> HR. Bukhari : 6839.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/manajemen-hati/ya-allah-sungguh-aku-telah-banyak-menzhalimi-diri#_ftnref2">[2]</a> HR. Muslim: 6333.</p>
<p><a href="http://ikhwanmuslim.com/manajemen-hati/ya-allah-sungguh-aku-telah-banyak-menzhalimi-diri#_ftnref3">[3]</a> HR. Bukhari: 6306.</p>
 